
Pagi itu suasana rumah sangat sepi, mas Bram sudah berangkat, sedangkan mbak Monica dia sudah berangkat sejak jam 6 pagi. Ya mas Bram juga melarangku untuk membuat sarapan karna dia akan berangkat ke luar kota, dan berangkatnya juga sudah dini hari tadi.
Aku melajukan mobilku menuju resto, karna aku tak masak jadi aku sarapan di resto. Setelah sarapan aku pamit pada pegaweku untuk pergi ke butik, dan sesampainya di butik aku disambut oleh Yuni.
"Pagi mbak Dinda" sapanya padaku yang ku balas dengan anggukan. Dan dia terus mengikuti aku sampai ke ruangan Yulia, namun Yulia tak ada di sana.
"Oh iya mbak. Kata mbak Yuli kemaren baju-bajunya sudah selesai dan sudah di kirim ke butik yang ada di mol mbak." lapor Yuni padaku saat dia melihatku masuk ke dalam ruangan Yulia dan celingngukan mencari Yulia yang tak ada ditempat.
Aku mengucapkan terima kasih pada Yuni, dan aku lanjut duduk di sofa untuk melanjutkan kerjaanku dan melihat hasil laporan Yulia yang sudah dikirim lewat email.
Yuni selalu membawakan aku cemilan dan juga menanyakan apa ada yang ku butukan selama aku di butik, dia melakukan itu karna dia tau siapa diriku yang sebenarnya dari temannya si Wati. Namun seperti yang dikatakan oleh Yulia dia jadi tak banyak omong saat di depan banyak orang.
Saat siang hari aku langsung pergi ke resto, karna aku malas ke mol, karna ini juga jadwal kesehatan para kucing-kucingku. Jadi urusan di mol aku wakilkan pada Yulia selaku manager butikku.
Setelah aku selesai mengecek kesehatan semua kucing-kucingku bersama dengan dokter Baim, kami pun mengobrol bertiga di ruangan mas Didi. Dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Setelah aku selesai sholat yang diimamin sama mas Didi. Aku mengecek ponselku karna aku berpikir sapa tau ada telpon masuk atau sms masuk untukku, namun tak ada notip sama sekali dari ponselku.
"Tak ada kabar dari mas Bram walo dia sudah seharian, entah apa mbak Monica dihubungi atau tidak aku tak tau, karna jika aku tanya pasti dia akan marah-marah padaku" aku menggerutu sambil bermain dengan kucing-kucingku lagi yang sangat memggemaskan dan lincah.
Berkali sudah kupendam kecewaku
Sering kau tinggalkan diriku sendiri
Kesetiaan ini bukannya sandiwara
Berkorban untukmu walau kadang kecewa
Tiap malam sendiri saja
Menunggu hingga malam berakhir sayang
Tiap kali bila kutanya
Jawabmu hanya maaf di bibir saja
Mungkin harus lebih sabar
Menghadapi dirimu
Kesetiaan ini bukannya sandiwara
Berkorban untukmu walau kadang kecewa
Tiap malam sendiri saja
Menunggu hingga malam berakhir sayang
Tiap kali bila kutanya
Jawabmu hanya maaf dibibir saja
Mungkin harus lebih sabar menghadapi dirimu
Mungkin harus lebih sabar menghadapi dirimu
__ADS_1
Penulis lagu: Pance Pondaag
Lirik Kerinduan
"Nona cantik, bolehkah saya riques lagu? Saya ingin mendengarkan lagu yang sangat saya kenang saat saya masih muda dulu" kata dari salah satu pengunjung resto yang sedang duduk menikmati hidangan dengan seorang wanita disebelahnya.
Aku pun berdiri dari posisi dudukku dan melihat ke arah pengunjung itu dengan senyuman, aku tak menjawab permintaan pengunjung itu dengan kata-kata tapi aku menganggukkan kepala dari tempat ku berdiri di depan piano.
"Tolong nyanyikan lagu sumpah mati dari stinky ya, itu adalah lagu kenangan kami berdua" katanya lagi sambil senyum malu-malu dari tempatnya duduk.
