(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Permintaan menikahinya


__ADS_3

Setelah adinda menggaji pegawenya di butik yang di mol adinda langsung melajukan mobilnya ke cafe dan mengganji semua pegawenya di sana, setelah dari cafe dilanjut ke resto dan juga butik yang ada di dekat dengan rumahnya, setelah itu adinda pulang. Dan saat adinda memarkirkan mobilnya digaransi tiba - tiba mexca juga sudah datang dan memarkirkan mobilnya juga dibelakang mobil dinda.


"Loh mas Abi, kok masih sore banget pulangnya?" gumam dinda saat dia keluar. dari mobilnya dan melihat mobil mexca juga di situ.


"Dari mana sayang?" tanya mexca yang melihat dinda mendekati mobilnya dengan senyuman yang menawan bagi mexca.


"Assalamu'alaikum mas." ucap salam dinda dan menyambut tangan mexca lalu mencium punggung tangan mexca saat mexca keluar dari mobil.


"Iya, wa'alaikumsalam sayang." balas mexca dengan mengecup kening dinda, lalu mereka melangkah masuk rumah bersama.


"Eh, kamu belum menjawab pertanyaan mas sayang?" ucap mexca yang sadar kalo pertanyaannya belum dijawab oleh dinda.


"Iya, mas Abi duduk dulu." dinda menyuruh mexca duduk di kursi meja makan dan dirinya melangkah kedapur untuk mengambilkan air minum buat mexca.


Sambil berjalan mendekati mexca dengan membawah segelas air putih "Tadi dinda dari butik, karna yulia menghubungi dinda kalo orderan bahan baku untuk butik datang berlebih, diminum dulu mas." dinda menyodorkan air digelas pada mexca, dan mexca langsung meminumnya sampai habis.


Dinda duduk di kursi samping mexca "Dinda tadi kesana sekalian membayar uang bulanan untuk semua pegawenya dinda, dan setelah dikonfirmasi ternyata mas Bram yang mengorderkan untuk Dinda."


"Bram!? Bagaimana dia bisa tau?" tanya mexac sambil menyatukan alisnya.


"Tidak tau, mungkin mama mas Bram yang ngasik tau, karna dulu Dinda pernah mengajak mama untuk pesan di toko itu." jawab dinda dan dia langsung menarik tangan mexca untuk naik ke atas ke kamar mereka.


Sambil menggandeng tangan istrinya mexca naik ke atas dan mulai bertanya apa dinda ketemu sama bram untuk meluruskan masalah orderan.


"Ya tadinya Dinda gak mau ketemu cuma ingin menghubunginya saja, tapi mas Bram menyusul Dinda di butik, jadi sekalian saja Dinda bilang agar mas Bram jangan ikut campur urusan butik dan soal orderan." jelas dinda pada mexca yang sedang melepas bajunya untuk membersihkan diri.


"Hem, tak ada lagi yang kalian bicarakan?" tanya mexca sambil berjalan mendekati dinda yang berdiri didepan almari untuk mengambilkan baju ganti untuk mexca "Mandi bareng yuk sayang, kamu juga belum mandikan?" bisik mexca yang bisa ditangkap oleh dinda niatnya.


"Mas, jangan aneh - aneh ah.!" tolak dinda yang lagi sibuk memilih baju untuk mexca.


"Ya... Ayolah Yang?" desak mexca dengan memeluk dinda dari belakang.


"Baiklah, tapi seminggu puasa gimana?" ucap dinda yang memutar tubuhnya menghadap mexca sambil tersenyum.


"Waduh, gak jadi sayang mas mandi sekarang. Kamu panasin makanan saja." ucap mexca yang langsung melesat hilang dibalik pintu kamar mandi. Dinda tersenyum lihat tingkah suaminya.


"Aku baru tau kalo dia seperti anak kecil saat berdua, padahal kalo di kantor dia adalah bos yang nakuti" gumam dinda dan melangkah keluar kamar untuk memanaskan makanan untuk makan malam.


****************************************


****************************************


"Sayang, bagaimana kalo kita belih rumah? Karna mas ingin beliin kamu rumah atau rumah ini saja yang mas bangun, kita tambahin atau kita lebarkan." tanya mexca pada dinda saat mereka sedang makan malam berdua.

__ADS_1


"Dinda mah ikut apa kata mas Abi saja." jawab dinda atas pertanyaan mexca.


"Hem... 🤔 gimana kalo langsung mas renovasi saja mulai lusa? Dan gimana kalo kita ambil alih hak asuh Alea? Biar rame nanti rumah kita ini, atau kita bikin anak yang banyak mulai sekarang? 😁" ucap mexca sambil senyum lebar.


