
Tak terasa sudah sebulan usia putri kecilku. Dan dia hanya diasuh sama bu Dami, sedangkan Monica sudah mulai sibuk lagi dengan kegiatannya menjadi model, yang semakin dekat dengan acara pameran.
"Oeee... Oeee... Sayang kenapa? Haus ya, iya?" ku gendong putri kecilku dan ku beri susu.
"Monica kau diman? Ini sudah malam, kenapa kau masih belum pulang?" ku telpon Monica yang belakangan ini mulai lalai dengan anaknya dan juga sering pulang larut malam.
"Pak, biar saya gendong pak nona kecil. Bapak istirahat dulu, pasti bentar lagi nyonya akan datang." kata bu Dami padaku yang merasa kasian.
Entah kenapa semakin kesini aku semakin merasa aneh pada hatiku. Aku suka dan juga sayang dengan putriku, namun rasanya ada yang mengganjal. Dan sikap Monica yang terlalu cuek pada putrinya dan juga padaku membuat ku jadi menyesal telah menceraikan Adinda.
Seperti pagi ini. Dulu saat ada Adinda aku tak perlu susah mencari makanan dan mencari keperluan yang laen yang ku butuhkan segera, karna Adinda selalu siaga saat ku butuhkan walo dia juga bekerja.
Keseharianku aku semakin merasakan ke kosongan, seolah ada sesuatu yang hilang dalam diri yang tak ku tau entah apa itu.
Setiap kalian aku merasa hampa dan kosong, aku selalu melampiaskannya dengan mengajak Monica istriku untuk bermain bersama, ku lepaskan hasratku dan ku tuntaskan semua pelepasanku dalam rahimnya. Hanya dengan melakukan pelepasan dan tugas suami yang memberikan nafkah bathinlah yang bisa membuatku merasa tenang.
Kadang aku tak peduli lagi waktu untuk melakukan aktifitas ranjangku. Karna hanya dengan begitulah aku bisa kembali berfikir dan beraktifitas lagi.
Bayang-bayang akan sosok Adinda membuatku semakin frustasi. Ada rasa yang menyeruak dari balik lubuk hatiku. Sehingga rutinitasku yang baru adalah mengamati cafe tempatnya bekerja, dengan harapan bisa melihat sosoknya walo hanya sekilas saja.
Kegiatan itu jadi sering ku lakukan setiap aku pulang kerja selama seminggu ini. Kadang ku lihat dia bercanda dengan Dido, kadang juga ku lihat dia seoalah sedang sibuk dan di jemput oleh seorang wanita yang entah siapa dia aku tak tau.
"Melihatmu menjauh dari diriku membuatku sadar, dulu aku telah menyia-nyiakan orang yang begitu tulus sepertimu. Aku telah melakukan hal yang bodoh untukmu itu adalah sesalku. Maafkan aku Adinda, maafkan salahku." gerutuku dalam hati saat ku lihat dia memeluk manja Dido.
"Dinda..? Assalamu'alaikum, Din... Apa kamu ada di dalam?" teriak seseorang yang begitu sangat ku kenali, karna belakangan ini dia selalu datang ke rumah untuk membantu aku dan Yulia dalam persiapan pameran, siapa lagi kalo bukan kekasih mas Didi mbak Ayuni.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa mbak sudah kesini pagi-pagi sekali?" kataku sambil berlari kecil menuruni tangga rumahku.
"Kau ini. Ini sudah jam berapa? Barusan Yulia telpon kalo persiapannya sudah selesai dan kamu sudah harus di sana tempat pukul 3 sore" jelasnya padaku.
"Lah iya, tapi ini kan masih jam 7 pagi mbak?" tanya ku yang melihat dia selalu tergesah-gesah.
"Gak papa sekalian aja jalan dan membantu yang laen di sana" jawabnya sambil senyum-senyum.
Aku pun berangkat ke butik sama mbak Ayuni untuk mengambil sisa baju-baju yang belum di bawah oleh Yulia.