Kini
Aku sedang jatuh cinta
Kurasakan berbeda kali ini
Kulakukan dengan hati
Cinta
Dengarkanlah aku minta
Kau menerima aku untuk jadi
Kekasih hatimu, uh
Sungguh mati aku menginginkan dia
Senyumnya membuatku tak berdaya
Serasa melayang aku di udara
Ku terpikat olehnya
Sumpah mati aku cinta kepadanya
S'lalu kubuat dirinya bahagia
Janjiku kepadanya
Sungguh mati aku ingin dia (dia, dia)
Sumpah mati aku mencintainya
Sampai mati aku 'kan menjaganya
Dengan segala yang ku punya, oh
Sungguh mati aku menginginkan dia
Senyumnya membuatku tak berdaya
Serasa melayang aku di udara
Ku terpikat olehnya
__ADS_1
Sumpah mati aku cinta kepadanya
S'lalu kubuat dirinya bahagia
Janjiku kepadanya
Na, na-na-na-na-na, na-na-na-na-na
Na-na-na, na-na-na, na-na-na-na-na-na-na, na-na
Na, na-na-na-na-na, na-na-na-na-na
Na-na-na, na-na-na, na-na-na-na-na-na-na, na-na
"Akak ini bunga untuk akak, telima kasih lagunya enyak" Dia menyodorkan mawar kuning padaku dengan suaranya cadel dan wajah lucunya sambil menggendong anak kucingku.
"Terima kasih sayang" ku usap kepala gadis kecil itu.
"Ya, dali akak di cana" sambungnya dengan menoleh ke arah meja pengunjung dan ku lihat ada seorang wanita yang tersenyum ke arahku.
"Baiklah sayang, kamu pintar sekali sih. Bilang makasih ya untuk kakaknya" ku kecup pipi gadis kecil yang menggemaskan itu.
"Halo assalamu'alaikam Din, Din tolong besok kamu masakin ikan goreng, ayam, nasi kuning, bla bla bla" terdengan sangat riang suara dari sebrang, yang tak lain adalah mas Bram.
"Iya, wa'alaikumsalam mas. Baiklah, tapi ada apa ya mas kalo boleh Dinda tau?" tanyaku dengan bingung yang tiba-tiba disuruh masak begitu banyak.
"Besok mas pulang, nanti mas kasik tau kalo sudah di rumah ya Din. Assalamu'alaikum" jawab mas Bram dan langsung mematikan sambunga telpon.
"Eh, iya wa'alaikumsalam. Ada apa ya kira-kira, kok masak nasi kuning? Kayak mau ada syukuran aja" gerutuku sambil melajukan mobilku pulang.
Pagi harinya aku masak sesuai dengan pesanan mas Bram kemaren dari telpon. Setelah selesai belanja, aku langsung menyibukkan diri di dapur. Ku lihat mbak Monica masih tidur dan belum bangun.
"Mbak, apa mbak Monica baik-baik saja? Mbak gak kerja mbak?" ku tanya dan ku ketok pintu kamarnya, karna tidak biasanya dia belum bangun sampai jam 10 pagi.
Saat mbak Monica membukakkan pintu dia bukannya menjawab pertanyaanku yang khawatir padanya, tapi dia malah lari keluar sambil mendorongku.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam, maaaassss" lari menghambur kepelukan Bram yang baru pulang.
"Sayang, selamat ya dan terima kasih banyak atas semuanya, aku sangat senang saat kamu mengabari aku" memeluk dan menggendong mbak Monica sambil berputar-putar.
"Mas... Mas sudah pulang" tanyaku yang baru turun dari lantai atas.
"Sebenarnya ada apa ya? Kenapa mas Bram begitu bahagian. Di sini aku seperti orang asing saja, atau lebih tepatnya art mereka" keluhku dalam hati.
"Dinda apa kamu sudah masak seperti yang mas suruh kemaren?" tanyanya padaku dengan wajah yang berbinar-binar sambil memeluk mbak Monica.
"Iya mas sudah. Ini baru saja selesai" jawabku sambil melangkah maju dan memcium punggung tangan mas Bram.
"Iya, Din. Kamu siapkan nanti sore aku dan Monica mau mengantarkannya ke mama. Karna kemaren Monica mengirimi mas foto ppt dengan garis dua" kata mas Bram yang lagi-lagi menunjukkan kemesraannya dengan mbak Monica di depanku.
"Maksudnya mbak Monica hamil mas? Benarkah itu mbak? Selamatnya, Dinda ikut senang dengarnya." kataku menanyakan dan mengucapkan selamat pada kebahagian mas Bram dan mbak Monica. Yang tentu saja tak dijawab oleh bak Monica, dia hanya senyum sinis padaku.
"Ya Allah tolong brikanlah kebaikan dan kesehatan selalu pada calon bayi dan juga mbak Monica, limpahkan segala kebahagiaan dalam rumah ini. Ya Rabb, dan kalo bisa hambamu ini juga ingin memiliki dan dapat merasakan kebahagian sebagai seorang wanita sejati. Tolong letakkanlah kebahagian atas nama hambamu ini ya Rabb. Amien amien ya rabbal'alamien." pintaku pada Rabbku di setiap penghujung malam-malam ku yang sepi.
__ADS_1
"Mungkinkah ada kalanya nanti aku juga merasakan kebahagiaan seperti yang kebanyakan wanita rasakan saat mereka mengandung buah hati mere?" aku menghela napas dalam sambil merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, bertanya dalam hati.