(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Pulang kerumah


__ADS_3

Semakin malam suasana cafe terlihat semakin rame dan para pegaweku juga terlihat semakin sibuk.


Aku duduk di ruang peristirahatan sbil mengerjakan desain-desainku yang sempat berantakan karna aku tak bisa fokus, akibat masalahku.


"Adinda, apa kamu baik-baik saja. Maaf mbak baru tau ceritanya dari mas Didi tentang masalah kamu" sapa mbak Ayuni yang baru datang sama mas Didi.


"Loh, mbak. Kok malam-malam kesini, iya makasih mbak, mungkin aja ini emang jalan takdir Dinda" kataku sambil berdiri menyambut kedatangan mbak Ayumi dan memeluknya.


"Mbak tau kamu orang yang kuat, pasti Allah akan merencanakan hal yang indah untuk ku nanti. Amin" katanya sambil tersenyum manis.


"Amin ya rabb" ucapku mengaminkan kalimat mbak Ayuni.


"Iya, jika gak ada jodoh yang bai, maka aku sendiri yang akan menikahinya. Karna aku gak rela gadis kecilku terluka dan disakiti lagi" kata mas Dido yang datang ikut nimbrung.


"Mas Dido" ku peluk kakakku itu dengan manja.


"Ya, besok mbak akan ambil barangmu di rumah mantan suamimu"


"Iya, tolong ambil baju Dinda saja mbak, yang laen biar tinggal di sana saja" kataku memohon pada mbak Ayuni.


"Baiklah, mbak akan mengambil baju-baju kamu saja besok. Ya sudah mbak balik dulu, kumu sabar ya" Memelukku dengan erat sebelum pergi.


"Mas anter mbak balik dulu ya sayang" kata mas Didi sambil mengecup keningku.


Entah sejak kapa aku jadi begitu dekat dan kadang manja sama ke dua putra Om Bambang ini. Mungkin karna mereka baik dan selalu menganggap ku keluarga, jadi aku pun terbawah dengan merasa nyaman dan jadi mulai manja sama mereka yang sangat merinduka dan membutuhkan kasih sayang keluarga.


Pada pagi hari, selama menunggu mas Didi dan mbak Ayuni yang mengambil barangku di rumah mas Bram aku duduk santai di tempat dudukku dan aku pun mulai mengisi waktu dengan memetik senar gitarku dan melantunkan lagu.


Dengarkan


Kan ku abaikan


Sgala hasratku


Agar kamu tenang dengan nya


Ku pertaruhkan


Semua ragaku


Demi dirimu bintang


biarkan ku menggapaimu


Memelukmu


Memanjakanmu


Tidurlah kau di pelukku


Di pelukku


Di pelukku


biar ku tunda

__ADS_1


Segala hasratku


Tuk miliki dirimu


Karna semua


Tlah tersiratkan


Dirimu kan milikku


biarkan ku menggapaimu


Memelukmu


Memanjakanmu


Tidurlah kau di pelukku


Di pelukku


Di pelukku


biarkan ku menggapaimu


Memelukmu


Memanjakanmu


Tidurlah kau di pelukku


Di pelukku


Di pelukku


Mimpikan kita,


Mimpikan kita


Jangan pernah kau terjaga,


Dari tidurmu,


Di pelukanku


Penulis lagu: Andri A. Iskandar / Engkan Herikan


Lirik Bintang.


"Lagunya sangat sendu, apa sedang terjadi sesuatu?"


Sapa seseorang yang membuatku terkejud, pasakllnya aku tak mengenal orang itu dan lagi aku bernyanyi dengan diriku sendiri bukan di atas podium.


"Maaf, kalo aya lancang. Apa saya boleh duduk disini?" katanya lagi sambil berdiri menatapku.


"Ah, iya maaf. Silakan" kataku yang tersadar dari rasa terkejudku.

__ADS_1


"Oh iya perkenalkan saya Faris. Saya mengenal anda karna saya sering lihat anda menyanyi di cafe ini" dia berkata dengan sopan dan senyum yang rama.


"Oh, iya. Saya Adinda, salam kenal. Terimakasih atas perhatiannya" kusambut uluran tangan orang itu.


"Senang kenal denganmu Adinda, suaramu juga enak di dengar. Aku jadi sering terbawah sama suasana dengan lagu yang kamu bawakan"


"Ya Allah terima kasih banyak loh, aku senang kalo ada orang yang suka dengan lagu yang aku bawakan, karna aku bernyanyi emang untuk bisa menghibur orang-orang yang datang ke cafeku"


Aku dan Faris bicara banyak dan panjang lebar, aku merasa nyambung bicara sama dia mungkin karna dia orangnya sangat rama dan baik aku jadi nyaman, walo kami baru saja mengenal hari ini.


Setelah ngobrol banjang dengan Faris aku pun berangkat ke rumah lamaku bersama dengan mas Didi dan mbak Ayuni yang datang menjemputku di cafe, dari ngambil bajuku di rumah mas Bram.


Sesampainya kami di rumah aku di sambut bi Sum yang memeluk ku dengan erat dan menangis. Karna selama aku menikah dengan mas Bram aku emang jarang pulang ke rumah ini. Aku akan kesini jiga mau bayar gaji bi sum dan man Ujang saja, atau kalo aku habis ziarah ke makam kedua orang tuaku.


"Rumahku sekarang kau akan jadi tempatku berteduh lagi" ucapku dalam hati.


"Non, ya Allah kenapa bisa jadi begini? Kenapa kalo ke sini malah gak pernah cerita sama bibi. Apa non Dinda gak bisa ngebagi kesusahan sama bibi" keluh bi Sum padaku sambil terus sesenggukan.


