(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Nyanyian hati


__ADS_3

Setelah mengantar aku pulang dan membicarakan tentang siapa gadis yang ada di restoran itu, dan juga pernyataan cintanya yang tulus padaku Mexca meminta nomor handphonku karna yang dulu kehapus katanya.


"Oh iya Din, boleh aku minta nomormu lagi? Karna dulu nomormu kehapus" kata Mexca meninta dengan sopan, dan kami pun bertukar nomor handphon lagi.


"Nanti aku akan menghubungimu." kata Mexca dan dia langsung masuk ke dalam mobilnya yang disupirin oleh mas Faris.


Seperginya Mexca aku langsung membersihkan diri dan sholat, setelah meletakkan Lea yang terlelap di tempat tidurku. Dalam duduk bersimpu aku melamun, aku bingung dengan perasaanku, karna rasa senang, takut dan sedih datang bersamaan jadi satu. Aku memang ingin bersikap egois pada diriku, namun setelah melangkah seperti ini aku jadi takut sendiri.


Ku lihat Lea yang tertidur lelap, ku usap kepala putriku. Aku bertanya - tanya kenapa dia begitu lengket dengan Mexca yang bukan siapa - siapa. Sementara selama ini dia bahkan tak mau dengan mas Dido.


Ku peluk Lea dalam pelukanku. Dan ingin rasanya aku kembali seperti dia, yang tak harus memikirkan banyak hal dan menganggap semuanya sama tanpa ada perbedaan, sehingga aku bisa mengekspresikan perasaan dengan bebas tanpa beban apa pun. Dan tanpa sadar aku pun ikut terlelap disamping putriku.


Setelah aku terbangun dan terjaga dalam tidurku, aku kembali mengingat kejadian di restoran. Dadaku terasa sesak jika ingat semuanya. Karna jujur aku menyukai perlakuan Mexca dan perhatiannya padaku, namun aku tak ingin menyalahi aturan dengan menganut imam yang tak sama dengan keyakinanku.


"Ya Allah sesungguhnya aku memohon petunjuk dari ilmu-Mu, memohon kekuatan dari kuasa-Mu, dan memohon karunia-Mu yang besar, karena sesungguhnya aku tidak kuasa sedang kamu kuasa, dan aku tidak mengetahui kamu Maha Mengetahui yang gaib.


Ya Allah jika Anda mengetahui bahwa urusan ini (hubunganku dengan Mexca) baik, menyenangkan bagi agama dan diriku, maka tetapkan dan mudahkanlah kehidupan ia kemudian dan berkatilah aku, dan jika mengetahui bahwa urusan ini buruk, baik untuk agama dan diriku, serta akibat dari urusanku, baik jika masa sekarang maupun untuk masa mendatang, maka hindarkanlah ia dariku dan hindarilah pula diriku darinya, tetapkanlah hal-hal yang terbaik menurut semestinya, kemudian ridhailah aku.”


Aku bersimpuh dan memohon petunjuk-Nya, karna aku tak mau dan tak ingin salah dalam melangkah lagi. Aku tak ingin gagal lagi dan terluka lagi.


Sudah kembali lagi waktu beraktifitas dan bekerja kembali. Aku seperti biasa masak dan membawa bekal, entah kenapa walo hati nurani berusaha untuk menolak tapi aku tak bisa melakukannya, seolah aku telah kalah dengan keinginanku.


Sebelum berangkat kerja aku datang ke cafe untuk melihat - lihat karna sudah lama tak pernah datang. Sekalian menitipkan Alea di sana. Sesampainya di sana aku langsung masuk ke ruangan mas Dido, sementara Lea main bersama dengan mas Adil.


Setelah melihat semua laporan yang sudah disiapkan oleh mas Dido dan juga sudah aku tanda tangani aku langsung berangkat ke kantor, karna waktu juga sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


Suasana kantor sangat damai saat aku datang, dan semua orang seolah menatap aku dengan sopan. Aku merasa bingung dan bertanya ada apa sebenarnya. Dan saat jam istirahat aku yang ingin bertanya justru mendengar mereka bergosib.


