(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Talak


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Mexca meminta pada Faris untuk membelikan makan malam di cafe yang didesain sangat elegan dan santay. Menu yang dipesan juga sama yang itu-itu saja.


Kadang aku merasa heran dengan bos ku belakangan ini, dia jadi sering minta dianter ke gereja dan cafe ini. Tapi entah kenapa tiap masuk cafe ini aku merasa sangat tenang, entah karna suasana dan nuansanya atau karna lirik lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita berhijab itu.


Tapi malam ini sepertinya sedikit spesial, dan sepertinya pegawe disini sangat mengenalku karna aku selalu datang di waktu yang sama dengan pesanan yang sama juga. Steak, susu fanila dan es ceream coklat.


"Selamat malam pak, maaf ini pesanan anda dan ini adalah bonus dari pemilik cafe ini pak, karna bapak adalah pelanggan tetap cafe ini" jelas pelayan cafe dengan Rama padaku.


"Trima kasih. Apa saya boleh Tanya, siapa nama gadis penyanyi itu, dan apa dia penyanyi tetap cafe ini?" kataku penasaran karna suaranya terdengar sangat sendu hari ini tak seperti biasanya.


"Ah, mbak Dinda. Dia penyanyi tetap cafe ini dan dia juga sudah menikah pak" jelasnya padaku


Aku menerima pesananku dan membayarnya.


Siang itu setelah bertemun dengan rekan bisnisnya, bosku mengajakku ke gereja lagi dan aku meminta ijin untuk ke masjid karna berdekatan.


"Ris, apa kau merasa tenang jika istirahat di sini? Bukankah ini tempat ibadah untuk mu?" tegur bosku yang membuatku terkejud.


"Ah, iya. Ini adalah rumah Allah, sama dengan tempat ibadah anda bos. Saya selalu merasa nyaman di sini, dan di sini bukan hanya tempat ibadah tapi juga tempat istiraha bagi mereka yang dalam perjalanan jauh" jawabku pada bosku, entah benar atau salah.


Setelah itu bosku pun mulai cerita tentang masalah yang mengganggunya belakangan ini. Aku agak canggung, walo aku dekat. dengannya tapi aku bukanlah. temannya yang harus berbagi segala hal dengan dia.


"Jadi bos jatuh cinta pada penyanyi cafe yang bernama Dinda itu, dan itu sebabnya bos selalu beli menu makan malam di situ." kataku menypulkan. Yang dijawab dengan anggukan dari bosku itu.


"Aneh, kemaren saya juga melihat sepertinya dia sedang dalam masalah. Kalo di agama saya bos, bisa diartika jodoh jika ke dua insan bisa merakasan rasa resah dari salah satunya" kataku asal aja bicara.


"Kadang aku berfikit untuk merebutnya dari suaminya" celetuk bosku itu, yang emang bksa melakukan segalanya dengan mudah.


"Waduh bos kalo seperti itu bisa berabe. Karna sepertinya dia bukan wanita biasa, kalo sampai diantau ulah bos dia bisa marah dan bahkan benci sama bos" nasehatku pada bosku yang lama-lama terdengar seperti teman bagiku.


"Maaf bos, kalo dalam keyaninan bos saya tak paham, tapi kalo dalam keyakinan saya, semua yang ada di dunia ini ada sebab akibatnya. Semua bisa dirubah melalui do'a dan keyakinan kita. Dan jika kita menginginkan sesuatu yang tak bisa digapai makan akan diganti dengan sesuatu yang lebih dari itu, tapi bisa juga karna kekuatan do'an kita bisa memiliki apa yang kita inginkan itu" jelasku yang sok agamis pada bosku yang pintar itu.


Dan entah apa yang terjadi, bosku jadi semakin diam dan suka mengikutiku jika aku sedang beribada.


Tapi kehidupan di kantor tetap dia adalah rajanya dan banyak pegawe yang sering kena omel karna kinerja mereka.


Kembali ke Dinda


Setelah mas Bram berangkat kerja mbak monica lagi-lagi membuat ulah, dan dia selalu saja berbuat nekat seperti pagi ini. Dia menjegal ku dan mengancam akan melakukan apa pun Demi bisa mengusirku dari rumah ini.


"Sebenarnya kenapa bak Monica melakukan itu semua? Bukankah selama ini mbak Monica sudah memiliki mas Bram seutuhnya" tegasku yang mulai geram dengan ulahnya itu.


"Kau pikir hanya itu yang ku mau, tidak.! Aku mau kau keluar dari rumah ini dan dari kehidupan mas Bram untuk selamanya.!" dia tersenyum penuh arti dan tiba-tiba menjatuhka dirinya.


"Ya Allah mbak, apa yang mbak monica lakukan sih?!" cercahku yang terkejud dengan ulahnya yang nekat itu.


"Aduh perutku, sakiiit?!" pekinya menahan dan pemegangi perutnya.


"Mbak, apa mbak Monica gak papa? Ayo mbak, ayo kita cepat ke rumah sakit mbak" aku memapahnya masuk ke mobil.


