
Dalam keseharian adinda yang selalu menyibukkan diri dengan segala pekerjaan dan urusan dibutik, resto dan juga cafenya dia tetap selalu menyempatkan diri untuk menghubungi anak - anaknya dan juga suaminya.
Dinda adalah ibu yang luar biasa bagi kedua anaknya, dan istri yang hebat bagi suaminya, karna dinda selalu bisa mangatasi semua urusan di tempat usahanya dan juga selalu menyelesaikan urusan rumahnya dengan tepat cepat apa pun pekerjaannya. Dan waktunya tak pernah menyita waktu kumpul dengan keluarganya.
Pagi itu seperti biasa, keramaian selalu menghiasi meja makan saat sarapan karna adinda yang selalu ngomel sama alea yang tak suka makan sayur dan memilih makanan kering dan pedas.
"Sayang sudah dong, biarkan saja nanti alea akan menghabiskan sayuran yang laen. Atau mau papa buatkan jus brokoli." tegas mexca untuk menghentika dua wanita kesayangannya itu saling serang.
"Tau nih, nanti pada jam makan siang harus menghabiskan wortel punya ku di sekolah nanti." sambung alan yang saat ini sudah duduk bangku sekolah menengah pertama dan jadi satu sekolah dengan kakaknya yang sudah menengah atas.
Setelah dinda menyiapkan semua keperluan suami dan juga kedua anaknya dia pun berangkat ke butik untuk membantu disana. Karna pesanan dari butik adinda sekarang sedang banyak - banyaknya. Dan setelah dari butik pada siang harinya adinda kadang ke resto kadang juga ke cafe.
*
*
*
Waktu berjalan sangat cepat, anak - anak adinda dan mexca sudah pada dewasa. Dan adinda yang dari awal ingin menjodohkan alea dengan oni pun dilaksanakan, karna adinda ingin putrinya agar dapat pasangan yang baik sepertinya.
"Hem, gak terasa putri kita sudah dewasa saja." mexca berkata sambil memeluk adinda ditempat tidur dengan bersandar disandaran tempat tidur.
"Ya, dan aku senang setelah mengadakan acara tunangan dia dengan oni." dinda berkata dengan lega.
"Hem, dan itu artinya kita harus segerah membuatkan adik untuk mereka sayangku. Hem?" mexca berkata dengan sudah memulai aksinya.
"Ya Allah, mas?! Gak bisa kah gak selalu memikirkan itu.!" kesal adinda karna isi kepala suaminya selalu saja kearah itu, yang ujung - ujungnya mereka akan melakukannya tak hanya sekali.
"Hahaha... Kan sudah mas bilang dari dulu sayangku, kalo kamu adalah candu yang memabukkan bagiku, dan gak bisa kalo aku membiarkanmu begitu saja." Ucap mexca yang sudah menguasai tubuh istrinya.
"Malulah pada umur mas, eghm.!" kesal dinda yang mulai menikmati permainan mexca.
"Ngapain malu sayang? Karna semakin kesini kamu jadi semakin nikmat dan legit, ibarat kelapa semakin tua akan semakin banyak keluar sari patihnya. Dan menyentuh tubuhmu dengan usia yang sudah matang adalah kenikmatan tersendiri bagiku." jelas mexca panjang lebar dengan mulai mengapsen tubuh istrinya setiap incinya.
"Mas, eghm.!" suara dinda meracau
"Mas Abi ah.!" teriak dinda saat mexca menyentuh tepat diareah intinya.
"Eghm."
"Aaahg."
Suara kenikmatan tak hanya keluar dari dinda, mexca pun juga menyuarakan. Mereka saling beradu dan berpacu untuk mencapai kenikmatan yang mampu membawah mereka berdua melayang tinggi ke alam surga yang memabukkan bagi semua orang.
*
*
*
Siang itu ada seorang gadis cantik yang sedang duduk disebuah taman dekat kampus yang terlihat tak sabar menunggu seseorang datang menjemputnya, dia duduk dengan tak sabar menengok kanan - kiri.
Tak lama kemudian ada 3 pria yang datang mendekati gadis itu dan mengajak kenalan, awalnya mereka bicara baik - baik namun setelah itu salah satu dari pria itu terlihat memaksa gadis itu untuk ikut dengannya.
__ADS_1
Dengan bersih keras gadis itu menolak namun pria itu masa bodoh dan dia tetap memaksa. Tangan pria itu menarik paksa tangan gadis itu agar ikut dengannya. Pria itu tak tau kalo dari jauh ada seseorang yang melihatnya dengan tatapan membunuh.
Bag.!
Bruk.
Gdebuk
"Auh.!" pekik pria itu setelah dia jatuh karna mendapat pukulan tiba - tiba.
"Cuih.! Bocah tengik." hardik pria itu dan dia langsung bangun hendak memukul bocah yang tadi membuatnya tersungkur. Namun dia kalah cepat dan dia terjatuh lagi.
"Katakan tangan mana tadi yang kau pakek untuk menariknya paksa cepat katakan.!!" teriaknya marah pada pria yang sudah terjatuh itu.
