(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Adinda candu mexca


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu mexca selalu berusaha menghindari tatapan adinda, hanya bahasa tubuhnya saja yang selalu menunjukkan kasih sayangnya. Hingga dalam perjalanan mereka kalud dan tenggelam dalam pikiran mereka masing - masing.


Mexca yang merasa bersalah karna memaksakan hasratnya sehingga menyakiti adinda jadi tak mampu dan tak berani untuk menatap adinda. Sedangkan adinda yang merasa bersalah karna tak bisa dan tak mampu melayani suaminya dengan benar merasa kalo suaminya kesal padanya hingga tak mau bicara dan menatap dirinya seperti yang biasa dilakukan oleh mexca.


dua orang yang sama - sama tenggelam dalam angan dan pikiran mereka sendiri jadi tak bisa mengambil jalan keluar yang benar dan hanya berpendapat sendiri, serta mengganggu pikiran mereka sendiri.


Mexca bahkan langsung kembali kerja begitu sampai di rumah, sementara dia meminta agar adinda libur dulu 3 hari lagi. Setiap pulang kerja mexca selalu membawah alea yang sengaja dinda titipkan pada didi, seperti saat ini mexca pulang dengan alea digendongannya, sehingga setelah selesai makan malam mereka jadi bermain bersama dengan alea dan tidur bertiga lagi, dengan tangan mexca yang hanya menggenggam tangan adinda saat tidur.


****************************************


****************************************


Sore itu dinda sengaja menunggu mexca di ruang kerjanya sepulang dari kerja, karna dia merasa kesal dan bertekad akan mengatakan serta menceritakan semuanya pada mexca atas dirinya dan rahasia pernikahannya yang dulu bersama dengan bram.


Ceklek


"Sudah datang?" kata dinda saat dia melihat mexca masuk ke ruangannya bersama dengan faris.


"Loh kok masih di sini sayang?" tanya mexca yang terkejud mendapati istrinya masih di kantor bahkan di ruangannya.


"Sengaja menunggu, karna tadi kata Merlin mas ada rapat dan akan kembali sekitar jam 6, jadi aku sengaja menunggu di sini." jelas dinda sambil senyum menatap mexca.


"Mas faris tolong bawah mobil dinda ya, karna dinda mau balik sama mas mexca. Sudah selesaikan? Jadi mas faris pulanglah duluan." ucap dinda melangkah sambil menyerahkan kunci mobilnya pada faris.


"Dengan senang hati nyonya, lagian aku juga gak mau pulang dengan orang yang selalu menggalau." ucap fatis sambil menyindir dan melirik mexca yang duduk di kursi kerjanya.


"Baiklah bos, aku pergi dulu sampai ketemu besok pagi. Assalamu'alaiku." ucap faris dan langsung menghilang tanpa menunggu mexca menjawab.


Mexca sibuk dengan pekerjaannya yang masih menumpuk di atas mejanya, walo tinggal tanda tangan tapi karna banyak jadi memakan waktu yang sedikit lama. Dan adinda menunggunya dengan penuh sabar sampai mexca selesai menanda tangani semua berkas itu.


"Kenapa kamu menungguhku sayang? Bukankah kamu sudah pulang dari?" tanya mexca setelah dia menyelesaikan semuanya dan melangkah pada dinda yang duduk di sofa dengan tenang.


Adinda berdiri dan mendekati mexca dengan tersenyum manis serta menggandeng tangan mexca mesra "Karna aku ingin pulang bareng sama mas dan juga ingin menghabiskan waktu berdua saja." ucap dinda yang bergelayut manja pada mexca.


Mexca tersenyum sambil berjalan ke arah lif, dia merasa ada yang beda dengan sikap istrinya, "Kamu kenapa jadi begini manja hem?" tanya mexca dengan memeluk dinda di dalam lif dan mengecup bibirnya.


Dinda tak menjawab dia hanya diam dan tetap menggandeng tangan mexca tak mau melepsnya sampai mereka berada di parkiran dan di depan mobil mexca. Mexca melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kita langsung pulang aku ingin berdua saja sama mas dan juga ada yang ingin aku ceritakan pada mas nanti. Karna jika tidak sekarang aku tidak tau kapan lagi harus cerita." jelas dinda saat mereka berada didalam mobil bersama.


Mexca yang mendengar itu merasa heran dan bertanya - tanya ada apa serta kenapa, karna dinda mengatakannya dengan serius seola memohon sampai dia menunggu mexca hingga 2 jam dari jam pulangnya sendiri.


****************************************

__ADS_1


****************************************


Setelah memarkirkan mobilnya di garansi mexca dan dinda masuk ke dalam rumah, mereka membersihkan diri mereka lalu dinda sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. Saat selesai masak waktu menunjukkan tepat pukul 20.30 malam, butuh waktu 1 jam dinda selesai masak.


"Mas...!" teriak dinda dari bawah memanggil mexca yang berada di kamarnya. Dan setelah mexca keluar mereka makan malam bersama, lalu mengerjakan sholat isya' berjama'ah.


