
Aku sudah tak sanggup lagi bertahan, kakiku sudah lemas, dan pandanganku mulai menggelap. Aku pun mulai sadar dengan tindakan ku yang ceroboh dan gegabah, serta nekat. Aku gak mungkin memaksa orang untuk menikahiku kalo dia sudah mulai berubah pikiran, karna aku tak pernah menghubunginya sama sekali selama ini.
"Ma - maafkan aku, tolong maafkan aku." kataku dan ku tundukkan kepalaku sebagai penghormatan karna mengganggu waktunya. Aku membalikkan badan hendak pergi dengan tubuh yang bergetar hebat, aku berjalan goyah.
Sreeet
Bruk
"Tenanglah sayangku. Kenapa kamu setakut ini, dan kenapa kamu tak berdaya seperti ini, hem? Bukankah ada aku di sini?" katanya saat dia menarik tanganku dan mendekapku dalam pelukannya.
"Ssssstttt... Sudah jangan menangis lagi, dan jangan takut. Bukankah aku sudah di sini sekarang?." katanya menenagkan ku.
"Aku tak akan membiarkan kamu terluka, tak sedikit pun." suaranya lagi menggema di telingaku.
"Aku bisa menghancurkan segalanya, tapi bukan dirimu, jadi tenang saja. Tetaplah bergantung padaku, karna aku akan selalu ada untukmu." jelasnya lagi sambil menepuk punggungku dan mengusap kepalaku, dan memberikan rasa nyaman dan tenang.
Mendengar kalimat kalimat itu keluar dari dirinya membuat tangisku semakin pecah dalam dekapannya. Aku seolah mendapatkan tempat bersandar yang kuat di dalam keterpurukan dan rasa putus asahku yang mendalam.
Ku hirup aromah tubuhnya yang menyeruak dalam hidungku, dan membuatku merasakan ketenangan. Aroma maskulin yang cocok dengan dirinya, serta berpadu dengan aroma manis yang memberikan ketenangan. Membuat aku tenggelam dalam dirinya semakin dalam.
"Bukankah sudah ku bilang, kalo kamu tak boleh mundur. Karna aku sudah tak bisa mundur lagi. Apa kamu masih ingat kata kataku yang di atap gedung?" tanyanya sambil tetap memelukku dengan erat. Dan hanya ku jawab dengan anggukan.
"Aku sengaja diam, karna aku ingin tau siapa orang yang akan kamu datangi untuk kamu pilih dan kamu percaya dalam menyelesaikan masalahmu. Aku ataukah mantan suamimu." Mexca tersenyum saat Adinda membalas pelukannya, karna itu artinya dia adalah orang yang dipilih dan dipercaya oleh Adinda.
Aku tak tau harus menjawab apa pada pertanyaannya, karna awalnya aku emang berniat mencari mas Bram, namun tanpa sadar aku justru menghentikan mobilku di depan gedung kantornya. Seolah ada seseorang yang menunjukkan padaku jalan ke arahnya.
Aku tak peduli lagi dengan keyakinan apa yang akan dianutnya dan aku akan mengikuti kemana dia akan pergi membawahku. Aku peluk dia dengan erat dan tak ingin ku lepas lagi. Dan tangis yang begitu lama membuat aku bernafas dengan tersengal - sengal.
"Kemarilah," katanya saat dia mengurai pelukannya dan membawahku ke kursi tempatnya duduk tadi.
"Duduklah, aku ingin menatapmu dengan puas karna aku sangat merindukanmu." katanya sambil menarik tanganku dan membuat aku duduk dipangkuannya.
"Jangan menangis lagi. Aku lebih suka melihatmu tersenyum dari pada menangis begini." ucapnya dengan menyeka air mataku
"Aku akan melakukan sesuai dengan keinginanmu. Akan ku nikahi kamu dan ku jadika milikku untuk seumur hidupku dan tak akan pernah ku lepas lagi." ucapnya dengan senyuman yang sangat manis.
Ku tatap orang yang saat ini ada di depanku dan berada begitu dekat denganku. Orang yang tak pernah ku bayangkan akan bisa ku gapai walo aku menyukainya.
Ku peluk dia dan ku sembunyikan wajahku di ceruk lehernya. Aku bagai orang yang tak memiliki kekuatan lagi dan tak tau malu, aku pasrahkan seluruh hidupku padanya, dan akan ku berikan semuanya pada orang ini. Orang yang saat ini menepuk punggungku dengan penuh sayang, dan memberikan kenyamanan padaku.
"Sayang, kamu ini sama persis dengan gadis kecil ya? Kalian sama sama suka bersembunyi di leherku dan memelukku dengan kuat. Apa kalian adalah dua wanita yang ingin menggodaku?" katanya sambil tersenyum dan terus menepuk punggungku.
