
Pagi itu mexca bersimpuh dalam masjid, setelah menyelesaikan sholat jum'at mexca tak beranjak dari tempat duduknya, dia duduk bersilah dan membuka kitab suci Al-Qur'an lalu melantunkan ayat-ayat suci itu dengan merdu. Sampai waktu terlewat hingga 2 jam lamanya.
"mas Abi, apa mas Abi mau ikut nanti untuk acara pengajian di desa mas? Kita mau ikut soalnya" Tanya Salah satu santri di pondok pesantren itu pada mexca yang baru terlihat keluar dari masjid.
Acara mingguan itu dilakukan setiap seminggu sekali yang biasa disebut tahlilan mas.
"Tidak saya nanti mau ikut bacaan Al-Qur'an saja" jawab mexca sopan.
Setelah selesai sholat isya' mexca langsung membantu pak yai untuk mengisi acara mengajar ngaji pada para ibu-ibu lansia di kampung yang datang ke pesantren setiap 2 minggu sekali.
"Ya Allah nak Abi ini kenapa ganteng sekali ya, apa nak Abi sudah punya kekasih?" tanya Salah satu dari ibu-ibu itu pada mexca yang selalu rajin membantu ki yai Abdul Manaf dalam mengisi acara pengajian bersama.
"Iya benar, nak Abi ini keturunan orang luar y? Kalo di sini disebut londoh" sahut ibu - ibu yan laennya.
"Iya bu, papa saya orang amerika dan mama saya orang Indonesia" jawab Mexca dengan senyum sopan.
"Masya Allah bisa untuk memperbaiki keturunan ini mah. Wajah ganteng, mata yang bening kebiru - biruan." jawab seorang ibu yang lainnya lagi.
"Iya, sayang sekali, aku sudah gak punya cucu yang masih sendiri, semuanya sudah nikah." seru seorang nenek yang ikut nimbrung.
"Ibu-ibu ini bisa saja, saya mana pantas bersanding dengan wanita kampung sini yang terkenal cantik-cantik, orang saya masih belum bisa apa-apa dan juga tidak punya apa-apa begini" jawab mexca sambil bercanda.
"Walah ndak papa yang penting cakep, untuk memperbaiki keturunan" jawab dari salah satu ibu jama'a itu sambil tertawa lebar.
Selesai acara mexca dan ki yai Abdul Manaf meninggalkan tempat dan mereka berbincang ringan sambil makan di sebuah warung makan.
"Masya Allah pak yai Manaf kok bapak ndak bilang kalo mau makan disini, saya bisa siapkan masakan kesukaan pak yai" Tegur pemilik warung yang emang mengenal baik dengan pak yai manaf.
"Oalah, ndak papa bu. Ini juga sudah nikmat kok masakannya, lihat nak Abi sampek habis bersih gitu" jawab pak yai.
"Iya bu, masakan ibu lezat" jawabku menimpali, karna masakannya emang enak.
Pemilik warung jadi tersipu saat masakannya dipuji enak sama mexca, karna dia selalu saja ingin menjodohkan mexca dengan putrinya.
"Oh iya nak Abi gimana? Apa nak Abi beneran gak mau sama putri ibu?" Tanyanya antusias pada Abi.
"Waduh bu, putri ibu pasti ndak mau sama saya yang ndak punya kerjaan ini" jawab mexca sopan.
"Ndak apa, orang putri ibu sudah bekerja di sebuah butik, toko pakean di kota sana, dan pemiliknya juga baek banget. Warung ibu ini aja dia yang modalin sampek ibu bisa seperti ini" jawab pemilik warung itu. Mexca hanya senyum menanggapi omongan ibu warung itu.
Setelah mereka bicara gak jelas kekanan dan kekiri sampai akhirnya ibu pemilik warung itu membanggakan bos putrinya yang baeknya gak ketulungan. Mexca jadi teringat akan sosok Adinda.
"Berarti bos putri ibu seorang atasan yang sangat baik pada pegawenya ya bu" jawab mexca setelah mendengar ceritanya.
