
Mexca yang menunggu di depan ruang perawatan begitu cemas dan tak sabar, begitu juga dengan mamanya dan bi sumi yang juga ikut ke rumah sakit. Mexca sengaja tak mengijinkan yang lain ikut biar tak rame. Jadi semuanya lagi menunggu di rumah, dan mereka semua tak kalah cemas dengan yang di rumah sakit.
Mexca terus menatap pintu ruangan itu dengan cemas, ada rasa sesak dan juga sakit didadanya. Nafasnya terasa berat seolah ada yang menyumbat aliran udara dalam dadanya, dan juga ada rasa yang tak bisa diartikan olehnya seola - olah ada sesuatu dalam dirinya yang ingin melompat keluar.
"Keluarga bu Adinda." panggil dari perawat yang keluar dari ruang rawat adinda.
"Iya, saya bagaimana dengan istri saya?" tanya mexca dengan cemas.
"Iya pak mari ikuti saya." ajak perawat itu masuk ke dalam ruang rawat adinda.
"Mas." panggil dinda dengan raut wajah yang menahan rasa sakit yang begitu luar biasa.
"Sayang." mexca mendekati adinda dan mengecup keningnya.
"Ini kapan istri saya akan lahirannya?" tanya mexca pada perawat yang berjaga di ruangan itu.
"Ah.! Ya Allah." adu dinda saat rasa sakit mulai datang lagi menyerang.
"Sayang apa begitu sakit?" mexca menatap dinda dengan cemas, sesak didadanya semakin menjadi.
"Tidak bisakah dipercepat agar sakitnya hilang?" tanya mexca dengan cemas, dan tak tega melihat adinda yang menahan rasa sakit hingga air matanya keluar.
"Tidak bisa pak, karna yang dicari emang rasa sakitnya. Nanti kalo semakin sakit akan semakin cepat pak lahirnya." jelas perawat itu
"Apa? Ini masih bisa lebih sakit lagi?" tanya mexca kaget, dia menatap dinda yang terbaring lemas tak berdaya.
"Iya pak, karna ini masih bukaan 3 dan kepala bayi juga masih belum turun." jelas perawat itu pada mexca.
"Ada alternatif lain?" mexca bertanya lagi.
"Ada pak dengan oprasi, tapi kalo tidak ada penyulit masih bisa lahiran normal." jelas perawat itu lagi.
"Berapa lama jika dengan oprasi?" nada bicara mexca mulai bergetar menahan sesak didadanya.
"Jika dengan oprasi bisa 1 jam sampek 1,5 jam pak, asal tidak ada penyulit bisa cepat." jelas perawat itu.
__ADS_1
"Kalo begitu lakukan oprasinya sekarang juga. Saya sudah tak tahan melihat istri saya menahan rasa sakit." pinta mexca pada perawat itu.
"Baik pak, kalo begitu silakan bapak lengkapi administrasinya dulu." perintah perawat itu pada mexca, dan mexca langsung menuju ke ruang administrasi.
Tak selang lama dinda didorong keluar dari ruang perawatan dan menuju ke ruang oprasi. Mexca serta mamanya dan bi sumi ikut berjalan di belakang perawat.
"Sayang yang kuat ya." mexca menyemangati adinda sebelum adinda didorong masuk ke ruang oprasi, dan mexca berkali - kali mengecup kening adinda serta mengusap pipi adinda dengan lembut penuh rasa sayang.
Saat mexca melihat adinda mulai didorong masuk ke ruang oprasi dia meneteskan air mata, seolah berat melepas dinda berjuang sendirian didalam ruang oprasi demi melahirkan anaknya.
"Ya Allah, ku pasrahkan nyawa istri dan juga anakku di tanganmu. Jika Engkau percaya padaku untuk menjaga mereka, maka kembalikan mereka kepadaku dalam keadaan sehat dan utuh, tanpa kurang satu apa pun." do'a mexca pada sang pencipta.
Lampu ruang oprasi menyala, tanda kalo oprasi sedang dalam peroses. Hati mexca semakin tak karuan, tak henti - hentinya dia terus berkomat - kamit membaca bdo'a dan memohon untu keselamatan dua orang yang paling dia sayangi itu.
Mexca duduk dengan tak tenang dan terus menatap lampu konduktor yang ada diatas pintu depan ruang oprasi, dia terus meremas tangannya dengan hati yang tak karuan, kakinya tak berhenti bergerak dan menghentak - hentakkan dilantai untuk mengusir rasa cemas dihatinya. ucapan do'a dan wirit selalu mengiringi disetiap waktu.
