(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Ikatan batin


__ADS_3

Akhirnya didi benar - benar menuntaskan segala has - ratnya dengan sangat puas. Permainan yang selalu dia tunggu untuk bisa melakukannyan dengan bebas tercapai, karna selama ini hanya bisa sekali permainan karna takut alea terbangun. Namun kali ini dia telah mencapai puncaknya hingga beberapa kali, sampai membuat ayuni lemas tak berdaya.


Andai bukan karna rasa kasian pada istrinya yang sudah terkulai mungkin didi tak akan mau berhenti bermain, karna tenaganya seolah bukan habis melainkan bertambah setiap kali dia selesai mendapatkan puncaknya, karna dia ingin terus bermain sampai pagi, sebab keesokannya adalah akhir pekan jadi didi berfikir bisa tidur pulas.


*


*


*


Sedangkan dinda menghabiskan akhir pekannyan sendirian di rumah, karna mexca suaminya sedang ada pekerjaan ke luar kota bersama dengan faris untuk mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan kerja sama perusahaan.


Untuk mengisi akhir pekan akhirnya dinda ikut bergelut di butik karna lagi banyak orderan, dinda menghabiskan waktu seharian di butik tanpa melihat hanponnya. Semua pegawe dinda duduk lesehan untuk membungkus orderan yang mulai berdatangan dan menumpuk, kloter pertama sudah dikirim 20 paket, dan kloter kedua dalam peroses 25 paket, kloter ketiga sudah menumpuk dan menunggu proses.


Semua pegawe dinda sibuk termasuk dinda sendiri dan juga yulia, mereka bagai orang yang tak saling kenal selalu bersimpangan jalan. Semua orang bekerja dan mengerjakan pekerjaan mereka sendiri - sendiri. Hingga sore hari semua pekerjaan baru selesai, dan semua orang baru bisa istirahat.


"Aduh." adinda tiba - tiba mengaduh saat dia mau bangun dari posisi duduk lesehan.


"Loh kenapa Din?" yulia terkejud melihat sahabatnya itu mengaduh.


"Gak papa Yul, cuma kram aja kakiku. Mungkin kelamaan duduk dilantai jadi kesemutan dan saat mau bangun tiba - tiba kaku kakiku." jelas adinda pada yulia.


Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya dinda dan yang lainnya saling bercengkrama karna selama ini mereka ( pegawe dinda) tidak tau siapa bos mereka yang sebenarnya. Setelah lama mereka semua bercerita dan saling mengenal dinda pun pamit pada mereka untuk ke resto.


*


*


*


Di resto dinda ikut bekerja menyiapkan makanan pesanan pelanggan dan juga ikut mengantar pesanan pada pelanggan, dinda ingin menyibukkan diri agar dia tak memikirkan mexca yang sedang bekerja di luar kota.


"Din, kamu kenapa kok seperti orang bingung dan linglung gitu. Apa ada masalah Din?" tanya didi yang melihat dinda lebih sering bengong, dan selalu berusaha menyibukkan diri.


"Gak papa kok mas Didi, Dinda cuma merasa khawatir saja. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang kosong, tapi Dinda gak tau itu apa.?" jawab dinda yang merasa ada sesak dalam hatinya dan selalu memikirkan mexca.


"Jika kamu khawatir sama suamimu seharusnya kamu telpon dan tanya sama dia, dari pada kamu bingung sendiri." jelas didi pada dinda yang terlihat resah.


"Mas Didi." dinda tersenyum malu - malu karna didi bisa menebak dengan tepat kalo dinda lagi mikirin mexca.


*


*


*


"Gak papa bos? Bisa jalan kan?" tanya faris pada mexca yang baru saja menolong seorang ibu yang berteriak anaknya lari kejalan raya, dan mexca terserempet motor serta terjatuh saat menolong anak kecil itu.


"Gap papa Ris, aku baik - baik saja, hanya luka lecet gak masalah." jelas mexca sambil menggendong anak kecil dalam pelukannya.


"Terima kasih tuan, terima kasih banyak." ucap ibu - ibu itu pada mexca berulang kali karna telah menolong anaknya.


"Tidak masalah bu, lain kali hati - hati. Berapa usianya?" jawab mexca dengan rama dan menanyakan usia anak kecil itu, karna dia seperti seusia dengan alea.