Saat Dinda menikmati posisinya yang nyaman, tidak dengan Mexca. Dia mulai merasa gelisah dengan perlakuan Adinda yang menyembunyikan wajahnya di lehernya.
Setiap hembusan nafas Adinda yang mengenai kulit leher Mexca membuat sesuatu dalam dirinya bangkit dan merontah mencari sarangnya. Setelah Mexca bersusah payah menahannya, namun dia seolah tak mau untuk ditahan. Karna bagaimana pun dia adalah pria normal yang mencintai wanita yang saat ini ada dalam pangkuannya.
"Sayang, nafasmu mengelitik dan membangkitkan sesuatu yang seharus tak kamu bangkitkan sekarang." kata Mexca tepat di telinga Dinda.
__ADS_1
Seketika Dinda yang mendengar itu langsung berdiri dari posisinya seolah dia paham apa yang dikatakan oleh Mexca.
"Wahahahaha... Sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Mexca yang melihat Adinda berdiri tegak. Dan merasa geli dengan tingkah Adinda yang waspada.
"Aku tak menyuruhmu untuk bangun dari pangkuanku, aku hanya meminta agar kamu tak menyentuh areah sensitifku." jelasnya sambil senyum menatap Adinda yang malu.
"Baiklah, duduklah di sofa. Aku akan menyelesaikan ini sebentar, setelah itu kita urus masalahmu." kata Mexca dan mulai bekerja lagi.
"Mer bawakan makanan dan susu murni, antarkan ke ruanganku." perintah Mexca pada seseorang yang dihubungi lewat telphon.
Klik
Aku duduk di sofa dengan patuh, ku genggam tanganku sendiri. Karna aku tak tau harus berbuat apa lagi, aku telah menggantungkan seluruhnya pada orang yang saat ini sedang duduk di kursinya dengan tumpukan berkas berkas.
Ceklek
Tak lama dari dia telpon ada seseorang yang masuk dan ternyata itu adalah sekretaris Lin. Dia membawah makanan dalam baki dan meletakkan di depanku.
Ku lihat saat dia masuk, ada raut wajah terkejud saat mendapati aku yang duduk dengan tenang di sofa tanpa bergerak dengan wajah yang mungkin terlihat sembab dan bengkak karna menangis.
"Desainer AL? Syukurlah kamu tak papa. Tadi aku mencobak untuk menghubungimu tapi nomormu tak ada yang menjawab." katanya padaku dengan nada yang terdengar khawatir.
"A - ku tak membawah apa pun." jawabku gagap, karna baru sadar aku keluar tak membawah apa pun selain kunci mobil.
"Baiklah tidak apa." kata Merlin lagi sambil senyum padaku
"Bos, apa jadwal sore ini mau ditunda dan di alihkan untuk besok?" Tanyanya menghadap ke Mexca
"Baiklah, akan ku siapkan semuanya untuk besok." dia menunduk pada Mexca lalu keluar
Aku hanya diam menatap interaksi mereka berdua, Dan saat sekretaris Li mau keluar dia mengangkat tangan lalu mengatakan sesuatu padaku. Walo aku tak bisa dengar, tapi aku yakin yang dia katakan adalah. "Semangatlah"
"Makanlah, habiskan. Jika tak habis aku akan menghukummu" perintah Mexca padaku.
"Aku tak lapar." jawabku yang tak ada selera makan.
"Baiklah aku akan menyuapimu, tapi dengan syarat kamu harus duduk dipangkuanku kayak tadi." katanya sambil senyum dan mengedipkan mata padaku.
"Tidak, aku makan sendiri." jawabku langsung karna aku gak mau disuapin olehnya sambil dipangku.
Saat aku menyuapkan makanan itu kemulutku, aku merasakan keinginan untuk makan lagi dan lagi. Entah karna lapar yang sudah 4 hari tak makan atau karna beban dihatiku sedikit terangkat dan pikiranku tenang, sehingga nafsu makanku muncul.
Mexca yang duduk di kursinya menatap Adinda yang makan dengan lahap merasa senang dan tersenyum. "Kenapa kamu terlihat begitu menggemaskan. Rasanya aku ingin melahapmu sekarang juga." gerutunya dalam hati.
Setelah aku selesai dan menghabiskan semua makanan yang dipesan, aku langsung membereskan meja agar bersih dari percikan makanan. Dan aku kembali duduk dengan tenang lagi.
Satu jam setelahnya Mexca sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia mengantarku pulang. Mulai keluar dari ruangannya sampai masuk lif dan berjalan ke parkiran dia menggenggam tanganku tanpa dia lepas sedikitpun.
__ADS_1
Sedangkan aku yang mengikutinya di belakang dengan patuh menundukkan kepala karna ada rasa takut dan juga malu pada semua orang yang tau dan mengenaliku.
