
Setelah pertemuan dan makan bersama dengannya aku jadi semakin berbungah - bungah. Hatiku jadi tak karuan walo tanpa melihatnya. Dan sebelum pulang aku mampir ke resto karna kangen sama Lea.
"Unda...Teriak Lea dan lari ke arahku." saat dia melihatku masuk ke ruangan mas Didi, aku menggendongnya dan membawahnya berputar - putar karna ingin membagi kebahagiaan dalam hatiku.
"Hahaha... Kamu ini kenapa Din. Kok terlihat bahagia setiap hari? Ya mas suka sih melihatnya, karna kamu lebih cantik saat tersenyum seperti itu." goda mas Didi padaku.
"Tidak papa mas, cuma lagi senang saja." jawabku asal.
Aku masih belum berani mengatakan kalo aku menyukai orang yang berbeda keyakinan denganku. Karna aku takut kalo mas Didi akan marah padaku.
"Ya Allah... Aku ingin egois sekarang, tolong biarkan aku egois dalam cintaku, aku ingin merasakan kebahagian ini sebentar, walo ini hanyalah kebahagiaan semu. Tapi aku ingin merasakannya. Maafkan aku Ya Rabbi, mungkin ini akan sakit bagiku nanti, tapi aku tak peduli, karna aku ingin menjadi egois pada saat ini. Tolong lindungi aku untuk selalu mampu menjaga batasanku." pintaku pada Rabbku disetiap sujudku, karna aku ingin merasakan cinta dan dicintai.
Setelah aku menyelesaikan sholatku aku pamit pada mas Didi untuk pulang. Karna Lea juga sudah terlelap. Dalam perjalanan pulang aku selalu teringat akan wajah Mexca yang rupawan dan menggoda.
Sementara di tempat lain, Mexca terlihat semakin bersemangat, semua tander telah dia menangkan dengan sangat sempurna, seolah dia telah mendapatkan kekutan baru dalam dirinya. Bahkan dia lebih sering mengingatkan Faris untuk sholat. Serta tak pernah meninggalkan ibadahnya dimanapun tempatnya.
"Baby, sayang...? Apa nanti mau mama buatin makan siang? Mama sudah di rumah ini." teriak mama Mexca yang sudah datang dari liburannya.
"Tidak usah ma, Nanti makan siang di kantor saja." jawab Mexca langsung tanpa berfikir lagi.
"Makan di kantin lagi? Tapi masakan mama akan lebih lezat sayang." tawar mamanya lagi
Sambil tersenyum Mexca mencium pipi mamanya "Aku tau, tapi beneran gak usah. OK. Mexca pergi dulu"
"Hem, setelah ku tinggal 1 minggu kenapa dia jadi beda. Begitu ceria dan sangat bersemangat." gerutu mama Mexca sambil berjalan masuk ke arah dapur.
"Siapa yang lebih ceria dan bersemangat?" Tanya papa Mexca yang melihat istrinya menggerutu
"Mexca, dia jadi beda." jawab mama Mexca yang mulai sibuk membuat minuman untuk suaminya.
"Justru bagus dong, pekerjaannya juga sangat lancar tanpa kendala. Apa mama lebih suka dia murung dan galau?" berkata sambil duduk di meja makan sambil membaca koran.
"Selamat pagi pak." sapa seseorang saat aku berjalan di lobby perusahaan, dan yang ku kenal dia adalah keluarga Adinda
"Pagi Ayuni." jawabku dan aku langsung masuk lif bersama Faris
"Tumben bos tau nama pegawe ditim pemasaran." kata Faris penasaran saat mereka berada di dalam lif.
"Ya, dia saudara Adinda." jawabku dengan jelas
"Oooo... Pantes," ku lihat Faris manggut - manggut.
Hari itu aku melakukan pekerjaan dengan sangat tak sabar menunggu datangnya waktu makan siang, bukan karna aku lapar tapi karna aku tak sabar ingin melihatnya (Adinda).
"Bos mereka mengajak kita untuk makan siang bersama, mereka akan menunggu di restoran." kata Merlin saat kami selesai melihat pekerjaan di lapangan siang itu.
