(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Kebenaran tentang Alea


__ADS_3

Pagi itu suasana rumah sangat riuh, ada aja ulah bocah - bocah kecil yang membuat sang ibu jadi berteriak di pagi - pagi hari. Dari Alan yang mengobrak abrik ruang tengah dengan segala mainannya dan juga kenakalannya yang suka masuk kekolong meja makan namun tak bisa keluar karna bingung dengan banyaknya kursi dan tak bisa menemukan jalan keluar, serta alea yang tak mau makan kacang dan harus lari kesana kemari untuk menghindari kacang yang mau disuapkan oleh ibundanya. Keadaan rumah jadi seperti kapal pecah hanya dengan 2 orang anak.


Mexca yang merasa terusik dengan suara bising karna baru tidur di tengah malam jadi gak tenang dengan tidurnya, dia keluar dan menatap rumah yang begitu berantakan dan melihat adinda yang sudah mulai berasap kepalanya menghadapi 2 bocah itu membuat mexca jadi tersenyum.


Istrinya yang dulu kalem dan pemalu sudah tak ada lagi, sekarang berganti dengan induk yang gesit dan juga garang. Dinda selalu mampu mengatasi semua yang ada di rumah, walo kesibukannya tak kalah dengan mexca yang bekerja di kantor. Bahkan dinda juga masih menangani butik, resto dan juga cafe. Belum lagi kalo mexca mulai berulah di malam hari, dan membuat dinda bergadang melayaninya. Dia benar - benar wonder woman bagi mexca.


"Sayaaaaaang, jagoan dan tuan putri papa!" teriak mexca sambil merentangkan tangannya.


Seketika 2 bocah itu langsung lari ke arah sang papa yang merupakan idola bagi mereka, mexca pun membantu adinda dalam mengurus bocah - bocah nakal itu hingga mereka bertiga tertidur bersama di ruang keluarga di atas karpet.


"Masih begitu lelah dan ngantuk tapi masih mau membantu, kamu emang bisa diandalkan mas." ucap dinda menatap 3 orang kesayangannya terlelap dengan posisi yang semrawut. mexca terlentang dengan tangannya yang dijadikan bantal oleh alea, dengan posisi yang sama terlentang dengan mexca, serta Alan di bawah kaki Alan dengan memeluk Salah satu kaki Alan dengan kakinya diatas perut sang kakak.


Semua kebisingan dan keramaian di rumah seolah itu adalah hal yang biasa. Bagi mexca maupun adinda yang sudah menjadi orang tua bagi dua bocah, mereka tak merasa keberatan akan semua konsekwensi akibat menjadi seorang ayah dan juga ibu.


"Kemana anak - anak kok sepi?" tanya mexca saat dia bangun di siang hari dan tak mendapati anak - anaknya.


"Mereka lagi dibelakang sama mang ujang dan bi sumi, sengaja dinda bawah kesana biar mas Abi bisa tidur kebih lama." jelas dinda yang lagi sibuk di dapur menyiapkan makan siang.


"Akhir pekan ini tak ada acara kemana - mana, akhir pekan berikutnya mau kemana sayang?" tanya mexca yang sudah memeluk dinda dari belakang.


"Emang mau kemana?" dinda bertanya balik dengan tangannya masih sibuk motong sayuran.


"Hey, kenapa ada kacang lagi? Bukankah puyri kita tidak suka kacang?" mexca bertanya dengan posisi masih bergelayut manda pada dinda.


"Sayang, akhir peken besok ayok kita titipin anak - anak sama mama yuk.?!" mexca bicara dengan nada sedikit menggoda.


"Mau ngapain? Orang kita gak kemana - mana juga." dinda merasa aneh dengan suaminya yang selalu ingin menitipkan anak - anaknya pada mamanya.


"Hiiiih sayang gak pekah banget sih. Cup 💋" mexca menghentikan dinda memotong sayuran dan memutar tubuhnya untuk menghadap dia lalu melahap bibir dinda dengan sangat mesrah.


"Aku ingin melihatmu tampil sexy yang meliuk diatasku seperti sebelum ada anak - anak dan saat kamu hamil Alan." bisik mexca yang sedikit mendesa di telinga dinda.


"Mas?!" dinda mendorong tubuh mexca dengan berteriak.


"Hihi. 😁" mexca nyengir kuda menatap dinda yang wajahnya sudah memerah.

__ADS_1


*


*


*


Akhir pekan telah usai, dan hari aktif kembali lagi. Namun kesibukan adinda tetap sama tak ada yang beda mau itu akhir pekan atau bukan.


Siang itu adinda lagi sibuk di butik karna dia lagi menyiapkan desain gaun pengantin untuk seorang pelanggan yang ingin memiliki gaya gaun yang beda. Dan setelah sehatian dari pagi sampai siang berkecimpung di butik pada siang harinya adinda langsung ke resto untuk mengecek bahan yang habis dan sekalian cek kesehatan bagi para kucing yang ada di sana.


"Permisi mau pesan apa bu?" pegawe dinda menanyakan pesanan pada seorang pelanggan yang datang mendekati meja kasir.


Wanita itu tak berkata apa pun, dia hanya menatap kosong seolah bingung harus berbuat apa. "Saya mau ketemu Adinda, apa dia ada di sini?" dengan nada ragu akhirnya wanita itu pun bertanya soal adinda.


