
Sesampainya mexca di kantor dia merasa kesal dan uring - uringan sendiri "Bagaimana dia bisa melakukan itu. Aaaaahgr.!!" geram mexca yang merasa kesal dan memukul meja dengan sangat keras.
"Aku tak akan membiarkan dia berhasil melakukannya tidak akan pernah.!! Bramono Laksono.!!" teriak mexca lagi sambil berdiri dan memukul dinding dibelakangnya, tanpa menghiraukan rasa sakit dari luka yang tergores di tangannya akibat memukul dinding.
Setelah dia mulai bisa menguasai dirinya mexca meminta merlin sekretarisnya untuk memanggil adinda, karna nomor adinda tak bisa dihubungi dan menyuruh adinda ke ruangannya.
Tak lama sekitar 30 menit merlin memanggil adinda akhirnya adinda datang dan masuk kedalam ruang kerja mexca "Assalamu'alaikum pa... Eghm.!" ucap salam dinda yang belum selesai diucapkan mexca sudah menariknya dalam pelukannya dan melancarkan aksinya sehingga membuat adinda tak sempat menghindar, mexca sudah menguasai bibir adinda.
Mexca bermain dengan bibir istrinya dan memeluk erat pinggangnya serta menahan leher istrinya, mexca menggiring istrinya masuk kedalam ruang istirahat yang ada didalam ruangan kerjanya tanpa melepas istrinya. Hingga setelah mereka didalam kamar itu mexca yang tanpa abah - abah melakukan aksi penyatuannya dengan istrinya membuat dinda kaget, karna mexca seolah sedang melampiaskan rasa kesal dan amarahnya. Karna dari sentuhannya mexca melakukannya dengan sangat berutal dan kasar tanpa memberi jeda pada dinda yang mulai kewalahan menghadapinya.
Sangat lama mexca mengerjai istrinya tanpa jedah sedikit pun, sehingga membuat dinda yang berada dibawah tubuhnya mulai merasakan kelelahan dan akhirnya dinda pingsan karna dia belum sempat makan siang, karna mengerjakan tugasnya yang menumpuk. Dan mexca yang menjamah istrinya dengan kasar itu seolah gelap mata dan tak peduli dengan istrinya yang merasa kelelahan. Entah sudah berapa jam mexca mengerjai istrinya. Dari sore hari sampai sekarang sudah datang waktu malam hari.
"Sayang?" panggil mexca saat dia sadar istinya pingsang, dan setelah dia menuntaskan permainannya mexca memeluk istrinya dan berkali - kali mengecup puncak kepala istrinya sambil bergumam memintak maaf "Maafkan mas sayang, maafkan mas yang melampiaskan rasa kesal mas padamu." ucap mexca yang memeluk tubuh dinda dengan erat.
"Aku gak mau kehilanganmu, tak akan pernah ku lepas dirimu. Namun mas juga gak mau membuat hubunganmu dengan keluarga si bre****k itu jadi hancur jika mas mengungkap kebenarannya."
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Haruskah aku jadi orang jahat seperti dulu lagi? Tapi aku tak ingin menonai keyakinanku yang sekarang, tolong bantu aku sayangku." gumamnya lagi yang masih memeluk tubuh dinda dengan erat.
Setelah beberapa jam akhirnya dinda tersadar dalam pelukan mexca yang telah terlelap dalam tidurnya. Dinda menyentuh pipi suaminya dengan lembut dan menatap wajah suaminya yang sedang terlelap dalam tidurnya.
"Apa yang sudah terjdi mas? Kenapa seolah ada beban dihatimu? Kenapa mas Abi begitu kalut." gumam dinda yang terus mengusap pipi suaminya dan seolah hati mereka telah menyatu jadi dinda bisa tau kalo suaminya sedang dalam dilema.
Mexca terusik dengan ulah dinda yang terus mengusap pipinya, dia tersadar dan mengerjapkan mata menatap dinda dengan rasa bersalah, namun dinda tersenyum dengan sangat manis didepan mexca yang sedang memeluk tububnya.
"Maafkan mas sayang?" ucap mexca dengan nada sendu. Lalu mexca terkejud dan langsung membulatkan matanya.