"Dia 18 bulan tuan, dan anaknya emang gak bisa diam, ditinggal sedikit sudah hilang." jelas ibu - ibu itu dengan menggendong anaknya.

__ADS_1


"Baiklah, hati - hati ya sayang. Jangan menyusahkan ibumu, kasian ibumu bisa sangat cemas nanti." ucap mexca sambil mengusap kepala anak kecil itu dangan lembut.


"Sekali lagi terima kasih tuan." ucap ibu dengan menundukkan kepala sebelum pergi.


Saat didalam mobil tiba - tiba mexca lepikiran sama adinda yang ada di rumah, rasa kangen begitu menyelimuti hati mexca dan seolah tak sabar ingin bertemu segarah dengan dinda. Namun rasa rindunya berubah jadi cemas saat telpon kerumah dinda gak ada, dan bi sumi bilang sudah dari pagi dinda keluar rumah.


"Dia sedang kemana kok hanponya tak diangkat dari tadi." gerutu mexca sambil menatap layar telponnya yang tak ada sahutan dari dinda saat dia menghubungi.


"Mungkin dia sibuk, kenapa kamu jadi terlihat seperti mak - mak yang cemas karna anak perempuannya belum pulang saat sudah larut malam." ejek faris pada mexca yang merasa gusar sendiri di bangku belakang mobil.


*


*


*


Brrrt


"Mbak hanponnya bunyi.!" teriak pegawe adinda yang melihat hanpon adinda bergetar dan berkedip.


"Iya, iya tolong bawahkan kesini." pinta adinda yang duduk di sofa sambil mengurut kakinya yang terkilir karna salah melangkah dari tangga.


"Trima kasih." ucap adinda pada pegawenya saat dia menerima hanponnya.


Adinda : Assalamu'alaikum mas.


Mexca : Wa'alaikumsalam, kamu gak papa sayang?


Adinda : Emang dinda kenapa mas? Dinda gak papa kok. Mas lagi dimana ini sekarang? Apa sudah dalam perjalanan pulang mas?


"Din diurut sama ini aja biar cepet enakan kakimu." ucap didi yang bisa didengar oleh mexca.


Mexca : Sayang kakinya kenapa? Jangan bohong, mas barusan bisa dengar suara didi bilang kakinya diurut, apa kamu jatuh sayang?.


Adinda : Ah, beneran gak papa kok mas, cuma tadi dinda salah melangkah saat menuruni tangga dan sedikit terkilir aja kok kayaknya.


Mexca : Terkilir? Kamu lagi dimana ini sekarang? Di rumah Didi atau di resto?


Adinda : Dinda di restk mas.


Mexca : Ya sudah, assalamu'alaikum. Tut


Adinda : Lah, dimatikan. Wa'alaikumsalam.


"Mas Didi dapat dari siap ini minyak mas?" tanya dinda pada didi yang tiba - tiba keluar dan kembali bawah minyak urut.


"Oh, itu dari ibu toko sebelah. Dia kan pernah pijit - pijitan sama suaminya, jadi tadi aku kesana untuk minta." 😁 jelas didi sambil nyengir.


Setelah diutut beberapa lama akhirnya kaki dinda sudah bisa berdiri walo agak sakit saat dipakek berjalan, namun sudah tak sesakit tadi. Minyaknya juga terasa enakan karna ada rasa hangat saat dioleskan.


"Bagaimana Din, sudah enakan?" tanya didi memastikan karna dinda sudah bisa berdiri.


"Alhamdulillah mas, agak enakan. Cuma masih sakit kalo ditelapakkan." jawab dinda menjelaskan.


"Ya sudah kamu istirahat saja dulu nanti mas antar kalo pulang, mas tak siap - siap dan menyelesaikan laporan untuk pengeluaran minggu ini." kata didi dan langsung kembali duduk dikursinya menatap leptop, dengan jemari yang menari diatas keboard.

__ADS_1


"Sayang.!?" teriak mexca saat dia sampai di resto dengan nafas yang memburu.


"Masya Allah.!" teriak pegawe dinda yang terkejud karna dia berdiri tepat dibalik pintu, karna masuk mau memberikan jus pada dinda.


