(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Keluarga kecilku


__ADS_3

"Sayang.!" mexca mendekati adinda yang sudah dipindahkan dari ruang oprasi ke ruang rawat inap.


"Anak kita?" dinda bertanya dengan nada yang masih lemah.


"Dia sangat lucu dan menggemaskan." jawab mexca sambil menunjuk bok bayi disamping kiri ranjang adinda, dan adinda tersenyum menoleh kearah bok bayi.


"Makasih sayang, kamu sudah berjuang demi anak kita." ucap mexca sambil mengusap pipi dinda dan mengecup keningnya.


"Terima kasih juga karna mas Abi setia menunggu dan mengucapkan do'a untukku." jawab dinda dengan senyum yang mengembang dibibir pucatnya.


"Aku mencintaimu dan aku sangat menyayangimu." ucap mexca yang langsung mencium bibir pucat adinda dengan sangat mesrah.


Skip yang di rumah sakit langsung pulang ke rumah aja ya. ๐Ÿค—


"Adinda... Selamat datang di rumah dan selamat atas kelahiran anak tercintanya ya..." ucapan selamat dari semua orang yang sudah menunggu di rumah.


"Terima kasih semuanya." ucap adinda dengan wajah yang sangat bahagia.


Adinda berjalan dengan dipapah oleh mexca, sedangkan se kecil digendong oleh sang nenek (mama mexca). Rumah adinda dihias bak menyambut kedatangan duta besar. Halaman rumah dihias dengan berbagai pita dan bertabur bunga warna warni. Di dalam rumah sudah ada kursi khusus untuk ibu menyusui๐Ÿ’บ, bok bayi beserta mainannya yang menggantung serta alat pompa asi dan penseterilnya.


Selama berada di rumah adinda dilayani bagai seorang tuan putri, segala kebutuhannya disiapkan dan dipenuhi tanpa kurang satu pun. Dan mexca selalu memperhatikan asupan nutrisi untuk adinda agar istri dan putranya sehat.


Setelah sebulan lamanya dari hari kelahiran, kini adinda sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Kesibuk baru adinda adalah bangun pagi bukan lagi masak melainkan menyiapkan kebutuhan dua buah hatinya. Dan saat jam 6 pagi dia memandikan alea yang kini sudah pandai bercerita dan akan mulai masuk play grub. Setelah itu sang adik.


"Pagi sayang cup, jangan terlalu capek. Perutnya gak sakit?" kebiasaan mexca yang suka memeluk dinda dari belakang dan mengecup belakang leher adinda.


"Mas, hentikan ah, geli." keluh adinda saat mexca terus merambah dan mencumbui leher belakang adinda.


"Papa mau cium." alea tak mau kalah dia juga ingin dicuim oleh papanya, bergelayut manja dan duduk dipangkuan mexca.


"Lea mau ke sekolah sayang?" tanya mexca yang memangku putrinya.


"Iya, sama bibi cumi." jawabnya dengan wajah yang selalu riang.


"Kalo gitu ayok sarapan dulu sama papa, biar mama nyelesain pakean dedek Al." mexca menggendong alea ke meja makan.


"Selamat pagi bibi cumi." sapa alea pada bi sumi yang sedang menata menu di meja makan.


"Iya, selamat pagi anak cantik." sambut bi sumi dengan senyum keibuannya.


"Lea mau makan disuapi papa." pinta lea pada mexca saat mereka duduk di kursi depan meja makan.


"Iya sayang." jawab mexca sambil mencium pipi lea.


Kegian sarapan pagi itu sangat menyenangkan bagi mexca, karna di rumah ini tak lagi sepi. Ada suara teriakan adinda yang marah pada alea karna alea tak mau memakan sayur kacangnya, ada suara tangis putranya yang melengking saat dia lapar atau butuh sesuatu, dan ada suara riang alea yang selalu bercerita serta lari kesana kemari.

__ADS_1


*


*


*


"Sayang acara pemberian nama mau dilaksanakan kapan?" tanya mexca saat mereka duduk di ruang tengah bersantai.


"Dinda ikut apa kata mas Abi saja, karna sudah lewat sebulan bisa dilakukan kapan saja." jawab dinda.


"Baiklah kalo begitu kita lakukan 3 hari lagi saja ya? Mas akan menyiapkan semuanya." jelas mexca dengan senyumnya yang menawan.


"Emang mas Abi sudah kepikiran memberi nama apa?" tanya dinda pada mexca.


"Entalah apa ya sayang?" tanya mexca bingung.


"Hem.. Aleana"๐Ÿค” lama dinda berfikir


"Bagaimana kalo Aleandro?" celetuk mexca.


"Hah? Aleandro ๐Ÿค” bagus juga sih mas." jawab dinda manggut - manggut.


"Ok,kalo gitu Aleandro Putra Prayoga Abigail." jawab mexca dengan bangga.


