(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Rumah tangga yang tak sehat


__ADS_3

Sejak pagi aku sudah tak melihat Monica dan bi Dami juga tidak tau. Karna aku sudah tak tidur sekamar dengan Monica jadi aku tak tau kapan dia keluar dan pergi dari rumah.


Baik aku atau Monica selalu sibuk dengan urusan kami. Aku masih butuh banyak waktu untuk bisa menerima semua penghianatan Monica padaku. Tapi hati kecilku tak bisa ku bohongi, karna aku tak bisa menerima kenyataan kalo Mona bukanlah anakku dan darah dagingku.


"Mas. Mau sampai kapan mas Bram begini? Kenapa mas Bram jadi berubah." Tanya Monica padaku saat dia melihat aku duduk di ruang tengah sambil melihat berkas - berkas yang sengaja aku bawah pulang untuk menyibukkan diri saat di rumah.


"Sudalah jangan buat aku semakin pusing, aku masih sibuk sekarang." jawabku pada Monica.


Aku masih berusaha untuk menerima Monica, namun tidak dengan putrinya. Aku tak mampu menerima kalo dia bukan putriku, dan aku tak bisa menerima semua kenyataan itu.


Setiap hari aku dan Monica jadi sering berdebat dengan segala macam masalah. Sampai suatu hari aku sudah gak tahan dengan semuanya dan ku tunjukkan pada Monica hasil tes DNA yang ku lakuakan.


"Katakan padaku. Aku bisa menerima atas penghianatanmu padaku. Tapi tidak dengan kebohonganmu. Anak siap yang telah kau kandung dan kau lahirkan, kenapa kau tak memberikan pada ayahnya.!" bentakku pada Monica yang mulai menangis.


Tak ada kata yang keluar dari mulut Monica, seolah dia tak mau mengungkapkan jati diri sangat ayah biologis dari Mona. Aku yang merasa kesal mencobak menahan amarahku, dan aku meninggalkan Monica begitu saja.


Dalam perjalanan aku merasa terombang ambing tak tentu arah. Rumah tanggaku semakin jau dari kata bahagia, dan keluargaku jadi tak sehat. Aku benar - benar sangat membutuhkan seseorang untuk menenangkan diriku, tapi tak ku dapati siapa orangnya.


"Ya Allah, kenapa rumah tanggaku jadi seperti ini? Kenapa semua yang sudah aku rancang jadi berantakan semuanya." keluhku dan ku sandarkan kepalaku di setir mobil.

__ADS_1


Sesampainya aku di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar Adinda untuk istirahat. Ku rebahkan tubuhku dan aku merenung, untuk mengajak Adinda rujuk karna aku baru menalaknya 1 jadi masih bisa untuk rujuk lagi. Karna aku ingin memiliki keturunan dengannya sesuai dengan keinginan mamaku.


"Mas, mas Bram sudah malam. Mas gak mau makan dulu? Ini bi Dami sudah masak makan malam." suara Monica membangunkan aku dari tidurku,


"Apa kau tak bisa sekali - sekali masak untuk ku. Dari sejak nikah aku bahkan tak pernah merasakan makanan yang kau masak.!" bentakku kesal pada Monica yang menurutku dia telah mengganggu istirahatku.


Entah kenapa semakin kesini aku semakin merasa kesal dengan Monica, walo dia telah dengan sengaja mengambil cuti untuk mengurusi rumah dan selalu ada di rumah tiap kali aku pulang. Tapi itu tak merubah apa pun, semuanya tetap sama, yang sudah terjadi pada keluargaku juga sama tak bisa membuatnya kembali.


Aku jadi sering merenung dan tak habis pikir, kenapa orang yang begitu ku percaya dan ku cintai. Serta ku curahkan segala kasih sayang dan juga cintaku yang tulus padanya justru tega menghianatiku, bahkan menodai janji suci pernikahan yang sudah ku ikhrarkan untuknya.


Rasa kesal, benci, marah dan juga bodoh telah menghantuiku. Aku seolah telah dipermainkan oleh istri yang ku percayai dan ku pilih sendiri, aku merasa telah dibodohi dan ditipu oleh istri yang ku pilih dengan cintaku dan melawan orang tua ku serta menyakiti hati istriku yang laen.


