(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Mengadopsi anak


__ADS_3

Didi : Assalamu'alaikum Din. Halo, bisa kamu pulang sekarang dan datanglah ke resto, karna ini sangat penting. (suara Didi yang panik saat menelpon Adinda)


Adinda : Wa'alaikumsalam mas, iya nanti Dinda mampir ke sana, Dinda selesaikan pertemuan ini dulu. Tapi ada apa mas? Kok terdengar panik gitu.? (tanyaku pada mas Didi yang terdengar seperti lagi terjadi sesuatu di resto)


Didi : Nanti mas jelaskan, kamu selesaikan dulu urusanmu di sana dan hati - hati kalo pulang nanti. Assalamu'alaikum


Dinda : Iya mas, wa'alaikimsalam


"Ada apa ya di sana? Kok mas Didi terlihat panik, semoga saja tidak terjadi sesuatu yang serius." pikirku.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan suami kamu? Karna kamu terlihat kepikiran begitu." Tanya tuan Yosef yg melihatku melamun sejenak.


"Ah. Tidak dia bukan suami saya tuan, dia kakak saya." jelasku, karna aku gak mau tuan Yosef salah paham.


"Hahaha.... Ya ya, baiklah sepertinya ada hal penting yang mau dia bicarakan samu. Kita selesaikan sekarang saja, sebenarnya aku masih ingin ngobrol sama kamu lebih lama lagi. Tapi gak papa bisa kita sambung lagi nanti." katanya sambil menandatangani semua berkas itu dengan cepat.


"Eh, kenapa aku harus menjelaskan dan kenapa juga aku takut kalo tuan Yosef salah paham padaku. Kalo dia menganggap aku sudah bersuami kan itu urusan dia. Kau ini aneh Din." gerutuku dalam hati.


"Baiklah, semuanya sudah beres. Ku ucapkan terima kasih karna nona memilih untuk bekerja sama dengan kami, dan selamat bergabung dengan kami serta terima kasih sekali lagi." ucap tuan Yosef menjabat tangan ku dan juga Yulia setelah selesai menanda tangani berkas perjanjian antara kami.


"Terima kasih tuan, dan mohon bantuannya untuk kedepannya." ucapku sambil memohon pamit.


"Ada apa Din? Sepertinya ada masalah penting dengan mas Didi, apa menyangkut resto?" tanya Yulia padaku sambil berjalan menuju parkiran mobil.


"Aku juga gak tau Yul, ada apa karna gak biasanya mas Didi terdengar panaik kayak tadi." aku menyalakan mobil dan langsung melaju menuju ke resto.


Resto


"Permisi bak, ini saya menemukan seorang bayi yang sepertinya tak ada orang tuanaya, karna melihat sekeliling tak ada orang. Karna ini ditemukan disini jadi saya rasa bos kalian saja yang melaporkan pada polisi." ucapan dari salah satu pengunjung resto itu.


"Eh, bagaimana ini mbak? Aku bilang dulu sama bos Didinya." ucap salah satu pegawe itu dan langsung lari ke ruangan Didi.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari pegawenya dan setelah melihat langsung sosok bayi mungil yang dibalut dengan selimut bulu itu, seketika Didi merasa panik dan tak tau harus berbuat apa pada bayi yang tak berdosa yang telah ditinggalkan oleh orang tuanya itu.


"Mas, bagaimana kalo kita telpon mbak Dinda saja.?" saran Yuyus yang melihat Didi panik.


"Benar bos, telpon mbak Dinda saja," sambung dari salah satu pegawe resto yanbsetuju dengan saran Yuyus.


"Baiklah kalo begitu, aku hubungi Dinda dulu, sementara kalian urus bayi ini." perintah Didi pada pegawe itu.


"Lah suasana resto tenang gitu Din kayak gak terjadi sesuatu." kaya Yulia. setelah sampai. depan resto, dan aku juga berfikir sama dengan Yulia.


"Mbak Dinda ya Allah alhamdulillah suda dateng dan syukur jadi lebih tenang karna mbak Yulia juga ikutan datang." kata Yuyus saat melihat aku dan Yulia masuk. Sementara itu aku dan Yulia bingung dan saling pandang.


"Langsung ke ruangan mas Didi saja mbak, nanti mbak - mbak sekalian akan tau." sambung Yuyus yang melihat kami bingung.


"Assalamu'alaikum mas." salamku saat membuka pintu ruangan mas Didi dan masuk ke dalam.


"Wa'alaikumsalam Dinda." sambut mas Didi sambil menggendong seorang bayi yang sangat cantik.


"Loh, mbak Ayuni sudah lahiran mas? Kalian melakukan semuanya sebelum nikah ya?" ledek Yulia yang melihat mas Didi kikuk saat menggebdong bayi itu.