"Hey apa kau tau kemaren aku lihat bos kita menyatakan cinta pada desainer AL, aku sangat terkejud. Ternyata bos garang - garang gitu juga romantis so swet banget tau." kata karyawan kantor yang akhir pekan kemaren melihat adegan yang telah dilakukan oleh Mexca kepadaku.


"Wah, benarkah? Ternyata dugaanku benar kalo bos ada apa - apa dengan desainer AL. Hihihi" timpal temannya.

__ADS_1


"Alah palengan desainer AL yang menggoda bos, karna aku melihat dia beberapa kali masuk ke dalam ruangan bos. Gayanya saja sok alim, tapi kelakuannya gak.!" kata salah satu dari mereka yang baru datang, aku gak tau dia siapa dan dari department mana.


"Hey, kamu jangan bicara sembarangan ya ngatain orang." jawab pegawe yang menggosib tadi mewakili kata hatiku.


"Kenapa? Emang iya. Buktinya dia tak pernah nikah tapi punya anak, palengan anak hasil gitu." katanya lagi dan itu benar - benar membuat aku ingin marah.


"Mulutmu itu kalo bicara hati - hati, kalo gak kamu sendiri yang bakalan susah nanti." kata seseorang yang ku kenalai suaranya, dan emang benar dia adalah sekretaris Merlin yang datang menjemputku untuk ke ruangan Mexca, untuk makan siang bersama.


Aku yang melihat serta mendengar kasak kusuk mereka jadi merasa tak enak dan juga kesal, karna seseorang yang mengatai aku sembarangan.


Saat dalam ruangan Mexca aku tak tau lagi harus bilang apa, aku bingung. Aku ingin cerita tapi takut kalo orang tadi mendapat masalah dan nanti aku yang disalahkan karna mengadu.


"Sayang, kenapa? Apa lagi gak enak badan?" Tanya Mexca padaku dengan nada khawatir, setelah kami selesai makan.


"Gak papa, aku cuma capek aja." bohongku, karna aku gak mau ada masalah, dan aku ingin kerja dengan tenang.


"Aku ingin ngomong" kami bicara barengan.


"Baiklah, kamu duluan. Katakan ingin bilang apa, hem?" katanya sambil menatapku penuh sayang.


"Deg, takut? Takut apa? Bukankah sudah ku bilang jangan mundur, karna aku tak bisa mundur lagi." katanya dengan tegas


"Maafkan aku, tapi aku masih butuh waktu lagi untuk semuanya." kataku lagi dengan nada memohon, dan berharap dia tak marah.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu siap. Tapi untuk itu, tolong jangan lari lagi dariku. Maafkan aku, tapi aku tak bisa kalo harus kehilangan dirimu lagi, kau tau aku kan?Aku bisa menghancurkan semuanya, tapi aku tak akan mampu menghancurkanmu. Jadi jangan pernah untuk kabur, karna aku tak akan menyerah untuk mendapatkanmu." pintanya padaku atau lebih tepatnya ancamannya, dan aku merasa legah untuk itu. Karna setidaknya dia tak memaksa secara berutal, dan aku masih bisa menjelaskannya pelan - pelan nanti padanya saat aku ingin menghindarinya.


Setelah kepergian Adinda yang selesai makan siang, Mexca jadi bengong di kursinya, sambil menatap kosong berkas - berkas yang tertumpuk di atas mejanya.


"Ya Allah apa ini sebenarnya jalan petunjuk dari-Mu, kau mengirimkan Alea untuku sehingga aku tau kalo wanita yang ku cintai sudah sendiri." gumam Mexca sambil menatap berkas yang tertumpuk di meja kerjanya.


