
"Non, mandilah dulu nanti bibi buatkan makanan yang hangat untuk non Dinda," kata bi Sumi yang melihat ku menangis sambil memeluknya.
Setelah selesai mandi aku menceritakan semuanya pada bi Sumi. Semua yang telah ku alami dan kejadian yang telah ku lalui. Ada rasa sesak dalam dadaku dan juga ada rasa sakit yang tak tertebak.
"Non, jadi non Dinda akan pindah keyakinan seperti yang dianut tuan Mexca?" Tanya bi Sumi padaku sambil menggenggam tanganku.
"Entahlah bi, tadi aku sudah mengatakan itu pada dia, namun dia melarangku dan ingin aku tetap seperti ini," jawabku sendu
"Bibi mah cuma ingin yang terbaik untuk non Dinda, apa pun keputusan non Dinda bibi ikut saja. Tapi kalo sampai pindah keyakinan kasian alm. orang tau non Dinda," jelas bi Sumi dan itu membuat aku menangis lagi.
Setelah bicara panjang dengan bi Sumi aku memohon petunjuk-Nya, agar aku bisa merasa tenang. Malam itu aku sengaja tidur lebih awal karna aku ingin bangun dan melakukan ibadah lebih lama.
tepat pukul 00.00 alamr ku berdering, aku bangun dan mengambil air wuduh. Aku lantunkan bacaan ayat ayat suci Al-Qur'an, setelah itu aku malakukan sholah hajad dan juga istikharah.
Alloohumma innii astakhiiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudrotik, wa as-aluka min fadhlikal adhiim, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa a’lamu wa anta ‘alaamul ghuyuub.
Alloohumma in kunta ta’lamu anna haadzal amro khoirun lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii faqdurhu lii wayassirhu lii tsumma baariklii fiih.
Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amro syarrun lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii fashrifhu ‘annii washrifnii ‘anhu waqdur lil khoiro haitsu kaana tsumma ardlinii.
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuasaan-Mu (untuk menyelesaikan urusanku) dengan kodrat-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya bagiku, maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini.
Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya bagiku, maka jauhkanlah urusan ini dariku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.
Pagi itu setelah selesai shalat subuh aku masak untuk sarapan, dan ku lihat bi Sumi dan mang Ujang sudah repot di luar rumah. Aku tersenyum melihat mereka, karna mereka adalah orang - orang yang menjaga aku sejak aku masih bayi. Mereka terlihat bahagia walo kadang mereka ada cekcok. Bagiku bi Sumi dan mang Ujang uda seperti keluarga, mereka bekerja di rumah ini dari sejak mereka belum nikah hingga sekarang uda punyak anak dan juga cucu.
"Ya Allha non kok masak sendiri? Emang mau bawahin bekal untuk tuan Mexca lagi ya?" Tanya bi Sumi yang aku tak sadar kapan masuknya.
"Tidak bi, semalam dia bilang hari ini aku gak perlu ke kantor karna dia mau mambawahku jalan - jalan." jawabku pada pertanyaan bi Sumi
"Ooo... Mau piknic ya non? Yang kayak orang - orang di tv makan sambil lihat pemandangan di bawah pohon rindang." kata bi Sumi dengan nada yang lucu dan senyum lebar
"Iya begitulah. Dia bilang ingin melakukan itu dengan ku hari ini." kataku yang ikut tersenyum
Entah apa yang terjadi, setelah aku meminta petunjuk dan bersimpuh pada Rabbku semalam, rasanya beban di hatiku menghilang, seolah dia adalah orangnya (Mexca). Aku tak merasa khawatir yang berlebihan dan juga tak merasa takut yang sampai menyiksa. Rasanya sangat ringan, dan tak ada beban.
__ADS_1
Ting tong
Suara bel rumahku dipencet, dan saat aku turun bi Sumi sudah membukakkan pintu, dan orang yang muncul adalah orang yang sedari pagi sudah ku pikirkan. Dia datang dengan setelah hem garis merah hitam dengan lengannya yang dilipat ke atas sampai batas suku dan celana hitam dengan jam tangan merek Patek Philippe Platinum World Time yang bertengger di pergelangan tangan kirinya dan menambah kesan mewah. Dia sudah mirip dengan model professional yang mendunia.
"Sudah siap?" tanyanya membuyarkan lamunanku akan dirinya.
"Ah.? Iya, sudah." jawabku terkejud
Lalu aku pamit pada bi Sumi untuk keluar sama Mexca. Dalam perjalanan seperti biasa dia tak banyak bicara hanya menjawab jika ditanya dan selalu fokus menyetir.
Sekitat 1 jam perjalanan akhirnya kami pun sampai di suatu tempat yang sangat indah. Taman bunga yang ada danaunya, tanahnya dialasi dengan rumput taman yang lembut dan terawat, di sekelilingnya ada rangkaian bunga yang dibentuk melengkung seperti pintu ke dunia lain.
