
Setelah mengawasi Adinda dari kejahuan yang telah menjadi kebiasannya sejak memutuskan untuk melupakan Adinda, Mexca melajukan mobilnya pulang ke rumah. Dan sesampainya di rumah Mexca menuju samping rumah dan melamun di sana. Duduk sangat lama dengan pikiran yang semrawut campur aduk.
"Mexca.!? Mexca.!? Papa.... Pa.... Papa?!" dengan panik nyonya Ambar berlari menuruni tangga rumahnya memanggil nama suaminya tuan Yosef.
Suasana rumah sore itu sangat sepi hanya ada suara air yang bisa di dengar dari lantai atas. Semua penghuni rumah itu pada sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri termasuk nyonya Ambar yang sibuk dengan telpon dari teman-teman sosialitanya.
Namun debyur air yang tadinya terdengar memecah keheningan rumah yang sepi tiba-tiba tak lagi terdengar setelah beberapa menit, dan suara sunyi pun mewarnai rumah besar itu lagi. Hanya suara tawa dari nyonya Ambar yang mengisi sudut rumah di lantai atas.
Luasnya air di lantai bawah menampakkan benda yang begitu menarik pandangan mata nyonya ambar dari cendela kamar yang saat itu jadi tempatnya telponan dengan temannya, sosok yang begitu tak asing dan sangat dikenalnya itu sedang melayang dalam air dalam posisi tengkurap dan keadaan yang sangat tenang serta menampakkan kekosongan dengan ketenangan air.
"Mex.!? Mexca. Sial.!" dengan langkah kaki yang sangat lebar, memanggil dengan penuh amarah.
Gebyuuuurrr
"Mexca. Mex!? Bag bug bag." memukul untuk menyadarkan putranya, dengan rasa cemas dan marah bercampur aduk melihat putranya menutup mata dengan rapat dalam air.
"Ah.! Paa? Uhuk uhuk." tersadar dengan terbatuk-batuk
"Apa kau sudah gila hah?! kau mau mati konyol dalam kolam renang!?" berteriak dengan keras sambil membawa putranya ke tepi kolam.
"Mex, sayang? Kenapa denganmu baby" memapa dan menangkup wajah mexca, melihat dengan kecemasan.
"Uhuk, uhuk.!" tertunduk lemas.
"Ayoh, ganti bajumu nanti kau masuk angin. Ayo baby." memapah mexca dengan penuh kasih sayang.
"Ma, Pa. Mex ingin kembali ke LA, Mex akan membantu kakek di sana. Tolong papa atasi semuanya di sini, karna semua sudah setabil. Jadi papa tak memerlukan Mex lagi." berkata dengan nada dan suara yang lemas, serta wajah Yang sendu.
"Duduklah dulu, papa ingin bicara dengan mu." menatap wajah dan ekspresi putranya yang tak biasa dari biasanya.
Mexca bergabung dengan mama dan juga papa di ruang tengah, dengan pandangan kosong yang tak tentu fokus pandangnya.
"Mex, ada apa sebenarnya. Faris bilang belakangan ini kamu sering menghilang dari kantor, dan Marlin juga sering lapor kalo kamu tak bisa fokus dalam setiap pertemuan. Katakan kenapa denganmu." tuan Yosef berkata dengan pelan dan santai pada putranya yang terlihat sedang menanggung beban berat dalam hidupnya.
"Baby, katakan apa ada masalah atau ada kejadian sulit yang sedang kau alami? Mama memanggilmu kesini bukan hanya untuk membatu mengatasi masalah perusahaan dan membantu papamu" berkata dengan lembut dan memeluk Mexca.
"Katakan Mex ada apa sebenarnya? Papa ingin tau." berkata penuh wibawa
"Mex, mex ingin melupakan seseorang. Mex akan kembali ke sini saat mex sudah siap" berkata dengan putus asah.
"Melupakan seseorang?" bingung
"Melupakan seseorang? Maksudnya apa baby, jangan bikin papa dan mama bingung.
"Siap dia. Apa dia yang membuatmu sampai gak fokus begini? Apa kamu gak bisa menguasai dia dengan memasukkan dia dalam blocklist" berkata dengan geram.
__ADS_1
"Pa, ini bukan masalah bisnis. Mexca bisa menguasi apa pun jika itu berurusan dengan bisnis. Tapi ini masalah hati Pa, Mex tidak bisa melakukannya." menjelaskan dengan nada dan nafas yang berat.
"Kenapa kau tak merebutnya saja, manipulasi dan kuasi dia. Kenapa kau jadi lembek begini, ini tidak seperti diri kamu." mengusulkan jalan pintas.
"Baby, kenapa kamu sampai ingin menghancurkan diri kamu. Apa yang dikatakan oleh papa benar, lakukan manipulasi. Bukankan kamu bisa melakukan semuanya, kenapa sekarang kamu hanya bisa diam dan putus asah begini." nyonya Ambar membenarkan saran yang dikatakan oleh suaminya.