Dengan rasa takut dan juga dada yang berdegup kencang adinda duduk di sofa menunggu mexca sampai selesai berdo'a setelah shalatnya, sementara dinda begitu selesai dia langsung melipat mukenanya dan menata hatinya untuk mengungkap tentang kebenaran dirinya dan pernikahannya yang dulu.


"Mas." panggil dinda saat dia melihat mexca beranjak dan merapikan sajadahnya.


"Hem, kenapa sayang. Ada apa? Kenapa kamu dari tadi kelihatan aneh?" ucap mexca yang selesai merapikan tempat shalatnya dan duduk di sebelah dinda sambil menatap dinda.


"Mas, apa mas mexca merasa kesal karna tidak bisa menyelesaikan dan menuntaskan hasrat mas waktu itu?" tanya dinda ragu - ragu.


"Apa yang kau katakan sayang, aku tak merasa kesal atau pun marah padamu. Aku hanya kesal pada diriku sendiri yang tak bisa mengontrolnya." ucap mexca lembut dengan membelai rambut dinda.


"Apakah mas mau melakukannya lagi denganku sekarang?" tanya dinda lagi dengan wajah memerah dan pandangan sayu.


Mexca yang menatapnya menjadi berhasrat "Sayang jangan katakan yang tidak - tidak. Bukan aku tak mau, tapi aku tak ingin menyakitimu seperti waktu itu." ucap mexca dan memalingkan wajahnya.


Dengan tertunduk dan suara kecil namun tetap bisa didengar dengan jelas dinda mengungkapkan tentang kebenaran dirinya. "Sebenarnya pernikahan dinda yang dulu karna perjodohan dari alm. orang tua dinda...." kalimat dinda dijeda dan mexca menatapnya lagi.


Adinda menghela nafas panjang dan melanjutkan omongannya "Selama pernikahan dan menjadi istri dari mas bram dinda selalu tinggal di kamar tersendiri, dan dinda tak pernah diperlakukan sebagai istri." air mata dinda mulai mengalir. "Dinda bahkan juga belum pernah dijamah olehnya, dinda merasakan semua pengalaman pertama ini dengan mas mexca, jadi dinda minta maaf kalo dinda tak bisa melayani mas de..." kalimat dinda terputus karna mexca menarik dan mendekapnya.


"Sssstt..." ucap mexca menenangkan istrinya yang menangis dan bergumam karna merasa gagal, bersalah dan tak berguna sebagai seorang istri sampai suaminya yang dulu tak mau menyentuhnya dan yang sekarang gagal menyentuhnya.


"Ya Allah apa ini hadiah darimu atas segala kesabaran dan niatku mengenalmu. Engkau memberiku bidadari surga yang masih murni." gumam mexca dalam hati sambil mendekap erat istrinya.


"Maafkan dinda mas." ucap dinda yang berada dalam pelukan suaminya.


"Tidak sayang, mas yang harusnya minta maaf karna berfikir terburu - buru yang menganggap kamu sudah pernah melahirkan jadi mas memikirkan tak masalah jika memaksa masuk. Maafkan mas yang tak tau apa - apa tentangmu." ucap mexca dan mencium kening dinda lama.


"Mas tak salah, harusnya dinda cerita sejak awal. Tapi karna takut dianggap gagal jadi dinda tak ingin cerita. Maafkan dinda mas?" wajah dinda sembab karna tangisnya.


"Tidak sayang dan terima kasih karna kamu menjaga dirimu untuk mas. Apa kamu tau rekaman mas yang terkena obat yang kamu lihat itu, mas tak melakukannya dengan siapa pun. Semalaman mas berendam dan berusaha keras menahan rasa sakitnya sambil membanyangkan dirimu." jelas mexca dan menatap istrinya dengan sayang.


"Mulai sekarang mas akan melakukannya dengan pelan dan lembut agar tak akan menyakitimu, kamu maukan sayang?" tanya mexca yang dijawab dengan anggukan oleh dinda.


Mexca langsung mengangkat tubuh dinda dan memindahkannya di tempat tidur. Mexca menatap wajah cantik dan pandangan sayu dari istrinya, senyum tergambar dibibir mereka berdua. Pelan namun pasti mexca melancarkan aksinya dan berhasil membuat dinda terbuai dalam setiap sentuhan yang dilakukan oleh suaminya.


Nafas mexca memburu dan berat, suaranya juga mulai terdengar parau dan berat juga. Kini mereka telah dalam kondisi polos, mexca mengukur tiap inci pada tubuh istrinya dan tak lupa meninggalkan jejak di sana sebagai tanda kepemilikannya.


Dinda yang melihat areah bawah suaminya seketika senyumnya hilang dan berganti dengan wajah khawatir dan takut. "Jangan takut sayang, dia emang lebih besar tapi aku akan menyarungkannya dengan pelan dan lembut." bisik mexca yang mengetahui rasa khawatir dari istrinya.