"Dinda ya Allah, aku bingung banget ini. Bagaimana ini Din? Barusan tante Anggel bilang kalo acara kalian ini akan disiarakan secara live." kata Yulia saat dia melihayku dan mbak Ayuni datang.
"Loh kan bagus kenapa kamu jadi bingung dan panik begitu Yul?" sela mbak Ayuni yang melihat Yulia seolah tak setuju dengan siaran live dari pameran ini.
"Bukan begitu mbak, persiapan awal tak ada acara siaran live. Dan biaya untuk itu kan mahal mbak" jelas Yulia pada mbak Ayuni.
"Loh, emang dari awal gak diberitau Din?" tanyanya padaku yang hanya senyum menanggapi mereka berdua debat.
"Hihihi. Sudah si mbak, kemaren tante Anggel sudah bilang kalo acara kali ini akan disiarkan secara live. Dan mereka yang minta, jadi kita tak mengeluarkan biaya apa pun. Begitu katanya." aku menjelaskan pada kedua orang yang selalu ada dan membantuku itu.
"Ya Allah, berilah aku kebahagiaan yang cukup untuk membuatku selalu tersenyum seperti ini, dan kebahagiaan yang mampu membuatku selalu bersyukur kepada-Mu." kataku dalam hati, yang merasa sangat bahagia terlepas dari hari-hariku yang seram sebentar akibat perceraianku.
Aku pun berangkat ke hotel bersama mbak Ayuni dan juga Yulia. Sesampainya aku di hotel aku langsung menemui tanta Anggel untuk konfirmasi soal siaran live yang kemaren dibicarakan lewat telpon.
Di hotel itu sudah kumpul semua para model yang akan meragakan baju-bajuku. Termasuk mas Dido dan managernya yang datang ikut membantu memeriakan acaraku, karna dia adalah model yang lumayan terkenal. Kemudian Melinda dan Merisca yang sudah ku kenal dari tante Aggel. Sementara yang lainnya adalah model yang dibawah oleh tante Anggel dan tak ada yang ku kenal.
Aku juga mengirimkan undangan untuk orang tua mas Bram supaya bisa hadir dalam acara pameran butikku ini, karna aku ingin membagi sedikit kebahagianku bersama dengan mereka.
"Tante, salam. Maaf Dinda mau tanya soal yang tante bicarakan lewat telpon kemaren yang soal siaran live." kataku begitu aku melihat tante Anggel yang sedang ku cari-cari dari tadi muncul dan berjalan ke arahku.
"Ah, iya. Kemaren mereka meminta izin untuk mengambil acra kalian ini dan mau disiarkan secara live sebagai acara utama berita mereka. Dan aku mengizinkan karna ini ada untungnya juga bagi brend yang kamu bawahi." jelas tante Anggel padaku.
Aku pun berfikir boleh juga, mungkin ini adalah jalan untukku menuju kesuksesan yang diharapkan oleh kedua alm. orang tuaku dan juga om Bambang.
Tante Anggel tiba-tiba menyeretku menjauh dari orang-orang dan meminta waktu untuk bicara berdua saja denganku.
"Tante ada apa? Apa ada masalh dengan persiapannya? Kalo emang iya tidak papa tan, Dinda tak masalah jika tak bisa menampilkan rancangan milik Dinda. Semua bisa dilakukan pelan-pelan dan nan..." belum selesai aku bicara jari telunjuk tante Anggel sudah menempel di bibirku, tanda aku harus berhenti bicara.
"Ssstt... Tenang dulu sayang. Tidak ada masalah semuanya berjalan sesui dengan rencana tante. Cuma...." kalimat tante Anggel terhenti dan itu membuatku penasaran.
Ku tatap tante Anggel yang senyum-senyum dan terlihat ragu-ragu mau mengucapkan sesuatu padaku.
"Jika tidak ada masalah dengan itu, terus apa tan? Katakan saja Dinda gak masalah kok apa pun itu." jawabku menenagkan tante Anggel.
