
Ya.! Dan tak kalah dari sang maha guru, desainer baru kita yang telah menciptakan beragam rancangan uniknya yang juga sudah kita saksikan malam ini, dan telah mendapatkan banyak tawaran kerja sama. Mari kita panggil sang pemilik nama AL, dia adalah Adinda Larasati. Penyanyi dengan suara merdunya dan sang desainer malam ini.
"Apa?! Dia desainer, ini tidak mungkin. Dinda.!" amarah seseorang yang mendengar kebanaran.
1 jam sebelum acarah.
"Hoo, coba lihat siapa ini?" melihat dengan tatapan mengejek.
"Ah, mbak Monica. Assalamu'alaikum" sapaku pada mbak Monica yang tiba-tiba menghadang jalanku untuk masuk ke aula acara.
"Hem. Kita ketu lagi disini, bagaimana apa kau sudah menemukan lelaki yang cocok dengan mu? Bagaimana hidup menjadi seorang canda?" ledeknya padaku dengan tatapan meremehkan.
"Hidupku baik-baik saja kok mbak. Terima kasih mbak Monica sudah mengkhawatirkan ku." ku balas dengan menahan emosiku dalam-dalam.
"Oh ya? Hem... Kau datang kesini bukan untuk menjadi seorang modelkan. Atau... Kau datang dengan Om kaya yang sudah menyimpanmu, buka saja hijabmu dan tunjukkan sifat aslimu jangan sok suci." kata-kata hinaan yang keluar dari mulutnya itu benat-benar membuatku naik darah. Ku kepalkan kedua tanganku untuk menahan amarah yang sudah hampir membuatku kalap.
"Astagfilullah halazdim. Mbak hati-hati, jangan sampai apa yang mbak katakan itu berbalik pada diri mbak sendiri." kataku dengan menahan segala gejolak emosi dalam diri.
"Kau...!?" teriaknya dengan emosi.
"Dinda, di sini rupanya. Ku cari kemana-mana" teriak Yulia yang ngos ngosan karna lari ke arahku.
"Baiklah Dinda masuk dulu mbak, ayo Yul." aku melangkah pergi dengan menarik tangan Yulia.
"Eh, siapa dia? Apa kau kenal dengannya Din?" Tanya Yulia yang merasa bingung dengan sikapku yang kurang rama sama mbak Monica.
Kembali ke acara.
__ADS_1
Ya mari kita kenal siapa desainer pendatang baru kita ini. Kalo desainer Anggel kita sudah tau semua ya. Tapi siapa desainer AL kita ini ya? Kita korek identitasnya sama-sama, dia selalu bersembunyi dibalik pekerjaannya sebagai penyanyi di sebuah cafe dan juga resto yang di kelolah oleh saudara kembar.
Desainer AL murid kesayangan dari desainer dunia kita, dia bukan hanya seorang desainer, tapi dia juga seorang pebisnis, pemilik butik, pemilik resto dan cafe yang jadi tempat dia bernyanyi selama ini. Desainer AL kita ini juga lulusan terbaik dari Universitas California dibidang bisnis. Dia telah mengembangkan sayap bisnisnya di bidang fashion dan juga kuliner dengan menyembunyikan jati dirinya dibalik hobi dan pekerjaannya bermain musik.
"Apa yang terjadi semua ini. Jadi dia adalah seseorang yang sangat luar biasa. Apa yang telah ku lakukan selama ini? Kenapa aku bisa mengabaikan orang sepertinya selama 3 tahun. Dinda, jadi ini dirimu yang sebenarnya?" gumamku yang terpaku ditempat dudukku.
Ku amati dia yang berjalan dengan digandeng Dido, yang disampingnya seharusnya adalah diriku. Kenapa begitu banyak rahasia yang kau sembunyikan.
3 tahun yang lalu
Kulihat seorang gadis berjalan masuk ke sebuah cafe dan terlihat seperti sedang mencari seseorang.
"Maaf apakah anda adalah mas Bram?" tanyanya dengan suara yang bisa dibilang sangat enak didengar.
"Ah, iya. Kamu Adinda?" jawabku dengan nada kesal.
"Iya, maaf saya telat karna tadi...."
