
"Adinda." sapa seseorang yang mengejudkanku
"Eh... Mas Faris? Lama tidak ketemu. Apa kabar mas Faris baik?" tegurku saat melihat dia yang sudah Lama gak ketemu dan gak berkunjung ke cafe.
"Alhamdulillah aku baik, tapi gak sebaik kamu. Boleh aku duduk di sini?" jawabnya dengan nada bercanda padaku.
"Tentu saja silakan, tempat duduk itu geratis tidak dipungut biaya." kataku mempersilakan padanya untuk duduk, sambil ku becandain.
"Sudah 2 minggu kita gak ketemu. Dan kamu malah mengejudkan aku dengan berita tentang dirimu. Kamu sunggu luar biasa Dinda, selamat ya atas pencapaianmu. Tapi aku tak membawah apa pun untuk ucapan ini gimana dong." jelasnya padaku dengan ekspresi yang sangat lucu bagiku.
"Tidak apa, memberi ucapan yang tulus saja uda jadi hadiah yang baik bagi ku. Terima kasih banyak." ku ucapkan rasa terima kasihku dengan senyuman, karna merasa lucu dengan caranya memberi selamat dengan ekspresi yang lucu.
Aku pun ngobrol panjang lebar dengan mas Faris. Sambil bertanya-tanya soal acara kerja sama dengan para prusahaan dengan berbagai prusahaan yang mengajakku kerja sama. Karna aku tau kalo mas Faris bekerja di sebuah perusahaan yang juga berjalan di bidang pertokoan dan perhotelan.
Dari saran yang diberikan oleh mas Faris kepadaku aku jadi sedikit mengerti. Manfaat dan keuntungan bekerja sama dengan perusahaan besar. Dan katanya aku juga harus jelih dalam memilih dan melakukan keputusan agar aku tak mengalami kerugian.
Dan sepulangnya mas Faris aku pun langsung pergi ke rumah Om Bambang untuk memintak saran harus pilih prusahaan yang mana yang akan ku terima ajakan kerja sama mereka.
Om Bambang menyuruhku untuk mensurvei dulu dari beberapa perusahaan itu, dan memilih perusahaan yang sekiranya aman dan tidak akan mengalami masalah kedepannyan.
Aku, mas Dido dan juga managernya yang mengetahui sedikit banyak dalam bidang fashion melakukan survei ke perusahaan yang mau merekrut aku untuk menjadi salah satu dari bagian mereka.
Dan selama beberapa hari aku jadi sibuk mondar mandir kesana kemari untuk melihat dengan dekat para perusahaan itu. Akhirnya aku memutuskan untuk bergabung dengan PT Antariksa Sauntetik Howl. Karna dari berbagai perusahaan yang ku datengi, hanya perusahaan ini yang memiliki penawaran yang bisa dibilang masuk akal dari pada yang laennya.
Sekeluarnya Bram dari perkantoran, saat mau makan siang. Bram bersama temannya tiba-tiba dihadang oleh seseorang. Dan orang tersebut menyerahkan sebuah amplop kepada Bram.
Dengan hati yang was-was Bram membuka dan melihat isi dari amplop tersebut. Bagai disambar petir disiang hari, air mata Bram tak berhenti untuk mengalir. Dia bergegas pulang untuk menemui sang istri di rumah.
"Assalamu'alaiku." dan langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam. Loh kok tumben pak pulang cepat.?" Tanya bi Dami yang saat itu sedang merawat putri Bram.
"Diman Monica bi?" bertanya sambil menahan emosi.
__ADS_1
"Nyonya baru saja keluar pak." menjawab dengan sedikit bingung.
"Kemana dia pergi. Apa dia bilang mau kemana?" menghela nafas dalam.
"Ti-tidak pak, cuma bilang kalo mau pergi begitu saja." menatap bingung pada sikap Bram dan kedua katanya yang memerah karna habis nangis.
"Baiklah, terima kasih." pergi naik ke kamarnya.
"Monica. Kenapa kamu melakukan ini padaku, kamu sungguh tega.!" teriak sangat seras.
"Aaaaarrrgg.!" ku hancurkan semua yang ada di depan mataku.
Dalam kemarahan aku mengenang lagi kejadian saat aku datang ke rumah ini dengan membawah Monica sebagai istriku dihadapan Adinda. Betapa hancur hatinya saat itu, namun dia tetap menunjukkan senyumnya didepanku.
"Pak. Pak Bram, apa bapak tidak apa? Sholat dulu pak sudah sore." tegur bi Dami padaku. Yang tanpa ku sadari aku berdiam diri dalam kamar hampir 5 jam lamanya. Bahkan belum berganti baju dan masih memakai baju yang tadi ku pakai ke kantor.