Aku berjalan pelan dan saat menginjakkan kaki di rerumputan aku pun melepas alas kakiku karna aku gak mau merusak rumput yang begitu bagus. Saat aku masuk melewati pintu bunga itu aku sangat terkejud di balik pintu bunga itu ada taman lagi yang sangat indah dan tak kalah indahnya bagai istana dongeng. Mawar beraneka ragam ada di sana, aroma harum bunga menyebar ke seluruh tempat.
Mexca terus menyuruhku berjalan hingga aku melewati jalan setapak yang terbuat dari lempengan batu dibentuk bulat pipih yang ditanam di antara rumput hijau, dan di kanan kirinya ada kolam ikan yang sangat indah, mengalir bagai sungai dari sumber pegunungan, dan para ikan berwarna warni berenang di sepanjang aliran sungai itu.
"Masih lama?" tanyaku yang merasa berjalan sudah cukup jauh.
"Sebentar lagi," jawabnya sambil tersenyum
"Sudah sampai," kata Mexca dan aku langsung menghirup dalam aroma harum yang menyegarkan dengan merentangkan kedua tanganku. Sampai aku terkejud mendengar letusan balon dan dari balon besar itu keluar kata - kata yang membuat aku sangat terharu, senang, sedih, bahagia semua campur jadi satu.
🌹Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang cukup lama untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi.
Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku?
Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama … itu … Kamu. Will you marry me? be the sun in my house forever!🌹
"Adinda, Will you marry me?" kata Mexca sambil berlutut di depanku dengan membawah sebuah cincin di tangannya.
Aku membulatkan tekadku dan menganggukkan kepala. Aku akan memilih dia apa pun yang terjadi, aku tak mau peduli dengan yang lain lagi. Karna aku hanya ingin dengannya.
"Kau tak boleh mundur setelah ini, apa kau yakin?" katanya lagi pada posisinya dan menatapku
"Aku yakin," jawabku tanpa ragu.
"Kau akan menerimaku dengan segala kekuranganku yang ada?" tanyanya yang terdengar ada keraguan
__ADS_1
"Iya, aku akan menerima segala kekurangamu," jawabku langsung
"Berjanjilah, bahwa kau akan selalu setia padaku." pintanya padaku dengan mengulurkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang kotak cincin
"Aku, dengan segala keyakinanku. Berjanji akan selalu memilihmu dan menerima segala kurang serta lebihmu." janjiku padanya yang ku ucapkan tanpa keraguan.
"Terima kasih," ucapnya dan dia memasangkan cincin dijariku serta mengecup punggung tanganku sangat lama.
Air mata yang sedari tadi berusaha untuk ku tahan pun akhirnya tumpah, aku gak menyangka kalo aku akan mendapatkan kebahagian yang begitu besar dari seseorang yang bahkan baru ku temui beberapa kali.
"Selamat.!" teriak semua orang dan tepuk tangan dari mereka yang tiba - tiba muncul dari balik pagar bunga di taman itu.
Aku menutup mulutku dengan tanganku karna terkejud dan juga bahagia, ternyata mereka semua ada di sini. Om Bambang dan keluarganya, Yulia dan keluarganya, keluarga Mexca bahkan bi Sumi, mang Ujang dan semua kebahagianku itu serasa sangat besar.
"Selamat ya sayang, kamu akan jadi menantu mama yang tersayang," ucap mama Mexca dengan memelukku
"Selamat Adinda, kau kakak iparku yang cantik. Aku akan jadi model untuk semua baju buatanmu," ucap Merisca, dan aku pun memeluknya dengan erat.
"Selamat sobatku"
"Selamat adikku"
Ucap mbak Ayuni dan Yulia bersamaan dengan memelukku, dan aku pun membalas pelukan mereka berdua. Rasanya air mataku kering karna kebahagiaan yang selalu diberikan oleh Mexca padaku.
Hari itu menjadi hari spesial bagi ku, aku merasa bagai peran utama di alam mimpi dengan cerita yang sangat indah.
Setelah acara lamaran yang mengejudkan, kami semua makan bersama, kami saling berbagi cerita dan bercanda dengan sangat riang. Serta aku baru tau kalo tempat itu adalah taman bunga dari sebuah vila yang dimiliki oleh keluarga mexca.
Begitu acara makan - makan dan lamaran selesai aku baru tau juga kalo mexca memboyong mereka semua dengan mobil - mobil pribadi yang dia kirim untuk menjemput mereka dan mengantarkan mereka agar bisa berbagi kebahagian denganku.
"Terima kasih." ucapku saat mexca mengantarku pulang.
"Terima kasih juga sayang." ucap mexca padaku.
"Istirahatlah aku langsung pulang." ucap mexca begitu sampai di depan rumahku.
"Iya, hati - hati dijalan" kataku dan mexca hanya mengangguk serta senyum, lalu melajukan mobilnya dan menghilang.
__ADS_1