
"Bi, dimana Dinda kok pagi - pagi sudah gak ada?" mexca bertanya pada bi sumi karna tak bisa menemukan dinda dimanapun.
"Nak Dinda ke rumah pak rt nak Abi, sama suami bibi." jawab bi sumi sambil mengulek bumbu di cobek.
"Ngapain kesana Bi? Dan itu bibi bikin apa?" tanya mexca lagi yang merasa heran pada sikap istrinya semalam dan juga tadi sehabis shalat subuh.
"Ya bibi mah ndak tau nak Abi, dan ini bibi bikin bumbu rujak. Karna tadi katanya nak Dinda mau bikin pepes ayam bumbu rujak." jelas bi sumi pada mexca.
"Ya sudah bibi lanjut lagi, mexca mau nyusulin ke rumah pak rt." mexca pun langsung pergi setelah bicara.
*
*
*
"Ya, ya mang jangan yang itu, yang sebelahanya saja." suara dinda terdengar begitu keras.
"Yang ini ya?" mang ujang juga ikutan bertanya dengan teriak.
"Pagi nak Mexca, nyariin nak Dinda ya?" tegur pak rt pada mexca yang terlihat berjalan kearah rumahnya.
"Iya, pagi pak rt." jawab mexca dengan senyum rama sambil menjabat tangan pak rt.
"Nak Dinda lagi ada di belakang rumah itu sama ujang, mereka ngambil mangga buat sampuran bumbu rujak katanya." tunjuk pak rt pada sosok gadis yang heboh dengan mendongak dan tangan yang menyatu membentuk ancang - ancang siap menangkap sesuatu dari atas.
"Saya permisi melihat Dinda pak rt." ijin mexca yang dianggukin oleh pak rt.
"Lagi ngapain sayang?" tanya mexca begitu dia dekat dengan dinda.
"Eh mas? Lagi sambil mangga buat campuran bumbu rujak." jawab dinda tanpa melihat mexca dan hanya meliriknya saja.
*
*
*
Sesampainya dirumah dinda mengupas mangganya dan memasrah mangga mudah itu dengan sesekali memakannyan. Sementara mexca yang ikut mengupas mangga itu mengerutkan keningnya merasakan betapa asamnya mangga itu, namun dinda dengan nikmat mengunyah mangga itu seolah tak terasa asam.
"Sayang, emang gak asam tu dimakan begitu? Mas yang lihat aja rasanya ngilu." tanya mexca pada dinda yang mengunyah dengan nikmat.
"Kenapa? Ini enak kok, manis dan juga segar. Mas Cobain aja kalo gak percaya." jelas dinda yang membuat mexca seolah mau meneteskan air liurnya karna merasakan betapa asamnya jika dimakan.
"Enggaj deh sayang, mas gak suka kalo masih mudah begini, pasti asam rasanya." tolak mexca yang disenyumin sama dinda.
Setelah selessi dikupas dan dipasrah semua angga itu dicampur dengan bumbu rujak yang tadi dibuat oleh bi sumi laku dicampurkan juga daging ayamnya dan dibungkus dengan daun pisang serta dikukus.
Selang waktu 1 jam akhirnya masakan ayam pepes mangga muda itu matang. Dinda memakan masakan itu dengan lahap, mexca yang melihat merasa aneh dengan selera makan istrinya yang tak suka dengan nasi dan hanya makan ikan saja.
"Mas dinda duduk di sini ya?" tanya dinda menunjuk kaki mexca dan dianggukin sama mexca.
"Mas, besok sudah mulai kerja lagi dsn sibuk lagi, bisakah besok aku kerja di ruangan mas Abi?" tanya sambil mengalungkan tangannya di leher mexca dan duduk dipangkuan mexca.
"Sayang, kamu gak papa kan?" tanya mexca sambil menatap dinda penuh tanya.
__ADS_1
"Kenapa? Aku gak papa kok, dan jangan menatapku begitu." keluh dinda yang gak mau ditatap oleh mexca.