Dinda yang mendapat ucapan maaf dari suaminya memberi respon lain, dinda naik dan bermain diatas tubuh mexca. Adinda menggoda sehingga membuat senjata mexca yang tidur jadi bangit dan menunjukkan kegagahannya. Adinda bermain dengan lincah diatas tubuh mexca sehingga membuat mexca melayang diatas awan tinggi. Dan tangan mexca tak tinggal diam dengan menangkap buah kembar milik dinda yang bergerak bebas didepan matanya.
Adinda yang ambruk diatas tubuh mexca saat dia telah mendapat kenikmatan puncaknya dipeluk erat oleh mexca " Kenapa mas? Jangan cemas apa pun yang terjadi mas akan selalu jadi pilihan bagi hidupku. Mas adalah pemegang dan pemilik hati Dinda untuk selamanya." mendengar bisikan dinda yang sedang terkulai diatas tubuhnya membuat hati mexca yang merasa gunda jadi berbunga dan tenang.
"Maafkan mas sayang karna sempat meragukan dirimu dan juga bingung harus memutuskan bagaimana." ucap mexca yang memeluk tubuh istrinya dan mencium bahu istrinya serta meninggalkan jejaknya di sana, lalu membalik tubuh istrinya dan berganti posisi dia yang diatas istrinya untuk menuntaskan puncaknya.
Mexca dan dinda bagai dua orang yang sedang memburu harta dan ingin segera mendapatkannya, seolah tak ada lelahnya mereka berpacu dan terus berpacu hingga perut dinda teriak minta diberi jatah makan.
"Uhg." keluh dinda saat dia mau bangkit dan bangun.
"Kenapa sayang?" tanya mexca yang melihat istrinya memegangi pinggangnya.
"Maaf tubuh ini rasanya habis digilas buldoser sakit semua dan lemas, kakiku gak kuat menopang berat tubuhku." ucap dinda dengan melihat mexca memelas.
Mexca yang merasa bersalah langsung mangangkat tubuh istrinya masuk kedalam kamar mandi dengan polos. Setelah membantu istrinya membersihkan tubuhnya dan dirinya juga mexca mengambilkan baju ganti yang sengaja mexca siapkan di ruang istirahat kantornya untuk istrinya. Dan mereka makan malam di restoran yang terkenal romantis bagi pasangan muda muda.
****************************************
****************************************
Sesampainya di rumah mexca dan dinda mengerjakan sholat magrib dan juga isya' yang sempat terlupakan akibat pertarungan mereka. Dan setelah selesai mexca menceritakan pertemuannya dengan bram serta menunjukkan buku harian yang ditulis oleh dinda untuk bram.
"Hahaha..." Dinda tertawa terbahak melihat semua itu dan dia gak nyangka hanya gara - gara masa lalunya membuat suaminya begitu kalut dan seolah ingin menelannya.
"Apa karna ini mas Abi jadi begitu frustasi seoalah ingin menelan Dinda bulat - bulat.?" tanya dinda yang merangkak mendekat dan bersandar didada mexca yang lagi bersandar disandaran tempat tidur.
"Apa itu terlihat lucu bagimu sayang.?" ucap mexca manyun dan memeluk tubuh dinda.
"Hem, maralah dan jangan ditahan. Tapi jangan sampai membuat orang lain rugi, apa pun yang menurut mas benar untuk diungkapkan dan dijelaskan maka lakukan. Dinda akan selalu ada untuk mas Abi." jelas dinda pada mexca, karna dinda merasa masih ada yang dirahasiakan oleh mexca pada dinda.
"Sayang, apa kamu tak akan marah padaku?" tanya mexca memastikan.
"Bagi Dinda kebenaran harus diungkapkan walo nanti hasilnya akan menyakitkan, dari pada disembunyikan dan membuat kita menyesal diakhirnya nanti." jelas dinda meyakinkan mexca.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, kamu emang istri terbaiku." mexca mengecup kening dinda dan merebahkan tubuhnya, dia tidur sambil memeluk tubuh dinda istrinya.
Pagi itu dinda sibuk di dapur dengan bi sumi seperti biasa masak untuk sarapan, dan mexca sibuk dibelakang rumah dengan mang ujang merawat sayuran yang mereka tanam.
"Nak Abi sarapan dulu, nak Dinda sudah memanggil." ucap bi sumi pada mexca yang sibuk dengan para sayur mayurnya.