"Sabar ya baby, melahirkan itu emang sakit. Mama yakin dinda pasti bisa melewati semuanya, dinda adalah orang yang kuat." ucapan semangat dari mama mexca sedikit menghibur mexca walo hatinya masih dirundung rasa cemas.
"Maafkan Mex ma, maaf jika Mex ada salah sama mama." ucap mexca memeluk mamanya yang berdiri didepannya dan menyembunyikan wajahnya diperut sang mama.
"Lampunya sudah mati nyonya." seru bi sumi, dan itu membuat mexca terperanjat.
Lama mereka yang didalam ruang operasi tak juga kunjung menampakkan dirinya, dan itu membuat mexca jadi tak sabar. Mexca sudah berdiri dan mondar mandiri didepan pintu ruangan oprasi.
"Ma, lampunya sudah lama mati tapi kenapa mereka masih juga belum ada yang keluar?" tanya mexca pada mamanya dengan tak sabar.
"Sayang baru 10 menit lampunya matinya, tenanglah semua pasti baik - baik saja. Mama yakin itu." ucap mama mexca berusaha menenangkan anaknya.
Oeee ... Oeee
Suara tangis bayi menghiasi ruangan sehingga yang diluar pun bisa mendengar suara tangisan yang melengking itu.
Ceklek
"Keluarga bu Adinda.!" panggil seorang perawat.
__ADS_1
"Iya, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri dan juga anak saya?" tanya mexca dengan nada gusar.
"Sabar pak, semua sehat dan anak bapak masih dibersihkan, sebentar lagi akan dibawah keluar. Saya cuma mau menyerahkan ari - arinya untuk ditanam nanti." ucap perawat itu dan dia masuk lagi ke ruang oprasi.
Mexca bisa mendengar dengan jelas suara tangis bayi yang begitu kuat, dan suara itu seola merasuk kedalam tulang sumsum mexca, mengisi seluruh ruang dijiwa dan raganya.
"Suami ibu Adinda." panggil seorang perawat lagi dengan seorang bayi digendongannya.
"Saya." jawab mexca mendekat.
"Selamat ya pak, putra bapak lahir dengan sehat tanpa kurang apa pun." jelas perawat itu dan menyerahkan seorang bayi mungil nan lucu dan menggemaskan.
"Istri saya bagaimana?" tanya mexca pada perawat itu.
"Bu Adinda juga sehat pak, sekarang masih dalam pengaruh obat bius. Jadi masih harus berada diruang pemulihan, bapak dan keluarga bisa menunggu di ruang rawat inap, nanti kami akan mengantarnya ke ruangan jika sudah kembali dan habis pengaruh obat biusnya." jelas perawat itu.
Mexca bersama dengan mamanya dan juga bi sumi berjalan menuju ruang rawat inap di ruang vvip, disana mexca terus mantap putranya dan dia mencolok - colok pipi putranya yang terasa kenyal dan lembut.
"Hay Boy, ini papa sayang. Ayo buka matamu." ucap mexca pada bayi mungil yang sedang enak menutup matanya itu.
"Ya Allah, terima kasih Enggkau percayakan pada ku untuk menjaga dan merawat titipanmu." ucap mexca dan dia pun meneteskan air matanya melihat keajaiban yang sungguh luar biasa itu.
"Coba lihat, alisnya begitu tebal mirip denganmu." ucap mama mexca yang menggendong bayi itu.
"Tapi kenapa dia tak mau membuka matanya ma? Padahal tadi waktu diruang oprasi dia menangis melengking." tanya mexca yang tak henti mencolok pipi putranya itu.
"Iya sudah, jangan dicolok - colok pipinya." mama mexca kesal dan marah pada mexca yang sedari tadi mencolok pipi anaknya.
"Habis lucu ma dia begitu kenyal dan lembut." jawab mexca yang begitu takjub pada anaknya.
Mexca mengusap pipi anaknya dan berkalin- kalian menciumnya, sementara bayi kecil itu begitu tenang dengan ulah mexca, dia hanya sesekali mengeluarkan lidahnya dan menggerakkan bibirnya.
"Hem putraku, anak laki - lakiku. Selamat datang di dunia sayang. Jadilah anak yang baik dan selalu menyayangi semua orang. Cup" mexca berdo'a sembari mengusap kepala anaknya dan mengecup puncak kepala anaknya.
O - o Oeeee. Oeeee
__ADS_1
Tangis bayi itu, seola dia menjawab apa yang diharapkan dan dido'akan oleh papanya.