"Tidak usah, kamu dan Faris saja yang ikut mereka sebagai perwakilan, aku akan kembali ke kantor. Bilang pada mereka kalo aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." kataku dan aku langsung pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, aku baru sadar kalo aku tak punya nomor telpon Adinda. Karna dulu aku menghapusnya Demi bisa melupakan dia.
Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Aku melangkahkan kakiku menuju ruangan desainer, dan berjalan ke arah ruang kerjanya. Tapi karna aku tak tau diman posisi ruangannya, aku jadi berputar di dalam ruangan yang luas itu.
"Bo - bos Mex" tegur seseorang dengan gagap padaku
"Iya, tolong katakan dimana ruangan desainer AL" tanyaku langsung, dan dia menunjukkan dimana ruangannya.
Ku lihat dia sibuk di depan komputer, dan ada bungkusan di sabelah mejanya. Aku yakin dia juga belum makan, karna menunggu Merlin menjemputnya seperti kataku kemarin.
"Kamu tak lapar sayangku?" kataku sambil ku sandarkan tubuhku di pinggir pintu.
"Masya Allah, apa yang anda lakukan di sini?" katanya terkejud mendapati diriku.
"Ayo, aku sudah lapar." kataku sambil berjalan keluar
"Tolong katakan pada semua tim kamu, desainer AL ku pinjam dulu." kataku pada pegawe yang tadi ku tanyai
"Ba - baik bos Mex" jawabnya sambil menunduk.
Kami berjalan kek kereta, aku di depan dan dia di belakang mengekor. Ku bawah dia ke dalam lif Khusus direktur, karna aku mau terus berdua saja dengannya.
"Mulai besok kamu gunakan lif ini, tak perlu menunggu lif pegawe." kataku saat kami berada di dalam lif
"Ti - tidak usah pak." jawabnya gugup, dan itu membuat dia terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
Selesai makan aku membereskan semuanya dan juga membersihkan meja yang tadi sempat terkena percikan makanan dan bumbu - bumbu yang tak sengaja tercecer.
Saat aku ingin pamit kembali, ku lihat dia masih menelpon seseorang dengan sangat serius. Dan sepertinya orang penting. Aku menunggu sambil duduk lagi di sofa dan memainkan handphonku.
"Dengarkan aku Adinda, mulai sekarang kamu adalah wanitaku. Wanita milik Abigail.! Dan jangan mundur lagi, karna aku tak bisa mundur, dan tak suka dengan kekalahan. Jika sampai kamu mundur, maka aku bisa menghancurkan apa saja." ancamnya padaku sambil menatapku tajam
Aku yang mendapatkan ucapan itu secara mendadak jadi merasa takut. Aku tak tau kapan dia duduk disebelahku, dan sudah berapa Lama.
Ada sedikit rasa untuk menghindarinya karna aku tak mau terlibat terlalu jau dalam perasaan ini, namun hati ini luluh saat aku menatap bola matanya yang seolah berkata dengan sungguh - sungguh .
"Adinda, aku sangat mencintaimu. Dan apa yang aku katakan waktu itu bukanlah gurauan atau candaan karna ingin menolongmu dan menghindar dari mantan suamimu. Tapi aku mengatakannya dengan sungguh - sungguh kalo aku mencintaimu dan ingin jadi imam dimasa depanmu." katanya sambil berlutut dihadapanku dengan tatapan yang sangat serius.
Aku tak bisa berkata apa - apa mendengar itu semua, dan karna rasa terkejud aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Didalam hatiku berperang. Antara aku harus menerima atau tidak, namun kesadaranku telah kalah dengan nafsuku. Sebab aku yang tak pernah mendapat pernyataan cinta, sebagai seorang wanita dan manusia biasa sangat mendambahkannya.
"A - aku, a - aku juga mencintaimu." kataku yang terucap dari bibirku dan tak mampu untuk ku cegah
Ku lihat senyum mengembang di bibirnya, wajahnya yang rupawan semakin terlihat menawan dengan senyuman yang manis menghiasi wajahnya.
"Terima kasih sayangku. Kau bidadari surgaku." godanya sambil tersenyum dan menggenggam tanganku.
