
"Masya Allah apa tadi? Kenapa jantungku berdebar hanya dengan melihatnya mengedipkan mata. Apa aku sudah gila? Iya, kayaknya aku emang sudah gila. Kata katanya, godaannya. Aaaaah...!!" gerutu ku dan teriakan pelanku yang melihat Mexca sudah pergi meninggalkanku sendiri di atap, dan aku menututup mukaku dengan kedua tanganku, panas ku rasakan di seluruh wajahku. Ada rasa bahagia, senang dan juga menggelitik di hatiku.
Setelah kejadian di atap itu, aku jadi salting tiap kali melihatnya, dan jantungku juga tak bisa ku kendalikan. Ada rasa tamak dan serakah dalam benakku, yang ingin rasanya aku sedikit melanggar aturan yang ku buat sendiri. Melewati batas dari apa yang sudah ku atur dari dulu. Mencintai dan ingin memiliki sesuatu yang sebenarnya bukan untuku. Dan melanggar norma agamaku.
"Ya Allah Ya Rabbku, salahkan jika aku harus memelihara dan membiarkan benih ini tumbuh dalam hatiku, haruskah aku menguburnya dan berpaling, atau kah aku terus berjalan mengikuti panggilan hati. Apa yang harus ku lakukan dalam hal ini. Apakah ini perasaan yang tumbuh karna-Mu, ataukah hanya rasa yang tumbuh karna hasratku saja? Rabbi, Rabbi, Rabbi... Bimbinglah hamba-Mu dan buat aku mampu mengendalikan perasaanku. Amin.!" pintaku di setiap do'a yang paling sering ku ucapkan, agar aku tak salah melangkah.
Ku tutup sujudku dan ku rebahkan tubuhku sambil menatap langit - langit kamarku. Aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, walo aku pernah merasakan jatuh cinta pada suamiku dulu, tapi ini adalah perasaan yang baru bagiku. Seolah aku sedang berlari dalam sebuah taman yang berduri namun tak terasa sakitnya.
Didalam angan aku berfikir, ini datang dari Rabbku ataukah hanya dari nafsuku saja. Aku tak bisa membedakan perasaan yang begitu baru bagiku ini.
Pagi itu, entah apa yang terjadi aku berangkat kerja tanpa bekal dan juga aku tak lagi beristirahat di atap gedung karna aku sengaja ingin menghindari orang itu (Mexca). Aku gak mau membuat dia berharap atau membuat hatiku sendiri yang berharap. Aku makan di kantin bersama dengan teman - teman kerjaku yang lain, dan kami berbincang tentang banyak hal.
Dua bulan berlalu sejak kejadian itu terlewat, dan kesibukanku lumayan banyak karna mereka mau mengeluarkan brand baru yang akan diluncurkan ke manca negara. Semua orang pada sibuk dengan urusan mereka masing - masing. Sampai siang itu ada pengumuman kalao pimpinan ingin mengadakan rapat dadakan dengan para ketua tim atau regu pada setiap devisi untuk membahas masalah ide pembuatan, pemasaran dan target yang akan dituju.
Tepat pukul 3 sore kami semua sudah berkumpul dalam ruang rapat, hanya tinggal menunggu pimpinan datang. Tak Lama selang itu dia datang bersama dengan Merlin sekretarisnya dan juga Faris asistennya.
Saat rapat berlangsung ku tatap dia seolah tak ada semangat diwajahnya, dan saat ku lihat dia fokus pada rapatnya serta keseriusannya itu membuat aku kagum. Dia bukan hanya seorang pimpinan yang baik, tapi dia adalah pembuat keputusan yang bijak dan pencetus ide - ide yang sangat menakjupkan.
Saat selesai rapat, tanpa sengaja aku melihatnya sekilas dan ada kesedihan di sorot matanya yang menatapku. Aku tak berani melihatnya lagi, dan langsung pergi keluar ruangan bersama dengan yang lainnya.
"Kenapa ya, kok dia terlihat seolah sedang sedih? Apa itu karna aku? Atau apa dia sedang sakit?" tanyaku mencobak menebak - nebak dalam hati saat aku sudah duduk di ruang kerjaku.
"Ih, kenapa aku jadi memikirkan dia. Itukan bukan urusanku." ku usap kasar mukaku dan aku pun tersenyum geli dengan diriku sendiri. Lalu aku melanjutkan sedikit pekerjaan sebelum aku pulang.