Ada rasa tak terima dalam hati kecilku. Ada rasa kecewa yang sangat mendalam yang tak bisa ku pecahkan dan ku cari jalan keluarnya, serta tak ada solusinya.


"Monica kenapa kamu kesini? Aku gak ada urusan sama kamu." jawab mama mas Bram padaku saat melihat aku dateng.


"Ma tolong Monica ma. Tolong maafkan Monica ma." kataku memelas pada mamanya mas Bram.


"Maaf.? Harusnya kamu minta maafnya sama Adinda bukan sama kami. Dan kalo kamu mau kami maafkan, apa kamu bisa mengembalikan menantu kami. Kembalikan Adinda kami, kamu itu perusak rumah tangga orang." orang tua mas Bram berkata dengan marah padaku.

__ADS_1


"Tapi ma, di rumah mas Bram gak mau bicara sama Monica. Tolong ma, Monica benar - benar minta maaf atas semua yang Monica lakukan." kataku masih berusaha.


"Maafkan kami. Kami tak bisa berbuat apa - apa, itu atas ulahmu sendiri. Sudahlah sebaiknya kamu pulang kasian putrimu dia masih kecil." kata mamanya mas Bram dan langsung masuk menutup pintu rumahnya.


Sepulang dari rumah orang tua mas Bram aku tak tau harus membawah putriku kemana. Aku berdiri tepat di depan sebuah panti asuhan, dan berfikir akan menyerahkan putriku di panti ini, tapi aku takut kalo nanti dia dapat orang tua asuh yang jahat.


"Aku tak tau harus bagaimana ini sekarang, orang tua mas Bram tak bisa membantu dan mas Bram juga tak mau menerimanya." aku sangat bingung harus bagaimana.


Aku terus berjalan sambil menggendong Mona putriku dan tanpa ku sadari aku sampai pada sebuah resto. Dan ku lihat dari resto itu yang datang adalah orang - orang kaya sumua. Aku pun tanpa pikir panjang meninggalkan putriku di salah satu bangku resto itu, setelah ku lihat tak ada cctv di dekat tempat dudukku.


Setelah ku pastikan aman, aku langsung meninggalkan putriku yang sedang terlelap dalam tidurnya. Dan ku amati sampai ada orang yang mengambilnya.


Setelah sekitar 1 jam lamanya akhirnya ada yang menggendong putriku masuk ke dalam resto itu, lama ku amati orang itu tak keluar lagi dan keadaan resto juga tak heboh, jadi aku merasa tenang. Setidaknya tak akan ada orang yang akan mengusut dan mencari siapa orang tua bayi itu.


Sudah sekitar 1 minggu lamanya aku yang meninggalkan putriku di sebuah resto. Aku pun kembali ke resto itu untuk mencarik tau keadaan dan kabar yang mungkin tersebar diantara para pegawe soal penemuan bayi atau seorang bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Tapi setelah aku sampai di resto itu, keadaan resto baik - baik saja dan juga tak ada desas desus cerita soal bayi.


Setelah aku merasa bahwa putriku diasuh oleh orang yang baik, aku memutuskan untuk keluar dari rumah mas Bram dan kembali lagi ke rumahku. Karna aku merasa mas Bram tak akan menerima atau memaafkan aku. Dan aku juga berusaha mencari dan menemui Adinda, tapi dia sangat sibuk dan tak bisa ditemui jika tak ada janji dulu.


Assalamu'alaikum,

__ADS_1


Mas Bram maafkan aku, mungkin caraku ini Salah. Tapi aku sudah tak punya solusi apa pun, aku juga sudah sering mencari Adinda tapi dia tak bisa ku temui. Aku pulang ke rumahku mas, karna aku tak sanggup jika harus tinggal dengan mas Bram, namun kita tak bisa saling bicara. Aku akan memberi waktu untuk mas Bram sampai bisa memaafkan kesalahanku. Dan aku juga minta maaf karna tak bisa mengatakan siap ayah kandung Mona, karna aku ingin melupakan orang itu dan tak mau mengingatnya lagi.


Salam, Monica


__ADS_2