
Setelah acara makan malam dan perkenalan keluarga Mexca mengantarkan Adinda pulang. Dan saat di dalam mobil, suasana sama seperti tadi waktu berangkat, Mexca diam dan hanya fokus menyetir. Dan itu membuat Adinda jadi ngantuk karna sunyi.
"Dinda, dinda bangunlah sudah sampai." Mexca membangunkan Adinda sambil menggoyang - goyang tubuh Adinda.
"Ah, maaf. Aku ketiduran ya" jawab Adinda saat dia terbangun.
"Tidak apa, cepat masuk dan istirahat." kata Mexca memberi jalan pada Adinda untuk keluar dari dalam mobilnya.
"Terima kasih. Oh iya," kata Dinda berbalik badan yang baru melangkah 3 langka
"Aku tau apa yang ingin kau tanyakan. Besok datanglah jam 9 pagi, karna akan diadakan rapat, jangan sampai telat. Dan hubungi aku setelah sampai perusahaan, mengerti?" kata Mexca sambil memegang kepala Adinda dengan sayang. Dan dijawab anggukan oleh Adinda.
"Baiklah, sekarang masuk dan istirahatlah." suruh Mexca dengan lembut
"Selamat malam, dan hati - hati dijalan" kata Adinda dan dia langsung masuk ke dalam rumahnya. Serta Mexca melajukan mobilnya pulang.
Sesuai dengan kata Mexca, keesokan paginya Adinda datang ke perusahaan dan tepat pukul 9 pagi Adinda sudah ada di parkiran. Adinda menghubungi Mexca, dan tak lama Mexca sudah datang menjemputnya di parkiran.
"Adinda," panggil Mexca melangkah maju dengan setelan jas hitam, dan kancing kemeja dilepas yang bagian leher jadi menampakkan tampilan yang menawan bagi Adinda.
"Kenapa aku baru sadar kalo senyumnya sangat menggoda dan manis. Dengan gaya dan postur tubuh yang tinggi tegap dia bisa mendapatkan siapa saja wanita yang dia inginkan, namun kenapa dia memilihku?" gerutuku saat menatap orang yang saat ini melangkah mendekatiku.
"Kenapa malah melamun? Kau terpesona dengan ku? Aku tau, kalo aku selalu menarik" katanya membuyarkan anganku dan lamunanku.
"jangan sekarang sayang, simpan dulu. Gunakan wajah bengongmu itu saat menatapku di ranjang nanti," godanya yang bicara di dekat telingaku.
"Uhuk uhuk.!" aku terkejud dan kesedak air liurku sendiri
"Hahaha, ,kau lucu sekali. Selalu saja kena dalam godaanku," katanya sambil tertawa menatapku, dan itu membuatku merasa kesal.
"Hentikan itu gak lucu," kataku kesal dan melangkah pergi, karna aku malu.
"Apa yang terjadi, aku ini berhijab tapi pikiranku selalu saja cabul kalo dekat dengan dia." gerutuku kesal dalam hati sambil melangkah di depannya.
"Kita langsung ke ruang rapat sayang, karna mereka sudah menunggu di sana." katanya saat kami memasuki lif, dan aku mengekor di belakangnya saat keluar dari lif.
Saat keluar dari lif, sekretaris Merlin dan juga asinten Faris sudah menunggu di depan lif. Aku terus menatap Mexca dan auranya langsung berubah begitu dia keluar lif. Dan aku menyapa Merlin dan juga Faris dengan anggukan kepala, lalu mereka berjalan dibelakangku.
"Dia benar - benar seperti dua orang yang berbedah. Saat ini tiba - tiba saja sikapnya berubah jadi dingin dan tegas begitu keluar dari lif, padahal sesaat tadi dia terlihat bagai orang cabul yang suka menggoda cewek - cewek." batinku yang terus mengikuti dia berjalan ke arah ruang rapat.
"Halo semuanya, kalian sudah menunggu lama. Mari kita mulai saja pengumumannya sekarang," kata Mexca saat dia sudah memasuki ruang rapat.
__ADS_1
Semua orang yang ada di ruang rapat adalah mereka para petinggi dan juga para pimpinan setiap devisi beserta asisten mereka masing - masing.
Aku berdiri di belakang Mexca bersama dengan sekretaris Merlin, aku bingung sebenarnanya untuk apa aku ikut kalo ini tidak ada hubungan denganku.
"Kemarilah," kata Mexca padaku dengan mengulurkan tangannya, dan aku menyambut uluran tangan itu.
