
"Wah hebat dari mana kamu monica?! Mencari pria lain diluar, apa sudah dapat?" ejek bram saat dia melihat monica yang baru saja pulang kerumah saat hari sudah malam.
"Apa maksud mas Bram? Aku baru dari rumah mama mas." jelas monica pada bram yang terlihat marah padanya.
"Jangan bohong kamu.! Dan jangan gunakan mama ku sebagai alasan kebohonganmu." geram bram pada monica.
"Aku gak bohong mas, aku emang dari rumah mama tadi." monica membela dirinya karna dia emang habis dari rumah orang tuanya bram.
"Heh, dari rumah mama pulang sampai malam begini? Atau jangan - jangan setelah dari rumah mama kamu pergi mencari pria itu? Pria yang tidur denganmu dan menghasilkan anak." bram berkata sambil mengejek dan menghina monica.
"Mas cukup. Berapa kali sudah ku bilang kalo aku tak tau dan tak kenal dengan dia. Aku dijebak mas, aku kenak pengaruh obat." monica berusaha menjelaskan lagi pada bram atas kejadian dimana dia menghabiskan malam dengan seorang pria yang tak dikenalnya.
"Jangan mengada - ngada kamu monica, bagaimana bisa kamu menghabiskan malam dengannya hingga menghasilkan anak, tapi gak kenal dengan dia.!" bram berteriak kesal pada monica.
"Terus kemana sekarang anak haram mu itu, apa kamu sudah memberikan pada ayahnya." ejek bram lagi dengan memandang rendah monica, yang pulang sendiri tanpa membawah mona putrinya monica.
"Mas jangan salahkan dia, dia masih kecil dan gak tau apa pun, dia gak salah mas." monica mulai menangis didepan bram.
"Tak usah kamu menangis, kamu sudah menghianatiku dan juga membohongiku. Berbulan - bulan aku menantikan kelahiran anak haram orang lain."
"Dan gara - gara wanita ja***g sepertimu serta anak haram mu itu aku jadi kehilangan istriku."
"Ingat monica aku sungguh menyesal mencintaimu selama ini."
Setelah mengucapkan beberapa kata - kata yang menyakitkan kepada monica bram pergi meninggalkan monica sendiri di ruang tamu.
Hari - hari monica di rumah itu jadi semakin sulit dan menyesakkan, tak ada lagi kebahagian dan senyuman. Bahkan bram sering kali memperlakukan monica bagai seorang wanita murahan yang menjual dirinya pada pria - pria hidung belang.
Tak pernah lagi ada kelembutan disetiap sentuhan bram, yang ada selalu bekas - bekas luka setiap kali bram selesai menyentuhnya. Dan bagi bram monica hanyalah pemuas saja untuknya saat ini.
__ADS_1
"Tungguh, entah kenapa semakin kesini aku jadi semakin merasa sesak dan juga sulit untuk mengerti jalan pikiran mas Bram."
"Bukan lagi batinku yang sakit, namun ragaku juga ikut sakit." hisk
Dalam kesendiriannya monica yang berdiam diri didalam kamarnya merenung dan bergumam sendiri. Dia merasa kalo keadaan rumah tangganya dengan bram tak bisa untuk diperbaiki lagi.
"Monica.! Dengar kamu harus ikut denganku untuk meyakinkan adinda agar dia mau lagi untuk rujuk dengan ku, bukankah kamu ingin menebus segala salahmu." teriak bram pada monica agar dia mau membantunya untuk meyakinkan adinda.
Setelah pertemuannya antara monica, bram dan juga adinda pada sebuah restoran. Bram marah besar karna adinda bersih keras tidak mau balik lagi rujuk dengan dirinya.
"Aaaaargh. Sial.! Apa lagi yang harus ku lakukan.!"
"Kenapa dia bersih keras menolakku."
Bram teriak - teriak dalam rumahnya saat dia sampai dan merasa kesal karna adinda menolak untuk rujuk dengan dirinya.
"Aku harus melakukan sesuatu, bagimana pun adinda harus kembali padaku." bram bertekad untuk melakukan segalanya demi mendapatkan adinda kembali lagi pada dirinya.
