(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Bulan madu


__ADS_3

Suarah adza dan alamr berbunyi bersamaan mengusik tidur mexca yang nyenyak. "Uhg." mexca terbangun dan dia merentangkan kedua tangannya keatas serta tubuhnya lalu dia meraba kesamping dan tak didapati siapa pun disitu. Mexca langsung terbangun dan dia melaksanakan kegiatan rutin paginya yaitu shalat subuh.


Mexca berjalan keluar kamar dan menuruni tangga "Kemana dinda pagi - pagi begini kok sudah menghilang saja. Kok sepi ya gak ada seorang pun, mereka belum bangun semua ya." ucap mexca yang terus turun dari tangga dan celingukan mencari orang lain selain dia di rumah itu.


Sampai dia mendapati suara benda jatuh di dapur, dan mexca langsung berjalan ke arah dapur sambil bergumam "siapa yang sudah masak pagi - pagi begini, apa gak terlalu pagi masak jam segini? Ini kan masih jam setengah lima pagi."


"Sayang!?" panggil mexca yang melihat adinda berdiri dibalik meja dapur sambil memainkan beberapa alat dapur dengan sangat mahir.


"Kau tak mendengar panggilanku." ucap mexca sambil memeluk adinda dari belakang


"Deg." karna terkejud adinda langsung menjatuhkan sendok yang dipegangnya.


"Kenapa kamu sudah menyibukkan diri pagi - pagi begini sih, aku kan gak mintak kamu untuk segera buat sarapan. Karna aku juga bisa buat sarapan buat kamu." gumam mexca yang masih tetap bergelayut manja di belakang adinda.


💋 sentuhan bibir mexca di leher dinda dengan mesrah dan membuat lukisan di sana dengan sangat indah, merah merekah. "Aku menyayangimu sayangku, sangat menyayangimu." bisik mexca diselah aktifitasnya.


Dada dinda terasa sesak mendengar ucapan mexca, dia merasa seoalah dia kembali kemasalalu saat dia menjadi seorang istri namun dia belum pernah mendapatkan perhatian dan sentuhan hangat dari suaminya saat dia sibuk masak di dapur, bahkan saat dia melakukan pekerjaan untuk suaminya. Perlahan dengan pasti air mata dinda mengalir dia merasa bahwa dirinya yang sekarang adalah istri yang sesungguhnya.


Dan mexca yang mendapati tubuh istrinya yang dia dekap bergetar serta mendengar isak tangis dia terkejud. Mexca melepas pelukannya dan memutar tubuh adinda untuk menghadap dirinya.


"Sayang kenapa? Apa ada yang sakit, atau aku ada salah karna mengganggumu masak? Atau perutnya masih terasa sakit? Aku minta maaf ya sayangku." ucap mexca dengan mengusap air mata dinda dengan lembut.


"Terima kasih dan maafkan aku mas." ucap dinda disela tangisnya dan dia memeluk mexca dengan erat.


"Hahaha... Iya, tapi kenapa harus makasih padaku, kita kan suami istri sayang, dan kenapa kamu menangis." ucap mexca dengan membalas pelukan adinda dengan tak kalah eratnya.


"Maaf mas, aku masih belum bisa dan belum siap untuk cerita sama mas. Aku hanya bersyukur untuk sekarang. Dan juga maaf karna waktu itu aku sempat berucap ingin mengikuti keyakinan mas karna aku berfikir bodoh, yang menganggap mas berbeda keyakinan denganku." ucap dinda masih sambil memeluk mexca.


"Aku tau, kemarilah." ajak mexca pada dinda ke meja makan dan mexca mematikan kompor.


Setelah duduk di meja makan mexca menghapus air mata dinda dan dia menjalaskan kenapa dia melarang dinda untuk mengikuti keyakinannya dan lebih suka dinda seperti itu.


"Jadi waktu itu mas sudah sadar kalo aku akan melakukan itu?" tanya dinda dengan sesenggukan karna sisa - sisa tangisnya.