Pukul 6 sore, aku merapikan semua meja kerjaku dan aku bersiap pulang. Karna semua rekan kerjaku juga pada pulang. Dalam perjalanan pulang aku terus berfikir dan teringat wajah sedih Mexca saat dia menatapku setelah rapat sore tadi.
"Kenapa non, kok bibi perhatiin senyum - senyum sendiri?" tegur bi Sumi yang tiba - tiba membuyarkan lamunanku. Saat aku duduk di meja makan sehabis makan malam.
Aku pun menceritakan pada bi Sumi tentang dia yang awalnya ceria jadi tiba - tiba suram dan sedih tanpa ku ketahui sebabnya. Dan bi Sumi menyarankan untuk aku menghiburnya dan mencobak bertanya apa yang terjadi.
Setelah mendengar saran bi Sumi, pagi itu setelah selesai sholat subuh aku memasak dan setelah berfikir semalaman aku berniat untuk masak makan siang untuknya, dan akan ku antarkan ke atap gedung seperti biasa ku lakukan.
Saat aku memasuki kantor suasana sangat sepi karna masih belum banyak yang datang. Aku langsung masuk ke dalam ruanganku dan mengerjakan tugasku, termasuk hasil desain yang sudah dibuat untuk ku teliti kekurangannya.
__ADS_1
Tepat pada saat makan siang teman yang biasa mengajak aku kekantin sudah menyusulku ke ruangan, dan aku bilang padanya kalo aku tidak ikut dengan mereka, karna aku membawah bekal lagi dari rumah.
Dan setelah sepi aku berjalan pelan menuju tangga darurat untuk bisa sampai ke atap gedung. Namun aku tak melihat siapapun di sana. Aku sudah keliling sampai pojok atap dan emang hanya ada aku sendiri.
Sang Abigail
"Hem... Suasana atap emang selalu menyenangkan dan juga damai. Sholat ditempat terbuka emang sangat nikmat." ku tatap langit yang jau disana sangat indah, yang tak seorang pun mampu mencapainya dengan tangan kosong.
"Kenapa denganku, apa hanya aku saja yang berdebar saat teringat akan pernyataannya yang waktu itu? Dia pasti mengucapkan itu hanya asal saja." ku dengar suara seseorang yang mengeluh atas tindakan orang lain padanya, dan terdengar putus asah.
"Eh, siapa yang menggerutu begitu? Ku pikir hanya ada aku sendirian di sini." gumamku dan aku mengintip siapa yang ada di atap selain diriku.
"Adinda? Apa yang barusan dia gumamkan. Apa itu karna pernyataan cintaku yang asal - asalan waktu menengahi dia dan mantan suaminya?" tanyaku dalam hatiku.
"Baiklah Mex, kau akan tau jika mencari taunya." tekadku dan aku pun memberanikan diri menggodanya.
Alangkah terkejudnya aku saat melihat ekspresi wajah Adinda yang bersemu merah sambil tertunduk malu, karna kata kataku.
"Subhanallah.. kenapa Engkau menciptakan orang yang begitu sempurna, dia bagaikan bunga yang merekah. Ingin rasanya aku meraup seluruh dirinya." gumamku dalam hati yang tau bahwa dia juga merasakan apa yang ku rasakan.
Ku kedipkan mata setelah aku menggodanya, memintanya untuk membuat makanan agar aku ada alasan untuk bertemu dengannya lagi, dan aku langsung meninggalkan dia, karna jika aku tetap disitu bisa bahaya. Karna ada setan dalam diriku yang terus mendorongku untuk merengkuhnya.
Namun keesokan harinya, pada siang itu aku tak mendapati dia di atap, hingga 1 minggu aku kesana dia tak pernah datang lagi. Dan saat ku lihat ternyata dia bersama dengan yang lain istirahat di kantin.
"Ya Allah.. .Cobaan apa yang Engkau berikan, kenapa aku jadi khawatir dan gak tenang. Perasaanku semakin dalam untuknya dan rasa takutku juga semakin besar. Rabbi kepada Engkau hamba memohon dan berlindung, serta ku titipkan rasa cinta ini kepada-Mu. Amin.!" do'a yang suka ku lantunkan disetiap aku ingat akan dirinya (Adinda).
Setelah dua bulan lewat aku tak melihatnya, dan setiap kali berpapasan dia selalu berusaha menghindariku. Rasa sakit di hatiku semakin tarasa dan aku takut dia akan lari lagi dariku. Namun aku juga tak bisa memaksa dia untuk tinggal disisiku.