"Gila. dia adalah Aleandro Abigail." bisik teman pria yang jatuh itu.
"Jangan - jangan gadis itu adalah Aleana Abigail?" bisik temannya yang satu lagi.
"Bisa gawat kalo berurusan dengannya." bisik dua orang pria yang jatuh. Dan mereka terkejud saat mata alan menatap mereka.
"Aku bertanya padamu, cepat katakan tangan yang mana yang kau pakek untuk menariknya tadi.?!" tanya alan dengan pandangan yang sangat tajam.
"Kau, ingin aku patahkan seluruh anggota tubuhmu. Atau kau ingin aku hancurkan keluargamu.!" alan menekan semua kata - katanya, dan membuat pria itu ketakutan.
"Alan, hentikan." alea mencegah agar adiknya itu tak menyakiti orang. Karna alea tau alan sangat posesif padanya dan akan menghancurkan siapa saja yang membuatnya kesal.
"Ma - maafkan aku, a - aku tak tau kalo di - dia ka - kakakmu." ucap pria itu terbatah karna takut pada alan.
"Alan, sudah." cegak alea yang melihat adiknya itu sudah ingin membunuh orang.
Bug
Gdebug
"Auh.!" teriak pria yang baru datang dan langsung jatuh karna mendapat pukulan dari alan.
"Kak Oni? Alan?!" teriak alea pada adiknya yang terlihat sangat marah.
"Pergilah.!" perintah alea pria yang tadi mengganggunya.
"Kenapa kau menyuruh kakakku menunggu di taman ini hah?!" teriak alan pada oni.
"Maaf aku tak tau kalo akan ada kejadian ini." ucap oni sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan alan.
"Kau bisa menjaganya atau tidak hah?!" teriak alan pada oni dengan tangan yang sudah mengepal
"Jika tau tak bisa menjaganya kembalikan, aku masih sanggup menjaga kakaku.!" teriak alan lagi, dan oni hanya menghela nafas.
"Alan, kak Oni gak salah. Kakak yang maksa mau menunggu di sini." ucap alea yang memeluk alan agar dia tak meluap marahnya.
"Ayo pulang.!" alan menarik tangan alea
"Kak Oni?" panggil alea pada oni, yang awalnya mereka janjian ingin jalan - jalan berdua.
__ADS_1
"Pulanglah, kakak akan menyusul." ucap oni pada alea dengan tersenyum.
Alan membawah alea kakaknya pulang dengan naik motor, karna tadi alan lewat taman itu karna dia mau pulang dari habis maen futsall.
*
*
*
"Alan dengar, kau bisa mencega orang lain untuk tak mendekati kakakmu. Tapi kau tak bisa mencegahku, karna dia adalah surgaku.!" ucap oni begitu mereka bertiga sampai di halaman rumah alan.
"Alan?" alea memanggil nama adiknya dengan melas sambil memeluk adiknya itu dari belakang dengan sangat erat, dan mencegah alan melangkah lagi, jadi mereka bertiga berhenti diruang tamu.
"Haaah.!" alan menghela nafas, dia memutar tubuhnya dan memeluk balik kakaknya serta mengecup puncak kepala kakaknya dengan penuh sayang.
"😊 kau sayang pada kakak?" tanya alea mendongak menatap adiknya.
"Sangat." jawab alan singkat.
"Kau mau memaafkan kakak?" tanya lea lagi.
"Tentu, karna aku menyayangimu, cup." ucap alan dan mengecup bibir kakaknya.
"Memaafkan kak Oni juga?" tanya lea lagi, untuk memastikan.
"Aku tau kearah mana bicaramu. Obati lukanya dan maafkan aku yang sudah memukul." ucap alan dengan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan oni.
"Jangan pernah meninggalkan kakakku ditempat sepi lagi." pintak alan pada oni.
"Tentu, aku tak akan pernah melakukannya lagi." janji oni pada alan.
Setelah itu alea mengobati luka oni yang dipukul oleh alan dengan pelan dan hati - hati serta penuh dengan perhatian.
"Sakit ya kak?" tanya alea yang melihat oni memicingkan alisnya.
"Tidak sayang, tapi alan semakin kesini semakin nakutin kalo marah." ucap oni dan itu membuat alea senyum.
"Ku pikir dia tak posesif lagi setelah kalian dewasa, ternyata sekarang lebih parah dari dulu." sambung oni lagi yang tak habis pikir.
"Ya, dan itulah yang membuat aku jadi tak punya teman cowok." gerutu alea dengan wajah kesal.
"Bagus, aku justru bersyukur. Karna dengan begitu jadi hanya aku pria yang menjadi teman dan juga tunanganmu sekarang." ucap oni dengan senyuman lebar.
"Dengan begitu aku jadi bisa bilang pada Alan kalo kamu adalah surgaku. Dan aku tak sabar ingin bisa segera menyentuh dan menikmati surgaku ini." ucap oni dengan mencolek dagu alea, dan itu berhasil membuat alea salah tingkah.
Aleana Putri Almira Abigail (Alea)
Aleandro Putra Prayoga Abigail (Alan)
__ADS_1
Yoni andika saputra (Oni)