"Bayi siapa mas?" tanyaku dan mendekat pada mas Didi.


"Bayi yang ditinggalkan di resto ini oleh orang tuanya." jawab mas Didi


"Hah?! Orang tua bre***** mana yang melakukan itu." geram Yulia saat mendengat ucapan mas Didi.


"Tak tau, mas sudah melaporkannya ke kantor polisi." jawab mas Didi


Malam itu aku merawat bayi cantik itu di resto dengan ditemani oleh mbak Ayuni, karna mas Didi menghubunginya dan memintanya untuk menemaniku merawat bayi itu di resto.


Paginya beberapa polisi datang ingin mengambil bayi itu, namun aku mengatakan pada mereka kalo aku akan merawat bayi itu untuk sementara waktu sampai laporanannya selesai. Tapi sampai 1 minggu tak ada yang bisa ditemukan dan bayi itu akan diserahkan ke panti asuhan.

__ADS_1


Selama peroses penyelidikan aku jadi merasa dekat dengan bayi cantik itu, dan aku ingin mengangkatnya menjadi putriku dan aku meminta saran pada semuanya, termasuk Om Bambang, mas Dido dan juga mas Didi, dan mbak Ayuni. Mendengar penjelasanku dan juga ke inginanku mereka semua menyetujuinya.


Setelah mendapat restu dan ijin dari semua orang niatku untuk mengangkatnya juga semakin bulat, dan aku mengutarakan ke pihak polisi serta perlindungan anak, atas niatku untuk mengadopsi bayi itu.


"Maaf mbak tapi mbak tidak bisa mengadopsinya, karna syarat adopsi harus pasangan suami istri mbak, sementara mbak kan single." jawab dari anggota perlindungan anak dan wanita itu.


"Tapi pak...?"


"Bagaimana kalo saya dan calon istri saya yang mengadopsinya, karna kami akan menikah minggu depan." jawab mas Didi memotong ucapanku.


"Benar begitu saja, karna aku juga sayang sama bayi ini." sambung mbak Ayuni menyetujui ucapan mas Didi.


"Baiklah kalo begitu, kalian selesaikan urusannya dan kalian bisa mengangkatnya sebagai putri kalian setelah kalian menikah." jawab orang itu pada kami.


Dan sesuai janji, setelah mas Didi melangsungkan pernikahan, mas Didi dan mbak Ayuni datang untuk mengadopsi bayi itu. Namun di rumah perlindungan anak bayi itu tak ada, dan kata mereka kalo bayi itu masuk rumah sakit karna mengalami demam tinggi.


Aku, mas Didi dan mbak Ayuni serta perwakilan dari jasa perlindungan anak mendatangi rumah sakit tempat bayi itu di rawat. Aku melihat salah satu bayi yang rewel dan terus menangis walo sudah digendong oleh seorang wanita paruh baya.


"Assalamucalaikum bu, ini mereka orang tua yang akan mengadopsi bayi itu." kata dari petugas itu pada ibu - ibu yang merawat bayi itu.


"Oh iya Wa'alaikumsalam pak, ini dia rewel mungkin karna habis disuntik tadi." jelas ibu itu pada kami.


Aku berjalan mendekati ibu itu dan mengusap puncak kepala bayi kecil itu, ku lihat dia seperti sedang gelisah entah mungkin karna rasa sakitnya atau karna rasa rindunya pada ibu kandung dia.


"Dokter bilang katanya dia rindu pada ibunya neng." jelas ibu - ibu itu padaku.


"Sayang, kenapa menangis anak cantik? Alea rindu ya sama bunda. Iya, Alea rindu sama bunda." ku gendong dan ku kecup pipinya, dia menyusup di dadaku dan tertidur.


"Subhanallah, sepertinya kalian berjodoh. Kalian seolah emang ditakdirkan untuk menjadi keluarga. Lihatlah dia seolah mengenali bau tubuhmu nak, dia langsung tenang padahal dari kemaren rewel terus." kata ibu itu saat melihat interaksi antara aku dan bayi kecil ini.


"Jadi namanya adalah Alea ya anak manis? Cantik sekali namanya" kata ibu itu sambil mengusap kepala bayi itu dengan sayang.

__ADS_1


Aku pun juga mengelusnya dengan sayang, karna aku membayangkan sedihnya hati saat ditinggal oleh kedua orang tua, karna aku pernah mengalaminya dan gak mau orang lain juga mengalaminya.


Hari itu juga peroses mengadopsi diselesaikan oleh mas Didi dan aku pun menggantikan ibu - ibu itu merawatnya sampai dia sembuh dan keluar dari rumah sakit.


__ADS_2