
"Bos apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat kesal?" tanya Faris yang baru keluar dari ruang vip restoran itu.
"Faris, sudah selesai?" ucap mexca tak menjawab pertanyaan dari faris.
"Hem." jawab faris menganggukkan kepala.
"Ayo kita langsung pulang." ucap mexca dan dia langsung melangkah keluar restoran itu menuju ke parkiran.
"Kenapa lagi dengannya?" gumam faris yang mengekor dibelakang mexca.
Dalam perjalanan pulang itu, tak ada ucapan atau pun pertanyaan dari mexca. Dia terlihat begitu tenang dan sangat anteng.
"Kenapa dengannya? Tak biasanya dia begitu anteng, apa lagi ada masalah atau telah teejadi sesuatu?" tanya faris dalam hati yang melirik mexca sedang tertidur di kursi sebelahnya.
"Kita mau langsung pulang?" tanya faris pada mexca yang begitu pendiam sejak keluar dari restoran.
"Hem, langsung pulang. Dan tolong bangunkan aku begitu sampai rumah." ucap mexca sambil tetap menutup matanya.
Faris yang mendapatkan jawaban itu dia tak berani bertanya lagi. Faris fokus dalam menyetir sambil sesekali melirik mexca yang tertidur di sebelahnya. Dalam hati faris terus bertanya apa ada sesuatu yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya.
"Mex, mex.?!" panggil faris membangunkan mexca namun mexca tak merespon.
"Hay bi.! Apa kau mati?!" teriak faris kencang didekat telinga mexca.
"Masya Allah, kau sudah gila hah!?" teriak mexca terkejud.
"Aku hanya membangunkan." jawab faris sambil nyengir.
"Tapi kau bisa langsung membunuhku dengan teriakanmu itu." kesal mexca yang langsung keluar dari mobil.
"Kau mau menginap di sini?" tawar mexca pada faris.
"Ah, tidak aku pulang saja." jawab faris cepat.
"Heh, begitu takutnya kau pada adikku."
"Baiklah, jemput aku hari senin dan selamat beristirahat. Hati - hati dijalan." ucap mexca pada faris.
"OK brother" ucap faris dan langsung melajukan mobilnya.
"Sial, kau benar - benar jadi adikku nanti." gumam mexca yang berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Setelah berada di kamarnya mexca langsung membersihkan dirinya dan melakukan rutinitas ibadahnyan. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya dan mencobak menghubungi adinda lagi.
"Masih belum bisa dihubungi, apa dia sudah tidur? Tapi kenapa dia mematikan handphonnya?"
"Adinda apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau akan berpling dari dan pergi lagi?"
"Kenapa aku jadi begitu gelisah begini?"
"Ya Rabb, apa aku salah menyembunyikan semuanya?"
"Haruskah aku katakan? Tapi aku tak ingin kalo nanti adinda jadi membencinya."
"Ah. Entahlah besok aku akan mencarinya."
**************************************
**************************************
"Wah siapa ini yang datang, bapak tak tau kalo nak Dinda akan datang ke sini. Bagaimana, apa semuanya baik?" tanya kiyai manaf pada adinda yang baru saja tibang bersama dengan yulia dan anak - anaknya.
"Alhamdulillah baik pak yai." ucap adinda dan yulia bersamaan.
__ADS_1
"Sudah lama sekali ya. Ibu cobak lihat ini siapa yang datang." panggil pak yai pada istrinya.
"Subhanallah nak Dinda, nak Yulia kok gak bilang - bilang sama umi kalo mau kemari." ucap istri kiyai manaf menyambut kedatangan adinda dan yulia.
Dua hari adinda di pesantren dan dia menceritakan semua yang telah terjadi dan dialami olehnya, serta meminta petunjuk atas tindakan dan langkah yang akan diambilnya.
"Hem, nak Dinda tak salah melakukan dan mengucapkan itu sebagai manusia. Karna sebagai manusi kita sering kali salah dan juga khilaf atas semua perbuatan yang kita lakukan." ucap kiyai manaf pada adinda.
"Terus apa yang harus saya lakukan sekarang pak yai?" tanya adinda penuh rasa bersalah.
"Pasrahkan pada Yang Kuasa, hanya Allah Azza wajallah yang lebih tau akan isi dan kata hati kita umatnya."
"Nak Dinda telah berucap janji, dan janji sama dengan hutang yang harus ditepati."