"Jangan mulai. Tapi pada awalnya emang Dinda yang ingin adopsi Alea, tapi karna belum nikah jadi gak bisa. Terus kalo kita ambil sekarang bagaiman dengan mas Didi dan mbak Ayuni mas?" tanya dinda yang merasa cemas dengan didi dan juga ayuni yang telah merawat alea sejak bayi.


"Yasudah kita cobak tanyakan nanti sama mereka tentang pendapat mereka soal kita yang ingin mengambil alih hak asuh Alea." saran mexca sambil bantuin dinda mencuci tempat bekas makan malam mereka.


****************************************


****************************************


"Selamat pagi bos, ini ada kiriman untuk bos." ucap Merlin saat dia melihat mexca dan mengikuti mexca sampai masuk kedalam ruangannya.


"Iya, assalamu'alaikum pagi Lin. Tapi itu apa dan kiriman dari siapa?" balas mexca pada sapaan Merlin serta menanyakan isi amplop yang diserahkan Merlin diatas mejah kerjanya.


"Iya wa'alaikumsalam bos, tidak tau bos, ini tadi diserahkan dari resepsionis dan tidak ada nama pengirimnya." jawab Merlin pada pertanyaan yang ditanyakan oleh mexca padanya.


"Hem. Baiklah maksih kamu tinggalkan dan to long bawah laporan bulanan kemari sekarang ya." perintah mexca pada sekretarisnya (merlin).


Sepeninggal Merlin mexca yang merasa penasaran dengan isi amplop besar itu pun membukanya, dan mexca mengerutkan keningnya saat dia melihat isi amplop itu. Mexca merasa sedikit bertanya dan juga marah dengan gambar dari isi amplop itu.


"Apa - apa'an ini, dan kapan mereka bertemu dan melakukan ini semua?" gumam mexca melihat semua hasil gambar itu dan merasa heran.


Sambil mengerutkan keningnya mexca melihat satu persatu gambar yang dikirimkan oleh seseorang kepadanya "Mereka terlihat begitu mesrah, apa yang sedang mereka lakukan ya? Makan bersama, atau lagi kencan." gumam mexca lagi bertanya - tanya, karna saat adinda cerita dia tidak menceritakan kalo mereka sedang berjalan dengan bergandengan tangan dan makan sambil pegangan tangan.


"Ini nomor pengirimnya ya? OK akan ku hubungi setelah pertemuan nanti." gumam mexca dan menyimpan nomor itu.


****************************************


****************************************


Mexca merasa kesal dan juga cemburu melihat semua gambar - gambar itu. Hingga di sebuah pertemuan mexca tak bisa fokus karna merasa terganggu dengan tampilan gambar yang diamatinya tadi pagi.


"Faris tolong kau selesaikan dengan mereka aku sudah menanda tangaini surat perjanjiannya, tinggal menunggu mereka tanda tangan dan memberikan salinan suratnya." perinta mexca saat dia keluar dari kamar mandi restoran tempat dia bertemu dan menyeselaikan perjannjiannya dengan mitra kerjanya.


"OK, tapi kau mau kemana? Dari pagi gak fokus apa ada masalah?" tanya Faris yang merasa khawatir karna bosnya sedikit aneh hari ini.


"Tak papa, aku ingin menyelesaikan sedikit masalah kecil dengan seseorang." ucap mexca yang melangkah dengan lebar.


"Oh ya Faris nanti kau telpon supir saja, karna mobilnya aku bawah, dan bilang pada mereka yang didalam kalo aku ada keperluan mendesak sekarang." mexca berucap dengan melihat faris yang berjalan dibelakangnya, lalu di berjalan dengan cepat lagi meninggalkan faris.


Saat di parkiran restoran mexca terlihat sedang menghubungi seseorang, dan dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga dia sampai di sebuah rumah makan yang terlihat dari bangunannya itu adalah rumah makan olahan makanan barat. Setelah mexca memarkir mobilnya dia melangkah masuk ke dalam rumah makan itu.

__ADS_1


"Maaf pak reservasi untuk berapa orang dan atas nama siapa?" tanya pegawe rumah makan itu saat melihat mexca melangkah masuk ke dalam.


"Saya sudah ada reservasi atas nama tuan Bramono Laksono." ucap mexca pada pegawe itu, akhirnya pegawe itu membawah mexca kedalam dan menunjukkan meja yang sudah diseresvasi oleh bram.


Saat mexca masuk dan melihat kearah pegawe itu menunjukkan dia melihat sosok laki - laki yang sudah duduk di situ dengan postur tubuh angkuh menatapnya.


Mexca melangkah mendekati bram dan duduk didepan bram menatapnya dengan begitu banyak pertanyaan didalam hatinya. Karna dia belum pernah duduk berdua seperti ini dengan bram.