"Baiklah." jawabnya dan langsung duduk di depanku.
"Langsung saja. Aku ingin agar perjodohan ini dibatalkan, jadi bicaralah pada orang tuaku kalo kamu tak menyetujuinya." jelasku padnya, karna aku gak mau disalahkan oleh mama jika aku yang membatalkannya.
"Maaf, tapi saya gak bisa. Saya ingin membahagiakan orang tua saya, jadi saya akan melakukan pesan trakhirnya. Kalo mas Bram ingin ini semua dibatalkan silakan saya gak masalah." jawabnya dengan menunduk menatap ke arah bawah.
"Kau ingin apa? Aku akan memberikannya padamu" kataku karna kesal dengan jawabannya.
"Maaf, tapi saya tak mencari harta atau mau memanfaatkan keluarga mas Bram." jelasnya padaku yang terdengar menyepelehkan soal kekayaan.
__ADS_1
"Baiklah. Kita lakukan sesuai rencana, tapi jangan harap kalo aku akan bisa menerimamu sebagai istriku." jawabku yang sudah emosi dan langsung pergi meninggalkan dia sendirian.
Kembali ke Bram.
"Apa ya ku lakukan dulu? Bagaimana aku bisa mengatakan itu semua. Dibandingkan dengan ku, dia sudah memiliki segalanya." aku menyeka kasar wajahku dan ku hela nafas kasar.
"Bram? Mama pikir kamu sudah pulang. Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu duduk di lobby sendirian seperti orang yang lagi banyak pikiran gini." Tanya mamaku yang baru keluar dari aula pameran.
"Ma, apa mama sudah tau siapa Adinda yang sebenarnya?" tanyaku sambil menatap wajah mamaku, namun di sana tak ku lihat wajah terkejud sama sekali.
"Ya, mama sudah tau siapa dia sejak awal. Dan mama menjodohkannya denganmu, supaya kamu memiliki pendamping yang baik dan orang yang bisa membantu serta mendukung kamu. Mama gak mungkin ingin menjerumuskan anak mama sendiri." jelas mamaku padaku.
Mendengar penjelasan dari mama aku merasa sangat menyesal. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam kerongkonganku dan meremas jantungku. Rasa sakit dan sesak yang datang bersamaan.
"Ma. Bram telah bersalah padanya ma, Bram menyesal telah menyia-nyiakan dia selama ini. Akankah dia bisa menerima kata maaf dari Bram?" kataku dengan penuh penyesalan.
"Dia adalah gadis yang baik, dia pasti bisa menerima dan memaafkanmu. Dia adalah orang yang memilikk pemikiran yang luas. Asal kamu bisa menunjukkan rasa penyesalanmu dia pasti bisa menerimamu." jelas papaku sambil menepuk bahuku.
"Ya. Yang dikatakan oleh papamu benar, cobaklah untuk memintak maaf dengan tulus padanya." kata mamaku penuh dengan keyakinan.
Setelah pembicaraan itu, mama dan papa pulang. Sedangkan aku masih duduk di lobi untuk menunggu Monica sampai selesai, agar bisa pulang bersama.
Setelah lewat 1 minggu dari acara itu, aku yang ingin menemui Adinda tak memiliki keberanian, karna rasa bersalahku padanya yang terlalu banyak.
Dan aku juga mulai merasa ada yang aneh dengan Monica. Dia mulai suka sekali pulang lewat dari jam malam. Dan tiap kali ku tanya dia selalu marah.
Aku mulai merasa lelah dan jenuh, dan semua yang ku lakukan untuk Monica seolah selalu saja salah dan kurang. Dan aku mulai merasa tak ada lagi kata yang sejalan dengan yang ku harapkan.
__ADS_1
Suatu sore aku yang pulang kerja lebih cepat, membawa putriku jalan-jalan di depan rumah. Alangkah terkejudnya aku saat banyak tetangga yang bilang kalo putriku tak mirip dengaku atau Monica.
Aku yang merasa curiga pun akhirnya melakukan tes DNA. Dan aku mendapati suatu kenyataan yang membuat isi duniaku seketika menggelap dan hancur berkeping-keping.