"Aahh. Syukurlah, terima kasih sayang" tante Anggel memelukku dan terlihat sangat senang.
"Dengarkan tante sayang. Acara ini sebenarnya bukan hanya disiarkan dalam Negri saja, tapi juga akan disiarkan di luar Negri. Lebih tepatnya di LA." jelas tante Anggel setelah mengurai pelukannya dariku.
"Apa?! LA tan?" tanyaku mengulang kalimat tante Anggel karna terkejud.
"Yes sayang. Los Angeles" katanya dengan nada riang.
"Tapi tan, kenapa harus di sana?" tanyaku bingung.
"Tentu saja, pertama karna kamu adalah murid didikku dan yang kedua kamu adalah lulusan terbaik dari Universitas California. Dan pihak mereka ingin menyiarkan acara dari siswa lulusan terbaik mereka yang di Indonesia dengan bangga. Jadi tante pikir itu adalah hal yang bagus untukmu sayang. Pihak mereka yang akan mendanai semuanya." jelas tante Anggel padaku. Dan bisa ku anggukan kepalaku
Setelah perbincaganku dengan tante Anggel, aku kembali ke Yulia dan mbak Ayuni untuk membantu. Setelah semua selesai kami pun istirahat di kamar hotel yang disediakan oleh tante Anggel selalu pihak penyelenggara.
Aku menceritakan semua perbincanganku dengan tante Anggel tadi pada mereka berdua disela-sela istirahat kami. Dan mereka sangat senang.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Apa pun yang Engkau berikan kepadaku, itu adalah yang terbaik. Jika bukan untuk hari ini, aku yakin pasti untuk masa yang akan datang nantinya." ucap syukurku disela sholatku saat acara mau dimulai.
Dan tepat jam 7 malam acara pameran dan peragaan busana untuk mengenalkan desain-desai terbaru dari butikku dan dari rancangan tante Anggel pun dimulai.
Aku dan tante Anggel berjalan di atas podium untuk menyambut para tamu dan juga undangan yang hadir dalam acara malam itu. Dan ku lihat kedua orang tua mas Bram juga hadir dalam barisan kursi vip yang ku sediakan.
"Baiklah mari kita mulai acaranya malam ini dengan diiringi musik dan lagu dari seorang penyanyi yang suaranya sangat merdu. Mari kita kenalkan gaun pertama yang dikenakan oleh model kita Melinda, dari desainer AL" seru mc memulai acara dan memanggil satu persatu model yang akan meragakan gaun dan juga baju hasil rancanganku dan tante Anggel.
Di daun yang ikut mengalir lembut
Terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada
Jalanku hampa dan kusentuh dia
Terasa hangat, oh, di dalam hati
Kupegang erat dan kuhalangi waktu
Tak urung jua kulihatnya pergi
Tak pernah kuragu dan s'lalu kuingat
Kerlingan matamu dan sentuhan hangat
Ku saat itu takut mencari makna
Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada
Kau datang dan pergi, oh, begitu saja
Semua kut'rima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Uh-uh-uh, uh-uh
Uh-uh, uh-uh-uh
Kau datang dan pergi, oh, begitu saja
Semua kut'rima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Bertemu
Hu-uh-uh
Penulis lagu: Noe
Lirik Ruang Rindu
Tak terasa acara yang berjalan selam 3 jam itu pun selesai. Tepuk tangan dari semua penonton dan juga para investor yang menghadiri acara malam itu sangat ramai.
"Dan mari kita tutup acara yang meriah ini dengan sebuah lagu yang dari tadi di nyanyikan oleh seseorang di balik layar, ayo kita sambut penyanyi kita yang memiliki suara merdunya Aa-dinda." teriak pembawa acara menyerukan namaku. Dan aku pun muncul dengan gitarku yang di temani oleh Adil, yang belakangan ini selalu bernyanyi bersamaku.
