(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Hasrat adinda


__ADS_3

Hari - hari mexca semakin sulit, karna dia bagai menangani anak kecil yang bandel, yang tak bisa diberi tahu dan dilarang. Apa lagi kalo itu sudah kemauannya. Seperti saat ini dinda tak bisa dilarang untuk makan rujak pedas. Sejak dari pulang kantor dinda terus merengek mintak dibuatin rujak manis yang pedas.


Setelah pertarungan ego yang sengit akhirnya mexca kalah dan dinda menang. Dinda langsung melesat ke dapur dan memintak pada bi sumi untuk membuat bumbu rujak manis pedas, mexca tersenyum lihat ulah dinda istrinya yang seperti anak kecil.


"Yeee, segar sekali. Besok kan akhir pekan jadi kalo sakit perut ya masih bisa istirahat di rumah." ucap dinda dengan riang setelah habis makan rujak manis. Sementara mexca hanya menghela nafas saja.


"Mex, usia kehamilan istrimu sudah berapa minggu?" tanya mama mexca lewat panggilan telpon.


"Hem, kalo gak salah 28 minggu, kenapa ma?" tanya mexca bingung dengan pertanyaan mamanya yang tiba - tiba tanya usia kehamilan dinda.


"Hoooh, anak badung. Ya harus diadakan selamatan 7 bulanan nanti, karna dari awal gak ada selamatankan? Mama juga baru tau soal itu dari pengajian kemaren. hihihi." jelas mama mexca sambil nyengir.


"Oh, begitu. Ya sudah ma direncakan kapan enaknya? Jangan dadakan hari ini." ucap mexca pada mamanya.


"OK, gimana kalo 2 minggu lagi, bertepatan dengan hari maulid Nabi kata pak ustad kemaren kalo 2 minggu lagi." saran mama mexca yang disetujui oleh mexca.


*


*


*


Tepat pada 2 minggu hari maulid Nabi, mexca mengadakan syukuran 7 bulanan usia kehamilan dinda. Semua orang berkumpul dan suasana rumah jadi sangat ramai serta meriah.


Semua warga yang se RT dengan rumah dinda diundang semua oleh mexca. Dua acara dilaksanakan sekaligus di kediaman rumah dinda, dan semua orang sangat berbahagia. Di'a dan puji - pujian semua terucapkan untuk junjungan Nabi besar Muhammad dan calon bayi adinda.


Malam itu adinda yang dikelilingi banyak orang, mulai dari tetangga, sanak saudara, dan juga teman - temannya terlihat sangat cantik dan anggun dengan busana gamisnya, dia terlihat bagai dua orang yang berbeda dalam satu tubuh.


2 hari sebelum acara 7 bulanan.

__ADS_1


Setelah seharian sibuk menyiapkan acara untuk besok malam, dinda dan mexca melepas lelahnya dengan tidur lebih awal dari biasanya. Namun tiba - tiba tangan dinda tak bisa diam, dia bergerilya kesana kemari membuat mexca yang sudah setengah terlelap itu jadi merasa terusik.


"Sayang, jangan begini kehamilanmu sudah besar, tidur ayok." cegah mexca dengan menarik tangan dinda yang memijit pada senjata mexca.


"Tapi dinda mau?" ucap dinda yang tangannya kembali ke senjata mexca.


"Tu, dia sudah bangun." ucap dinda lagi saat dirasa senjata mexca telah siap tempur.


"Iya gak papa nanti dia juga tidur sendiri." mexca menarik lagi tangan dinda dari sana.


"Mas Abi jahat." dinda berbalik membelakangi mexca, tanda dia ngambek.


Mexca memukul jidatnya sendiri saat sadar kalo istrinya mulai ngambek. "Baiklah tapi mas pelan - pelan ya? Dan cukup sekali saja, setelah itu tidur ok.!" rayu mexca yang akhirnya kalah dengan dinda.


Mexca menc*bu istrinya dengan penuh sayang, dia mengekspresikan perasaannya dengan sangat jelas. Bahkan dari setiap kecupan dan ciumannya dia menunjukkan betapa dirinya sangat menyayangi adinda. Setelah beberpa menit kemudian mereka pun sudah polosan dan mexca juga sudah memberi rangs*ngan yang dia rasa cukup baik karna tempat senjatanya sudah mulai basah dan dinda juga sudah mengejang pada pencapaiannya yang pertama, itu artinya tempat senjata itu sudah siap untuk ditempati.