"Dalam keyakinan kita tidak boleh menjualnya apa lagi menganggap remeh keyakinan kita. Tapi apa yang terucap dari diri kita pasti ada campur tangan dari Rabb kita."
"Nak Dinda mengucapkannya secara sepontan karna merasa dia adalah orang yang selalu ada dan melindungi nak Dinda. Kalimat janji itu terucap karna nak Dinda merasa nyaman dengannya."
"Bapak yakin semua sebab pasti ada akibatnya, dan selama nak Dinda masih tetap pada keyakinan nak Dinda, maka pasrahkan saja semuanya pada yang memegang hidup kita. Jika itu baik bapak yakin semua pasti akan tetap berjalan pada jalan yang sudah ditentukan, dan jika itu tidak baik maka akan ada jalan untuk mengakhiri semuanya." jelas kiayai manaf panjang lebar pada adinda.
**************************************
**************************************
"Adinda, sayang kau dimana? Kemana kau pergi, dan kenapa kau sampai mengambil cuti?" gumam mexca frustasi karna tak bisa menemukan adinda dan tak bisa menghubunginya. Bahkan orang terdekatnya tak tau kemana dia pergi.
"Lin kenapa dengan bos?" tanya faris yang baru keluar dari ruangan mexca.
"Lah, pak Faris tanya pada saya, terus saya tanya pada siapa pak?" jawab Merlin pada pertanyaan faris.
"Lakukan saja pekerjaanmu." ucap faris meninggalkan meja merlin.
Dan selama seharian mexca tak fokus dalam bekerja, dia terus kepikiran akan adinda dan juga ucapan bram. Sampai siang itu setelah dia melakukan pertemuan dan perjamuan makan siang dengan telasinya mexca mengistirahatkan dirinya di ruang istirahat yang ada di dalam kantornya.
**************************************
**************************************
"Baiklah, aku kirim alamatnya melalui pesan ya? OK aku tunggu." ucap merisca dan mematikan panggilannya.
Dan sekitar 1 jam lamanya adinda sampai pada alamat yang dikirimkan oleh merisca melalui pesan di handphon yulia. Adinda keluar dari mobilnya saat dia sampai di depan sebuah rumah besar. Sambil menggendong Alea dan juga membawah buah tangan adinda menekan bel rumah besar itu.
Ceklek
"Dinda, ya ampun kau benar - benar datang ayo masuk. Apa ini yang kau bawah?" sambut merisca pada kedatangan adinda.
"Sayang, ya ampun mama senang banget saat dengar dari meri kalo kamu mau main ke sini." ucap mama mexca dan memeluk adinda.
"Aikum" ucap Alea yang ada digendongan adinda
"Oh, cucu oma. Mau makan es cream saya?" kata mama mexca dan menggendong alea.
"Au." jawab alea riang dengar kata es cream.
Adinda sangat senang dengan keluarga mexca yang begitu baik padanya dan juga alea. Malam itu adinda memutuskan untuk bermalam di rumah keluarga mexca. Setelah bercerita, bercanda dan masak bersama serta makan malam bersama mereka bertiga menghabiskan waktu bersama berkumpul sambil mengawasi alea yang begitu riang lari sana sini karna rumah mexca sangat luas.
Malam itu mexca yang pulang ke rumah begitu larut merasa terkejud mendapati bayangan adinda yang berjalan di dapur rumahnya yang gelap. Mexca melangkah cepat sampai di dapur dan ternyata tak ada orang di sana.
"Heh, apa kau sudah gila mex. Dia tak mungkin ada di sini." gumam mexca dengan bernafas panjang yang duduk di kursi meja makannya lemas.
Sementara adinda yang jongkok karna mengambil lap yang dia jatuhkan terkejud karna mendengar seseorang menghela nafas dalam sambil bergumam. Dan saat dilihat ternyata itu mexca yang baru saja pulang.
"Mau air?" tanya dinda sambil menyodorkan air putih di depan mexca.
__ADS_1
"Baru pulang? Kenapa begitu larut, apa begitu banyak pekerjaan di kantor?" tanya adinda lagi sambil menatap mexca yang teelihat begitu lelah.
"Deg." mata mexca langsung terbuka, dan...
Brak
Bruk
Piyaaaarrr
"Ah.!" pekik adinda yang terkejud karna langsung didekap oleh mexca dengan erat.