Dalam perjalanan aku merasa sangat cemas dengan keadaan mbak Monica dan janinnya, sementara mbak Monica terus saja mengerang kesakitan.


"Dokter... Dokter tolong saya, dokter?!" teriakku dengan panik begitu sampai rumah sakit.


Ku lihat mbak Monica di bawah beberapa perawat ke ruang pemeriksaan, dan aku segera menghubungi mas Bram menceritakan ke adaan mbak Monica saat ini.


"Dokter, bagaimana keadaan kakak saya dan janinnya? Apa tidak ada masalah dengan mereka?" tanyaku panik dam kahwatir pada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang periksa mbak Monika.


"Tenanglah, saya akan bicara pada suaminya apa suaminya sudah datang?" kata dokter itu dengan serious.


"Saya suaminya, ada apa dengan keadaan istri dan anak saya?" kata mas Bram yang baru saja datang.


"Mas Bram" kataku yang masih panik.


Mas bram pergi mengikuti dokter itu dan aku masih menunggu di depan ruang perawatan. Aku melihat beberapa perawat mendorong tempat tidur mbak Monica yang katanya akan dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Maaass.. hiks hiks mas Bram"


Mas Bram yang baru datang dari ruang dokter masuk ke ruangan mbak Monica dan langsung memeluknya serta mengecup kening mbak Monica dengan sangat mesrah dan sayang.


"Mas kita hampir saja mau kehilangan anak kita mas huhuhuhu..."


"Tenanglah sayang semua akan baik-baik saja, aku tak akan membiarkanmu celaka dan terterluka lagi" kata mas Bram sambil memeluka dan menepuk punggung mbak Monica.


"Ini semua, ini semua gara Dinda mas hiks hiks. Aku gak mau tinggal sama orang yang bisa mengancam keselamatan bayi kita mas, aku gak mau. Tolong aku mas, jangan biarkan dia tinggal bersama kita mas huhuhu" adu dan rintih mbak monica pada mas Bram.


"Jadi, ini semua karna ulah mu lagi Din? Kenapa kau jadi orang yang sangat jahat dan egois, apa Salah bayiku sampai kau ingin membunuhnya? Kenapa rasa irih dalam hatimu telah membuatmu jadi orang begitu kejam bahkan pada bayi yang tak berdosa dan Salah apa-apa. Dinda dengarkan aku, mulai sekarang aku menceraikanmu. Kau bukan lagi istriku" kata-kata mas Bram bagai petir yang menyambar dan menghancurkan seluruh hidupku.


"Mas, apa yang mas Bram katakan baruasan? Mas Bram tega melakukan ini sama aku." tak ada jawaban dari mas Bram, hanya mbak monica yang tersenyum dalam kemenangannya dibalik pelukan mas Bram.

__ADS_1


"Kalian. Kalian adalah orang-orang yang keji, kalian berdua telah berbuat zholim padaku selama ini. Siatu hari nanti kalian akan mendapatkan balasannya" kataku sambil pergi meninggalkan ruangan itu.


Dalam perjalanan ke parkiran pikiranku buntu, dadaku sesak dan hati seolah di remas serta hancur berkeping-keping, nafasku seolah terhenti hanya di kerongkongan.


Aku terduduk di rumput taman sambil memegangi kedua lututku, aku terisak dan merasakan duniaku hancur tak bersisa.


"Aku barusan mengatakan cerai pada Adinda. Apa aku telah menceraikan Adinda?" tanyaku tak percaya dengan apa yang ku katakan.


"Iya mas, mas Bram talah menceraikan Adinda. Sekarang tak ada lagi orang yang akan membahayakan calon bayi kita"


"Ya Allah apa yang telah aku lakukan? Padahal aku mulai mencintainya dan ingin dekat serta mengenalnya lebih dalam lagi. Aku bahkan selalu merasa tertarik dan seka setiap tindakan Adinda yang menggemaskan" gerutuku dalam hati.


"Mas, mas Bram ayo pulang mas aku mau pulang, aku sudah baik-baik saja. Aku gak betah di sini mas, aku mau istirahat di rumah saja" rengek manja Monica padaku.


"Baiklah mas Tanya pada dokter dulu ya? Kamu tunggu di sini" ku usap dan ku kecup puncak kepala Monica.


Saat berjalan di lorong rumah sakit tanpa sengaja aku melihat Adinda yang tersimpuh dan menangis dengan memegangi kedua lutunya. Ingin rasanya aku turun dan memeluknya tapi itu tak mungkin karna perbuatanku pada dirinya sangatlah kejam selama ini.


Aku melajukan mobilku dengan isak tangisku yang tak mau berhenti, ku parkir mobilku di tepi jembatan. Aku turun dan berteriak di sana, ku lepaskan semua beban yang ada dalam hatiku.


"Dinda, dinda apa yang kau lakukan?!" teriak seseorang yang menarikku dalam pelukannya.


