
Brrrrtt
"Assalamu'alaikum ma, ada apa ya ma? Apa ada yang bisa Dinda bantu ma?" tanya dinda dengan suara sipan pada seseorang yang sedang menghubunginya lewat panggilan telpon.
"Ya, wa'alaikumsalam. Bisakah mama minta tolong untuk bertemu dan bicara sama kamu nak?" tanya seorang ibu pada dinda dengan sopan juga.
"Tentu saja ma, mama datang saja ke rumah Dinda atau mau Dinda nemuin mama dimana gitu? Biar Dinda kesana nemuin mama." tawar dinda untuk membuat janji temu.
"Apa nanti suamimu gak marah sama mama?" tanya ibu itu ragu ingin mengajak dinda bertemu.
"Dinda akan minta ijin sama mas Abi. Dinda yakin mas Abi gak mungkin marah dan akan mengijinkan Dinda ketemu mama, mau ketemu dimana ma? Nanti Dinda kesana." jawab dinda meyakinkan.
Sesuai dengan jam dan tempat yang telah ditentukan dinda melajukan mobilnya ke sebuah taman yang terletak dipinggir kota untuk bertemu dengan seseorang yang tadi menghubunginya.
Yang sebelumnya dinda sudah menghubungi suaminya yang sekarang lagi berada diluar kota untuk mengecek perusahaan cabang yang ada di kota itu, dan setelah mendapatkan ijin dari suaminya dinda pun menemui wanita yang dipanggilnya mama, yang sudah menghubunginya tadi pagi.
"Assalamu'alaikum ma." sapa salam dinda saat dia melihat dan melangkah mendekati wanita itu.
"Wa'alaikumsalam Dinda." jawanita itu yang langsung memeluk dinda dengan erat.
"Maafkan mama ya Din, karna anak mama kamu jadi banyak menderita dan juga mengalami hal buruk." ucap wanita itu dengan sedih dan tak pernah menyangka kalo anaknya akan berbuat seperti itu.
Dinda menatap wanita yang ada didepannya saat ini dengan sayang dan tak ada sedikitpun rasa kesal atau pun benci, walo anaknya sudah bikin dia susah dan juga telah menjebaknya dulu. Bagi dinda bram adalah bram dan mamanya adalah mamanya, dinda hanya kesal pada bram bukan orang tuanya.
"Ma, bagi Dinda semua adalah masa lalu. Jika dulu Dinda mengalami hal buruk karna mas Bram, setidaknya sekarang Dinda telah menemukan orang yang sangat baik seperti mas Abi." jelas dinda pada mamanya bram.
"Itulah nak, kenapa mama menghubungi kamu tadi dan mama mau meminta to long sama kamu soal anak mama Bram." jelas mama bram menunduk
"Maksud mama apa? Emang ada apa dengan mas Bram ma?" dinda bingung menatap mama bram.
Setelah mamanya bram menceritakan apa tujuannya menemui dinda. Dinda pun merasa sedih dan tak tega dengan keluarga bram yang semakin berantakan.
"Maaf ma Dinda gak tau kalo semuanya jadi seperti itu. Dinda benar - benar minta maaf ma." dinda menggenggam tangan mama bram dengan erat. sambil menatap sedih melihat wanita parubya itu meneteskan air mata. Karna dinda teringat akan alm. ibunya.
"Dinda berdo'a supaya mas Bram dan mbak Monica bisa berbaikan lagi ma, dan dinda akan coba bicarakan sama mas Abi soal mas Bram saat mas Abi nanti pulang." ucap dinda pada mama bram.
"Maafkan mama sayang, kamu emang anak yang baik. Semoga suamimu bisa membantu dan juga memaafkan semua perbuatan anak mama." harapan mama bram sebelum dia pergi.
"Insya Allah ma, Dinda akan bicarakan sama mas Abi nanti." ucap dinda, dan dia mengantarkan mama bram pulang.
__ADS_1
*
*
*
"Nak Dinda ndak bibi sama mamang pergi kepengajian rutin dulunya." pamit bi sumi dan mang ujang untuk ikut pengajian rutin.
"Iya bi, mang. Dinda ndak bisa ikut karna barusan mas Abi bilang mau nyampek, takut ndak ketemu Dinda nanti kalo nyampek rumah."
"Iya. nak Dinda ndak apa, mending nungguin suami pulang. Kasian nanti nyampek rumah gak ketemu istri dia." ucap mang ujang yang dijawab dinda dengan senyuman dan anggukan kepala.
Setelah bi sumi dan juga mang ujang berangkat dinda masuk lagi kedalam rumah serta menyiapkan makan malam untuk mexca. Dinda menata semua menu diatas meja makan dengan lengkap.
Bruuuummm
Ckiiiit
Suara deru mobil yang terdengar oleh dinda membuatnya bahagia, senyum mengembang dan dia langsung lari meninggalkan acara tv kesukaanya menuju ke arah pintu tengah yang langsung terhubung dengan garansi untuk menyambut orang yang sudah 3 hari tak dilihatnya.
Dinda berhenti tepat di depan pintu, jantungnya berdebar seolah dia akan menemui cinta pertamanya.
Sumringah dan dinda menampakkan deretan giginya yang berjajar rapi, dengan wajah yang berbungah - bungah menyambut kedatangan orang spesial dalam hidupnya.
