
Setelah semua kejutan dan kebahagiaan yang diberikan oleh Mexca padaku, aku jadi makin takut kalo semua itu hanyala hayalanku saja. Dan semua akan hilang seperti kejadian waktu itu, saat aku membina rumah tangga dengan mas Bram.
Sambil duduk ditepi jendela kamarku, aku menatap dan menerawang jauh ke langit yang menampakkan warna jingga sore hari. Aku menyandarkan kepalaku di dinding jendela, sambil menekuk kakiku dan memegang lutut ku.
"Ya Allah, apa ini benar kebahagian yang nyata ataukah hanya sebuah kebahagian semua saja," batinku sambil terus menatap langit sore itu.
"Apa aku bisa dan mampu melampaui semua kebahagian yang datang secara besar ini? Bisakah aku melewatinya dengan tenang hingga akhir, bisakah semuanya bertahan sampai aku menutup mata. Bisakah itu terjadi?" tanyaku dalam hatiku yang merasa bahwa kebahagian ini terlalu banyak dan tiba - tiba untukku.
"Non, kok melamun. Gak baik melamun sore - sore nanti kesambet (kesurupan atau kerasukan jin)." kata bi Sumi menegurku dan aku membalasnya dengan senyuman.
"Bibi kesini karna mau bilang, kita diundang pak RT untuk pengajian rutin, apa non Dinda mau ikut nanti habis magrib," kata bi Sumi dan aku mengangguk.
Sesuai undangan setelah sholat magrib aku dan bi Sumi serta mang Ujang datang ke acara pengajian rutin di kediaman pak RT. Di sana saat aku mendengarkan ceramah dari pak ustad yang diundang untuk mengisi acara, aku jadi tau kalo pimpinan yang baik dan bijak adalah seorang pimpinan yang bisa memilah, milih dan membedakan antara urusan pribadinya dan urusan umum.
Mendengarkan itu aku jadi teringat akan Mexca. Saat di kantor dia begitu tegas dan disiplin, bahkan aku sering dimarahi kalo aku salah dalam membuat laporan. Walo setelah itu saat diluar kantor dia jadi seperti anak kucing yang memohon ampun karna sudah salah sehabis mencuri ikan.
Mexca, dalam hati ini jadi dipenuhi oleh dirinya. Dia adalah contoh pimpinan yang baik, dia tak pernah membela orang yang salah walau itu orang terdekatnya. Bagi dia, di kantor hubungannya adalah pegawe dan pimpinan. Yang salah akan dihukum dan yang benar akan bebas, dia pimpinan yang tak memihak dan jujur.
Setelah acara pengajian itu selesai aku, bi Sumi dan man Ujang pulang dengan jalan kaki bareng dengan para tetangga yang laen, karna waktu berangkat tadi kami juga jalan kaki.
"Mas Bram?" bisik ku saat kami memasuki halaman rumah.
Aku melihat mas Bram duduk di kursi teras rumahku dengan tertunduk dan dia sedang membawah sesuatu seperti sebuah surat dengan amplop coklat besar.
"Assalamu'alaikum mas," salam ku saat aku sudah di depannya.
"Wa'alaikumsalam Din, ada yang ingin mas omongin" katanya berdiri saat melihatku datang.
"Bibi buatkan minum dulu ya non," kata bi Sumi sambil melangkah masuk ke dalam rumah bersama dengan mang Ujang.
"Silakan duduk mas, ada apa ini mas?" kataku setelah mempersilakan pada mas Bram untuk duduk lagi
"Din, maafkan mas yang selama ini selalu bikin kamu susah. Mas kesini karna mas gak mau kalo kamu nanti salah dalam melangkah dan menentukan pilihan Din." kata mas Bram yang membuat aku mengerutkan kening.
__ADS_1
"Mas tau kamu menerima lamaran dari orang itu," kata mas Bram lagi.
"Mas Mexca namanya mas." kataku menyebutkan nama Mexca
"Ini minumnya, silakan di minum" kata bi Sumi yang datang menyuguhkan minuman dan camilan.
"Makasih bi" kata mas Bram pada bi Sumi
"Din, mas sudah menyelidiki dia. Dan dia memiliki hubungan dengan seorang gadis di LA. Dan mereka juga di jodohkan oleh kakek mereka masing - masing. Mas yakin orang - orang besar seperti mereka pasti punyak banyak sekandal dan hanya akan menjalin hubungan dengan orang yang saling menguntungkan satu sama lain." jelas mas Bram padaku, dan aku hanya diam tak menjawab.
"Din, mas gak mau kalo kamu nanti akan hancur jika bersama dengan orang seperti dia, apa lagi kalian berbeda keyakinan. Pasti akan sulit untuk menjalin rumah tangga dengan hal yang seperti itu Din. Karna kalian tak sejalan dan pasti tak ada keselarasan diantara kalian nantinya." jelasnya lagi yang mencobak mempengaruhiku.
"Aku tau mas soal hubungannya dengan gadis itu. Tapi mereka tak ada hubungan lagi sekarang." kataku memberi tau
"Din, itu tidak mungkin. Kamu tak melihatnya seperti apa hubungan mereka dan apa saja yang sudah mereka lakukan. Dalam amplop ini mas sudah mengumpulkan data tentang mereka, kamu bisa melihat dan membacanya. Pikirkan kata - kata mas Din, karna mas gak ingin kamu hancur dan kecewa. Mas permisi dulu ya, pikirkan dan renungkan lah." jelas mas Bram sebelum dia pamit.
"Baiklah mas balik, assalamu'alaikum."