Kekasih aku kan pergi
Jauh darimu
Jauh dari pelukmu
Tapi ku harus begitu
Tuk masa depan
Percayalah padaku
Meskipun kau terhalang dua samudra
Hatiku selalu kusimpan untukmu
Meskipun kau sejauh dua benua
Hatiku selalu hanyalah untukmu
Ku akan menjaga setia
Asal kau juga begitu
Kekasih sesungguhnya aku
__ADS_1
Dalam hatiku
Tak pernah ingin jauh
Tapi bila memang begitu
Itu maumu
Kuserahkan padamu
Meskipun kau terhalang dua samudra
Hatiku selalu kusimpan untukmu
Meskipun kau sejauh dua benua
Hatiku selalu hanyalah untukmu
Ku akan menjaga setia
Asal kau juga begitu
Saat diam ku meragu
Bertahan dia padaku
Banyak bintang di langit
Banyak godaan datang
Sanggupkah kau menepis ho
Meskipun kau terhalang dua samudra
Hatiku selalu kusimpan untukmu
Meskipun kau sejauh dua benua
Hatiku selalu hanyalah untukmu
Meskipun kau terhalang dua samudra (oh)
Wa iya wa iya wa iya ya ya ya
Meskipun kau sejauh dua benua
Wa iya wa iya wa iya ya ya ya
Meskipun kau terhalang dua samudra
Hatiku selalu kusimpan untukmu
Meskipun kau sejauh dua benua
Hatiku selalu hanyalah untukmu
Ku akan menjaga setia
Ku akan menjaga setia
Asal kau juga begitu
Du du (oh)
Asal kau juga begitu
Menjaga setia pasti (oh)
Asal kau juga begitu
Penulis lagu: Yovie
"Baiklah, penutupan acara malam ini mari kita panggil para desainer kita yang telah menciptakan model-model dan gaya dari semua gaun dan baju yang tadi kita sudah lihat dan saksikan bersama. Inilah dia desainer ternama dan telah mendunia, dan semua baju hasil rancangannya telah di gunakan oleh artis-artis manca negara. Kita sambut desainer Anggela Labordt" teriak mc yang memanggil nama tante Anggel disambut dengan teriakan para penonton.
Tante Anggel keluar dan ditemani oleh Melinda yang telah menggunakan gaun rancanganku.
"Ya.! Dan tak kalah dari sang maha guru, desainer baru kita yang telah menciptakan beragam rancangan uniknya yang juga sudah kita saksikan malam ini, dan telah mendapatkan banyak tawaran kerja sama. Mari kita panggil sang pemilik nama AL, dia adalah Adinda Larasati. Penyanyi dengan suara merdunya dan sang desainer malam ini."
Aku pun melangkahkan kaki menuju podium dengan didampingi mas Dido. Detak jantungku berdebar sangat kencang, tepuk tangan dari semua penonton dan sorotan kamera membuatku gugup menerima semua kebahagiaan yang sangat besar ini.
Ku peluk dengan erat lengan mas Dido dan ku sejajarkan berdiriku dengan tante Anggel, ku tundukkan kepala memberi hormat pada para tamu vip dan juga para pemimpin perusahaan.
Aku pun menerima buket bunga yang sangat bagus dan indah dari salah satu pimpinan perusahaan yang berdiri dibidang pertokohan dan perhotelan.
"Ya mari kita kenal siapa desainer pendatang baru kita ini. Kalo desainer Anggel kita sudah tau. Tapi siapa desainer AL kita ini? Dia selalu bersembunyi dibalik pekerjaannya sebagai penyanyi cafe dan juga resto. Dia bukan hanya seorang desainer, tapi dia juga pemilik butik, pemilik resto dan cafe yang jadi tempat dia bernyanyi selama ini. Desainer AL kita ini juga lulusan terbaik dari Universitas California dibidang bisnis." seru dari mc yang mengenalkan identitasku membuatku semakin gugup.
__ADS_1
Selesai acara aku berdiri berdampingan dengan tante Anggel untuk memberikan penghormatan dan menerima banyak jabatan tangan dari para pemimpin perusahaan besar dan juga para investor yang diundang oleh tante Anggel.