(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Dinda dan Mexca


__ADS_3

Aku berjalan menyusul Yulia yang sedang bicara dengan seseorang, dan terlihat seperti terlibat sedikit perdebatan.


"Yul...?" panggilku pada teman dan juga sahabatku itu.


"Oh, saudariku kau datang juga ke sini. Kemarilah dan lihat dia menggoda suami kita." kata Yulia yang terdengar aneh bagi ku


"Unda....?" teriak Lea yang berada di gendongan seseorang dan ternyata orang itu adalah Mexca.


"Sayang...!" panggil Mexca padaku di tempat umum, dan sontak membuat aku terkejud dan malu.


Saat aku sudah dekat tangan Mexca menarikku dan merangkul pinggangku, dia tersenyum ke arahku dan mencium pipi Lea.


"Anggap itu ciumanku untumu," bisiknya tepat ditelingaku.


"Apa - apaan ini Mex?!" teriak seorang gadis yang sangat cantik dan sexy di depan kami.


"Seperti yang kamu lihat, aku sudah tak sendiri lagi." jawab Mexca santai dengan tetap merangkul pinggangku.


"Tidak mungkin, kau baru 2 tahun ke sini, jadi tak mungkin kau sudah memiliki anak yang sudah besar dan juga anak kecil ini." bantah gadis itu, yang membuat aku bingung akan suasananya.


"Kenapa, apa salahnya? Kalo aku melahirkan anaknya lebih dulu dari pada dia yang baru berhubungan dengannya.? Apakah kau juga ingin melahirkan anak darinya? Karna dia adalah bibit unggul" kata Yulia dan itu membuat Mexca terbelalak dan tertawa lebar.


"Wahahaha." tawa Mexca yang membuat semua orang melihat ke arah kami.


Mendengar itu, gadis sexy tadi langsung pergi tanpa pamit. Aku tau dia pasti kesal banget dengan ulah Yulia dan sikap Mexca yang terlihat acuh padanya. Aku emang penasaran siapa gadis itu, tapi aku tak bisa tanya langsung karna aku takut.


Dan aku juga belum mengenal siapa Mexca, dan juga aku masih belum begitu membuka hatiku walo dia sudah menyatakan cintanya padaku, karna aku masih bimbang dengan hatiku sendiri.


"Tunggu dulu, maafkan aku tuan. Namaku Yulia aku adalah sahabat Adinda. Aku tak tau kenapa Alea lari dan menghampiri anda. Makanya aku jadi ikut kesal saat gadis tadi menghina Alea, karna aku gak mau putri sahabatku dihina." jelas Yuli pada Mexca.


"Dia putri Adinda?" Tanya Mexca dan dijawab anggukan oleh Yuli.


"Tidak masalah soal yang tadi, saya berterima kasih. Mari ikut bergabung dengan meja kami." tawar Mexca dan langsung di iyakan oleh Yuli, dan Om Eko juga ikut datang menghampiri meja Mexca karna dipanggil oleh Yuli.


Aku tak tau kenapa Lea bisa begitu akrab dengan Mexca. Ku lihat mereka sangat asyik, dan Lea juga banyak bicara dan tanya ini itu sama Mexca. Mereka jadi terlihat seperti pasangan ayah dan anak.


"Papa, Lea kaci oneka becal" ceritanya pada Mexca dengan bicara yang belepotan


"Benarkah? Lea suka dengan bonekanya?" Tanya Mexca sambil mengecup kening Lea


"Cuka, Lea cayang papa." kata Lea dan bergelayut manja pada Mexca


"Saya tidak mengerti kenapa anda bisa kenal dengan Adinda? Dan tadi kalo gak salah dengar anda memanggilnya sayang?." tanya Yuli penasaran.


"Dia atasanku." jawabku menyela, karna aku gak mau dia menjawab sembarangan nanti.


"Dan anda juga kenal dengan Adinda?" Tanya Yuli pada Faris


"Iya, saya Faris, asisten tuan mexca" jawab Faris sopan.


"Saya atasan sekaligus kekasih Adinda," jawab Mexca dengan senyumnya.


"Hah!? Jadi kalian...?" Yuli bengong menatap aku dan juga Mexca bergantian.