Aku membawah masuk amplop yang diberikan oleh mas Bram dan aku merebahkan tubuhku di tempat tidur. Ku pejamkan mataku dan aku mulai mengingat kembali pertemuanku dengan Mexca dari awal hingga sekarang.
Selesai sholat isya' aku memutuskan untuk segerah tidur karna waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan besok aku harus kerja berangkat pagi karna mau ada pertemuan dengan perwakilan desainer dari perusahaan yang ada di LA.
Pagi itu aku berangkat lebih awal, yang seharusnya masuk jam 9 aku sudah datang jam 8 pagi. Karna aku mau menyiapkan semua laporan dan contoh desain yang akan dibuat dan dipasarkan di LA.
"Alhamdulillah, akhirnya semua urusan selesai." keluhku sambil merentangkan tubuh di kursi ruangan ku.
"Desainer AL, semuanya diterima aku senang banget. Biasanya kami akan lembur untuk revisi. Tapi sejak kamu bergabung di sini semuanya jadi mudah, kami juga jadi bisa sering pulang cepat. Terima kasih dan selamat desainer AL." ucap semua rekan kerjaku yang satu devisi denganku.
"Iya, ini usaha kita semua," jawabku tak kalah senang dari mereka.
"Iya, biasanya pihak sana selalu menyuruh kita untuk revisi, tapi hari ini dengan penjelasan dan keterangan yang diberikan oleh desainer AL mereka langsung setuju dan menerimanya." kata mereka lagi (rekan kerja) dan semua saling berpelukan bahagia.
Setelah semua pekerjaan selesai aku pun pulang bersama dengan yang lain, karna aku ingin lebih dekat dengan teman kerjaku, dan juga mengenal mereka semua. Agar tak ada lagi kejadian yang membuat mereka irih dan salah paham dengan ku, hingga ingin menyakitiku seperti dulu.
__ADS_1
Sore itu aku melajukan mobilku ke cafe, namun sebelum aku sampai di cafe mas Bram menghubungiku dan ingin ketemu sama aku, karna ada hal penting yang ingin dibicarakan mengenai Alea putriku.
Aku pun menemui mas Bram di sebuah rumah makan yang di katakan oleh mas Bram. Seorang peramu saji mengantarkan aku ke ruangan dimana mas Bram berada. Dan dalam rumah makan itu aku melihat mas Bram tak sendirian, tapi mas Bram bersama dengan mbak Monica.
Ya rumah makan itu bisa dibilang sangat luas dan nyaman untuk membahas sesuatu persoalan atau masalah, karna tempat duduknya ada sekat - sekat seperti ada didalam ruangan tersendiri, jadi orang lain tak akan ada yang tau gerak tubuh kita jika pintunya tak dibuka.
"Ada apa sebenarnya, dan kenapa?" batinku saat aku melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
"Assalamu'alaikum mas, mbak" salam ku pada mereka berdua
"Wa'alaikumsalam" jawab mereka bersamaan
"Ada apa ini mas? Di telpon tadi mas bilang ini ada hubungannya dengan Alea?" tanyaku penasaran.
"Iya, Din mas langsung aja bicara pada intinya, mas ingin kembali dan rujuk sama kamu. Monica juga sudah setuju dan sudah menanda tangani berkas mas untuk menikah lagi dengan mantan istri pertama mas, ya itu kamu Din." jelas mas Bram sepontan yang membuat aku jadi semakin bingung dan tak mengerti.
"Maaf mas, tapi Dinda sudah dilamar." tolak ku atas keinginan mas Bram
"Din, tapi mas gak mau kalo Alea di asuh dan dibesarkan oleh keluarga yang berbeda keyakinan. Itu tidak akan baik untuk pertumbuhannya nanti Din. Walo mas tau dia jadi anak angkat Didi dan Ayuni, tapi Alea lebih dekat dan lebih sering denganmu kan?." kata mas Bram.
"Kamu Kan yang sebenarnya ingin mengadopsi Alea? Jika menikah dan rujuk lagi sama mas, hak asuh Alea akan jatuh ke tanganmu dan kita bisa membesarkan Alea bersama, itu akan lebih baik karna dia akan mendapat orang tua yang sekeyakinan." jelas mas Bram yang jujur itu membuat aku tak nyaman
"Maaf mas, Dinda tak bisa jawab apa yang mas Bram inginkan, karna Dinda tak mau menyakiti hati mas Mexca." tolak ku atas apa permintaan mas Bram
"Monica katakan sesuatu, agar Dinda percaya dan mau balik lagi sama mas, bukankah kamu juga ingin menebus semua kesalahanmu pada Adinda selama ini," desak mas Bram pada mbak Monica.
"Benar Din, yang dikatakan oleh mas Bram. Dan aku juga sudah menanda tangani surat pernyataan kalo aku setuju kalian rujuk lagi." kata mbak Monica padaku dengan senyumnya yang sangat cantik.
"Tapi maaf, Dinda benar - benar tak bisa mbak, mas. Maafkan Dinda, kalau tidak ada lagi yang ingin di bicarakan Dinda permisi dulu karna Dinda harus segera pulang, Alea pasti sudah menunggu Dinda di rumah. Permisi mas, mbak. Assalamu'alaikum" kataku dan aku langsung pergi.
"Tunggu Din," cegah mas Bram
"Maaf mas, Dinda harus pergi. Tolong maafkan Adinda. Tidak enak dilihat orang mas" kataku saat sudah membuka pintu ruangan kami dan melangkah keluar, aku langsung menuju mobilku dan melajukannya pulang.
__ADS_1