(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Permintaan rujuk kembali


__ADS_3

Sambil melajukan mobilnya, Bram berfikir akan menemui mamanya, untuk memintak mamanya membujuk Dinda agar mau rujuk dengannya.


"Iya, aku akan mengatakan pada mama kalo aku ingin kembali dan rujuk dengan Adinda. Mama pasti akan senang dan mau membantuku. Aku yakin jika mama yang bilang Adinda tak akan menolak, karna dia selalu mengutamakan orang tua, dan lagi selama ini hubungan mereka juga baik, bahkan Dinda perna beberapa kali datang berkunjung kerumah mama. Pasti dia masih ingin bisa bersatu dengan ku, aku yakin itu." tekat Bram telah bulat dia ingin kembali rujuk sama Adinda lagi.


Setelah bicara sama mas Bram aku langsung menceritakan niat mas Bram pada Yulia yang kebetulan ketemu di rumah sakit. Yulia bingung harus menjawab apa, atas cerita yang telah ku ceritakan. Dia hanya bilang agar aku tak Salah dalam melangkah dan mengambil keputusan. Sama saat aku memberinya saran waktu dia mau di jodohkan sama Om Eko yang merupakan Omnya sendiri dari ibunya.


Setelah pembicaraan itu, aku pun langsung pulang kerumah karna pikiranku merasa tak karuan dan juga hatiku bimbang. Aku tak tau harus berbuat apa. Ku lajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Setelah sampai rumah aku langsung mengistirahatkan diriku, aku tidur dan gak mau memikirkan apa - apa.


Sementara di resto Alea yang terbangun dan tak melihat Mexca menangis sejadi - jadiya, tak ada seorang pun yang bisa menenangkan dia, bahkan Didi yang selalu dekat dengannya pun tak bisa menenangkannya.


"Sayang jangan begini dong... Kasian mama, lihat mama jadi ikutan nangis sama kayak Alea. Uda dong sayang... Kan uda sama papa ini? Alea mau apa sih sayang? Mau makan es crim ya, iya mau makan es crim?" bujuk Didi dan Ayuni yang tak bisa memenangkan hati Alea, dan dia semakin menjadi nangisnya.


"Papaaaaaa.... Huwaaaaaaa, paaapaaaaaa. Gak au, papa!!" tangisnya semakin melengking, walo dia sudah digendong oleh Didi. Hingga akhirnya karna capek menangis dia tertidur, namun dia tetep ngigau dan memanggil kata papa.


"Akhirnya tidur juga dia karna capek. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia bisa terluka seperti ini. Kenapa kamu tak menghubungi aku?" Tanya Didi pada istrinya Ayuni.


"Maafkan aku mas Didi, aku juga tak tau pastinya. Saat aku pulang mas Dido sudah menghubungi aku dan dia sudah di rumah sakit sama Alea." jelas Ayuni pada Didi suaminya.


"Terus kenapa Alea bisa nangis sampai seperti itu, dan siap yang dia panggil papa, sampai tak mau aku tenangkan. Gak biasanya dia seperti itu." katanya Didi yang merasa sedikit aneh dengan putrinya.


"Itu, tadi saat di rumah sakit bertemu dengan atasan ku mas, dan Lea terus nempel padanya. Sampai tertidur dalam pelukannya. Tapi kan gak mungkin kalo aku akan mencarinya kalo anak kita mencari dia mas." jelas Ayuni.


"Hah!? Maksud kamu tuan Mexca?"


"Iya mas, tadi tak sengajak ketemu. Dan waktu mas Dido mau mengambilnya ternyata Lea memegangi jas tuan Mex dengan kuat, sehingga tuan Mex mengantar sampai ke sini. Dan itu pun Lea masih terlelap.


"Kok bisa Alea seperti itu sama dia, bahkan sama Dido saja dia gak mau." Didi berkata dengan bingung


Setelah selesai bertemu dengan para investor di sebuah restoran yang ada di hotel mewah, Mexca menyuruh Faris langsung pulang dengan mobil kantor yang dibawah oleh Faris.


"Bos gak papa nyetir sendiri? Ini sudah sore bos. Apa gak sebaiknya telpon supir saja." kata Faris menyarankan padaku.


"Gak papa, aku ingin menyetir sendiri. Ini juga masih sore bukan malam. Sudah kau jangan cerewet dan cepat pulang." perintahku pada Faris.


Mexca melajukan mobilnya dan tiba - tiba di tengah jalan Mexca teringat sama Alea. Mexca berhenti disebuah toko mainan yang menjual berbagai mainan, untuk membelikan Alea hadiah.


"Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pegawe toko yang melihat Mexca masuk ke dalam toko dan celingukan mencari harus beli apa.


"Ah, iya. Bisa tolong carikan boneka untuk anak perempuan yang usianya masih kecil?" kata Mexca pada pegawe toko itu


"Baik tuan, anak anda suka warna apa?"


"Warna? Saya tak tau."


"Kalo begitu berapa usianya tuan?"


"Usia saya juga tak tau, tapi tingginya sekitar lutut saya. Itu barapa usianya kalo segitu?" kata mexca yang emang tak tau berapa usia Alea.

__ADS_1


"Orang ini aneh sekali sih, usia anak sendiri kok gak tau. Apa dia banyak istri ya sampek gak inget satu - satu usia anaknya." gerutu pegawe toko itu dalam hati.


"Ah, ini saja mbak.Tunjuk Mexca pada sebuah Teddy bear yang bertengger di atas etalase, yang bisa dibilang sangat besar dan 3 kali lipat dari besar tubuh Alea."


"Baik tuan, saya akan membungkusnya."


"Tidak usah begitu saja, kan itu sudah diplastikin." jawab Mexca


Setelah Mexca membayar di kasir, dia langsung membawah boneka itu keluar toko, dan alhasil dia kesusahan untuk masukin boneka itu kedalam mobilnya karna ukurannya yang terlalu besar.


"Emang cowok ya gak tau apa - apa, kalo dibungkuskan bisa sedikit dikempesin." kata pegawe toko yang melihat Mexca kesusahan masukin boneka itu ke mobilnya.


"Tapi lucu ya, dia kayak ayah yang baru saja dapat anak, gak tau apa - apa dan ingin kasih hadiah untuk putrinya. Siapa ya istrinya dia cakep banget. Dan juga sopan banget, pembawaannya sangat adem." sambung rekan kerjanya yang ikut melihat Mexca kesusahan sampai kakinya juga ikut maen agar boneka itu masuk ke dalam mobilnya ya, hahaha 😂


"Unda huwaaaaaa... Papa unda..." adu Alea saat dia datang ke rumah Adinda pagi - pagi sekali yang dianter sama Ayuni.


"Loh, ini kenapa mbak? Kok nangis sampek gitu, maaf Kamaren aku langsung pulang karna capek banget." kata Adinda turun dari tangga menuju ruang tamu.


"Gak papa Din, ini aku sama mas Didi uda kewalahan, dari kemaren dia gak mau diem. Nangis terus tiap terjaga jadi ku bawah kemari karna aku mau kerja, hari ini ada rapat." jalas Ayuni pada Dinda, saat mereka duduk di ruang tamu rumah Dinda.


"Iya gak papa mbak. Mbak Yuni berangkat saja biar Lea sama Dinda." Adinda menggendong Alea dan mencobak nenangin Lea yang nangis.


"Unda, papa huwaaaaa" adunya sama Adinda sambil tetep menangis


"Sayang, sini sama bunda." Dinda memangku Alea yang menangis, setelah melihat Ayuni yang berangkat kerja.


"Au... Hiks hiks" mengangguk dengan cepat sambil menghapus sisa - sisa tangisnya.


"Mas Didi kemana kok sampek Alea nangis dan nyari kayak gitu, kasian sampek merah gitu mukanya." kata bi Sumi yang datang dari arah dapur sambil bawah susu untuk Alea.


"Entalah bi, Dinda juga gak tau." menerima susu yang diberikan oleh bi Sumi untuk Alea.


Setelah Alea diem, dan mau makan, meminum susunya serta sudah ceria lagi. Adinda membawanya serta ke butik.


Dalam perjalanan ke butik Alea banyak bertanya soal pohon - pohon yang dilewati dan dilihatnya. Setelah sampai di butik Alea bermain sama Oni anak Yulia.


"Kenapa kok siang Din, biasanya jam 8 sudah di sini, ini jam 10 baru datang." Tanya Yulia padaku dan kami langsung masuk ke ruanganku untuk mbahas soal pendapatan dan juga gaji para pegaweku.


"Iya tadi Alea rewel, dan baru bisa tenang. Makanya agak siangan aku datengnya." kataku menjelaskan pada Yulia.


Yuyus : Halo, assalamu'alaikum mbak. Maaf ini ada yang nyari mbak Dinda


Adinda : Iya, wacalaikumsalam. Siapa ya Yus?