"Kenapa? Kan gak papa, yang ku lihat juga istriku sendiri." jelas mexca sambil tangan kanannya mengusap pipi dinda yang halus.
"Jangan, aku malu." jawab dinda dengan wajah menunduk dan bersemu karna malu.
"Malu? Kenapa harus malu sayang, bukankah semalam kamu yang menikmati tubuhnya dengan sangat liar bahkan sampek 2 kali." ucap mexca dengan memeluk pinggang dinda yang duduk dipangkuannya.
"Mas, jang dikatakan." dinda mendorong lembut dada mexca dan itu membuat mexca sangat ingin merenghuh istrinya lagi, karna dinda terlihat sangat menggemaskan jika malau - malu.
Mexca memegang pipi dinda dan tangan satunya merangkul pinggangnya, lalu dia mendekatkan bibirnya dengan bibir dinda. Mexca men*ium bibir dinda dengan lembut dan akhirnya berubah memanas, mexca mengabaikan siaran bola kesukaannyaa. Kini yang terjadi bukan orang yang menonton tv, melainkan tv yang sedang menonton mereka yang sedang berc*nta di sofa didalam kamar mereka dengan hot."
*
*
*
Sesuai dengan permintaan dinda pagi itu meja kerja dinda berpindah ke ruangan mexca, ya ruang kerja mexca emang luas. Dinda. mengerjakan pekerjaannya dengan sangat serious begitu juga dengan mexca. Dalam ruangan itu yang terasa hanya hening dan suara - sura kertas dari dinda yang melihat dan menggambar desain, serta ketukan bolpoin dari mexca yang menanda tangan berkas serta mengkoreksi semua laporan.
Greb
Sontak mexca terkejud mendapat pelukan dari belakang dan kecupan dipipi yang diberikan oleh dinda.
"Sayang kamu kenapa hem?" mexca meletakkan alat tulisnya dan memengang tangan dinda yang melingkar dilehernya.
"Apa?!" mexca terkejud dengan permintaan apa yang telah dibisikkan oleh dinda padanya.
"Jangan takut aku sudah mengunci pintunya, dan juga mengirim pesan sama Merlin kalo aku inging menghabiskan waktu istirahat siang dengan mas Abi."jelas dinda dan mereka pun melakulan permainan dengan duduk di kursi kerja mexca.
"Aduh, ugh.!" keluh dinda yang tiba - tiba memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Sayang kenapa? Apa yang sakit?" tangan mexca dengan panaik yang melihat dinda mengeluh serta wajahnya terlihat pucat.
"Perut dinda sakit banget mas." keluh dinda lagi dan mulai menangis karna menahan sakit yang luar biasa.
"Baiklah, ayo ke rumah sakit sekarang." mexca langsung mengangkat tubuh dinda dan menyerahkan pekerjaan pada fatis.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit mexca yang melihat dinda terus mengeluh kesakitan merasa semakin kacau, mexca melajukan mobilnya dengan sangat secap.
*
*
*
"Dokter tolong istri saya.!" teriak mexca yang menggendong dinda ala bridal style lari masuk rumah sakit.
Beberpa perawat yang membantu dan membawah dinda ke dalam ruangan untuk dilakukan pemerimsaan, sementara mexca yang menunggu duluar merasa cemas. Mexca mengacak - acak rambutnya karna merasa beesalah pada dinda dan merasa gagal menjaga dinda. Dalam hati mexca terus merutuki dirinya sendiri.
"Keluarga bu Adinda!" panggil perawat yang keluar dari ruangan adinda.
"Iya, saya suaminya." mexca langsung mendekati perawat itu.
"Bapak ikut saya ke ruangan dokter pak, mari." ajak perawat itu.
__ADS_1
*
*
*
"Donter ini keluarga bu Adinda." ucap perawat itu pada seorang dokter yang duduk dikursinya dengan jas putihnya.
"Iya, silakan masuk tuan." donter itu mempersilakan mexca masuk dan duduk.