Aku duduk di kursi sebelah Mexca dengan tertunduk, aku tak berani menatap semua orang. Karna tatapan mereka sangat galak bagiku, bisa dibilang mereka adalah orang - orang yang ingin agar aku keluar dari perjanjian kerja sama.
"Awalnya aku ingin, Adinda masuk dan bekerja di perusahaan ini dengan caranya dan kemampuannya sendiri. Karna aku ingin dia berkembang dengan caranya, agar tak ada orang yang mengatakan kalo dia hanya memanfaatkan dukungan dari atasannya, atau curang." kata Mexca yang menggemah di ruang rapat yang sunyi itu.
"Aku tak pernah mencampur adukkan masalah dan urusan pribadi dengan urusan perusahaan. Aku tak peduli mereka kenalan, saudara, teman atau keluarga. Saat mereka memasuki kantor untuk bekerja maka mereka adalah bawahanku." kata Mexca lagi, dan semua orang masih diam mendengarkan, termasuk diriku.
"Tapi apa yang kalian lakukan ini sudah kelewatan.! Dan tidak bisa lagi aku biarkan begitu saja." katanya lagi dengan nada yang sedikit ditekankan.
"Kalian ingin mengusik orang yang seharusnya kalian lindungi dan kalian hormati sama seperti kalian menghormatiku karna dia......" kalimat Mexca berhenti dan membuat semua orang jadi saling pandang.
Aku lirik Mexca, dia menatap dan mengawasi semua oranga yang ada di ruangan itu dengan seringai yang sulit untuk diartikan maksudnya..
"Maksud anda apa pak Mex? Kapan kami mengusik orang anda." kata seseorang yang kira - kira usianya seusia Om Bambang.
"Heh, akhirnya anda buka suara juga, sudah ku tunggu dari kemaren." kata Mexca dengan nada mencibir.
"Aku tak tau apa niat anda dan tujuan anda. Aku menghormati anda karna anda adalah orang yang dikenal oleh papa saya. Tapi anda tak bisa mengawasi pegawe anda dengan baik dan justru bekerja sama dengannya. Katakan siapa saja orang yang anda bayar untuk melakukan itu!?" kata Mexca dengan dingin dan marah.
"Rupanya anda tak mendengarkan kalimat saya. Baiklah akan ku perjelas lagi." kata Mexca sambil melihatku, dan itu membuat aku semakin bingung dengan suasananya.
Aku lihat Mexca tersenyum manis padaku dan seketika aku pun ikut tersenyum, seolah aku terhipnotis dengan senyumannya, dan harus mengikutinya.
"Adinda Larasati atau desainer AL yang kalian kenal selama ini dia adalah orangku. Dan yang lebih jelasnya lagi dia adalah calon nyonya pimpinan PT Antariksa Sauntetik Howl. Orang yang seharusnya kalian hormati sama seperti kalian menghormatiku dan memandangku selama ini.!!" kata Mexca dengan keras dan menatap mata semua orang yang ada di ruang rapat itu.
"Dengarkan aku, jika dalam waktu 1 minggu aku masih belum mendengar kabar kalo kau menghukum orang itu makan aku sendiri yang akan melakukannya dengan tangaku." kata Mexca mengancam, yang jujur aku tak mengerti apa maksudnya.
"Tuan Mexca aku minta maaf, aku tak tau cerita aslinya aku hanya ingin menyatukannya saja." kata orang itu pada Mexca dengan menunduk.
"Faris blacklist hotelnya.!!" kata Mexca dengan nada yang terdengar sangat dingin dan mengerikan.
"Baik.!" kata Faris singkat dan langsung menghubungi seseorang.
"Tuan jangan lakukan itu. Itu bi...." belum selesai orang itu bicara Mexca sudah memotongnya dengan kejam.
"Kau ingin ku hancurkan sekarang juga.!? Katakan?!" kata Mexca dengan sorot mata yang sangat tajam.
__ADS_1
Aku menelan ludah menahan rasa takutku. Atmosfir di ruang rapat itu berubah jadi mencekam. Mexca berubah lagi, dia bagai senjata tempur yang siapa untuk meruntuhkan dan menghancurkan semua yang ada di depannya. Auranya sangat kuat dan membuat semua orang yang berada di ruangan itu ciut termasuk diriku.
"Baik, s - saya akan menangani pe - pegawe saya." kata orang itu terbatah, pasti dia juga merasakan takut sama sepertiku.