Yuyus : Ndak tau mbak, wanita


Adinda : Baiklah, suruh nunggu mbak akan kesana pas jam makan siang, karna ini sudah jam 11.30

__ADS_1


Yuyus : Baik mbak.


Setelah memutus panggilan dari Yuyus, Aku pamit pada Yulia dan langsung datang ke resto, aku membawah sekalian Oni dan juga Alea, biar mereka bisa main dengan para kucing - kucing di resto.


Sesampainya di resto aku merasa terkejud saat aku mendapati ternyata orang yang mencariku adalah mamanya mas Bram.


"Assalamu'alaikum ma." salam ku pada mama mantan suamiku.


"Wa'alaikumsalam sayang. Maaf ya mama mencari kamu ke sini, karna mama sekalian dari belanja." jelas mama mas Bram.


"Iya ma, gimana kabar mama dan papa? Dinda sudah lama tak datang ke rumah mama." kata ku sambil duduk di depan mama mas Bram.


"Alhamdulillah baik sayang."


"Bunda, Lea minta maen di luar." sela Oni


"Iya sayang, maen sama Om Yuyus ya? Ndak boleh sendirian." kataku, dan Oni langsung melesat karna sudah mendapat izin dariku.


"Bagaimana Alea, apa dia tidak apa? Mama dengar dari Bram katanya dia tak sengaja menabrknya karna dia lari begitu saja." Tanya mama mas Bram


"Alhamdulillah ndak papa ma."


Aku meminta pada pegaweku untuk menyiapkan makan siang, dan aku serta mama mas Bram makan siang bersama, sambil berbincang ringan. Sampai akhirnya mama mas Bram mengungkapkan niatnya menemui aku.


"Dinda, sebenarnya mama kesini karna ada yang ingin mama bicarakan sama kamu. Apa kamu sudah punya orang yang kamu sukai?"


"Belum ma, emang kenapa ma?"


"Sayang, jadi janda lama - lama itu tidak baik nak. Kemaren Bram menceritakan sama mama kalo dia ingin rujuk sama kamu. Dia ingin menebus semua kesalahannya sama kamu yang dulu dan ingin menjalin rumah tangga yang baik sama kamu lagi sayang. Kalo kamu masih belum ada yang kamu sukai, alangkah baiknya jika kalian bersama lagi dan memperbaiki semua yang telah terjadi dulu. Mama yakin sekarang Bram bisa menerima kamu, dia sudah menjelaskan sama mama kalo dia menyesal telah menceraikan kamu sayang. Bagaimana kalo menurut kamu. Kamu mau kan sayang rujuk lagi sama anak mama, dan menjadi menantu mama lagi?" jelas mama Bram panjang lebar agar aku mau nerima ajak rujuk lagi sama Bram.


"Tapi ma, Dinda gak mau menyakiti hati mbak Monica." tolak ku pada mama mas Bram secara halus, karna aku gak mau menyakiti hatinya.


"Sayang, mama bicara begini karna mama sudah tau bahwa Monica sudah merestui Bram untuk balik lagi sama kamu, karna dia juga ingin menebus kesalahannya sama kamu." jelas mama mas Bram lagi, yang seolah menyakinkan aku.


"Dinda tidak tau ma, Dinda tidak bisa menjawab semuanya sembarangan." jawaban yang ku berikan, karna aku bingung tak tau harus jawab apa.


"Mama tau sayang. Kamu pikirkan dulu semuanya. Tapi mama berharap agar kamu mau dan bisa menerima anak mama lagi sebagai suami kamu. Karna mama yakin kamu adalah istri dan menantu yang baik. Mama ingin kamu bisa menjadi menantu mama lagi." permohonan mama Bram pada ku


"Insya Allah ma, kalo emang jalannya begitu pasti nanti akan bertemu." jawabku seadanya.


"Undaaaa... Oneka" teriak Alea dari luar yang lari dengan riang ke arahku.


"Bunda Alea dapat hadia boneka yang sangat besar bun dan juga bagus sekali, lembut." jelas Oni yang ikut masuk mendekati ku.


"Eh, iya kah?" jawab ku dan langsung memapa Alea yang lari ke arahku.


Setelah ngobrol sama aku dan meminta agar aku mau balikan dan rujuk sama mas Bram, mamanya mas Bram pulang, dan dia berharap agar aku bisa menerima permintaan mas Bram untuk rujuk lagi. Karna dia melihat mas Bram yang sangat ingin balikan lagi sama aku.

__ADS_1


__ADS_2