"Mexca gak bisa ma, pa. Mexca hanya bisa menghindari dia untuk bisa melupakan dia. Jadi Mexca hanya bisa melupakan dia. Mexca akan berangkat besok, dan ini sudah jadi keputusan Mexca ma, Pa. Tolong biarkan Mexca kembali ke LA lagi." berkata dengan penuh keyakinan.
"Mama tak bisa memaksamu baby" memeluk Mexca
"Terserah kamu saja, asal tak mempengaruhi kinerjamu di sana." menerima tanpa membantah keputusan Mexca.
Tepat pada pukul 10 pagi Mexca berangkat menuju LA, dan sebelum berangkat dia masih menyempatkan waktu untuk menitipkan buket mawar putih pada salah satu pegawe di cafe Adinda.
Sepergian Mexca Faris kembali bekerja dibawah papa Mexca tuan Yosef dan jadi supir pribadi Merisca. Dan kepergian Mexca yang mendadak serta tanpa pemberitahuan membuat semua pagawe Mexca bertanya-tanya, terutama Faris yang tak diizinkan untuk mengikutinya, padalan mereka tak pernah terpisahkan dan selalu bersama sejak 10 tahun terakhir ini.
"Mbak, ini ada buket untuk mbak Dinda" seseorang menyerahkan buket itu pada Dinda saat melihat Dinda datang.
"Eh, Adil? Trima kasih, tapi ini dari siapa?" Tanyaku penasaran, karna buketnya sangat indah dan juga harum.
"Wah, Adil gak tau mbak. Itu di berikan sama mas Yuyus tadi, waktu Adil nganter bahan-bahan ke cafe mbak." jelasnya padaku dengan kata yang sopan.
"Baiklah. Oh iya apa kamu suka kerja di sini? Apa kamu betah bekerja sama saya?" tanyaku karna dia baru masuk 1 minggu ini dan aku baru ketemu sama dia.
"Sangat betah mbak, di sini enak. Saya juga suka dengan binatang, apa lagi kucing. Saya jadi bisa kerja sekalian bermain sama kucing-kucing di sini. Dan saya sengaja milih di resto, karna selain enak kerja ya juga deket sama rumah. Cuma butuh 35 menit dari rumah" jelasnya padaku dengan wajah yang sangat bahagia.
"Iya mbak, terima kasih. Oh iya mbak, apa nanti ada mengisi lagu mbak? Kalo ada bolehkan saya merekam mbak Dinda saat mbak Dinda menyanyi nanti? Saya mau memasukkannya ke konten sosmet saya mbak, kalo di ijinkan" pintanya padaku dengan nada yang terdengar sedikit ragu-ragu.
"Baiklah, asak jangan dibuat yang aneh-aneh" jawabku memberi ijin. Dan dia terlihat sangat sumringah.
Jujur saja ku tak mampu
Hilangkan wajahmu di hatiku
Meski malam mengganggu
Hilangkan senyummu di mataku
Kusadari aku cinta padamu
Meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
__ADS_1
Tapi cintaku yang terbaik
Jujur saja ku tak mampu
'Tuk pergi menjauh darimu
Meski hatiku ragu (uh-uh)
Kau tak di sampingku setiap waktu
Kusadari aku cinta padamu
Meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
Oh, meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
Oh, meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik (cintaku yang terbaik)
Tapi cintaku yang terbaik (cintaku yang terbaik), oh-oh
Tapi cintaku yang terbaik
Lirik Cinta Terbaik
Entah kenapa aku sangat ingin menyanyikan lagunitu. Mumgkin karna malam ini hawanya terasa sangat dingin walo bukan musim hujan, entah kenapa. Seperti alam seolah sedang memberi isyarat padaku kalo ada sesuatu yang lagi pergi menju dari sisiku.
Sesampainya di rumah ku masukkan mawar itu ke dalam air agar mereka setidaknya bertahan untuk beberapa hari kedepan. Ku masukkan mereka ke dalam fas kesayangan alm. ibuku saat ayahku memberikan hadiah bungan padanya disetiap moment yang dianggap sepesyial oleh alm. Ayahku.
__ADS_1
"Ya Allah. Semoga orang yang memberikan bunga ini selalu diberikan ketenangan dan keteguhan hati dimanapun dia berada. Amin" aku mengucapkan do'a yang sering diucapkan oleh alm. ibuku pada alm. ayahku setiap hadiah berupa bunga diberikan.
Aku merasa lucu sendiri, tapi ku pikir tak ada salahnya memberikan do'a yang baik walo aku tak tau niat dan tujuannya memberiku bunga. Tapi aku yakin do'a yang baik akan kembali pada diriku lagi.