"Baiklah, Alan dan ALea. Cantik satu nama untuk dua orang." dinda tersenyum lebar dan itu membuat mexca tak tahan untuk tidak meraup bibir istrinya.


"Hahaha... Kamu sangat manis sayang." jawab mexca dengan wajah tanpa dosa.


*


*


*


Hari perayaan pemberian nama dilaksanakan dengan sangat meriah di kediaman mexca dan dinda. Banyak para tetangga yang datang memberi selamat, do'a serta hadiah untuk sang putra kesayangan mexca dan adinda.


"Ya Allah lucu banget, tampan kayak papanya." ucap tetangga yang datang ikut merayakan acara pemberian nama.


Semua orang bersuka cita dan bercengkrama dengan sangat hangat. Tawa kebahagian menghiasi rumah dinda dan tangis Aleandro yang mulai merasa gerah dengan semua orang menambah meriah acara malam itu.


Namun dibalik kebahagiaan dan kemeriahan acara pemberian nama itu ada seseorang yang dari jauh memperhatikan dengan perasaan sedih dan air mata yang membasahi kedua pipinya.


Acara meriah malam itu ditutup dengan do'a dari pak ustad. Dan mexca serta dinda melakukan sesi foto keluarga, dalam foto itu menampilkan dinda yang duduk dikursi dengan menggendong Aleandro, dan mexca berdiri memeluk pahu dinda dengan Menggendong Aleana, foto itu terlihat sangat indah, dengan gaya dan busana yang senada mereka terlihat sangat harmonis serta bahagia. Dan foto kedua adalah foto keluarga besar yang terdiri dari keluarga inti mexca dan juga adinda yang diwakili oleh keluarga om Bambang.


__ADS_1


Foto Aleana (3 tahun) + Aleandro (3 bulan).


*


*


*


Tak terasa sudah 11 bulan usia aleandro, jagoan mexca itu sudah pandai menolak jika tak mau, berceloteh, memanggil dan mengenali nama, serta dia lebih sering menghilang bersama dengan sang kakak karna dia sudah mulai bisa berjalan walo masih tertatih. Mexca sering dibuat kewalahan jika ke dua anaknya mulai mengganggunya, aleandro seolah selalu mengikuti sang kakak menjahili dirinya saat dia tengah asyik tidur.


"Sayang kok mimik itu terus sih?! Itu kan milik papa." gerutu mexca saat melihat adinda menyusui aleandro.


"Mas jangan ah." kesal dinda pada mexca yang mengganggu alan saat dia sedang menyusu dengan memencet hidung alan.


"Ya... Masak Alan terus yang nyusu sayang, mas kapan dong?" mexca cemberut sambil menggerutu.


"Papa minum dari gelas kan papa sudah besar, kayak Alea jadi gak boleh nyusu sama bunda." hardik alea pada mexca sambil menggoyang - goyangkan jari telunjukknya.


"Hem, betul." dinda menimpali.


"Aaah, gak ada yang sayang sama papa." mexca pura - pura merajuk.


"Lea sayang sama papa. Cup cup." lea menepuk punggung mexca dengan memeluk mexca. Dan berakhit dengan permainan gulad antara keduanya.


Tempat tidur dinda jadi berantakan karna aksi gulad mexca dan alea yang bermain diatas ranjang. Tawa riang alea membuat dinda tertawa bahagia, dan mendengar tawa sang kakak alan breaksi dia melepas asinya serta berontak mau ikut bermain, alhasil 3 orang membuat tempat tidur itu jadi seperti kandang berantakan tak karuan.


"Lihat ayah, Ibu. Itu adalah keluarga kecilku." dinda bergumam sembari tersenyum melihat aksi ketiga permata hatinya.


Dinda ikutan bergabung dengan mereka dan pada akhirnya mereka berempat tidur bersama dengan sangat lelap, dengan alea yang berpelukan dengan mexca dan adinda memeluk Alan.


*


*


*


"Lea, ayo kacangnya dimakan." perintah adinda pada alea saat sarapan bersama.


"Tapi Lea gak suka kacang." jawab lea sambil menunduk.


"Lea?!" dinda mau marah pada lea tapi dipotong mexca.


"Sayang, biarkan saja. Lea gak mau makan kacangnya tapi dia harus menghabiskan sayuran yang lainnya. Ayo Lea habiskan sayurnya, putri papa harus sehat." bujuk mexca dan berhasil membuat lea makan sayurannya kecuali kacang. Dan mexca menatap dinda dengan mengedipkan matanya, yang membuat dinda tersenyum.


Setelah lea berangkat kesekolah bersama dengan anak tetangga yang lain diantarkan bi sumi mexca menghabiskan waktu bercocok tanam bersama jagoan kecilnya dan mang ujang, namun yang bisa dilakukan oleh baby alan hanya merecokin. ๐Ÿ˜‚

__ADS_1


Kutipan kata : Hidup itu seperti langit yang gak selalu mendung, pasti ada saat cerahnya juga. ๐ŸŒป


__ADS_2