
Kenyataan yang datang menimpahku secara bertubi - tubi ini telah benar - benar membuat hidupku berantakan, dan rasanya aku tak sanggup lagi menghadapi dunia ini. Hidupku seolah sudah hancur hingga menjadi serpihan dan tiada arti lagi.
"Mas. Mas Bram. Mas gak papa? Apa ada yang sakit mas. Apa yang telah terjadi mas.? Dinda akan membantu mas Bram untuk menyelesaikannya." dia berkata dengan lembut dan tersenyum padaku. Dan itu membuat hatiku terasa hangat.
"Dinda. Tidak ada, semua sudah selesai tidak apa, mas bisa melakukannya sendiri kok. Jadi kamu gak usah khawatir begitu." kataku yang juga ikut tersenyum.
"Tapi mas, ini tidak benar mas, ini salah"
"Kenapa mas Bram tak mengatakannya padaku sebelumnya? Cara kalian menikah ini salah"
"Kalian, kalian sungguh tega padaku"
"Dinda, Dinda jangaaaaaan.! Haah aku mimpi, jadi itu cuma mimpi. Tapi kenapa aku bisa memimpikan kejadian itu. Dan kenapa wajah Dinda terlihat lebih sedih dan sakit dimimpi itu." aku tersentak karna memimpikan kejadian Adinda yang mendapat kenyataan aku menikah lagi.
Aku merasa bersalah padanya. Semua perbuatanku pada dirinya seolah diputar ulang bagai rekaman film dalam ingatanku. Semua kejadian waktu itu bagai cambuk yang sangat keras pada diriku.
Sehingga tiap kali aku merasakan masalah yang datang padaku ini begitu berat, dan tak bisa ku selesaikan sendiri, saat itu juga entah kenapa aku jadi sering teringat pada Adinda yang dulu selalu ada untuk ku. Dan aku pun mulai merasa membutuhkan dirinya.
Dan untuk menenangkan hatiku yang selalu merasa bersalah serta teringat pada dirinya, aku pun jadi sering tiba-tiba berdiri didepan pintu kamar yang dulu ditempati olehnya dari dia pertama masuk ke rumah ini, hingga dia keluar dari rumah. Kamar itu belum pernah ku buka sejak dari dia keluar dan pergi meninggalkan rumah ini.
Betapa terkejudnya aku saat ku buka dan ku dapati kenyataan bahwa isi kamar itu dan hiasan yang menempel pada dinding kamar itu semuanya adalah bingkai foto pernikahan kami berdua.
Dan disetiap tahunnya selalu ada kata yang ditulis dengan sangat indah dan penuh dengan makan olehnya. Dia menempelkan kata-kata itu di setiap foto yang dihias dengan pigora yang lumayan besar. Sebagai peringatan hari jadi pernikahan kami.
Hari jadi 1 tahun pernikahan
Pernikahan adalah sebuah ikatan yang disepakati oleh dua insan manusia untuk hidup bersama dan saling menyayangi dalam setiap jalan hidup yang dilewati.
__ADS_1
Hari jadi 2 tahun pernikahan
Dalam setiap pernikahan, seperti halnya kehidupan, juga tak lepas dari berbagai persoalan. Agar masalah tidak berkelanjutan, perlu adanya rasa untuk saling pengertian dan kejujuran di antara pasangan suami istri.
Hari jadi 3 tahun pernikahan
Rumah tangga tidak hanya dijalani dengan cinta, tapi juga dengan akal sehat.
Karna dalam rumah tangga bukan tentang siapa yang paling baik dan hebat, melainkan bagaimana kita bersama-sama untuk menjadi lebih baik dan hebat disetiap harinya.
Ku peluk dengan erat foto pernikahan kami yang terpasang di atas meja samping tempat tidur. Ku sesali semua perbuatan dan kesalahanku yang telah ku lakukan padanya selama 3 tahun pernikahan kami.
Aku sangat menyesal telah menyia - nyiakan sosok wanita dan istri yang hebat dalam hidupku. Aku tak tau kalo selama ini dia berusaha untuk menerima pernikahan kami dan berusaha untuk menerima serta belajar mencintaiku.