Tak berselang lama akhirnya adinda keluar dari ruangannya dan berjalan menuju meja yang dimana sudah ada sedang wanita yang duduk di sana dengan tertunduk.


"Mbak Monica?" mata dinda terbelalak, dia terkejud karna selama ini tak pernah berhubungan dan juga tau soal kanarnya namun tiba - tiba saja sekarang ngajak bertemu.


Dengan wajah yang penuh beban serta pandangan yang kosong Monica menatap adinda yang ada didepannya dengan tatapan berkaca - kaca. "Dinda?" panggil Monica dengan suara yang bergetar.


Dengan wajah bingung dan bertanya - tanya adinda duduk dan menatap Monica dalam, "Ada apa mbak sebenarnya?"


"Mbak apa yang terjadi, tolong jangan begini bangunlah dulu mbak. Ayo kita bicara yang enak ya?" dengan panik adinda berusaha membuat Monica bangun dari posisinya yang bersimpuh di kakinya.


Setelah berhasil dan Monica kembali duduk dikursi, adinda menatap Monica bingung dengan menggenggam tangan monica berusaha untuk menenangkan Monica.


Dengan terbata monica berusaha membuka kata, dengan genggaman tangan yang begitu erat pada adinda serta wajah tertunduk yang berlinang air mata.


Monica menceritakan dari awal dia ketemu dindandan juga alea dipesta pulang tahun pernikahan orang tua bram, hingga dia mengintai aktifitas adinda dan keluarganya sampai dia melamar jadi guru play grub.


"Maksud mbka Monica apa?" adinda yang semakin bingung pun mencobak mencari penjelasan.


"Alea putrimu memiliki tanda lahir dibahunya, dia adalah Mona putriku." Monica pun akhirnya berkata dengan jujur pada adinda kalo dialah orang yang meninggalkan bayi dibangku resto ini 4 tahun lalu.


Adinda : Ya Allah, jadi mbak yang meninggalkan bayi tak bersalah serta tak berdosa itu?

__ADS_1


Monica : Aku terpaksa Din, aku benar - benar tak tau lagi harus bagaimana?


Adinda : Lalu bagaimana dengan mas Bram? Apa mas Bram tau?


Monica : (menggelengkan kepala) Aku melakukannya justru supaya dia tak menderita karna tak diterima oleh suamiku.


Adinda : Maksud mbak apa? Bagaimana mas Bram gak mau menerima anaknya.


Monica : Dia bukan darah daging mas Bram.


Adinda : Ya Allah mbak? (menutup mulut dengan kedua tangan)


Monica pun cerita lagi kalo dia terjebak dan terkena pengaruh obat, monica lari selagi bisa dan berakhir disebuah kamar yang dia sendiri juga tak tau dia tidur dengan siapa. Monica berusaha melupakan kejadian itu dan tak ingin tau siap pria malam itu.


"Jadi mbak monica tak tau siap pria malam itu?" tanya dinda memastikan.


"Aku tak tau, karna begitu aku bangun aku sudah sendirian di dalam kamar itu." jelas monica.


"Aku benar - benar berterima kasih karna kamu mau merawat putriku, orang yang dulu menyakitimu." monica tertunduk dan meremas jemarinya sendiri.


Adinda diam tak berkata apa - apa, hanya menatap monica dengan sendu dan menghembuskan nafas kasarnya.


"Maafkan aku Din. Tolong maafkan semua kesalahaknku." monica memohon pada adinda yang hanya diam dari tadi.


"Kapan ulang tahun Alea yang sebenarnya?" tanya adinda dengan senyum yang mengembang.


"Terima kasih, aku bisa merayakan ulang tahun putra dan putriku bersamaan dihari yang sama nanti." ucap adinda yang ternyata tanggal dan bulan kelahiran alea dan alan sama.


"Datanglah saat perayaan ulang tahunnya nanti, 1 bulan lagi." ucap adinda pada monica dan sontak itu membuat monica terkejud.


"Bagaimana pun, seorang ibu tetaplah seorang ibu, jadi datanglah ibu Monic. Itu kan nama yang selalu dipanggil oleh Alea." ucap adinda lagi dengan tersenyum.


"Jangan sembunyi untuk menyayanginya, karna aku sudah seeing dengar betapa ibu Monic sangat baik padanya." jelas adinda yang menyampaikan cerita alea jika pulang sekolah.


Tangis monica semakin menjadi saat adinda mau menerima dan juga mengijinkan dia mendekati putrinya secara terbuka, serta bisa menerima dan memaafkan segala kesalahan yang dulu pernah dia lakukan.

__ADS_1


"Kau adalah ibu yang baik Dinda, aku bersyukur putriku mendapatkan ibu sepertimu, terima kasih banyak." ucap monica pada dinda dan monica pun beejanji kalo dia akan jadi lebih baik lagi.


Setelah penjelasan tentang kebenaran alea terungkap, adinda menceritakan semuanya pada mexca dan mereka mengijinkan monica untuk bertemu dengan alea kapan pun, namun mexca tak mengijinkan jika nanti harus ketemu diluar tanpa pengawasan, jadi monica hanya bisa ketemu alea saat adinda membawah alea ke resto atau butik.


__ADS_2