
Tanpa disadari Adinda mengikuti Mexca keluar dari ruang rapat, dia mengekor dibelakang Mex dan tak menghiraukan pandangan orang yang melihatnya dengan heran.
Dengan diam Adinda yang mengikuti Mexca dibelakangnya mulai tersadar akan tindakannya yang berani tadi, dan dia terus saja mencobak menormalkan logikanya, dia seolah terhipnotis untuk terus berjalan mengikuti kemana arah Mexca melangkah.
Setelah sampai di suatu ruangan, Adinda berdiri membeku menatap punggung Mexca yang sedari tadi berdiri diam membelakanginya tanpa berkata apa - apa.
Brrrt brrrtt
Handphon Adinda bergetar dan Merlin langsung berlari untuk menyerahkan tas Adinda yang tadi ketinggalan di ruang rapat.
"Non Dinda, Handphon anda dari tadi bergetar, sepertinya penting." suara Merlin memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Ah, iya. Maaf tadi saya lupa membawa tas saya, terima kasih sekretaris Merlin." jawab Adinda dengan sopan pada Merlin dan dia segera mengangkat panggilan dhandphonnya.
"Assalamu'alaikum mas, apa?! Iya baiklah Dinda akan segerah kesana,"
"Tidak Dinda sudah selesai, Dinda brangkat sekarang." jawab Dinda dengan panik.
"Kenapa, ada apa? Apa teejadi sesuatu?" Tanya Mexca khawatir.
"Tidak, putri saya tertabrak dan dia sedang di rumah sakit sekarang. Saya harus kesana, maaf. Permisi" ucap Dinda dan dia langsung lari ke parkiran.
Setelah Dinda pergi Mexca menghela nafas lega, dan merasa tenang. Karna sedari tadi sebenarnya dia tak berani menatap Adinda secara langsung. Dia takut kalo nanti perasaan yang sekian lama dia tahan akan meluap lagi, dan dia tak akan bisa mengendalikan dirinya jika sampai itu terjadi.
"Alhamdulillah, syukurlah ada telpon jadi dia bisa segerah pergi, kalo tidak aku tak tau harus bagaimana."
Mexca memegang dadanya yang merasa jantungnya berdetak tak normal. Dan berkali - kali dia menghela nafas dalam.
Saat Dinda sampai di rumah sakit, dia terkrjud karna disana ada Dido dan juga Bram yang lagi cekcok di depan halaman rumah sakit.
Dinda langsung lari menghampiri mereka berdua, dan berusaha untuk memisahkan pertengkarang mereka, karna Dinda gak mau kalo nanti mereka sampai beradu tinju.
"Masya Allah... Mas Dido ada apa ini?" Tanya Dinda menarik lengan Dido
"Orang sial ini yang telah mencelakai Alea." tunjuk Dido pada Bram
Sementara di dalam UDG Ayuni dan beberapa perawat memegangi Alea yang mengalami luka di keningnya dan butuh dijahit.
"Sayang, tenang ya bentar lagi selesai. Nanti kalo uda mama belikan Alea es crim ya sayang." bujuk Ayuni menenangkan Alea
"Es clim yang banyak ma. Huwaaaa." sahutnya sambil menangis.
Sementara di luar Adinda yang mencobak menenangkan dua orang yang lagi ribut tak tau kalo kegiatan mereka diawasi oleh seseorang yang secara diam - diam mengikuti Adinda dari tadi.
__ADS_1
"Kenapa!? Kalian emang pantas mendapatkannya.!" teriak Bram ke arah Dido
"Dasar pengecut, jadi beranimu sama anak kecil?!"
"Sebenarnya apa yang terjadi? Jangan ribut begini malu di lihat orang!" teriak Dinda kesal pada mereka berdua yang tak ada yang mau mengalah.
"Siapapun orang tak akan terima kalo anaknya di sakitin. Tapi bukankah dia Didi? Jadi dia suaminya Dinda, bukan pegaweku yang siapa namanya aku lupa." gerutu Mex yang berdiri di balik mobilnya menatap adegan itu.
"Jangan bilang aku pengecut, kau perusak rumah tangga orang.!!" teriak Bram
"Apa? Perusak rumah tangga? Sebenarnya apa yang mereka ributkan aku jadi bingung" Mex semakin mengerutkan keningnya.
"Cuih.! Tanpa aku pun, rumah tanggamu juga sudah hancur. Dan aku senang kau telah menceraikan Adinda. Jangan pernah kembali lagi kekehidupan adikku.!!" ledek dan juga ancaman Dido pada Bram.
"Adik? Kau itu hanya benalu di keluarga Dinda, kau dan keluargamu itu benalu." cibir Bram
"Hentikan!? Apa kalian tidak malu ribut - ribut begini? Istigfar mas, dan mas Bram. Sebaiknya mas Bram pergi." kata Adinda yang sudah kesal dengan mereka.
"Papa.. Huhuhuuu" tangis Alea di pelukan Ayuni yang sudah selesai dijahit lukanya.
"Iya sayang kita akan pulang dan ketu sama papa ya," Ayuni mengelus kepala Alea dengan sayang
"Sudah dong sayang jangan nangis terus mama jadi ikutan sedih ini, diem ya sayangnya mama." ucap Ayuni sambil menghapus air mata Alea dan mengecup pipinya.