"Dia bukan hanya baek nak Abi, dia sama seperti jelmaan bidadari. Orangnya cantik dan juga sangat luar biasa, kalo anak mudah bilang itu apa ya yang serba bisa talen apa telan ya begitulah pokoknya" jawab pemilik warung itu.
"Talenta mungkin bu" jawabku sambil tersenyum.
"Lah iya itu maksudnya. Kalo dia sama nak Abi pasti cocok karna canti dan ganteng, bukan kah begitu pak yai" kata ibu itu.
"Ya, jodoh gak ada yang tau" jawab pak yai.
"Iya juga, semoga saja nak Adinda mendapat jodoh yang baik seperti dirinya" jawab ibu warung itu dan membuat ku terkejud sampai aku tersedak, karna mendengar nama yang ku pikirkan disebut.
__ADS_1
"Lah anak Abi hati-hati kalo minum" kata pak yai sambil menepuk punggung ku.
Setelah dari warung itu aku dan pak yai langsung pulang ke pesantren, dan dalam perjalanan pulang pikiran ku kacau setelah mendengar nama Adinda disebut, walo bisa saja itu nama Adinda yang laen. Aku tak bisa fokus dalam setiap tindakanku, pikiranku dipenuhi lagi oleh nama Adinda yang berusaha untuk aku lupakan dan aku hilangkan. Namun itu semua sulit bagi ku, aku tak mampu menghapus namanya dari lubuk hatiku.
Saat hari menjelang malam, aku seperti biasa tak bisa tidur, namun malam ini aku jadi makin tak ngantuk karna pikiranku kalut. Saat ku lihat jam menunjukkan pukul 1 malam aku pun mengambil duwu, aku ingin menghilangkan bayang-bayang Adinda dengan sholat hajad, namun apalah daya ku, bukannya hilang bayangan akan dirinya semakin muncul.
Dada ku mulai sesak, aku bersimpuh dan mengadu ke pada Allah Swt tentang rasa sakitku ini. Aku memohon agar rasaku dalam hati ini dilebur dan tanpa sadar air mataku pun menetas semakin deras.
"Ya Allah, kenapa kau menanamkan rasa cinta ini pada diriku jika dia bukanlah hak ku. Ya Allah tolong kuatkan hatiku dan tambahlah rasa sabarku, aku tak sanggup lagi Ya Rabb, aku tak sanggup. Tolonglah hambamu ini, kau adalah pengusa hati dan yang mampu membolak-balikkan hati, tolong hapuskanlah hasrat ku akan dirinya, gantikan kebahagiaan atas dirinya, ku mohon ikhlaskan hatiku. Ya Rabbi aku menyesal dan sungguh sangat menyesal" Aku meratap pada sang pencipta dan pengusa hati ku.
Ki Yai Abdul Manaf
"Siapa yang meratap penuh dengan kesedihan begitu malam-malam begini, dan kenapa dia terlihat sangat pilu. Hatiku jadi ikut sakit mendengarnya" gerutu ki yai manaf yang malam itu berjalan di lorong karna mau mencari udara segar setelah mengaji.
Saat sampai di depan pintu kamar mexca ki yai manaf heran dan tak percaya kalo mexca yang selalu ceria itu ternyata menyimpan luka yang sangat dalam, sampai mampu membuat orang yang mendengar ikut terhanyut dan terbawah dalam lukanya. Ki yai manaf menyeka air matanya lalu berjalan lagi meninggalkan kamar mexca.
"Nak Abi, sebenarnya apa yang sedah terjadi dan yang telah dihadapinya. Kenapa dia bisa sampai seperti itu" pak yai manaf berfikir keras setelah mendengar ratapan mexca semalam.
"Mas Abi dipanggil sama pak yai, disuruh ke rumahnya. Katanya mau ada yang diomongin penting" kata santri yang diamanati oleh pak yai manaf untuk memanggil mexca.