Dalam ruang rapat itu ku lihat dia yang biasa saja membuatku semakin sakit. Tanpa sadar ekspresi wajahku jadi merasa kesal dan sedih saat melihatnya pergi, ingin rasanya aku menghentikannya agar jangan pergi dan jangan tinggalkan aku, tapi aku tak mampu, karna aku tak ingin menyakitinya dengan memaksakan kehendak ku.
Siang itu setiap harinya aku jadi merasa terbiasa untuk selalu datang ke atap gedung, selain beribadah dan bersantai. Karna atap yang disebelah barat jarang didatengi orang, karna emang tempat tegangan listrik, jadi para karyawan yang merokok lebih suka di setelah timur karna aman.
Kembali kesaat ini
__ADS_1
"Eh, sepi. Dia gak datang ya? Hem, kenapa aku jadi memikirkannya." gerutuku sambil tersenyum sendiri.
"Aaargh...!" aku terkejud saat ada orang yang tiba - tiba menarik tanganku
"Biarkan begini sebentar, aku sangat merindukanmu, amat sangat merindukanmu." suaranya yang terdengar berat dan dekapannya yang memelukku dengan erat, membuatku tak tampu untuk bergerak.
Jantungku berdebar sangat cepat, aku menutup mataku rapat, sambil menahan nafas karna takut dia akan tau kalo jantungku berdebar tak karuan. Hidungku yang bersembunyi di dadanya perlahan mencium aroma yang enak, dan aku bernafas pelan dan bisa ku rasakan aroma maskulin yang bercampur dengan rasa segar dan manis dari aroma parfumnya perpadu sangat baik, memunculkan kesegaran yang sesuai dengan kharakter dirinya yang tenang dan tegas., itu sangat menenangkan dan membuatku terbuai dalam dekapannya.
Kruuuuyuuuukk... Perutku berbunyi disaat yang tak tepat, dan itu membuatku malu.
"Ahahaha... Kau sudah lapar baby?" katanya saat mengurai pelukannya dan menatap wajahku sangat dekat. Seketika wajahku memerah bak kepiting rebus.
"Ayo kita makan. Aku tak mau membuat sayangku semakin kelaparan." katanya dengan senyum yang menawan sambil memegang kepalaku.
Kami pun makan bersama di atap gedung itu, dengan bekal yang emang sengaja aku buat pagi - pagi tadi. Kami makan dengan tenang, dan sesekali aku meliriknya.
Senyumku mengembang saat ku lihat dia memakan masakanku dengan sangat lahap, kami makan dengan duduk lesehan, karna meja yang ada hanya ada 1 kursi saja.
"Terima kasih makanannya, apa ini masakanmu? Ini sungguh sangat nikmat, aku bisa ketagihan dan ingin terus memakan masakanmu. Apa kamu bisa membuatkannya untuk ku?" katanya memuji dan memintakku masak untuknya lagi.
"Bisakah besok kamu datang padaku dan kita makan bersama lagi seperti ini?" tanyanya yang ku jawab dengan anggukan
"Besok aku akan menyuru Merlin menjemputmu, atau kamu ingin aku sendiri yang datang menjemputmu?" katanya sambil memajukan wajahnya padaku
"Tidak tidak biar sekretaris Merlin saja yang menjemputku." jawabku panik dengan melambaikan tanganku.
"Hahaha... Aku suka dengan reaksimu. Baiklah, ayo kita kembali bekerja, jam istirahat sudah lewat sayangku." godanya padaku dan lagi - lagi sambil mengedipkan mata.
Kami kembali ke ruangan kami masing - masing, dan aku tak tau dia lewat mana, karna kami keluar dari jalan yang berbeda.
Saat di ruangan aku senyum - senyum sendiri seperti orang gila. Rasanya jantungku masih belum kembali ke detak yang normal.
"Ini bahaya, dia tak baik untuk kesehatan jantungku" gerutuku sambil memegangi dadaku sendiri.
__ADS_1
Sementara di dalam ruangan Mexca, dia juga sedang menetralkan debaran jantungnya yang sedang tak karuan, sambil memegangi dadanya.
"Bahaya, ini sangat bahaya. Dia benar - benar tak baik untuk kesehatan jantungku. Tapi aku suka dan ingin segerah memilikinya secara utuh."