"Papa.!?" teriak Alea saat dia melihat dan mengenali sosok yang berdiri dibalik mobil.
"Papaaa!?" teriak Alea berkali - kali sambil lari.
"Deg. Apa yang ku dengar barusan. Jadi Adinda bercerai? Dia diceraikan?Bagaimana bisa Adinda diceraikan, apa masalahnya?" Mex bergelut dengan pertanyaan dalam pikirannya.
"Sudah.!! kalo kalian sama - sama tak mau mengakhiri, silakan kalian lanjutkan. Aku akan menonton kalian" Kata Adinda yang sudah tak bisa menahan emosi.
Mexca yang melihat dan mendengar semuanya merasa tak percaya, bahwa orang seperti Adinda bisa diceraikan begitu saja. Sementara dia mati - matian ingin mendapatkannya. Belum selesai Mexca berfantasi dengan pikirannya dia telah dikejudkan dengan tangan anak kecil yang memeluk kakinya.
"Eh.!" sontak Mexca melihat kearah bawah
"Papa..." gadis kecil dengan perban dikepalanya sedang menengadakan kedua tangannya mintak digendong.
Mexca yang mengenali Alea langsung mengangkat dan menggendongnya. Mexca menatap wajah Alea yang sedang menangis itu terlihat sedang sedih dan menahan sakit.
"Pak maafkan putri saya. Saya tidak tau karna dia tiba - tiba lari ke arah bapak." Ayuni meminta maaf pada Mexca
"Tidak apa, oh iya siapa nama kamu, aku lupa." Tanya Mexca sambil tersenyum
__ADS_1
"Saya Ayuni pak dari tim pemasaran." jawab Ayuni sopan
"Pa... Cakit..." kata Alea menunjukkan keningnya yang dibalut perban.
"Sakit ya, mana coba lihat, habis ini sembuh ya. Cup!" Mexca mengecup kening Alea dengan hati - hati.
"Masya Allah, Adinda?! Tunggu sebentar ya pak." kata Ayuni yang langsung mendatangai Adinda
Mexca yang melihat Ayuni pergi dengan kemarahan merasa kaget, apa lagi dia melihat Ayuni yang langsung mendorong Bram dengan kuat hingga Bram menabrak dinding, karna didorong tanpa ada pertahanan.
"Masya Allah. Benar kata papa kalo seorang wanita yang sudah jadi ibu bisa berubah jadi seekor singa yang sangat ganas." gerutu Mex sambil mengelus kepala Alea yang menyandarkan kepalanya di bahu Mexca dan tangan kanannya mengalung di leher Mexca.
"Ngapain lagi kamu, jangan ganggu keluarga kami lagi.!" teriak Ayuni sambil mendorong Bram, dan karna tak ada persiapan Bram pun oleng dan menabrak dinding di belakangnya dan hampir jatuh.
Melihat Bram yang hampir jatuh Adinda membantu Bram dengan menahan tangan Bram dan membawahnya pergi dari hadapan Dido dan juha Ayuni, agar tak bertengkar lagi.
"Mbak bawah mas Dido pulang dulu nanti Dinda susul." kata Dinda sambil pergi meninggalkan Ayuni dan Dido.
"Cepat balik dan jangan lama - lama sama cowok sial itu." kata Dido dengan kasar.
"Mas...?" teriak Dinda pada Dido yang mengumpat Bram.
"Dimana Lea Yun?" Dido celingukan mencari Alea
"Disana.," tunjuk Ayuni pada seseorang yang berdiri sambil menggendong anak kecil.
"Siapa dia Yun. Kenapa kamu menitipkannya pada sembarang orang" kata Dido melangka mengikuti Ayuni
"Halo tuan Didi" sapa Mexca pada Dido yang mendekat.
"Maaf pak dia saudara kembar suami saya, namanya Dido" jelas Ayuni
"Oh, maafkan saya tuan Dido" ulang Mexca menyapa.
"Tidak apa, emang banyak yang salah mengenali kami." jawab Dido sambil tersenyum rama.
Dan saat Dido mau mengambil Alea, ternyata tangan Alea yang melingkar di leher Mexca menggenggam jas Mexca dengan erat.
"Tidak apa biar saya yang membawanya, saya tau arah resto atau cafe tuan Didi, oh maaf. Maksud saya tuan Dido." tawar Mexca, dan di iyakan oleh Ayuni. Mobil Dido melaju mengikuti di belakang mobil Mexca.
"Pa..." panggil Alea yang terbangun dalam pangkuan Mexca, karna suara Mexca yang sedang menelpon seseorang.
"Oh, gadis kecil terbangun ya. Terganggu ya sayang" jawab Mexca dengan mengelus kepala Alea dan melihatnya sekilas.
__ADS_1
Alea menempelkan lagi kepalanya di dada Mexca, sambil matanya mulai mengerjap lagi dan akhirnya dia terlelap lagi.
Sesampainya di resto Mexca menyerahkan Alea yang terlelap kepada Ayuni, dan dia berbincang dengan Dido sebelum dia pamit pulang karna tadi dalam perjalanan dapat telpon dari Faris, kalo para investor yang dari luar kota ngajak ketemu hari ini.