"Iya, dan aku juga tau kalo hal seperti itu bisa dilaknat oleh Allah Swt. Itu sama dengan menjual keyakinan sayang, sebagai umatnya kita tidak boleh kalah dengan syetan yang menguasai diri dan hati kita. Dan dalam keadaan apa pun jangan pernah menghapus amalan yang sudah kita lakukan selama ini dengan hanya berucap kalo kita akan berpindah keyakinan kita."


"Maaf sayang, mas juga belum begitu tau tentang keyakinan kita ini. Mas pempelajari semuanya dari kiyai manaf." ucap mexca yang membuat dinda terkejud dengan nama yang disebutkan oleh mexca.


"Maksud mas kiyai manaf yang memiliki pondon pesantre dan sering didatangai orang yang selalu ingin jadi mualaf?" tanya dinda memastikan lagi.


"Iya sayang, apa kamu juga mengenal bliau?" tanya mexca dan dijawab dengan anggukan oleh dinda.


"Mas jadi mualaf di sana dan belajar tentang keyakinan kita di sana selama satu tahun lamanya." jelas mexca pada dinda.


"Dan mas melakukan itu karna mas percaya jika mas bisa memeluk keyakinan yang sama denganmu maka mas juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan."


"Demi cinta mas padamu, mas membulatkan diri menjadi mualaf. Dan mas gak mau kamu berpindah keyalinan. Jangan pernah melakukan itu lagi." ucap mexca dengan serious.


"Baik sekarang atau pun nanti. Dan walo pun nanti kamu harus kehilangan mas jangan pernah meninggalkan keyakinanmu. Mas mencintaimu karna agamamu dan pribadimu, kau mengerti sayang?" ucap mexca pada dinda dengan lembut.


"Maaf, dinda ngerti mas. Tapi tolong jangan perna mengucapkan kata pisah." ucap dinda yang penuh dengan rasa sedih pada mexca.


"Mas mengerti, dan mas tak akan pernah meninggalkanmu. Waoo kamu sudah tak mencintai mas, maka mas akan memaksamu untuk tetap berada disisi mas soai kapan pun." mexca berucap dengan keseriusan dan memeluk dinda lagi dalam dekapannya.

__ADS_1


Setelah pembicaraan itu dinda melanjutkan kegiatan memasaknya lagi dengan dibantu oleh bi sumi, sedangkan mexca ikut mang ujang menata taman, dan saat mexca melihat halaman belakang rumah adinda yang luas dia menyarankan pada mang ujang untuk menanam beberapa sayuran di sana.


🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳


"Hem, sayang masakanmu sangat enak." puji mexca saat dia menikmati sarapan pagi itu bersama dengan dinda, yang lagi - lagi itu membuat adinda terhanyut dan meneteskan air mata lagi.


"Sayang jangan selalu menangis, nanti dilihat orang aku akan dikatain kalo tak bisa bahagiain kamu." kata mexca dengan menggenggam tangan adinda.


"Tidak, ini bukan tak bahagia. Namun justru sebaliknya aku sangat bahagia." ucap dinda dengan tersenyum dan nampak sangat cantik dimata mexca.


"Lagian kenapa mas bilang begitu, bukankah mas juga permah makan masakanku saat kita belum menikah." kata dinda yang merasa heran.


"Beda dong sayang, waktu itu aku hanya memakan makananmu tanpa tau perosesnya dan menunggu kamu selesai masak." ucap mexca yang hanya senyumin oelh adinda.


Setelah itu mereka berangkat ke kantor berdua, dan lagi - lagi adinda terkejud karna mexca tak seperti dulu yang selalu fokus dan tak banyak bicara saat menyetir. Tapi kali ini dia tak bisa diam dan selalu saja usil sama adinda.


"Mas?!" panggil adinda yang merasa bingung dengan perubahan sikap mexca 180 derajat dari yang dulu sebelum mereka menikah.


"Iya, kenapa sayangku." jawab mexca sambil meraba kaki adinda.


"Kenapa tangannya seperti ini? Perhatikan jalan, perasaan dulu gak begini." kata adinda pada mexca dan yang ditanya hanya nyengir kuda 😁


💋 kecupan mexca mendarat di pipi dinda saat lampu merah, dan mexca nyengir saat melihat adinda yang melotot menatapnya karna kaget dan juga kesal.