"Mas Abi kenapa gak enak?! Kenapa begitu pelan gerakannya. Gak kayak dulu begitu keras bergeraknya." kesal dinda yang merasa mexca bergerak tidak seperti biasanya. Ya karan selama kehamilan mexca jarang melakukan hubungan, kalo pun melakukan itu jarang sekali.


"Sayang mas harus hati - hati, karna sekarang ada junior yang bertengger di dalam perutmu." jelas mexac dan dinda sudah memonyongkan bibirnya dengan menatap kesal pada mexca.


"Mas berhenti. Turun.!" teriak dinda kesal pada mexca.


"Hah? Turun? Tapi tanggung sayang sudah setengah jalan." ucap mexca.


"Gak mau pokoknya turun.!" teriak dinda lagi, dan mexca menuruti printahnya.


Mexca melepas pelan senjatanya dari sarungnya yang sudah mulai terasa nikmat dengan perasaan janggal dan juga kosong. Dengan pelan mexca cabut lalu dia pun tiduran mencobak menetralkan pikirannya yang sudah dipenuhi hasr*t.


"Eh.!?" mexca terkejud karna mendapati dinda naik ke atas tubuhnya dan duduk di pinggulnya.

__ADS_1


"Sayang!?" rasa terkejud mexca belum hilang.


"Biar aku saja." ucap dinda dengan tersenyum, dan blesz, senjata mexca yang masih tegak menantang itu langsung menerobos masuk saat dinda menggerakkan pinggulnya dengan sekali hentakan.


Mexca menelan salifanya, menatap istrinya yang mulai bergerak dan bergoyang dengan intens. Mexca sangat menikmati pemandangan itu, tubuh istrinya yang putih mulus dengan perut gendut yang menggeser perut mexca saat istrinya bergerak, serta keringat yang meluncur turun dari wajah cantik istrinya melewati lehernya indah hingga terus turun sampai dadanya yang mulai terlihat semakin membesar dan juga sangat menggoda saat mereka bergerak seirama dengan gerakan dari pemilik.


Mexca memandang takjub pada istrinya yang mampu membuat dia melayang hingga kealam surga, "Nak, mamamu benar - benar luar biasa. Apa kamu baik - baik saja di dalam sana?" gumam mexca dalam hati sambil mengusap perut buncit dinda.


"Aaah.!" suara **** itu lepas dari mulut dinda.


Mexca pun sangat menikmati permainan dinda yang bergerak semakin liar diatas tubunnya. Wajah dinda mendongak merasakan kenikmatannya dengan pinggul yang terus bergerak dan meliuk membuat senjata mexca menusuk - nusuk didalam sana.


"Ehgm, sayang." mexca ikut menyuarakan suara sexinya, dan pinggulnya juga ikut bergerak mengikuti irama gerakan dari dinda. Hingga akhirnya mereka mencapai puncak knikmatan bersama - sama.


Mexca mengecup kening dinda saat dinda sudah turun dari tubuhnya dan merebahkan tubuhnya disebelah mexca. Mexca menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, dan bersiap tidur. Namun apa daya sang istri berulah lagi hingga membuat mexca kewalahan menghadapinya, hasrat dinda seolah tak ada habisnya, dan tenaganya masih tetap kuat.


Waktu saat ini acara 7 bulanan.


Mexca tersenyum dengan terus menatapi istrinya, tak ada yang tau sikap anggunnya itu mampu menutupi sikap liarnya dia saat berada diatas ranjang. Dan hanya mexca yang tau sisi dari istrinya yang satu itu. Saat berbusana rapi dia nampak seperti gadis polos, namun saat dia diatas ranjang bagai wanita penggoda yang mampu membangkitkan hasrat hingga berkali - kali tanpa rasa lelah ataupun bosan.


"Hay, senyum - senyum sendiri kesambet nanti." merisca memukul pahu mexca yang sedari tadi senyum - senyum menatap dinda.


"Kau sendiri bagaimana? Apa Faris sudah membobol gawang pertahananmu." ledek mexca pada merisca yang sudah sah menyandang nama nyonya Faris Pradana.


"Jangan meledek." merisca memukul lengan mexca.


"Kau yang mulai." jawab mexca sambil tersenyum mencubit pipi adiknya itu.


Setelah 2 jam akhirnya acara 7 bulanan dan juga perayaan maulid Nabi pun selesai, semua orang kembali ke rumah mereka dan hanya tinggal anggota keluarga saja. Mexca membawah dinda naik ke kamarnya untuk istirahat agar dia tak kelelahan karna menanggapi dan menyambut banyak orang sejak dari sore hari.

__ADS_1


__ADS_2