(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Ngidam


__ADS_3

Kabar kehamilan dinda sudah didengar oleh semua orang, sehingga membuat didi jadi semakin bersemangat memacu tenaganya setiap saat agar bisa mengejar keberhasilan mexca, sebab dia adalah yang pertama jadi pasangan pengantin.


Semua orang berbahagia dan mengucapkan selamat pada dinda termasuk para teman - temannya di kantor. Dan hampir setiap kali jam makan siang dinda selalu lari melesat hilang dari pandangan mexca walo meja kerjanya berada didalam ruangan mexca, dinda lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya dengan teman - temannya.


Kadang mexca bingung dengan dinda seolah suasana hatinya mudah merubah, dan tingkahnya jadi tomboy, dia suka naik motor walo sedang berbusana, suka manjat pohon mangga sendiri walo akhirnya gak bisa turun, bahkan pernah sampai nangis karna digigit semut saat manjat pohon rambutan.


Apa pun yang dilakukan oleh dinda jadi terlihat aneh dan kadang berbahaya, seperti saat olah raga, dia malah memilih olah raga panjat tebing dari pada yoga. Bahkan dia juga pernah ikut olah raga Muay Thai diusia kehamilannya 3 bulan. Dan giliran disuruh ikut yoga dia justru memilih Antigravity Yoga. Yang membuat mexca ngeri lihatnya karna dinda harus bergelantungan dengan kepala terbalik yang bertumpuh pada sebuah tali.


Mexca sudah habis akal kalo berurusan dengan dinda dan kehamilannya, bahkan karna takut mexca diam - diam konsul pada dokter kandungan soal aktifitas dinda yang terlihat aneh tanpa sepengatuan dinda, karna mexca gak ingin istri dan calon bayinya dalam bahaya.


Mexca mengakui belakangan ini dinda terlihat sangat energik, walo perut buncitnya mulai terlihat mencuat membentuk gundukan dibalik gaunnya. Tak ada lagi dinda istrinya yang dulu kalem, sekarang yang ada adalah dinda sang ibu, karna setiap hari dia akan mengomel tentang banyak hal pada mexca, jika dia dilarang.


"Sayang ini kehamilanmu yang pertama dan ini perut buncitmu sudah terlihat apa gak sebaiknya kita berangkat ke kantor bersama saja dengan mobil, akan lebih aman sayang buat kamu dan juga calon anak kita." saran mexca yang selalu merasa khawatir jika dinda pergi ke kantor dengan mengendarai motor.


"Gak mau emangnya kenapa, dinda aja nyaman kok, bisa merasakan angin semilir." jawab dinda ketus pada mexca.


"Naik mobil juga sama sayang, bisa merasakan angin semilir kalo kaca jendelanya dibuka." rayu mexca agar dinda mau berangkat ke kantor pagi ini semobil dengannya.


"Dinda gak mau.! Mas Abi kenapa sih?!" kesal dinda pada mexca yang dianggap memaksa dan melarangnya agar tak naik motor.


"Ya Allah, aku tak tau kalo istriku ini ternyata memiliki sisi ini. Dan sejak kapan dia bisa mengendarai motor king dan juga ninja seperti itu? Haaa." mexca menggumam dan bertanya - tanya dalam hati sambil menghela nafas dalam.



Adinda dengan motor king-nya di area parkir perusahaan.



Adinda dengan motor ninja-nya di area parkir perusahaan.


Mexca tak bisa lagi berkata - kata jika berhadapan dengan dinda istrinya, mexca hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah atas apa yang selalu dilakukan oleh dinda.


Setiap hari jantung mexca dibuat berdebar dan hampir copot jika dia melihat gaya dan cara istrinya mengendarai motornya di jalan raya, sampai - sampai mexca pernah kenak omel karna tanpa sengaja menggores mobil pengguna jalan lain, karna dia gagal fokus saat merhatikan dinda.


Dan hari ini lagi - lagi dinda bikin ulah yang membuat mexca tak bisa konsen dengan dirinya saat melihat dinda menyelip diantara truck yang berhimpitan. Los jantung mexca copot dan kembali lagi ketempatnya. Seketika mexca meminggirkan mobilnya untuk menormalkan detak jantungnya yang seolah telah bergeser dari poros asalnya.


*


*


*


"Sayang!" panggil mexca begitu dia sampai di kantor dan masuk ke dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


"Ya? Hem, lebih cepet sampek kalo dengan motorkan. Cobak kalo tadi aku berangkat bareng mas Abi, pasti aku belum mengerjakan apa pun." jawab dinda santai dengan senyum yang sumringah.


"Dasar bocah nakal.! gak tau apa dia kalo hampir bikin aku mati jantungan.!?" gumam mexca kesal dalam hati menatap dinda dengan dalam.


"Kenapa? Cepat duduk dan kerja, tadi Merlin sudah menaruk beberapa berkas yang harus mas tanda tangani dan koreksi tu." ucap dinda memberi tau dengan menggerakkan dagunya.


"Bangun.!" perintah mexca pada dinda, dan seketika dinda memundurkan kursinya lalu berdiri menghadap mexca, karna dinda selalu patuh pada perintah mexca jika itu bukan perintah larangan untuk bermotor.