"Suda-suda bi, Dinda gak papa kok. Dinda baik-baik saja, ini emang jalan hidup Dinda. Dam sekarang kita akan kumpul bersama lagi" ku peluk balik bi sum, orang yang telah merawatku sejak kecil dan sudah seperti keluar sendiri bagiku.


Sesampainya kami di rumah aku di sambut bi Sum yang memeluk ku dengan erat dan menangis. Karna selama aku menikah dengan mas Bram aku emang jarang pulang ke rumah ini. Aku akan kesini jiga mau bayar gaji bi sum dan man Ujang saja, atau kalo aku habis ziarah ke makam kedua orang tuaku.


"Rumahku sekarang kau akan jadi tempatku berteduh lagi" ucapku dalam hati.


"Non, ya Allah kenapa bisa jadi begini? Kenapa kalo ke sini malah gak pernah cerita sama bibi. Apa non Dinda gak bisa ngebagi kesusahan sama bibi" keluh bi Sum padaku sambil terus sesenggukan.


"Suda-suda bi, Dinda gak papa kok. Dinda baik-baik saja, ini emang jalan hidup Dinda. Dam sekarang kita akan kumpul bersama lagi" ku peluk balik bi sum, orang yang telah merawatku sejak kecil dan sudah seperti keluar sendiri bagiku.


Keseharianku masih berputar di rumah, cafe dan resto saja. Aku masih belum pernah ke butik selama aku bercerai dari mas Bram, karna aku masih belum siap cerita sama Yulia temanku.


Sore itu keadaan kampungku begitu ramae katanya ada acra pengajian tahunan untuk ruwat desa yang akan diadakan di perempatan desa, dan semua orang akan datang berkumpul di sana untuk melakukan tahlilan, semaan alqur'an dan ditutup dengan acara pengajian, serta do'a dari kiyai yang di undang ke acara tahunan desa itu.


"Non kita akan masak apa ini non untuk di anter ke Balai desa nanti? Apa bibi masak nasi uduk aja ya, karna nasi kuning sudah ada yang masak tadi"


"Ndak usah masak bi, biar nanti Dinda bilang sama mas Dido dan mas Didi aja untuk nganter masakan langsung dari sana ke Balai desa" jawabku pada bi sumi yang terlihat sibuk mikir mau masak apa.


"Walah ya sudah dech kalo gitu, nanti bibi tinggal bilang saja sama warga kalo masakannya sudah dianter ya non." kata bi sum sangat riang. Aku hanya menjawab dengan anggukan.


Malam acara pengajian sudah di mulai, aku dan juga bi sumi berangkat mau mendengarkan cerama agama sekalian aku kumpul sama para tetanggaku.


"Loh, ini Dinda ya? Walah lama gak ketemu makin cantik saja nak, sejak nak Dinda nikah ibu jadi jarang ketemu karna nak Dinda juga jarang pulang kesini. Tapi kamu ndak papa kan nak sekarang? Ibu sudah denger ceritanya, ibu do'ain kamu nanti dapat jodoh yang jauh lebih baik lagi dari sekarang, kamu masih mudah dan cantik gini. Allah pasti akan membukakkan jalannya nanti." kata bu Dami tetanggaku yang dulu sering sekali datang ke rumah hanya untuk ngobrol sama alm. ibuku.


"Iya bu, amin. Terima kasih atas perhatian ibu" jawabku dengan sopan dan juga santai. Mungkin karna tidak terlalu ada kenangan yang berkesan antara aku dan mas Bram jadi rasa kehilangan setelah perceraian juga tak begitu berpengaruh lama padaku.


"Oh ya nak Dinda, apa ibu bisa minta tolong sama nak Dinda? Soal anak ibu" katanya memelas padaku.


"Kenapa dengan anak ibu? Maksudnya Yuyus kan ya bu?" tanyaku memastikan.


"Iya nak, bisakah nak Dinda memperkerjakan dia. Dia baru saja lulus sekolah nak, dan belum ada pengalaman kerja. Nak Dinda kan punya restoran yang besar" katanya padaku sambil malu-malu. Mungkin dia merasa sungkan karna baru bertemu sudah minta tolong, tapi aku justru suka sama orang ngomong apa adanya seperti ini.


"Insya Allah bu, biar besok ikut mas Adil saja ya. Terserah nanti Yuyus mau ikut di resto atau di cafe dia sukanya dimana" kataku sambil menepuk bahu bu Dami.


"Masya Allah, terima kasih ya nak Dinda. Terima kasih banyak. Nak Dinda benar-benar mirip dengan alm. kedua orang tuanya ya bu Sum? Baik dan juga ramah. Sungguh bodoh suaminya yang menceraikannya." kata bu Dami berkali-kali sambil terus memegang tanganku.


"Iya benar, saya juga kesal kalo denger namanya disebut. Orang tuanya baik kok kelakuan anaknya kek begitu" geram bi sumi menimpali omongan bu Dami. Yang bisa ku balas dengan senyuman saja.

__ADS_1


"Iya bu Dami, sama-sama. Sudah ayo kita jalan lagi ke perempatan bu untuk mendengarkan pengajian"


Dan aku pun pergi mendengarkan pengajian dan kumpul bersama dengan orang-orang di desaku. Suasananya sangat ramai, di sana aku banyak bertemu dan berbincang dengan banyak orang dan tetangga. Dan mereka semua banyak yang memberikan do'a baik-baik padaku. Aku pun mulai berharap dari do'a mereka semua ada yang didengarkan sama Rabbku.


__ADS_2