"Assalamu'alaikum sayangnya mas, muah.!" salam mexca saat dia membuka pintu dan disambut oleh istri tersayangnya dengan senyuman yang sangat terlihat begitu bahagia dengan kedatangannya.
"Wa'alaikumsalam mas." jawab dinda yang tak melepas senyuman diwajahnya.
"Apa kamu begitu menantikan mas pulang sayang, sampai ini pipi ditarik terus hem.?" mexca memeluk istrinya dan menundukkan kepala menyatukan keningnya dengan kening dinda.
"Mas Abi mau makan makan dulu? Sudah Dinda siapkan makanannya di atas meja makan." tanya dinda yang juga memeluk mexca.
"Mas mandi saja dulu karna mas gerah OK sayang, cup" mexca mengecup bibir dinda sekilas lalu mereka naik keatas kedalam kamarnya.
"Mas, bajunya Dinda taruh diatas tempat tidur ya? Dinda tunggu dibawah.!" teriak dinda pada mexca yang berada didalam kamar mandi.
"Iya sayang.!" teriak mexca dari dalam.
Selang waktu 30 menit akhirnya mexca menyusul dinda kebawah dan mexca makan malam yang dilayani serta ditemani oleh dinda yang dengan setia mengambilkan apa pun yang mau dimakan oleh mexca. Melihat itu membuat mexca merasa spesial dan sangat bahagia.
__ADS_1
Malam semakin larut, mexca yang merasa lelah tak sanggup lagi menahan tubuhnya, dia merebahkan diri diatas ranjang yang empuk dengan nyaman. Perlahan mata mexca mulai tertutup, namun seketika terbuka lagi saat dia merasakan sentuhan lembut diareah bawahnya yang terasa menggelitik.
Mexca membuka matanya lebar, karna dia terkejud dengan ulah istrinya yang begitu selesai membersihkan dirinya langsung membuatnya yang lelah merasa mendapatkan asupan energi.
"Sayang, kamu yang minta dan mualia sendiri." bisik mexca yang menindih tubuh istrinya.
Pandangan sayu dan senyuman dari bibir yang merekah membuat mexca tak tahan untuk tidak menyentuhnya. Mexca pun langsung meng*lum bibir dinda dengan sangat dahsyat.
"Akh." leng**han dari dinda keluar di sela - selalu ci*mannya.
Tangan mexca berhasil membuka tali baju tidur dinda dan dia sangat terkejud saat melihat dada dinda yang sangat menantang dan terlibat lebih besar dari biasanya, serta tanpa ada penutup lagi saat dibuka, seolah dinda emang sengaja menyiapkan semuanya untuk mexca.
"Apa kamu sudah menyiapkan ini untukku sayang? Kamu sudah merencanakannya?" tanya mexca dengan menatap wajah dinda yang tampak bersemu merah karna malu rencananya diketahui.
Mexca tak menunggu lama dia langsung meraup kedua buah dada dinda dengan sangat rakus, seolah bertahun - tahun tak diberi makan.
"Akh, mas." suara dinda keluar begitu mexca memainkan bagian dadanya dengan sangat intens.
Tubuh dinda mengejang dengan ulah mexca. Dan mexca langsung menggigit puncuk kecil yang sangat menggoda didada dinda itu, dan alkhasil itu membuat tubuh dinda semakin menegang dan menampakkan dadanya yang kenal itu semakin membesar.
"Akh, mas ber-hen-ti dulu." sura dinda mulai terbata merasakan kenikmatan karna ulah mexca.
Mexca menatap dinda dengan nafas yang sudah memburu dan terasa panas menyapu wajah dinda. Seketika dinda mendorong tubuh mexca, dengan bingung mexca menatap wajah cantik istrinya yang saat ini berada diatas tubuhnya.
"Pejamkan mata mas Abi." perinta dinda dan walo bingung mexca pun memejamkan matanya.
Dinda mendekatkan wajahnya saat mexca suah menutup mata, dia men*cium bibir mexca dan menggigit bibir mexca serta mengh*sapnya dengan lembut.
"Akh.!" lengk*han keluar dari mulut mexca yang menerima serangan dari sang istri.
Mexca semakin melayang dibuat dinda, dan dada mereka yang saling bergesekan membuat mexca semakin menikmati permainan dari istrinya.
"Dinda, aku mencintaimu sayang." kalimat mexca disambut dengan senyuman dan ciu*an dari dinda.
Entah apa yang terjadi, mexca yang merasa bingung dengan serangan dari istrinya hanya bisa menikmatinya saja. Seolah ada cinta yang membara dalam tubuh istrinya yang mempu mengusir rasa lelah mexca.
Mexca yang mendapati perlakuan spesial dan permainan yang luar biasa dari sang istri hanya bisa menerima dan menikmati semua permainannya. Hingga dinda menggoyang tubuh bagian bawah mexca yang seolah ditarik serta dicengkram secara bersamaan membuat mexca melauang tinggi kenirwana.
"Dinda, sayang.!" panggil mexca dengan nada beratnya yang juga ikut bergerak berpadu dengan gerakan dinda seolah mereka mendapatan gerakan yang seirama hingga keduanya mencapai alam nirwana bersamaan.
__ADS_1
Tubuh dinda lungkai dan ambruk diatas tubuh mexca dan menyusupkan wajahnya dileher mexca dengan sisa - sisa kenikmatan serta nafas yang berusahan dikembalikan normal.