Saat dalam mobil suasananya hening, Mexca yang menyetir dia fokus pada jalan, sedangkan aku melihat keluar jendela menatap orang yang berlalu lalang. Serta berfikir apa kah mereka juga mengalami masalah sama sepertiku, dan apakah mereka ada orang yang mendukung.
Aku merasa bersyukur karna ada orang orang yang ada dipihakku dan percaya padaku. "Terima kasih Ya Allah., Engkau masih mengirimkan orang orang yang peduli padaku. Terima kasih masih ada mereka yang mendukungku." ucap syukurku pada tuhanku yang selalu mengirimkan orang orang baik seperti Om Bambang dan keluarga, bi Sumi dan mang Ujang serta Mexca yang telah menjadi penopang dalam hidupku.
"Rumahmu dimana sayang?" suaranya yang berat membuyarkan lamunanku
"Cafe dan restomu tutup. Aku tak tau dimana alamat rumahmu." katanya lagi sambil menatapku sekilas.
"Maaf, aku melamun." jawabku dan akhirnya aku tunjukkan dimana alamat rumahku.
Saat sampai di depan rumah, ku linat di sana terparkir mobil Om Bambang dan yang laen. Saat mobil Mexca berhenti di depan rumahku, ku lihat semua orang keluar dan menanti aku turun dari dalam mobil.
Aku duduk ditempatku dan tak beranjak, karna aku tau mereka pasti akan memarahiku yang pergi tanpa pamit dan tak membawah hendphon.
"Ayo keluar, mereka menunggumu. Dan mereka pasti khawatir sama kamu." ucap Mexca, namun aku masih tetap diam di tempatku.
Ceklek
"Ayo sayang, jangan buat mereka semakin khawatir. Tidak apa jangan takut, ada aku di sini." ucapnya dan memegang tanganku. Dan akuh pun keluar dari dalam mobil dengan bantuannya.
"Ya Allah Dinda?!" teriak mbak Ayuni begitu melihat aku keluar dari dalam mobil dengan dipegangi oleh Mexca.
Yulia dan mbak Ayuni menghambur dan memelukku bersamaan, mereka menangis dan itu membuat aku ikut menangis juga. Ku terima pelukan mereka dan ku tumpahkan semua rasa yang ku rasakan.
"Kenapa kamu pergi tanpa bilang dan juga tak membawah apa pun. Kami mencarimu seperti orang gila saat bi Sumi menghubungi kalo kamu pergi dengan mobil tanpa pamit." jelas Om Bmbang dan akhirnya dia menghubungi mas Dido dan juga mas Didi, serta Om Eko yang masih mencariku.
"Terima kasih tuan Mexca, anda telah menolong ponakan saya." Ucap Om Bambang pada Mexca saat kami semua telah masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Tidak masalah, karna saya tak mungkin membiarkan orang yang penting dalam hidup saya dalam masalah." jawab Mexca
"Maksudnya apa ya?" Tanya Om Bmbang bingung
Ku lihat Mexca tersenyum lalu menjawab "Adinda adalah kekasih saya. Dan saya ingin menjadikan dia istri saya."
"Masya Allah, non?" ucap bi Sumi yang menangis dan tersenyum bersamaan, yang berdiri di sampingku.
Setelah semua orang berkumpul, Mexca menyuruhku menceritakan lagi semua kejadian sebelum aku sadar dan terbangun di sebuah kamar. Dan setelah mendengar itu dia tersenyum padaku dan mencium puncak kepalaku.
"Jangan takut, dalam 2 hari nama dan reputasimu akan kembali, ku pastikan kau akan lebih bahagia dari ini." ucapnya meyakinkan aku.
"Apa kamu percaya padaku?" Tanyanya sambil menangkup wajahku dan menatap mataku, aku mengangguk karna aku telah menitipkan semua raga ini padanya.
"Baiklah, karna sudah malam saya permisi dulu. Besok biar mobilnya diantar sopir ke mari." kata Mexca berpamitan pada semua orang.
"Istirahatlah dan jangan pikirkan apa apa. Serahkan padaku, akan ku selesaikan semuanya." jelas Mexca sebelum dia beranjak pergi.
__ADS_1
"Aku pulang. Tunjukkan senyumanmu saat aku datang nanti, ok." katanya sambil senyum dan memegang kepalaku.
Sesuai dengan janjinya dalam waktu 2 hari berita tentang aku yang dijebak dan diculik oleh seseorang beredar luas di setiap media. Dan nama baikku pun kembali lagi, tak ada lagi orang yang menghina dan mengolokku. Bahkan banyak ucapan permintaan maaf dari berbagai kalangan yang telah menuduhku berbuat maksiat.