Dan setelah mendengar perintah dari santri itu mexca langsung menemui ki yai manaf di rumahnya.
"Assalamu'alaikum pak yai," ucap mexca yang melongok masuk ke rumah ki yai manaf.
"Wa'alaikumsalam, Sini masuk nak Abi, ada sedikit masalah yang ingin bapak tanyakan pada nak Abi" jawab ki yai manaf yang sedang dudu sambil baca suatu kitab.
"Iya pak yai, ada masalah apa ya? Katanya tadi pak Yai memanggil saya" tanyaku sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Saya mengerti, dan saya juga sangat berterima kasih" kataku sambil menunduk.
"Anak Abi, sebenarnya ada hal lain kenapa bapak memanggil mu kesini" jawab pak yai mulai serious.
"Iya ada apa ya pak?"tanyaku yang sakin bingung.
"Anak Abi, maaf sebelumnya. Semalam bapak tak sengaja mendenga ratapan mu, sebenarnya apa yang telah terjadi pada mu?" mendengar pertanyaan dari pak yai mexca tak mampu menjawab, dia hanya tertunduk dan membisu. Lama pak yai menunggu namun mexca tetap membisu.
"Anak Abi, tidak papa. Bapak cuma khawatir kalo kamu tak mampu menanggunya dan akhirnya salah dalam melangkah" kata pak yai lagi sambil menepuk punggung mexca.
"Maafkan saya pak yai" jawab mexca dan akhirnya dia menceritakan semuanya padaki yai manaf, mulai dari awal dia ketemu sama Adinda sampai perkenalannya dan rasa cintanya, namun dia telah keduluan karna wanita yang dicintainya telah bersetatus istri orang.
"Jadi maksud nak Abi, gara - gara gadis itu sampai akhirnya nak Abi melangkahkan kaki nak Abi sampai ke sini?" Tanya pak yai manaf.
"Maafkan saya pak yai" ucap mexca yang mulai meneteskan air mata karna menyesal dan merasa bersalah.
Setelah mendengar cerita apa yang telah dialami oleh mexca ki yai manaf pun mencoba menenagkan mexca dengan cara membesarkan hatinya dan untuk selalu percaya pada jalan takdir Allah Swt.
"Nak Abi, dengarkan bapak. Allah tidak akan memberikan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kita hambanya, tapi Allah akan selalu dan senantiasa memberikan sesuatu yang benar - benar berguna dan bermanfaat untu kita" jelas ki yai manaf.
"Maksud pak yai apa ya?" Mexca merasa bingung dengan kata-kata ki yai manaf.
"Dengarkan bapak nak, Allah itu tidak akan memberikan apa yang kita inginkan, melainkan akan memberikan apa yang kita butuhkan dalam kehidupan kita" menjelaskan lagi dengan sabar pada Mexca.
"Saya masih kurang paham maksunya" jelas Mexca yang memang baru 1 tahun memeluk Islam.
__ADS_1
"Nak Abi, kamu mencintai gadis itu bukan?" Tanya ki yai manaf yang melihat Mexca bingung.
"Iya, saya sangat mencintainya" jawabnya dengan nada sendu.
"Itu artinya dalam lubuk hati terdalammu, kamu menginginkannya. Bapak benarkan?" sambil menepuk bahu Mexca.
"Iya benar, dan untuk menghilangkan rasa itu saya kesini. Saya ingin bisa menebus penyesalan saya dengan memeluk keyakinan yang sama dengan dirinya" katanya lagi yang terdengar semakin pilu.
"Iya, benar. Dan pengaruh gadis itu dalam hidup kamu sangat besar dan berjalan pada jalan yang benar. Tapi keinginanmu tidak terkabul dan dia telah menjadi istri orang" Mexca tak menjawab dan hanya mengangguk.
"Dengar nak Abi, jika dia memang sosok yang dibutuhkan oleh nak Abi, makan Allah akan memberi jalan pada nak Abi untuk bertemu dan bersatu denganya. Karna pemberian dari Allah tak ada yang tak bermanfaat" jelas pak yai
"Saya tau pak yai. Tapi saya rasa itu tidak akan mungkin, tak ada seorangpun yang akan melepaskan wanita sebaik dia dari sisinya." dengan raut wajah sedih.