"Saya punya restoran seafood tuan, mampirlah jika ada waktu." sela Om Eko


"Jadi anda memiliki restoran seafood tuan Eko. Saya akan mencobaknya nanti." kata Mexca pada om Eko


"Iya, silakan tuan Mex, saya akan menunggu." balas Om Eko

__ADS_1


Malam itu kami makan bersama dan berbincang santai, dan tiba - tiba lampu restoran itu padam setelah Mexca pergi ke toilet. Hampir sebagian dari pengunjung panik. Dan suara MC menenangkan semuanya.


"Tenanglah semuanya, tolong jangan panik dan tetaplah duduk di tempat kalian semua, lampu akan segera menyala lagi. Mari kita saksikan dulu moment indah ini bersama." suara MC yang menenangkan.


"Sepertinya mau ada ungkapan atau pernyataan cinta," kata Yuli dan juga aku berbarengan karna lampu sorot menyala dan menyinari suatu sudut dari restoran iku.


Being with You – Adinda


You bring the sunshine to my rain.


You give me love when I feel pain.


Lazy mornings and starry skies,


my time with you always flies.


I’m happiest with you, and on that I’d bet,


the way I feel with you I will never forget.


"Waooo... Adinda itu untumu? Ini luar biasa" kata Yuli heboh, sementara aku malu, dan perasaanku semakin campur aduk.


Beauty is Love 


Beauty isn’t seen by eyes.


It’s felt by hearts,


Recognized by souls,


In the presence of love.


Ku lihat Mexca datang dengan membawah buket mawar merah, aku tak tau dia dapat dari mana dan kapan belinya, tapi itu sangat mengharukan bagiku. Dan tanpa terasa air mataku terjatuh, aku menerima buket darinya dan seketika lampu menyala dan tepuk tangan sangat meriah dari semua pengunjung restoran itu.


"Terima kasih" ucapku padanya dengan perasaan haru dan juga sedih,


"Papa...!" teriak Lea yang minta digendong oleh Mexca begitu melihatnya.


"Ya mari kita ucapkan selamat dan semoga berbahagia untuk keluarga tuan Mexca dan juga nyonya Adinda beserta putri kecil mereka yang cantik" teriak seorang MC yang tadi.


"Selamat untuk tuan Mexca dan nyonya Adinda semoga kalian bahagia selalu untuk selamanya." teriak semua pengunjung restoran tak terkecuali sahabatku Yulia.


"Terima kasih," ucapku pada Mexca dengan senyum yang ku usahakan terlihat senang


"I'm always for you my dear." jawab Mexca dengan mengusap kepalaku.


Aku tersenyum dan sangat bahagia waktu itu, seolah semua kebahagian ini memang untukku. Dan lagi - lagi aku menangis, mungkin aku memang cengeng karna aku selalu saja menangis dan terharu pada setiap perlakuan Mexca padaku.


Setelah semua acara itu kami pun kembali dan Yulia pamit pulang duluan karna besok pagi Om Eko ada pertemuan dengan pemasok makanan untuk restorannya.


"Aku antar pulang," tawar Mexca padaku


"Tidak usah, saya membawah mobil sendiri." tolakku karna aku gak mau meropotkan dia


"Baiklah, kalo gitu ambil dia dariku, kalo bisa kamu boleh pulang sendiri." katanya menunjukkan Lea yang bergelayut manja pada Mexca


"Lea, ayo pulang sayang, besok maen lagi sama Om ya. Ayo pulang sama bunda" bujukku pada Lea, namun Lea jadi makin lengket pada Mexca.


"Haha... Sayang mau pulang sama Om saja? Mau Om anter sampek rumah?" Tanya Mexca pada Lea yang memeluk lehernya

__ADS_1


"Papa," panggil Lea sambil mengangguk


"Kalo gitu Lea duduk sama bunda dulu ya?" kata Mexca menyerahkan Lea padaku, dan meminta kunci mobil dariku.


Dalam perjalanan pulang Lea terus saja berceloteh dan memanggil Mexca papa, sampai aku pun jadi ikut memanggilkannya papa di setiap tanyanya.


"Sayang, jangan tanya terus nanti papa gak bisa konsentrasi menyetir," kataku membujuk Lea yang terus ingin bicara sama Mexca


"Papa nyenyil," katanya sambil melongok melihat Mexca


"Iya sayang." jawab Mexca sambil mengusap kepala Lea.


"Unda antuk," kata Lea yang sudah mengusap matanya karna ngantuk.


Cup 💋


Saat lampu merah tiba - tiba Mexca mendekat dan mengecup pipi Lea yang bersandar didadaku, lalu mengedipkan mata padaku. "Tidurlah sayang" ucap Mexca yang mengusap - usap kepala Lea.