"Mas, tolong jangan lakukan itu? Adinda pasti saat ini sedang ketakutan dan juga bingung, jangan manfaatkan situasi terburuk adinda mas.?" cegah monica pada bram untuk tidak memanfaaatkan keadaan adinda yang terpuruk karna kabar berita dari foto dan juga video yang tiba - tiba tersebar luas.
"Kamu tau apa hah?! Sebaiknya kamu diam saja.!" bram berteriak pada monica, karna dia merasa kesal dicegah dan dilarang oleh monica.
"Tapi mas?"
"Diam.!"
Plak
Sebuah tamparan mendarat dipipi monica dengan sangat keras hingga sudut bibir monica robek. Dan walo pun hanya sedikit robekannya itu tetap saja mengeluarkan darah dari sudut bibir monica.
__ADS_1
"Maaf mas, aku cuma gak mau kalo nanti mas Bram salah jalan dan berakibat buruk bagi mas Bram sendiri." monica mencobak memberi tau bram agar nanti dia tak menyesal dengan semua tindakan yang dia lakukan.
Semakin hari bram semakin kasar pada monica bahkan dia seolah tak menghargai monica sama seperti waktu adinda jadi istrinya dulu.
"Monica, kau telah mendapat ganjaran dari perbuatanmu sekarang. Mungkin adinda dulu juga merasakan hal seperti ini, tak dihargai dan tak dianggap." gumam monica dalam kamarnya sambil membersihkan dan mengobati luka dibibirnya akibat tamparan dari bram.
Setiap kali monica melihat anak kecil yang mungkin seusia dengan anaknya yang dia tinggalkan di bangku resto milik adinda dia selalu menangis, ada rasa menyesal dalam hatinya yang terdalam.
Karna rasa sakit yang dirasakan oleh monica dia pun berfikir jika adinda dan suaminya bersatu mungkin semua akan baik - baik saja. Akhirnya monica bertekad untuk mendatangi rumah adinda.
"Deg."
Monica merasakan rasa sakit yang tak bisa dia artikan, air matanya pun seketika mengalir membasahi kedua pipinya saat dia mendapati anak kecil yang lucu dan berbalut gaun senada dengan gaun yang digunakan oleh adinda dalam sebuah acara pertunangan adinda.
Gadis kecil itu sangat manja pada adinda dan dia berdiri berdampingan dengan adinda serta calon suami adinda, mereka terlihat sangat bahagia, senyum merekah dibibir adinda dan menambah kecantikan dari adinda.
"Tunggu, aku juga ingin bahagia seperti adinda dan keluarganya."
"Harusnya aku memintak maaf pada adinda. Mungkin ini adalah karmaku yang sudah berbuat jahat pada seorang adinda yang sangat baik."
Monica berjalan pulang dengan tangan kosong dan hampa, dia berjalan menyusuri jalan sepi dengan penerangan yang redup sambil terus berguman dan berfikir.
Setiap hari di rumah baram yang ada hanyalah pertengkaran dan pertengkaran, tak ada lagi hal - hal baik antara dirinya dan juga bram, keadaan yang saling membantu dan saling percaya pun tak ada lagi. Setiap hari bram semakin menjadi dalam menghina monica dan selalu melimpahkan semua kesalahan atas kepergian adinda dari hidupnya.
Bram juga sudah mulai suka main tangan, dia tak segan memukul dan menendang monica hanya dengan hal yang sepeleh. Monica tak pernah dihargai lagi dalam rumah itu sebagai seorang istri.
Monica yang sudah tak mampu lagi untuk bertahan menerima segala perlakuan kasar dari bram pun akhirnya dia mengajukan gugatan cerai dengan bram. Dan sejak dari acara pesta perayaan hari jadi orang tua bram, monica sudah keluar meninggalkan rumah bram dan dia tinggal di apartemennya sendiri.
Setelah melalui hari persidangan yang alot akhirnya monica dinyatakan bercerai dengan bram secara resmi, dalam persidangan itu monica tak mintak apa pun atau menuntut apa pun dari bram, yang diinginkan oleh monica hanyalah surat perceraian saja.
__ADS_1
Setelah pengadilan menyatakan keputusannya, bahwa bram dan juga monica telah resmi berpisah, hati monica merasa lega, namun tidak dengan bram, dia terlihat sangat marah dan kesal pada monica.