Ya mang ujang dan bi sumi mengganti panggilan karna mexca menyuruhnya mengganti agar tak memanggil non dan tuan, biar lebih akrap karna mereka sudah superti keluarga sendiri.
Dan saat dinda serta mexca sarapan ada seseorang yang datang mengantarkan undangan untuk pesta hari jadi orang tua bram. Dan karna mereka sangat baik dengan dinda mexca pun mengijinkan dinda datang, mexca akan menyusul setelah pekerjaannya selesai, karna mexca harus datang ke pertemuan dengan keliennya sebab sudah ada janji temu untuk sore ini.
****************************************
****************************************
Di tempat lain bram yang merasa percaya diri akan cintanya pada dinda berusaha mendapatkan dinda lagi dalam pelukannya. Bram merencanakan sesuatu untuk membuat dinda kembali padanya lagi diacara pesta ulang tahun hari jadi pernikahan orang tanya yang ke 50 tahun
Sesuai dengan undangan dinda datang keacara pesta itu bersama dengan bi sumi dan aleana karna dinda gak mau datang sendirian kepesta itu sebab mexca tak bisa menemaninya dan akan datang terlambat.
"Mama, Papa selamat atas kebersamaan kalian dan semoga kalian akan selalu dilimpahkan kebahagiaan." ucap dinda pada orang tua bram saat dia datang ke pesta itu.
"Terima kasih sayang, kamu datang saja mama sudah sangat senang sekali." balas mama bram dengan memeluk dinda.
Dinda menikmati pesta itu dan semua teman kerja papanya bram datang, termasuk para tetangga dan sanak saudara semuanya, tanpa terkecuali bram dan juga Monica juga hadir dalam pesta itu.
"Unda makan es clim." alea menik mati es crim yang dibilkan oleh bi sumi.
"Iya sayang, nanti kalo selesai dilap pakek tisunya." perintah dinda pada putrinya yang terlihat menikmati esnya.
Tak lama kemudian lampu mati dan lampu sorot nyala ke arah pasangan yang sedang berbahagian. Semua hadirin bertepok tangan saat ada kue tar yang tinggi didorong ke depan pasangan yang berbahagia.
Dan tanpa sengaja alea yang lari kesana kemari ditangkap oleh Monica, lalu Monica melihat tanda lahir yang ada di bahu alea, namun belum sempat Monica memastikannya bi sumi sudah mengambilnya.
"Biar saya saja yang mengantar bi karna dia gak mungkin bisa bawah mobil sendiri." tawar bram yang melihat adinda mulai mabuk dan berjalan oleng.
"Tidak usah biar saya telpon supir saja tuan bram." tolak bi sumi, dan tiba - tiba bi sumi jatuh pingsan saat ada di parkiran hotel itu dan alea juga tertidur karna obat bius yang diberikan oleh bram.
Setelah memasukkan bi sumi dan juga alea ke dalam mobil bram membawah adinda yang kesadarannya tak baik pergi dari hadapan bi sumi dan alea. "Ayu sayang kita pulang, ku antar kamu pulang." ucap bram pada dinda yang lagi mabuk.
"Eh, eh mau pulang ya? Tapi pestanya belum selesai." ucap dinda yang berjalan sempoyongan. Dan tanpa sadar menabrak bram dan menyentuh bibir bram.
"Deg." bram yang mendapat kecupan sesaat dan tak sengaja dari dinda berdebar, lalu bram memberanikan dirinya menyentuh dinda dia mellu-mmat bibir dinda dengan sangat intes.
Brak
"Ah.!" teriak bram yang kaget karna dipukul seseorang.
Bag
Bug
"Eh, jangan berkelahi apa yang sedang kalian lakukan hah?" gumam dinda saat melihat ada orang yang berkelahi di depannya dalam parkiran itu.
"Aduh." dinda ambruk karna jalannya tak seimbang.
"Apa kau ingin mati hah?!"
"Dasar bi****g, kau sudah melewati batas bi***p.!!" teriak orang itu kalap.
"Kau yang bre****k.!" teriak bram balik dan membalas memukul.
__ADS_1
Mereka beradu tinju dan saling pukul satu sama lain, sampai akhirnya bram tumbang karna tak bisa mengimbangi kemarahan yang sudah memuncak sampai bun - bunan dan ingin membunuh orang.