"Paaa," ucap Lea dan dia pun menutup matanya.


Saat kami sampai di depan rumahku, ku lihat ternyata mas Faris mengikuti kami dari belakang. Dan dia ikut memarkir mobilnya di halaman rumah, namun tak ikut turun.


"Kamu tak penasaran dengan gadis yang tadi ketemu di restoran?" Tanya Mexca padaku sebelum aku keluar dari mobil. Karna Mexca mengunci pintu mobilnya.


"Ehm.." aku tak tau harus jawab apa, aku hanya menunduk memeluk Lea yang sudah terlelap


"Kamu pasti tak percaya, atau mungkin menganggap aku pria be****k yang suka memainkan wanita." sambung Mexca lagi. Dan aku masih terdiam


"Aku mengenalnya, dan dia cucu dari teman kakekku di LA. Aku emang sempat berhubungan dengan dia, tapi aku tak pernah menyukainya." jelas Mexca padaku


"Tidak apa." jawabku singkat, karna aku tau orang seperti dia pasti dikelilingi banyak wanita


"Aku benar - benar menyukaimu Adinda. Dan hanya kamu wanita yang aku inginkan." jelasnya lagi menyakinkan aku


"Terima kasih, tapi aku tak mau menyakiti hati wanita lain. Kamu tau kan kalo aku seorang janda, dan pernah menikah dengan pria yang memiliki dua istri." kataku jujur mengatakan kebenaran tentang diriku


"Aku tau seperti apa ceritamu dari Dido" kata Mexca sambil menatapku


"Kita belum sampai jauh, aku sangat bahagia dengan semua yang kamu lakukan padaku. Tapi jika kamu mau meng....." belum selesai kalimatku Mexca sudah memotongnya seolah dia tau apa yang ingin ku katakan.


"Tidak. Ku mohon jangan mundur. Aku sudah bilang padamu kalo aku tak bisa mundur lagi." katanya menyelah kalimatku


"Aku tak bisa kehilangan kamu lagi Adinda, aku bisa gila. Cukup sekali aku menyerah, dan kali ini aku tak mau melakukannya lagi. Aku tak peduli, walopun harus memaksa, akan ku paksa kau tetap disisiku." katanya dengan pandangan yang sangat tajam menatapku


"Jangan melakukan sesuatu yang salah yang nantinya akan disesali seumur hidup." pintaku agar dia tak salah melangkah.


"Aku tau. Aku akan melakukannya dengan benar kali ini. Tapi jujur aku tak bisa kehilangan dirimu lagi." jelasnya yang membuat aku bingung dengan kata 'lagi' yang selalu dia katakan.


"Kenapa kamu selalu mengatakan kata lagi, apakah kamu pernah kehilangan aku sebelumnya. Bukankah kita baru akan memulainya?" tanyaku yang penasaran


"Tidak. Cerita kita emang baru dimulai sekarang, tapi cintaku pernah kalah saat kamu bilang bahwa kamu sudah menikah dan jadi milik orang lain." jelasnya yang mengingatkan aku waktu aku mengatakan hal itu padanya saat kami ketemu di cafe. Dan waktu itu aku juga sempat berfikir kalo ada raut wajah yang sendu darinya saat dia mendengar kalimatku itu, namun aku menepisnya.


Ku tatap wajahnya yang menunduk, dengan sinar lampu dari mobil yang pencahayaannya tidak begitu terang, tapi aku masih bisa melihat garis wajahnya dengan jelas. Ada rasa takut dan juga sedih disana, entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Pasrahkan semua pada sang pencipta, kalo ini emang benar dan seharusnya, aku akan terima." kataku dan aku langsung membuka pintu mobil untuk keluar. Dan dia sudah ada disisi pintu yang ku buka untuk membantuku keluar dengan menggendong Lea yang terlelap.


Seperginya Mexca aku terus berfikir dalam kamarku, apa yang akan dan harus ku lakukan. Aku menyukainya dan aku juga ingin bersamanya, namun keyakinan kami yang berbeda membuat aku terus merasa bimbang.


Ku tatap Alea putriku yang terlelap disebelahku, ku peluk dia dalam pelukanku. Dan ingin rasanya aku kembali seperti dia, yang tak harus memikirkan banyak hal dan menganggap semuanya sama tanpa ada perbedaan, sehingga bisa mengekspresikan perasaan dengan bebas tanpa beban apa pun.

__ADS_1


__ADS_2