Mexca tenggelam dalam lamunannya, karna setelah dia mendengar kalimat permohonan dari Adinda yang memintak waktu, semua itu membuat Mexca jadi bingung. Sebenarnya sejak dari pagi Mexca yang melihat Adinda datang ke kantor dia sudah tau ada yang aneh dengan diri Adinda. Karna Adinda seolah menghindar darinya, dan mencobak memasang pembatas antara mereka.

__ADS_1


"Adinda. Aku tak pernah mendengar dia menerima ungkapan cintaku. Walo dia menerima semua perasaanku, tapi aku masih bisa merasakan keraguan di dalam hatinya. Apa dia masih menyukai mantan suaminya? Atau dia terpaksa menerimaku? Aku yakin dia juga menyukaiku, tapi kenapa masih tersirat keraguan pada dirinya atas diriku. Apa ada kata - kataku yang salah atau caraku berlebihan? Apa aku harus mundur dan mendekatinya pelan - pelan.?" berbagai pertanyaan menari dihati dan pikiran Mexca, membuat Mexca lama tenggelam dalam pertanyaan tentang Adinda.


Dalam kebingungan Mexca teringat akan kata - kata ki Yai Manaf. Bahwa Allah akan memberi apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya bukan apa yang diinginkan oleh hamba-Nya. Mexca menutup semua pekerjaannya, dan dia ingin mengadu pada Rabb-Nya atas masalahnya dengan Adinda.


Mexca melangkahkan kakinya keluar ruangan dan dia langsung melajukan mobilnya pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Mexca langsung membersihkan dirinya dan membuka serta membaca ayat suci Al-Qur'an hingga lama sekali, hampir 3 jam lamanya Mexca membaca Ayat suci Al-Qur'an, sampai tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.


"Ya Allah berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami."


Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu'minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna'u bi 'atho-ika.


"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan bertemu dengan-Mu, yang ridho dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan mempersembahkan-Mu"


Aku memohon dan terus melantunkan do'a - do'a agar aku tak merasa bimbang dan terus merasa bingung. Semua yang ku lakukan hampir seperti sebuah nyanyian hati yang selalu ku nyanyikan setiap saat dan setiap waktu jika aku mengingat Akan dirinya (Adinda).


Disetiap sujudnya Mexca selalu mengingat akan Adinda, dan Mexca juga selalu menyebutkan nama Adinda dalam semua do'a yang dia ucapkan. Seolah nama Adinda adalah jimat dan berkat bagi diri Mexca.


"Hem, mencintai seseorang seperti ini sungguh sangat menyiksa. Bagai main layang - layang yang harus dsn terus dikendalikan benangnya agar tak terputus dan lepas." gumam Mexca disaat dia selesai melakukan pekerjaan keluar kotanya.


Sementara Faris yang ada di depan sedang menyupirinya hanya diam mendengarkan celoteh dan gumaman Mexca yang terdengar seperti sebuah nyanyian cinta yang tak sampai.


"Faris, kenapa kau hanya diam saja, tak mengkeritikku." Tanya mexca pada Faris yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


"Aku harus bilang apa? Semua yang kamu katakan sudah kamu jawab sendiri dari tadi." jawab Faris menjelaskan.


"Haaaah..." Mexca menghela nafas dalam.


"Apanmenurutmu Dinda tak menyukaiku?" Tanya Mexca pada Faris.


"Kenapa kamu tak mengatakan yang sebenarnya kalo kamu telah memeluk islam dan sekeyakinan dengannya?" Tanya balik Faris pada Mexca.


"Aku hanya ingin dia menyukaiku karna diriku, bukan keyakinanku. Aku ingin dia menyukai seorang Mexca saja tanpa ada embel - embel yang lainnya." jawab Mexca sambil bersandar di sandaran mobil belakang dengan menutup katanya.

__ADS_1


"Cintamu rumit," jawab Faris


"Kau pikir aku tak tau soal cintamu juga?" kata Mexca dengan menunjukkan seringainya. Dan Faris hanya diam tak berkomentar.


__ADS_2