"Aku sayang kamu istriku." ucap mexca lalu dia melajukan mobilnya lagi saat lampu sudah nyala hijau.


🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳


🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳


"Loh dimana mas Didi sayang? Kok sudah sepi." tanya mexca yang baru bangun dari tidur dan turun ke bawah untuk bertemu dengan didi.


"Mereka sudah pulang mas barusan karna mau ke rumah orang tua mbak ayuni katanya. Mas sudah sholat?" kata dinda dan bertanya melihat mexca yang turun mendekatinya.


"Sudah sayang barusan. Kamu lagi masak apa?" kata mexca mendekati dinda yang lagi sibuk masak di dapur.


"Soto, mas suka soto?" tanya dinda senyum melihat mexca berdiri di sebelahnya.


"Suka, apa pun yang kamu masak sayang." ucap mexca sambil senyum dan mencicipi masakan dinda.


"Sayang setelah menikah kita belum bulan madu, ayo kita lakukan di akhir bulan ini." ucap mexca dengan serius menatap dinda.


"Tapi mas aku baru juga masuk kerja 1


minggu masak harus ambil cuti lagi?" kata dinda yang merasa tak enak sama teman kerjanya.


"Emangnya kenapa sayang? Kamu kan nyonya perusahaan itu, kamu bisa melakukaan apa saja. Dan kamu juga bisa melakukan semuanya." kata mexca yang tersenyum manis dan mengedipkan matanya.


"Ya Allah, aku gak tau kalo senyumnya begitu manis dan juga menawan. Kenapa aku baru sadar kalo dia begitu tampan, apa bila senyumnya yang begitu manis bisa menambah daya tarinya." kata dinda dalam hati yang mengamati suaminya didepannya.


"Sayang kenapa kamu bengong menatapku begitu, apa ada yang salah denganku? Atau kamu baru sadar kalo ini tampan." ucap dan tanya mexca pada dinda yang bengong menatapnya.


"Maafkan aku mas, tidak apa aku setuju dengan semua kata mas." ucap dinda sambil senyum malu dan menunduk.

__ADS_1


🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳


🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳


Setelah melewati perundingan akhirnya mexca dan dinda derangkat ke Bali untuk bulan madu mereka setelah menikah yang sudah tertunda hampir 1 bulan.


Dalam perjalanan mereka menikmati liburan mereka. Mexca benar - benar memanjakan adinda dan membawah dinda kesemua tempat wisata selama di bali. Seolah dunia hanya milik mereka berdua saja mexca tak perduli dengan pandangan orang yang menyaksikan kemesraan mereka berdua, bahkan mexca sering mengecup pipi dinda setiap saat dia bisa dan mau.


Satu minggu waktu yang diambil mexca untuk bulan madu dengan adinda, dan ini adalah malam terakhir mereka di Bali. Setelah sibuk seharian berselancar mexca merasa capek semua dan dia ingin tidur lebih awal, sementara dinda lagi bingung dengan baju tidur yang diberikan oleh mama mertuanya untuk dia pakai saat dia sudah bersih dan tak mesnt lagi.


"Masya Allah bagaimana caranya aku pakek baju ini? Mama kok ya ada - ada saja." gumam dinda didalam kamar mandi yang sudah lebih dari 30 menit lamanya.


Sebelum mereka berangkat.


"Dinda sayang, bagaimana apa putra mama sangat luar biasa diranjang?" tanya mama mertua dinda, saat dinda dan mexca berkunjung ke rumah mexca.


"Eh? Maaf belum ma, karna dinda masih mens sekarang dan baru hari pertama." jawab dinda dengan malu.


"Oalah, ya sudah tunggu sebentar ya." mama mertua dinda lari ke arah kamarnya dengan cepat dan wajah bahagia.