Karna rasa sakit yang begitu menyesakkan dadaku, pandanganku pun mulai pudar dan menggelap, pendengaranku juga tak jelas. Sampai aku benar-benar tak ingat apa pun lagi.


Saat pagi hari aku tersadar di rumah Om Bambang, bliau memaksaku cerita apa yang telah terjadi pada diriku. Dan aku pun dengan berat hati mengulang kejadian kemaren dan menceritakan semuanya pada Om Bambang dan juga mas Dido serta mas Didi.


Pada sore harinya aku pergi ke rumah orang tua mas Bram dengan membawah belanjaan, sesampainya di sana aku masak untuk semua orang, dan aku juga memasakan makanan kesukaan mas Bram. Tak lama setelah aku selesai masak mas Bram datang.


Kami semua makan malam bersama, aku kedua orang tua mas Bram, Om Bambang, mas Dido dan Didi serta mas Bram sendiri.


"Dinda ada apa ini nak, kenapa kamu sejak datang tak bicara apa-apa hanya sibuk masak, dan mama juga tak di ijinkan untuk membamtu" tak mama mas Bram padaku saat kami telah selesai makan malam dan beres-beres.


Ku lihat mas Bram menatapku dan kemudian dia tertunduk.


"Jika mas Bram tak mau bicara, biar Dinda yang menjelaskan." kataku ke pada ke dua orang tua mas Bram


"Sebelumnya Dinda minta maaf, dinda datang dan masak di rumah ini serta sengaja memasak masakan kesukaan semua orang masing-masing untuk membuat kenangan terakhir"


"Apa maksudmu sayang, mama tak mengerti dengan yang kamu katakan ini. Bram apa kalian bertengkar?"


"Tante, maafkan Dinda. Karna Dinda tak bisa jadi menantu yang baik untuk keluarga ini"


"Maaf, Dinda sudah ditalak sama mas Bram. Dinda bukan lagi istri dari mas Bram dan menantu keluarga ini. Dinda datang untuk mengucapka kata maaf yang sebesar-besaenya"


"Bram.! Apa kau sudah gila hah?! Apa yang telah kau lakukan anak kurang ajar"


"Maaf Pa, Bram khilaf"


Plak


"Kau kelewatan Bram. Kau benar-benar tak punya otak.!"


"Mama kecewa padamu Bram. Jadi ini mau? Kau membuang Dinda dan memilih wanita itu"


"Maafkan Bram ma. Bram benar-benar khilaf ma"


"Sudalah Anton, semua sudah terjadi. Dan aku tak mau melihat putri yang ku besarkan dan ku kenal seperti apa perjuangannya selama ini untuk bertahan hidup menderita lagi. Tadinya dengan menyetujui perjodohan ini dan menitipkan dia pada anakmu, aku akan melihatnya bahagia, namun anakmu telah menjahatinya dan mengabaikan dia selama 3 tahun pernikahan mereka. Bahkan anakmu telah menzholimi dia dengan berbuat tidak adil padanya."


"Dinda maafkan mama sayang, tolong tetaplah memanggil ku mama. Karna mama tak bisa kehilanganmu sayang"


"Baiklah ma, maafkan Dinda juga" kataku sambil membalas pelukan mama mas Bram padaku.


Kusangkakan panas berpanjangan


Rupanya gerimis, rupanya gerimis


Mengundang a-ha-ha-ah


Dalam tak sedar 'ku kebasahan


Pernah juga kau pinta perpisahan


Aku sangkakan itu hanyalah


Gurauan a-ha-ha-ah


Nyata kau serius dalam senyuman


Bukan sekejap denganmu

__ADS_1


Bukan mainan hasratku


Engkau pun tahu niatku


Tulus dan suci


Senang benar kau ucapkan


Kau anggap itu suratan


Sikit pun riak wajahmu


Tiada terkilan


Hanya aku separuh nyawa


Menahan sebak di dada


Sedangkan kau bersahaja


Berlalu tanpa kata


Terasa diri amat terhina


Kau lakukan


Terasa diri amat terhina


Kau lakukan


Bukan sekejap denganmu


Bukan mainan hasratku


Engkau pun tahu niatku


Tulus dan suci


Senang benar kau ucapkan


Kau anggap itu suratan


Sikit pun riak wajahmu


Tiada terkilan


Hanya aku separuh nyawa


Menahan sebak di dada


Sedangkan kau bersahaja


Berlalu tanpa kata


Terasa diri amat terhina


Kau lakukan


Terasa diri amat terhina


Kau lakukan


Sia-sia kukorban selama ini


Jika kasihku, jika hatiku


Kau guris o-ho-ho-oh


Dalam tak sedar 'ku menangis


Terjemahkan ke bahasa Indonesia


Sumber: Musixmatch


Penulis lagu: Saari Jusoh


Lirik Gerimis Mengundang


Malam itu aku menginap di cafe dengan menyibukkan diri agar bisa teralihkan dari semua beban dan masalah hidup yang telah menimpahku dalam 2 hari ini.

__ADS_1


__ADS_2