Aku berharap andai waktu bisa diputar kembali. Ingin ku rengkuh dan ku jaga dengan baik dirinya. Mataku tak mampu lagi membendung air mataku yang mulai meluap tanpa bisa ku kendalikan lagi.
Rasa sesak di dada yang semakin berat kurasakan sehingga membuat nafasku seolah hilang.
Aku meratapi semua perbuatanku serta kesalahnku yang telah ku lakukan pada dirinya saat dia masih berapa di sisiku dan menjadi istriku.
Sekarang kamar yang ditempati Adinda dulu telah menjadi kamar favorit bagiku, aku banyak menghabiskan waktuku di situ. Bahkan kadang aku tidur di kamar itu.
"Mas, apa mas Bram menyesal telah menceraikan Adinda. Apa mas Bram ingin kembali lagi sama Adinda?" Tanya Monica padaku disela - sela makan malam kami.
"Aku gak tau, aku bingung harus memulai awal dari mana." jawabku yang emang merasa bingung untuk memulainya lagi.
"Ooeeee... Oeeeeee."
__ADS_1
Ku dengar suara tangis Mona dari ruang tengah dan Monica langsung lari melihatnya. Karna hari ini bi Dami minta izin gak masuk kerja.
Pagi - pagi sekali saat aku bangun dan keluar dari kamar Dinda, aku tak melihat Monica ataupun Mona, entah mereka pergi kemana pagi - pagi sekali, tanpa pamit padaku.
Siang itu aku memilih makan di cafe Adinda, aku memilih tempat makan yang lumayan jauh dari kantorku, karna aku berharap bisa ketemu sama dia. Tapi aku tak melihatnya.
"Maaf mbak apa Adinda tak kesini?" tanyaku pada pegawe cafe itu.
"Oh, mbak Dinda sekarang lagi sibuk, karna dia sedang bekerja sama dengan sebuah perusahaan jadi jarang kesini pak. Apa bapak kenal dengan mbak Dinda?" jelas pegawe itu padaku.
Harapan hanya tinggal harapan, hampir setiap hari aku ke cafe tapi tak pernah bertemu dengan Adinda satu kali pun.
"Adinda, dimana kau sekarang? Kenapa begitu sulit hanya untuk melihatmu saja." keluhku dalam hati yang sangat ingin melihatnya.
Kini aku mulai merasakan kalo kehadirannya begitu berarti. Rasanya aku ingin sekali waktu bisa diputar ke 3 tahun lalu disaat kami masih baru saja menikah. Rasa kehilangan akan dirinya begitu terasa dan sangat menyiksa bagiku.
Sepulangnya dari cafe aku melajukan mobilku tapi tidak menuju rumahku melainkan menuju ke rumah mamaku. Sesampainya di sana aku tak mengatakan apa pun, aku langsung masuk ke dalam kamarku dan istirahat.
"Bram, sudah malam bangunlah." triak mamaku membangunkan ku dari tidurku.
Setelah selesai makan, aku pun menceritakan pada orang tuaku mengenai tes DNA yang ku lakukan beberapa minggu yang lalu dengan hasil yang tidak sesuai dengan keinginanku.
Ke dua orang tuaku tak memberi komentar, mereka diam membisu seolah mereka tau kalo ini akan terjadi padaku.
"Ma, aku sangat kehilangan Adinda. Semakin kesini rasanya terasa semakin sesak dan menyiksaku. Aku menyesal telah melepaskan dirinya." aduku pada mamaku.
"Rasa penyesalanmu suduh terlambat Bram. Aku sudah bilang dari dulu, kau akan menyesal setelah tau siapa dia?" jelas mamaku padaku, dan benar saja aku telah menyesal dan juga merasa kehilangan dirinya.
__ADS_1
"Bisakah aku kembali dan rujuk dengannya? Aku ingin bersamanya lagi." kataku mengutarakan isi hatiku.
"Apa kau ingin mengulangi perbuatanmu lagi. Bagaimana dengan istrimu, apa yang akan kau lakukan padanya.?" Tanya papaku, yang membuatku bungkam.