"Kenapa mas? Aku tau mas Abi sayang sama aku, tapi jangan manja begini, ini di kantor loh." ucap dinda saat mexca memeluknya dengan erat.


"Kenapa? Kita juga sudah pernah melakukannya di sini dulu. Dan tolong jangan buat aku selalu khawatir serta takut melihatmu di jalan raya. Berkendaralah dengan pelan dan hati - hati." permohonan mexca pada dinda yang masik dalam posisi memeluk dinda.


"Hihihi... Iya." dinda mengerti kalo mexca tadi ternyata mengawasinya, walo berangkat lebih dulu dari pada dirinya.


Setelah kegiata dan kesibukan di kantor selesai, semua orang pada pulang ke rumah mereka masing - masing, termasuk dinda dan mexca. Namun dinda memintak ijin pada mexca untuk berbelanja sebentar dengan merisca, yang datang menjemput dinda di kantor.


Mexca yang mengawasi mereka bermotor tertawa geli melihat reaksi merisca yang teriak - teriak karna diboncengin dinda. Terlihat jelas diwajah merisca ada rasa ngeri dan juga takjub.


*


*


*


"Asalamu'alaikum bi." ucap salam dinda saat pulang dan mendapati bi sumi di dapur.


"Nak Dinda baik - baik saja? Ayo sini bibi bawakan tasnya, cepat mandi dan makan bibi akan siapkan. Karna nak Abi juga belum makan." jelas bi sumi pada dinda, dan sama dinda dianggukin.


Setelah selesai makan malam dinda dan mexca menghabiskan waktu dengan bersantai menonton tv, sementara bi sumi sudah kembali ke rumah belakang. Karna saat renovasi rumah, mexca membangun rumah tersendiri untuk bi sumi di belakang rumah utama.


Mexca menikmati acara yang ditayangkan di tv sambil tangannya mengusuk perut dinda yang mulai membuncit karna sudah masuk minggu ke 25. Dinda menikmati belaian dari tangan mexca diperutnya sambil menyandarkan kepalanya dibahu mexca.


Sedetik kemudian sikap dinda yang kalem itu tiba - tiba saja berubah, dia bilang ingin sekali lihat mexca jadi panda. Dan dia langsung menyeret mexca naik ke kamar mereka untuk lihat acara tv di kamar saja, karna dia ingin lihat mexca si panda.


Didalam kamar


Mexca : Apa ini sayang? (bungkusan kotak besar)


Adinda : Buka aja


Mexca : Ha? (mata mexca membelalak)


Adinda : Ayo pakek, seperti yang aku bilang dibawah tadi kalo aku ingin lihat mexca si panda. ๐Ÿ˜

__ADS_1


Mexca : Tapi sayang masak harus pakek beginian malam - malam, panas sayang.


Adinda : Gak papa aku besarin ac-nya.


Mexca : Ini orang dapat dari mana, dan kapan bawahnya? Kok aku gak tau (gumam dalam hati)


Adinda : Ayo..


Mexca : Ini agak gimana ya?


Adinda : Aku ingin lihat mas Abi pakek itu (wajah sedih) ๐Ÿ˜”


Mexca : ๐Ÿคจ


Adinda : Mas Abi gak mau ya?


Mexca : Mau kok sayang, ini mas pakek ya sekarang.


Adinda : ๐Ÿคฉ (mata berbinar)


Mexca : Kalo sampek ngambek bisa bahaya nanti. (suara hati)


Adinda : ๐Ÿ˜Š


Mexca : Untung cinta, kalo gak aku gak bakal mau makek beginian (gumam dalam hati)


Adinda : Yeeee, imut banget. Duduk sini


Dinda mendudukkan mexca di sofa, lalu dinda menyalakan tv di acara yang tadi ditonton dan dinda naik kepangkuan mexca, menatap dan mengelus wajah mexca yang tertutup oleh kostum panda.


"Lucu, gemas cup" dinda mengecup wajah mexca.


"Sayang gak berasa." ucap mexca memelas


"Apanya?" dinda bingung karna nada suara mexca terdengar sedih.


"Ciumannya, karna terhalang oleh kostum yang mas pakek." keluh mexca lagi.


"Gak papa, kan aku cuma mau cium pandanya bukan mas Abi." ketus dinda dan asyik dengan wajah mexca yang makek kostum lagi.


"Sabar mex, ini demi anakmu." gumam mexca mengeluh dalam hati sambil menghela nafas dalam berkali - kali.


Tak cukup hanya duduk diam, dinda juga menyuruh mexca berjoget dan bergoyang - goyang, serta lari kecil mengelilingi sofa yang di duduki dinda.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama mexca mengenakan kostum itu dan berlagak serta bergaya dengan kostum itu, sampai dinda sudah terlelap dipangkuannya. Mexca mengangakat tubuh dinda pelan untuk membaringkannya di tempat tidur.


"Ya Allah, akhirnya berakhir juga penderitaanku." mexca melepas kostumnya dan tubuhnya sudah bermandikan keringat.


__ADS_2