"Iya, jodoh dan takdir tak akan bisa terpisahkan. Dan bukan tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak."
"Mungkin saja saat ini dia sedang terjebak ditikungan karna dulu sinar nak Abi tak terlihat olehnya, dan tidak ada yang tidak mungkin dalam kamus Allah. Karna jodoh adalah cerminan jiwa, bapak yakin dengan nak Abi memperbaiki diri seperti ini pasti makmum nak Abi akan bisa menemukan nak Abi" berkata dengan senyuman pada Mexca yang terlihat terpuruk.
"Maksud pak yai apa ya?" mengangkat kepala menatap ki yai manaf.
"Nanti kamu akan tau dan mengerti setelah mengalami dan melihatnya sendiri. Untuk sekarang biarlah jadi rahasia ilahi." lagi - lagi tersenyum dengan rama.
"....??" Mexca semakin bingung.
"Ingat nak Abi, Allah tidak akan memberi apa yang nak Abi inginkan, tapi akan memberi apa yang nak Abi butuhkan. Jika Allah merasa dia adalah orang yang nak Abi butuhkan dalam hidup nak Abi makan Allah pasti akan memberi jalan untuk nak Abi dengan dia bersatu"
"Hem....Baiklah pak Yai." jawab Mexca dalam kebingungan.
"Hahaha...tak usah dipikirkan sampai sekeras itu, nanti pada waktunya nak Abi akan mengerti sendiri" ucap ki yai manaf sambil menepuk - nepuk pungguh mexca.
"Sudah, sekarang saatnya nak Abi menjalankan kewajiban nak Abi, Yang sudah nak Abi tinggalkan sekian lama, kasian Faris yang selalu mondar mandir kesini. Kembalilah jalankan tugas nak Abi dan ingat selalu berpegang teguh pada tiang agama apa pun yang akan terjadi nantinya, nak Abi mengertikan?" pesan pak yai pada mexca
"Iya saya mengerti. Insya Allah saya akan selalu mengingat nasehat pak Yai, dan saya akan menjalankan serta menerapkan apa yang sudah pak Yai ajarka kepada saya" jawabku dengan penuh keyakinan.
"Baguslah, semoga nak Abi selalu dalam perlindungan dan pertolongan Allah SWT." do'a yang diberikan padaku dengan mengecup keningku
"Amin amin ya Rabbal'alamin" jawabku dan menitikkan air mata lagi.
Dan setelah pembicaraan panjang itu akhirnya dalam waktu 2 bulan mexca pun kembali pada rutinitasnya di kantor dia. Faris yang melihat atasannya itu sudah kembali dia merasa lega, karna dia tak perlu lagi mengendalikan perusahaan yang besar ini sendirian dan yang lebih baik lagi adalah dia tak perlu lagi mondar - mandir pesantren dan kantor yang jaraknya sangatlah jauh.
"Selamat pagi bos, selamat datang kembali kekesibukan kantor." ucap Faris yang melihat Mexca memasuki ruang kerjanya.
"Ya, Assalamu'alaikum. Selamat pagi juga Ris." jawab Mexca dan membuat sekretarisnya yang berdiri disebelah Faris terkejud.
"Hahaha... Iya wa'alaikumsalam" jawab Faris sambil terbahak.
"Wa - wa'alaikumsalam" jawab sekretaris Mexca dengan gagap karna rasa terkejudnya belum hilang.
Cetok
"Aduh.!" pekik Faris sambil memegangai jidatnya yang dilempar bolpoin oleh Mexca.
"Merlin, sadarlah dan cepat buatkan minum untuk bos." bisik Faris tepat di telinga Merlin (sekretaris Mexca) yang sedang bengong menatap perubahan bosnya, yang terlihat lebih mempesona bagi Merlin.
__ADS_1