Aku pergi tanpa menjawab perkataan bi Dami. Saat aku turun dan meliwati ruang tengah ku lihat putri kecilku yang sedang tertidur di tempat tidurnya. Ku dekati dia dan ku tatap wajah polosnya yang sedang terlelap dalam buaian mimpi.
"Halo.! Dima kau? Cepat pulang sekarang.!" aku menelpon Monica dengan rasa kesal yang ku tahan dari tadi siang.
"Mas ada apa sih, telpon sambil marah-marah gitu. Kan aku jadi malu sama teman yang ada bersamaku tadi." cercahnya padaku begitu masuk kedalam rumah.
"Tidak bisakah kau mengucapkan salam dulu sebelum masuk kedalam rumah!?" bentakku padanya yang masuk tanpa salam dan langsung marah padaku.
"Bi tolong buatkan aku jus ya." printahnya pada bi Dami dan tak menghiraukan kalimatku.
Dengan rasa kesal ku tarik dia ke dalam kamar. Dan sesampainya di kamar, dia pun marah lagi melihat keadaan kamar yang berantakan.
"Jelaskan padaku apa ini semua?! Apa kau menghianatiku dibelang selama ini. Hah!?" bentakku sambil melempar surat yang tadi diberikan oleh seseorang padaku.
"Apa ini mas? Kenapa mas Bram marah-marah padaku seperti ini?" tanyanya dengan kesal padaku.
"Kau lihat saja, baru kau jelaskan." kataku sambil menatapnya dengan kesal.
__ADS_1
"I-ini? Mas Bram dapat dari mana foto-foto ini mas? Ini semua gak benar mas, ini gak seperti yang mas Bram lihat. Foto-foto ini..."
"Foto mu dan lelaki lain." potongku sebelum dia menyelesaikan pembelaannya.
"Dengarkan aku mas, aku dijebak. Ini foto lama." belanya padaku yang membuktikan kalo dia emang ada maen dengan lelaki laen dibelakangku.
"Itu artinya kau emang ada hubungan dengan lelaki laen dibelakangku, iya kan?" kataku dengan menekan nada bicaraku.
"Mas. Mas Bram percaya sama aku kan mas?" dia mendekatiku dan memegang tanganku.
"Monica hentikan, tolong jelaskan dulu tentang semua itu. Kau ada hubungan dengan lelaki di foto itu. Atau jangan-jangan putri kita bukan putriku."
Ku lihat ekspresi Monica semakin menegang saat ku tanyakan tentang putriku. Ada wajah yang sulit untuk ku artikan. Dan kebungkaman dari Monica membuatku semakin bingung dan penasaran.
Setelah kejadian hari itu aku semakin tak percaya dengan Monica. Bahkan aku juga mulai merasa tidak lagi seperti dulu yang sangat mencintainya dan ingin selalu bersamanya.
Setiap hari kami tak lagi bertegur sapa. Aku pun juga tak lagi merasakan kasih sayang untuk putri kami. Kami selalu melakukan kesibukan kami masing-masing.
"Mas. Apa mas Bram tak bisa memaafkan aku mas?" tanyanya padaku yang saat itu sedang sibuk mengerjakan pekerjaan kantor yang ku bawah pulang.
"Aku tak tau. Aku masih bingung dan tak bisa menerima atas apa yang sudah kamu lakukan padaku." jelasku padanya.
"Mas. Tolong maafkan aku mas, aku tak mau kehilangan kamu mas." dia merengek sambil menggendong putri kami.
"Keluarlah, aku sibuk. Tolong tinggalkan aku sendiri, dan biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku." jawabku tanpa melihat ke arah Monica.
"Tapi mas..." dia masih ingin berusaha mendapatkan lagi perhatiaanku.
"Tolong Monica. Kenyataan ini sangat mengejudkan bagiku. Aku butuh waktu untuk menerima semuanya, ini tak semudah yang kamu pikirkan." jelasku pada Monica.
Ku lihat dia keluar meninggalkan ku sambil menggendong putri kami. Aku merasa tak bisa menerima kenyataan ini, semuanya terlalu berat bagiku. Dan rasa curigaku pada Monica juga semakin besar.
Entah karna rasa marah atau apa yang terjadi padaku, sampai pada suatu hari aku melakukan tes DNA pada putri kami. Dan betapa hancurnya lagi dihupku, setelah melihat kenyataan yang lagi-lagi mengejudkan diriku. Putri yang ku sayang dan ku tunggu kelahirannya, ternyata bukan putriku, bukan keturunanku, bukan darah dagingku.
__ADS_1
"Ya Rabb dosa apa yang sudah ku perbuat. Sehingga Engkau memberiku ujian ini, dan semua kenyataan ini seolah ingin menenggelamkan dan menguburku hidup-hidup." ku usap kasar wajahku dan ku seka air mataku, serta ku sandarkan kepalaku yang terasa beras pada sandaran kursi mobilku.