"Ini sayang, kamu pakek nanti kalo kamu sudah selesai mensnya dan tunjukkan pada mexca pasti dia tak akan bisa tahan kalo melihat kamu pakek ini didepannya." kata mama mertua dinda dengan senyum tersembunyinya yang sulit diartikan oleh adinda.


Dengan wajah bingung dan bertanya - tanya dinda menanyakan bungkusan yang diberikan oleh mama mertuanya dengan curiga "Tapi ini apa ma?" tanya dinda bingung yang penasaran.


"Sudah jangan dibuka sekarang nanti gak akan jadi kejutan." ucap mama mertuanya dengan senyum nakal yang dilihat oleh adinda.


Saat sekarang


"Jadi ini maksud mama kejutannya? Tapi ini benar - benar kejutan bagiku, bagaimana bisa aku menggunakan baju yang tembus pandang begini? Dan ini apa kok ********** serba tali begini? Kalo gak dipekek akan memalukan karna kelihatan semuanya, tapi dipakekpun juga sama memalukannya, tapi agak mendingan karna tertutup, ku pakek saja." guman adinda yang akhirnya memakai juga baju itu dan keluar dengan mengendap - endap.



"Syukurlah sepertinya mas sudah tidur." ucap dinda yang melihat mexca sudah terlelap di tempat tidur, dan dinda mengendap lalu berbaring disebelah mexca serta menutupi tubuhnya dengan selimut.


Ditengah malam saat dinda dan mexca selesai sholat mexca tanpa sengaja melihat dinda dengan baju teransparannya itu sedang mipat mukenahnya, langsung saja darah kelelakiannya bangkit dan merontah.


"Masya Allah, jadi itu alasannya dia yang tak mau aku lihat dan memintakku sholat sunna duluan dan dia ikutan jama'ah setelah aku masuk dalam rakaat tadi." gumam mexca dalam hati yang tak bisa lepas melihat adinda.


"Sayang ini kah yang sengaja kamu sembunyikan dariku? Kamu sudah selesai sayang? Bolehkah aku memilikimu sekarang?" Kata mexca yang mendekap adinda dari belakang dan mexca memeluk tanpa melepas sarung dan baju kokonya.


"Eh, mas itu. Ini pemberian mama waktu itu." jawab dinda yang malu karna diketahui oleh mexca, karna dia lupa melepas mukenahnya begitu saja.


" Bolehkan sayang sekarang sebelum subuh datang?" tanya mexca dan dijawab anggukan oleh dinda.


Mexca langsung melancarkan aksinya yang sudah menggebuh dan dia memcobak menyatukan dirinya dengan adinda, sementara adinda yang merupakan pengalaman pertama merasa takut dan cemas.


"Ya Allah kenapa susah kali masuk, apa karna ukuran punyaku yang mengikuti papa ( orang luar) jadi lebih besar bari milik orang indo." kata hati mexca yang bersusah paya melakukan penyatuan hingga dia menghentakkan paksa miliknya.


"Aaah.!? Eghm." teriak dinda dan langsung menggigit bibir bawahnya dengan menggenggam seprei dengan kuat dan tubuhnya gemetar serta matanya tertitup rapat.


"Sayang?" panggil mexca terkejud melihat dinda yang teriak dan tubuhnya gemetar hebat.


Mexca yang melihat reaksi dinda seperti itu merasa bingung dan terkejud, mexca menatap adinda yang berada dibawah tubuhnya merasa kasian karna dinda seolah menahan rasa sakit yang hebat dan luar biasa. Melihat itu mexca jadi mengurungkan niatnya dan senjatanya yang tertanam setengahnya jadi bereaksi dan kembali kebentuk awalnya perlahan (hasratnya menghilang).

__ADS_1


"Sayang maafkan aku." ucap menxca yang berusaha menyadarkan dinda dan memeluk tubuh dinda dengan lembut.


Pagi harinya saat mereka akan kembali pulang dari bulan madu mexca tak berkata apa pun, dia hanya menggandeng tangan adinda saat di perjalanan kembali. Bahkan saat adinda mengucapkan kata maaf dan ingin menjelaskan mexca melarangnya, hingga dinda takut untuk berkata lagi.


__ADS_2