Hiks
"Eh, anda menangis?" tanya adinda yang berusaha mengurai pelukan mexca.
"Kenapa kau menghilang? Kenapa kau begitu suka membuatku khawatir?" kata mexca yang semakin erat memeluk adinda.
"Saya tidak menghilang. Dan maaf jika membuat anda khawatir" ucap dianda yang berada dalam dekapan mexca.
"Kenapa nomormu tak bisa dihubungi? Dan kemana kamu pergi sampai semua orang tak tau?" tanya mexca setelah dia melepaskan pelukannya dan duduk di meja makan.
"Maaf, handphon saya hilang dalam perjalan. Dan saya emang butuh waktu untuk sendiri, jadi tak memberi tau siapapun kemana saya pergi." ucap dinda menjelaskan.
"Apa ada sesuatu atau kejadian yang terjadi sehingga kamu butuh waktu untuk sendiri?" tanya mexca dan dijawab anggukan oleh adinda.
"Apa itu? Bolehkah aku tau?" tanya mexca ragu - ragu.
"Aku merasa takut dengan pilihanku dan juga takut tak bisa menepati janjiku pada anda." ucap dinda pada mexca.
"Menepati janji? Maksudnya apa?" mexca merasa bingung.
"Maaf, saya pernah bilang kalo saya akan mengikuti keyanikan anda, dan saya takut kalo saya tak bisa melakukan itu. Saya tak ingin menyesal atau mengingkari janji, sa...." belum selesai dinda bicara mexca sudah memotongnya.
"Sssstt, aku tak peduli apa pun keyakinanmu. Bagiku yang terpinting adalah dirimu. Aku justru takut kamu akan pergi meninggalkan aku karna ada sesuatu yang mungkin kamu Salah pahami." ucap mexca sambil menunduk.
"Ya, aku emang tau soal anda dengan wanita itu dan seperti apa anda dengannya yang terlihat begitu mesra dan juga sangat in-ntim didepan umum." ucap dinda kemudian dan menunjukkan video yang dikirim oleh bram.
"Dia..." kalimat mexca terputus.
"Dia adalah wanita yang kamu lihat dan temui waktu di restoran bersama dengan teman kamu. Dan itu adalah kejadian sebelum aku mengenal keya...Dengar, aku bisa menahan seluruh hasratku dan aku rela kehilangan kesuburanku."
"Aku emang pernah berhubungan dengan dia dan juga pernah menjamahnya, tapi aku masih tau batasan."
"Aku, tak bisa kehilanganmu."
"Jika aku harus menahan dan mengurungmu agar kamu tetap berada disisiku akan ku lakukan jika kamu memilih akan pergi sekarang. Aku tak peduli jika aku harus kamu benci selamanya. Tapi aku berkata jujur aku tak melakukan yang lebih dari itu."
"Tapi benar anda melakukan yang ada digambar itu waktu berada di LA pada pertemuan itu?" tanya adinda pada mexca yang sudah tertunduk.
"Iya, aku malakukannya karna dia yang memulai." jawab mexca jujur dan tak berani menatap adinda.
Melihat itu adinda bisa merasakan betapa berat bagi mexca mengakui semuanya dan ingin dipercaya. Karna adinda pernah merasakan saat dia tak dipercaya dan diragukan oleh orang terdekatnya, bahkan difitnah atas perbuatan yang tak pernah dia lakukan.
"Jadi anda tipe orang yang akan membalas jika dipancing?" tanya adinda lagi.
"Tidak bukan begitu." jawab mexca sepontan yang membuat adinda tersenyum.
"Baiklah, aku percaya pada anda." ucap adinda dan langsung mendekat pada mexca.
"Jangan lalukan itu lagi jika anda tak ingin kehilangan kaki ketiga anda." ucap adinda tepat ditelinga mexca.
"Lakukan persiapan pernikahannya dalam sebulan, aku tak mau menunggu lagi." teriak adinda dan dia menghilang dibalik pintu kamar tamu.
__ADS_1
Mendengar itu mexca merasa legah dan hatinya yang awalnya berat berubah ringan. Dia tersenyum legah dengan keputusan dan permintaan adinda yang tiba - tiba datang ke rumahnya dan menginginkan pernikahan dalam sebulan.
"Dia sengaja datang untuk mengenal keluargaku? Dia ingin jadi keluarga mexca." gumam mexca sambil senyum - senyum kek orang gila.