"Bos, hentikan hey dia bisa mati." cegah faris yang menahan pergerakan mexca untuk menghajar bram yang sudah tumbang.
"Haaah." mexca mengeluarkan nafas panjang lalu berdiri.
"Ungkap semuanya aku tak peduli lagi, dan bawa bi sumi serta alea ke rumah sakit. Aku akan bawah dinda." perintah mexca pada faris.
Sebelum kejadian.
"Gimana jadi menyusul ke pesta sekarang? Ini sudah cukup malam ( pukul 10 malam) apa tidak telpon saja dulu barang kali saja dinda sudah di rumah." saran faris pada mexca.
"Tidak, langsung ke pesta saja, perasaanku gak enak." jawab mexca pada faris. Dan faris pun melajukan mobilnya ke arah hotel tempat pesta diadakan.
"Gila ada - ada saja orang itu, coba lihat mereka berciuman di parkiran kayak gak ada tempat lain." ucap faris yang melihat dua orang saling berciuman begitu sampek diparkiran.
"Sial.! Berhenti di sini Ris.!!" teriak mexca seketika dan langsung keluar mobil serta menghajar orang yang lagi asyik berciumman.
"Hey mex?!" teriak faris dan setelah dia parkir langsung lari kearah mexca dan juga bram yang lagi berkelahi.
Saat ini
"Baik, aku akan melakukannya tapi jangan berkelahi lagi." pinta faris sebelum dia pergi melajukan mobil dinda ke rumah sakit.
"Sayang ayo bangun." mexca membantu dinda yang terduduk dilantai.
"Ah, bayi besarku. Kenapa kamu jahat banget baru datang sekarang, aku sangat menantikanmu." ucap dinda dengan memiringkan kepalanya.
"Tanyakan padanya siapa yang ada di hatinya, karna saat orang tak sadar dia akan berkata jujur." ucap bram sambil berusaha bangun.
"Ayo kita pulang sayang." ajak mexca pada dinda dan mengabaikan teriakan bram.
"Gak mau.! Kenapa aku harus pulang denganmu hah?!" teriak dinda yang langsung berdiri.
Melihat reaksi dinda bram tersenyum, mexca berdiri menghadap dinda dan berusaha untuk membujuk dan membawah dinda pulang.
"Sudah aku bilang aku gak mau.! Huhuhu." dinda yang merasa kesal diajak pulang pun menangis sambil jongkok lagi.
"Dinda sayang, apa kau ingin tinggal di sini?" tanya bram yang bersuara dari belakang mexca. Dan mexca mengepalkan tangannya.
"Ya, aku mau main di sini. Aku ingin ini, ayo main dengan ku?" ucap dinda dan membuat tubuh mexca seketika meremang.
"Ayo... Apa kau gak mau?" tanya dinda mendongak melihat mexca dan meremas sesuatu yang tak seharusnya dia sentuh ditempat umum.
"Sayang hentikan ayo.!" mexca seketika menarik adinda untuk berdiri, namun saat berdiri dinda langsung menyentuh bibir mexca.
Mexca tersenyum dan amarahnya seketika hilang, berganti dengan rangkulan dipinggang dinda, serta tangan dinda melingkar dileheemexca, mereka berdua menunjukkan adegan sang pemilik yang sesungguhnya pada orang yang memaksa untuk memilikinya (bram).
"Cih.! Dia tak sadar dan tak bisa membedakan orang." cibir bram pada mexca.
"Sayang rupanya kau masih mengenaliku pemilikmu walo dalam keadaan mabuk." ucap mexca saat dia sudah melepas ciummannya dan melirik ke arah bram.
"Hem, karna kamu adalah bayi besarku. Aku mencintaimu Abigail." ucap dinda yang masih mabuk.
"Tentu sayang, dan tetaplah memegang tali kekangku untuk selamanya." ucap mexca yang langsung mengangkat tubuh dinda.
"Ayo kita bermain di sink sayang." ucap mexca yang berjalan melewati bram yang berdiri menatap mereka dengan wajah babak belur akibat dipukuli mexca.
"Jangan pernah mengusik sesuatu yang bukan milikmu tuan Bram, karna sampai kapanmu kamu tak akan dapat memilikinya." ucap mexca sebelum dia meninggalkan bram sendiri diparkiran.
__ADS_1