__ADS_1


Pelan dan perlahan mexca menyarungkan senjatanya saat merasakan sarunya mulai basah tanda sudah siap ditempati. Wajah dinda menahan nyeri, tapi mexca tak membiarkan dia merasakan rasa sakitnya, mexca mengalihkannya dengan bermain lidah, sementara senjatanya tetap berusaha menerobos hingga semuanya masuk dengan sempurna pada sarung senjata barunya yang terasa sangat sempit dan menggigit.


Senyum merekah dari bibir mexca dan dia merasa sangat bangga "Sayang, apa masih sakit.?" bisik mexca ditelinga istrinya yang tak kuasa menerima segala buaian dari mexca suaminya, yang dijawab dengan gelengan kepala istrinya.


Mexca bergerak perlahan dan suara sexy dari adinda istrinya lolos begitu saja membuat mexca merasa puas dan semakin membara. Gerakan mexca semakin setabil sampai akhirnya dinda teriak karna mendapatkan pelepasan pertamanya.


Ada rasa bangga pada diri mexca yang mampu membuat istrinya puas, entah sudah berapa lama mexca memacu tenaganya hingga dari gerakan yang lembut dan setabil menjadi berutal dan ganas yang membuat dinda kewalahan mengimbanginya, sampai berbagai suara sexynya keluar tak terkendali, yang akhirnya mereka mendapatkan kenikmatan dan pelepasan yang bersamaan.


Mexca menjatuhkan tubuhnya tanpa melepas senjatanya dari sarungnya, "Sayang, kamu telah menjadi wanitaku dan akan selalu menjadi canduku. Aku sangat bahagia saat ini. Adinda Larasati bukan hanya istri sahku, tapi juga wanita kesayanganku dan candu dari hasratku yang selalu memuncak." ucap mexca yang sedang mengatur nafas yang terasa tersengal - sengal setelah pertarungannya.


Namun beberapa menit kemudian dinda terkejud karna merasakan ada sesuatu yang mengganjal lagi dan penuh di bagian bawah tubuhnya. Benda keras yang terasa sesak dan berkedut didalam area sensitifnya.


"Mas, dia?" ucap dinda pada mexca yang tidur di tubuhnya.


"Maaf sayang dia bangkit lagi 😁 kamu memang canduku sayang." ucap mexca dengan senyumnya dan dibalas dinda dengan senyuman juga, akhirnya mexca mulai bergerak lagi dengan lincah hingga beberapa kali pelepasan mereka dapatkan lagi. Sampai saat akhirnya mexca merasa lelah dan mereka mau tidur, namun suara adzan subuh sudah berteriak memanggil. Dinda dan mexca saling menatap dan mereka tertawa bersama.


Alhasil mereka tak tidur semalaman karna mexca yang tak mau berhenti seolah dia melepaskan semua hasrat yang selama bertahun - tahun ditahannya, dan dinda yang selalu mengimbangi permainan dari mexca berhasil membuat mexca merasa candu akan diri istrinya sehingga membuat hasratnya selalu memuncak.


Pagi itu dinda mengambil cuti lagi karna dia tak mampu untuk berjalan dengan baik, ada rasa nyeri dan perih diareah sensitifnya akibat ulah mexca yang liar.


"Sayang, apa masih sakit? Maafkan aku ya, kamu gak marah sama aku kan?" permohonan maaf mexca sambil memeluk dinda dari belakang serta melingkarkan tangannya di pinggang dinda yang sedang masak untuk sarapan.


"Kenapa harus marah mas, karna dinda juga menikmatinya." ucap dinda sambil malu - malu dan tangannya bergerak lincah memotong sayuran.


"Benarkah, kalo gitu mau lagi?" kata mexca dengan wajah berbinar melepas pelukannya dan menatap adinda.


"Hey, ini dinda lagi bawah pisau loh ya. Mundur gak?!" gertak dinda pada mexca dengan mengangkat pisau ditangan kanannya.


Seketika mexca mundur dengan cepat dan mengangkat kedua tangannya. "Ampun sayang gak berani." ucap mexca seketika menatap dinda ngeri.


Setelah selesai sarapan mexca bersiap berangkat ke kantor dengan senyum merekah seola tak ada beban pada dirinya, dia mengecup kening istrinya setelah mendapat kecupan dipunggung tangannya.


"Mulai sekarang panggil aku mas Abi, jangan mexca OK sayang." ucap mexca sebelum berangkat dengan senyum nakal.


Dinda mendorong mexca masuk kedalam mobil agar cepat berangkat sambil mengiyakan permintaan suaminya. " Iya mas. Mas Abinya dinda." ucap dinda dengan sedikit menggoda.


"Sayang aku mau ambil cuti juga ya?" rengek mexca yang melihat istrinya menggodanya.


"Sudah berangkat assalamu'alaikum." kecupan mendarat dikening mexca dan dinda menjau sambil melambaikan tangan.


"Iya sayang, wa'alaikumsalam. Dan assalamu'alaikum nanti mas pulang cepat." lalu mexca melajukan mobilnya.


Dinda tersenyum dan menjawab ucapan salam mexca dengan pelan sambil masuk kedalam rumah. Dia merapikan kamarnya serta mencuci seprai yang semalam habis dipakek olah raga sama dia dan mexca.

__ADS_1


__ADS_2