"Loh mas? Wa'alaikumsalam." jawab dinda yang ikut terkejud melihat mexca nyampek resto, padalan baru 1 jam menutup panggilan sudah muncul di resto saja.


"Ah iya, assalamu'alaikum. Mana cobak lihat kakinya." mexca langsung jongkok begitu mendekati adinda.


"Jangan dibiasakan naik mobil ngebut, ini bukan arena balab tau gak?!" bentak dinda kesal pada mexca yang selalu ngebut jika tergesah - gesah sambil menjewer telinga mexca.


"Ah. Iya iya sayang maaf, aduh sakit." keluh mexca sambil memegang telinganya yang habis dijewer oleh dinda.


Setelah mexca memastikan kaki dinda sudah baikan mexca langsung membawah dinda pulang dengan mobilnya sementara mobil dinda ditinggal di resto.


"Di kami pulang dulu." pamit mexca pada didi dan langsung mengangkat dinda dilengannya.


"Ya Allah mas Dinda bisa jalan sendiri." tolak dinda, namun tak dihuraukan oleh mexca.


*


*


*


Sesampainya di rumah mexca menggendong dinda lagi untuk masuk kedalam rumah. Dan dia langsung membawahnya ke kamar mereka, setelah itu mexca memijit kaki dinda yang tadi terkilir dengan sangat lembut dan hati - hati.


"Mas jangan berlebihan deh. Dinda sudah gak papa, orang cuma terkilir dikit aja kok." dinda memarahi mexca yang dianggap berlebihan.


"Gak papa sayang, cuma mas khawatir saja sama kamu, walo terkilir dikit gak bisa diabaikan." mexca berkata dengan wajah memelas.


"Duuuh, iya iya tau. Terima kasih masku yang baik dan perhatian cup." dinda mengecup kening mexca lalu dia berjalan sambil tertih masuk kedalam kamar mandi.


"Mas bantuin." tawar mexca yang akhirnya membantu dinda bersih - bersih dan dirinya juga, setelah itu mereka menjalankan sholat isya' berjama'ah dengan dinda sholat sambil duduk, karna kakinya masih sakit.


"Sini duduk sini dulu mas, Dinda obati luka mas Abi." perintah dinda sambil menepuk pingkir tempat tidur.


"Ternyata mas Abi juga terluka kan, pantas tadi Dinda merasa cemas. Untung hanya luka gores saja, kan sudah Dinda bilang hati - hati jangan selalu bikin Dinda cemas mas." omel dinda sambil mengoleskan obat pada luka - luka lecet mexca.


"Sama dong sayang, kamu juga sering bikin mas cemas. Kalo kamu merasa khawatir sama mas kamu bisa langsung hubungi mas, kenapa ditahan sampek gak fokus jalan dan terkilir begini." mexca berkata sambil menangkup wajah dinda dan mengecup bibir dinda sekilas.


"Hihi, iya maaf, Dinda cuma gak mau ganggu mas Abi. Dan gak mau bikin mas Abi cemas." jelas dinda dengan senyum manisnya bagi mexca.


"Kamu ini bicara apa sih sayang? Kamu kan sekarang istriku, kita nikah sudah hampir 1 tahun loh. Dan kita bertarung udah hampir setiap kali, bahkan sehari bisa sampek berkali - kali lebih, masak kamu masih mencemaskan hal itu. Aduh.!" mexca memegangi lengannya yang mendapat pukulan dari dinda.


"Gak usah dijelaskan juga kali, yang itunya.!" geram dinda menatap mexca tajam.


"Hahaha maaf sayang, habis kalo deket kamu mas jadi pengen terus, apa lagi sekarang. Entah kenapa mas maunya lengket terus sama kamu, juga pengen terus sayang." jelas mexca dengan wajah tanpa dosanya.


"Mau Dinda anggurin lagi?" ancam dinda dengan nada serious.


"Eh, jangan dong sayang. Bisa bingung nanti mas kalo senjata mas ini mencari - cari sarungnya yang nyaman dan nikmat" 😉


"Gak usah berkedip Dinda gak tertarik." ucap dinda dengan kesal.


"Iya gak, ayok kita bobok uda malam dan kamu juga lagi sakit kakinya. Besok kita ke rumah sakit." ucap mexca yang langsung merebahkan tubuhnya sambil memeluk dinda istrinya.

__ADS_1


__ADS_2