"Untuk semuanya, koreksi diri kalian sendiri sebelum aku yang lakukan. Karna tanpa kalian perusahaan ini masih bisa berdiri, dan aku tak suka ada orang yang bermain belakang." kata Mexca yang terdengar agak lunak tapi tetap tegas
"Baik tuan.!" kata semua orang yang hadir dalam rapat itu.
"Yang masih ingin berjalan ku beri kesempatan. Jadi kembalilah dan cek perusahaan masing - masing. Dan untuk para pimpinan devisi aku ingin nama yang tertera di kertas itu menghadap padaku segar." kata Mexca melemparkan sebuah kertas di atas meja.
"Faris, buat semua nama dalam daftar itu, tidak diterima dimanapun.!" perintah Mexca pada Faris dengan tegas
"Baik," jawab Faris singkat dan tegas.
"Merlin, putar semua yang sudah kau dapatkan sekarang," perintahnya pada Merlin, dan dia langsung memutar sebuah video yang membuat aku terkejud.
Dalam video itu ada seseorang yang mencampurkan sesuatu pada minumanku dan menyemprotka obat bius yang dicampur dengan obat serangga di toilet saat aku berada di dalamnya. Lalu aku diangkut dengan ditutup mataku masuk kesebuah mobil dan di bawah ke buah hotel saat aku sudah pingsan di dalam mobilku. Dan ada wajah yang diblur, aku tak tau siapa dia.
Aku bergetar melihat video itu, aku tak tau apa salahku sampai ada orang yang tega melakukan itu padaku. Aku menutup mataku dan menunduk menahan air mataku.
"Baiklah, semua bubar. Kalian sudah lihat dimana saja itu, dan semua orang dan tempat yang bersangkuatan dengan semuanya akan berhadapan dengan ku." kata Mexca menutup pertemuan itu. Dan ku rasakan semua orang pergi, tapi aku masih tak mampu untuk berdiri, tubuhku masih bergetar dan lemas seola tak ada tenaga bahkan hanya untuk mengangkat kepalaku.
"Ya Allah, apa aku ada salah dalam bersikap dan berucap selama ini. Sampai ada orang yang mau menyakiti aku seperti itu. Tolong ingatkan aku pada semua yang telah ku lakukan selama ini." pintaku pada Rabbku dalam hati, sambil ku remas jemariku.
"Jangan meremas jari - jarimu nanti kau terluka, kau bisa meremas jariku saja karna itu bisa membuatku bahagia," kata seseorang sambil memegang tanganku dengan lembut.
Aku tatap wajah yang tadi membuat ku takut itu, telah berubah lagi jadi seperti anak kucing yang manis dan menggemaskan. Dia seperti perisai, tombak dan tameng dalam waktu yang bersamaan. Tangisku pecah seketika karna mendapatkan pembelaan dan perlindungan yang sangat luar biasa dari seseorang yang hebat seperti Mexca.
"Maaf, dan terima kasih. Aku akan melakukan apa pun. Aku siap mengabdikan diriku padamu, aku akan mengikuti keyakinanmu, akan ku ikuti." kataku sambil memeluknya tanpa ragu, dan ragaku seolah sudah bukan milikku lagi.
"Hahaha... Tenanglah sayangku, dengarkan aku dulu." ucap Mexca mengurai pelukanku.
"Dengar, aku tak memintakmu untuk berubah sekarang, tetaplah jadi dirimu sendiri. Aku lebih suka kau yang seperti ini. OK?" katanya dengan menghapus air mataku.
Saat Mexca mengantarku pulang, rasanya aku tak ingin dia pergi. Kulihat mobilnya melaju dan hilang sampai tak terlihat. Aku masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai, dan ku peluk bi Sumi dengan erat sambil ku tumpahkan lagi air mataku.
**************************************************************************
"Kenapa ada orang yang begitu mencintaiku dan melindungiku seperti itu?" tanyaku dalam hati yang mulai merasa takut akan semuanya.
Ku sembunyikan wajahku dalam sujudku dan ku adukan rasa takutku pada Rabbku. Aku telah kalah dalam batasan yang ku buat sendiri dan aku menyerah dalam kebingungan hatiku sendiri. Lama aku bersembunyi dalam gelapnya kamarku.
__ADS_1
"Aku mungkin akan menyesal nantinya dalam keputusan yang telah ku ambil ini, tapi ku mohon kuatkanlah aku untuk menanggung semua bebanku nanti. Tolong maafkan aku Ya Rabb, dan tolong maafkan juga kedua orang tuaku." pintaku yang mungkin aku sendiri tak tau jawabannya.