(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Ungkapan cinta karna kesal


__ADS_3

Setelah sampai di perusahaan Mexca menyuruh Merlin untuk mengantarkan hadiah boneka pada Alea, dan dia memberikan alamat yang ditujukan ke cafe Adinda.


"Ya ampun bos ini apaan sih, gimana caranya aku menyerahkan boneka yang sebesar ini. Apa dia gak minta agar bonekanya dibungkus supaya agak kecilan dikit." gerutu Merlin di parkiran, yang melihat boneka dibiarkan begitu saja di dalam mobil dengan dibungkus plastik tipis.


Setelah Merlin bersusah payah mengeluarkan dan membungkus boneka itu, dia langsung mengirimkan ke alamat dan nama yang diberikan oleh Mexca padanya.


"Merlin apa kamu sudah mengirimkan hadiahnya?" Tanya Mexca pada Merlin yang terlihat sudah datang dan berjalan menuju mejanya.


"Sudah bos, baru saja nyampek. Tapi kalo boleh tau siapa Alea itu bos? Apa anak kenalan bos?" Tanya Merlin penasaran


"Kau mau dipecat Merlin?" jawab Mexca singkat, sambil jalan masuk ke ruangannya.


"Ya ampun, sedikit - sedikit dipecat. Kenapa ancamannya selalu saja itu." gerutu Merlin yang berjalan mengikuti di belakangnya.


"Bos habis dari mana kok dari luar bos," Tanya Merlin yang ikut masuk ke ruangan Mexca.


"Mencari Faris, karna tak bisa dihubungi," jawab Mexca yang duduk di kursi kebesarannya.


"Bos ini jadwal untuk hari ini, tinggal jadwal makan malam sama pemilik saham yang terbesar di perusahaan ini. Pada jam 7 malam nanti di restoran hotel kita." jelas Merlin pada Mexca dan hanya di jawab dengan anggukan saja dari Mexca.


Setelah melaporkan jadwal kepada bosnya Merlin ijin keluar dan berjalan ke arah meja kerjanya.


Sementara di rumah Didi, selama seminggu Alea tak mau melepaskan boneka pemberian Mexca, dia selalu membawahnya walo dengan sudah paya karna bonekahnya lebih besar dari pada tubuhnya. Dan kebiasaan baru dari Alea adalah dia tak akan tidur jika tak ada bonekanya.


Dan di dalam ruang tamu rumahnya Adinda. Adinda menceritakan niat Bram untuk kembali lagi ngajak rujuk kepada Om Bambang dan yang lainnya, saat mereka semua berkunjung dan berkumpul dirumah Adinda akhir pekan itu.


Mendengar itu, semua orang merasa terkejud, bahkan bi Sumi juga ikut terkejud. Karna dia tak pernah berfikir kalo orang tua Bram akan begitu, padahal dia tau kelakuan anaknya pada majikannya selama dia jadi istri Bram.


Sementara om Bambang menyerahkan semua keputusannya pada Dinda, namun tidak dengan yang lain. Baik Didi, Dido atau Ayuni menolak dan gak setuju jika Dinda harus rujuk sama Bram.


Setelah semua orang pulang, Dinda termenung dalam kamarnya. Dia tak tau harus berbuat apa untuk semua masalah tentang Bram yang ingin kembali rujuk.


"Ya Allah Ya Rabbku, apa yang harus ku lakukan? Aku tak mau menyakiti siapa pun, namun jika emang ini adalah jalannya darimu, maka aku yang sebagai hamba-Mu hanya bisa menerima apa pun keputusan dari jalan hidup hamba yang sudah Engkau gariskan." pasrah Dinda dalam sujud malam itu. Karna dia tak tau haru memberi jawaban apa untuk keputusan soal permasalahan Bram yang ingin rujuk.


Dan ditempat lain, di dalam ruang kerja Mexca yang baru selesai mengerjakan pekerjaannya merasa tak tenang, hatinya gelisa tanpa sebab dan dia jadi tak bisa tidur walo sudah berusaha untuk menutup matanya.


Mexca beranjak menuju kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya dan menatap langit langit kamarnya dengan tatapan kosong seolah ada ribuan masalah yang membebaninya.


Karna capek berusaha untuk tidur tapi tak bisa, Mexca pun mengambil air wuduh dan dia melakulan sholat sunah untuk meringankan pikirannya yang melayang tak karuan entah kemana.