"Apa yang terjadi dengan istri saya dok?" tanya mexca yang terdengar tak sabar segera ingin tau apa yang terjadi dan sedang sakit apa istrinya.
"Tenanglah tuan, istri anda tak sakit apa pun. Dian sehat dan tak ada yang perlu dikhawatirkan." jelas dokter itu, yang membuat mexca semakin bingung.
"Kalo dia tak sakit lalu kenapa dia mengeluh perutnya sakit dan wajahnya pucat dok?" tanya mexca yang tak sabar dan juga bingung.
"Iya dia tak sakit, cuma saya sarankan kepada anda mulai sekarang harus bisa menahan hasr*t anda. Boleh anda melalukan hubungan suami istri tapi harus berhati - hati, karna usia kehamilan istri anda masih rawan. Sekarang umur kehamilannya baru 9 minggu." jelas dokter itu pada mexca, dan seketika mexca membulatkan matanya mendengar kata kehamilan.
"Jadi istri saya hamil?" tanya mexca memastikan takut apa yang didengarnya salah.
"Benar, dan usianya baru 9 minggu. Janinnya bisa dipertahankan, cuma anda harus berhati - hati saat melakukannya lagi. Sekarang istri anda sedang tertidur, saya sudah memberinya obat penguag kandungan. Nanti setelah istri anda bangun dan sudah tak papa boleh pulang." jelas dokter itu lagi sambil menunjukan hasil usg pada mexca.
*
*
*
"Sayang anak papa. Kamu harus bertahan dan berjuang ya sayang, jangan tinggalkan papa. Papa ingin melihatmu." bisik mexca di perut rata dinda serta menciumnya berkali - kali.
"Sayang terima kasih." mexca mengecup kening dinda yang sedang terlelap di bad ruang perawatan rumah sakit, dengan tangan yang terpasanh infus.
Mexca menatap wajah dinda yang tak berdaya dan mata terpejam itu, tanpa sadar dia meneteskan air matanya. Dia mengingat kembali masa - masa sulit saat dia menanggung sendiri rasa sakit akibat mencintai adinda yang ternyata istri orang lain, dan sekarang malah didalam diri adinda ada benihnya yang tertanam dan berkembang di sana.
Mexca mengusap pipi dinda yang halus dengan senyum terulas dibinirnya. Mexca duduk dikursi menghadpa tempat tidur dinda dan menggenggam tangan dinda yang bebas dari infus, dan terus mengecup tangan itu sehingga membuat dinda tersadar dari tidurnya.
"Mas?" panggil dinda dengan suara parau.
"Sayang maaf, mas membangunkanmu ya?" tanya mexca dengan membelai pipi dinda.
"Gak kok mas, tapi ada apa dengan ku mas? Kenapa aku sekarang diinfus? Aku gak sakit parahkan mas? Terus kapan aku boleh pulang?"
"Ssstt... Satu - satu sayang." ucap mexca menempelkan telunjuknya di bibir dinda.
"Kamu gak papa, bentar lagi bisa pulang jika infus itu habis, dan lagi kamu gak sedang sakit apa pun sayang. Tapi kamu hamil, dan usia kehamilanmu saat ini 9 minggu. Ini hasil usg-nya." jelas mexaca serta menunjukkan hasil dari usg dinda.
"Jadi, aku hamil anak mas Abi?" tanya dinda dengan mata berkaca - kaca.
"Iya sayang, itu anak mas. Anak kita." ucap mexca dengan tersenyum.
"Alhamdulillah. A - aku telah jadi wanita sempurna, aku akan jadi ibu." dinda pun menangis, dan mexca menghapus air mata dinda.
"Aku mencintaimu mas." ucap dinda yang masih menangis dan memegang perut datarnya.
"Ya, mas juga mencintaimu sayang." ucap mexca yang langsung menc*um bibir dinda dan dinda mengalungkan tangannya dileher mexca seolah tak mau melepas ci*mannya dengan mexca.
__ADS_1