"Apa anda ingin makan daging babi tuan mexca? Saya sudah memanggangnya untuk anda." tanya bram dengan nada mencibir, dan mexca hanya mengerutkan alisnya menayap bram.


"Hahaha... Anda pasti bingung kenapa saya meminta ketemuan dengan anda di sinikan?" tanya bram lagi sambil merentangkan kedua tangannya, sedangkan mexca masih diam.


"Ya, itu karna kita belum pernah bertemu dan bicara dengan benar berdua saja. Secara kita adalah orang yang berhubungan dengan seorang gadis yang sama, yaitu Adinda." jelas bram lagi pada mexca yang masih diam menatap bram.


"Kenapa anda hanya diam saja tuan mexca, makanlah daging ini saya sedah bermurah hati memesankan serta memanggangkan untuk anda." ucap bram yang meletakkan daging itu diatas piring mexca.


"Maaf saya tidak makan daging tuan bram, dan sebaiknya kita mulai saja hal penting yang katanya ingin anda sampaikan pada saya, dan juga apa maksud anda mengirim foto - foto itu pada saya tadi pagi." ucap mexca yang merasa bram terlalu banyak basah sabi dengannya.


"Oho anda sudah tak sabar rupanya." ucap bram yang menyandarkan tubuhnya disandaran kursi dan menatap mexca.


"Seperti yang anda lihat, bukti foto itu menunjukkan kalo saya dan Adinda masih ada hubungan dan juga masih saling menyukai. Bahkan saya sangat mencintainya hingga sekarang." jelas bram dengan percaya diri pada mexca, dan mexca yang mendengar itu merasa geram, dia mengepalkan tangannya menahan emosinya.


"Maksud anda apa bicara seperti itu. Tolong anda jangan mengada - ada dan membuat istri saya sebagai obsesi anda." ucap mexca dengan tenang sambil menahan emosinya pada bram.


"Heh, bagaimana anda bisa mengatakan kalo saya mengada - ada, anda lihat ini maka anda akan tau yang sebenarnya." bram menyodorkan sebuah buku harian di depan mexca.


Setelah melihat dan membaca buku harian itu mexca merasa ada sesuatu yang bergejolak didalam hatinya, serta rasa panas yang membuat sesak dadanya. Mexca mencekram buku itu dan terus membuka serata membaca satu persatu setiap halamannya. Didalam buku itu tertulis betapa adinda sangat menghormati bram sebagai suaminya dan juga rasa cintanya pada bram, hingga dia rela dimadu.


"Apa ini?" gumam mexca dalam hatinya saat dia melihat tulisan kalo dinda akan bertahan dan berusaha untuk membuat bram jatuh cinta pada dirinya serta keinginannya untuk menjadi istri sempurna bagi bram dan melahirkan anak - anak bram.


Dada mexca semakin memanas dan kesal dengan semua yang diungkapkan dan dinyatakan oleh dinda untuk sang suami, sementara selama ini dinda tak pernah mengungkap perasaannya pada dirinya jika dia tak terpaksa dan terdesak, serta mexca tak tau apa yang diucapkan dinda untuk cintanya itu benar tulus atau hanya karna balas budi karna dirinya telah menolong dan menyelamatkan dirinya dari nama buruknya.


"Anda sudah mengertikan maksud saya tuan mexca? Maka dari itu kembalikan istri saya dan biarkan saya menikahinya lagi, jangan anda kekang dia dalam belenggu pernikahan anda yang mungkin anda sebut sempurna itu." permintaan bram pada mexca yang terlihat sudah mulai terprofokasi.


Mexca menatap tajam bram dengan pandangan mata elangnya "Anda jangan macam - macam dengan saya." ancam mexca pada bram.


"Kenapa? Saya hanya meminta untuk menikahinya itu saja, bukankah tidak sulit?" ucap bram dengan menatap mexca balik yang tak kala tajam dengan mexca.


"Anda.!!" teriak mexca yang tertahan.


"Dengar jangan pernah bermimpi untuk menikahinya, karna saya tak akan pernah melepaskannya. Dan anda jangan macam - macam, jika tidak saya akan melakukan hal yang mungkin akan anda sesali nanti." ancam mexca pada bram lalu dia berdiri dan meninggalkan bram sendiri serta menggenggam erat buku harian dinda.


"Saya tak akan menyerah untuk mendapatkannya, saya akan merebutnya dari anda.!!" teriak bram pada mexca yang melangkah keluar dari rumah makan itu.

__ADS_1


Mexca tak menggubris omongan bram karna dia tak mau menghajar orang ditempat umum. Mexca melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh dan membuat keributan dijalanan.


__ADS_2