Aku tak dengar dan tak tau apa yang dia katakan, karna logikaku telah tercemar. Aku hanya bisa merasakan dia mengecup kedua punggung tanganku. Rasanya aku ingin waktu berhenti pada saat itu juga, agar kebersamaanku dengannya tak hilang.
__ADS_1
"Apa kamu ingin ruanganmu dipindahkan ke sini juga sayang? Agar kamu bisa terus menatapku." godanya dan dengan kedipan mata khas ala Mexca
Sontak aku tersadar dari buaian indahnya. Aku langsung bangkit dan keluar dari ruangan itu, karna bisa bahaya jika aku terus di situ. Bisa - bisa aku akan melewati batas yang dilarang.
Akhir pekan aku menyempatkan waktu untuk berkunjung ke butik yang ada di mol. Mereka sudah tau semua siapa diriku, jadi saat mereka melihatku mereka langsung menyambutku. Dan aku kesana membawah Alea yang dari semalam rewel.
Setelah aku melihat pemasukan dan pengeluaran di butik itu, aku membawah Alea pergi bermain bersama dengan Yulia dan keluarganya. Setelah puas bermain kami makan di sebuah restoran yang ada tempat bermainnya untuk anak - anak.
Saat menunggu menu yang kami pesan datang aku pamit untuk ke toilet. Dan saat aku kembali dari toilet hanya Om Eko yang ada dimeja, sementara Yulia dan kedua kerucil tak ada. Lalu Om Eko menceritakan padaku semua kejadiannya saat ku tanya dimana mereka dan apa yang telah terjadi sebenarnya.
~***Flashback***~
"Sayang, Lea di sini dulu sama kak Oni ya? Bunda mau ketoilet sebentar" kataku pada Lea dan aku pergi ke toilet
"Papaaa... Papaaaa?" teriak Lea seketika dan membuay Yulia serta Om Eko bingung.
Alea seolah dapat menemukan seseorang yang ada dalam ingatannya walo dalam kerumunan orang banyak.
"Eh, Lea sayang. Mau kemana? Papa gak ada sayang, tu lihat papa gak ada kan? Ayo." ajak Yulia ke mejanya lagi, tapi Lea bersih keras lari ke meja seorang pengunjung di ruang vip restoran itu.
Sampai akhirnya Yulia melihat seorang pria mengangkat Alea ke pangkuannya dengan senyumnya yang menawan. Dan sepertinya orang itu sedang berdebat dengan seorang wanita cantik nan sexy.
Yulia terus mengawasi pria itu dan interaksinya dengan Alea yang sangat dekat, dan tidak bias. Jadi dia berfikir tidak mungkin kalo baru bertemu. Yulia melihat Alea menghujani pria itu dengan ciumannya dan memeluk leher pria itu erat seolah tak mau melepasnya.
"Wah sayang, coba kau lihat itu, sepertinya Alea kita menemukan jodoh untuk bundanya. Dia pria yang sangat rupawan dan menawan." kata Yulia yang kembali duduk di mejanya
"Oni katakan pada mama siapa diantara papamu dan orang itu yang lebih tampan" Tanya Yulia pada putranya.
"Orang itu ma, tapi Oni lebih suka papa" jawab Oni polos.
"Tentu saja, karna dia papamu anakku." Kata Yulia sambil memegang kepala anaknya.
~***Flashback On***~
"Hah?! Ada omongan seperti otu Om?" tanyaku sedikit tersenyum
"Jangan meledek, aku tau aku tak rupawan tapi aku tetap jagoan dimata anakku." bela Om Eko dan itu membuat aku semakin terbahak.
"Terus sekarang mereka diman Om?" tanyaku setelah puas tertawa
"Itu, di keributan ruang vip" tunjuk Om Eko padaku
"Masya Allah, apa yang mereka lakukan di sana sih Om?!" kataku sedikit kesal dengan kelakuan sahabatku Yulia yang suka cari keributan.
"Susulin geh. Nanti keburu saling bunuh mereka." kata Om Eko dengan nada yang sedikit khawatir.
Dan setelah mendengar kata - kata Om Eko, aku langsung berdiri mau memanggil Yulia dan para kerucil untuk kembali ke meja kami dan makan, karna menu pesanan kami sudah siap untuk dimakan.
__ADS_1