Pada pagi harinya saat dia memimpin rapat di kantornya dia jadi tak bisa fokus karna ngantuk. Dan untuk pertemuannya dengan manager mol semuanya di serahkan pada Faris, dia hanya ikut pergi, namun tak ikut menemui manager mol itu. Dia mencari tempat makan dan istirahat di sebuah restoran yang menyediakan tempat istirahat untuk orang orang yang ingin santai dan istirahat.


"Loh Adinda? Wah gak nyangka kita bisa ketemu di sini, apa kamu sehat? Ada perlu apa datang kesini?" tegur Faris saat dia melihat Adinda di mol itu, dan berjalan ke arah restoran. Sementara Faris keluar dari restoran itu


"Alhamdulillah baik, mas Faris sendiri giman? Begitu sibuk ya? Semoga sehat juga ya mas. Dinda kesini karna ada janji untuk ketemuan di restoran ini" jawab Adinda dengan rama.


"Ya, karna banyak pekerjaan yang ketunda jadi harus kejar target. Hahaha" jawab Faris sambil tertawa lebar.


"Tapi masih bisa untuk bersama dengan Merisca kan?" ledek Adinda yang tau kalo Merisca menyukai Faris yang merupakan Asisten Tuan Yosef


Mendapat ledekan itu Faris hanya bisa tersenyum dan menunduk malu, karna sebenarnya Faris hampir saja menyukai Adinda kalo saja tak tau jika Adinda sudah jadi istri orang.


Dan Faris tau hal itu juga dari Merisca, karna Merisca yang sempat jadi model Adinda jadi sering bersama Adinda dan tau kalo Adinda sudah menikah.

__ADS_1


"Bisa saja kamu Din. Ya sudah kamu masuk, mungkin orang yang ngajak janjian sudah nunggu. Aku pergi dulu ya." ledek Faris sebelum dia pamit pergi.


"Hahaa, iya. Terima kasih dan hati hati," balas Dinda lalu dia masuk kedalam restoran.


Setelah mengobrol dengan Adinda di depan sebuah restoran di mol itu. Faris langsung ke ruang yang sudah disiapkan untuk pertemuan dengan manager mol yang membahas soal para penyewa yang termasuk Adinda, hanya saja Adinda tak hadir, dan hanya Yulia yang mewakili, karna Adinda ada pertemuan dengan seseorang di mol itu.


Di sebuah restoran dalam mol itu Adinda dan Bram mengobrol, dan Bram meminta agar Adinda menerima untuk ajakan rujuk dengannya. Karna Bram telah menemukan buku harian Dinda yang menyatakan kalo dia menyukai dirinya.


"Din tolong jangan membohongi diri sendiri, mas tau kamu masih menyukai mas sampai saat ini, karna mas menemukan buku harian yang dulu kamu tulis untuk mas didalam kamar yang dulu kamu tempati."


"Iya, tapi itu sudah lama mas, dan iya emang dulu Dinda mencarinya. Dinda gak tau kalo buku itu ketinggalan di sana, tapi sekarang itu sudah tidak ada artinya lagi untuk Dinda mas."


"Dan Dinda juga gak bisa mas kalo harus jawab langsung sekarang apa yang mas inginkan."


"Dinda juga sudah bilang sama mama mas Bram, kalo Dinda butuh waktu. Karna Dinda gak bisa menjawabnya dengan gegabah." jawab Dinda menjelaskan


"Tapi Din, kenapa kamu harus memikirkan lagi. Bukankah kamu sudah kenal sama mas, dan mas juga sudah kenal sama kamu. Kita cuma tinggal mengulang semuanya dari awal lagi dengan lebih baik." desak Bram pada Adinda.


"Tidak bisa begitu mas, semua itu harus diputuskan dengan persetujuan semuanya." jawab Dinda menolak


"Persetujuan semuanya? Maksud kamu Si Dido dan yang lainnya itu? Din mereka bukan siapa - siapa kamu Din, dan mereka hanyala benalu bagi kamu."


"Jika kita menikah lagi mas bisa menjalankan semua usaha kamu jadi lebih maju karna mas lebih tau soal pemasaran dibanding mereka."


"Sementara mereka apa? Dido hanya seorang model yang pastinya tak tau soal bisnis, dan Didi dia hanyalah seorang satpam bank yang pastinya juga tak mengerti apa apa soal perkembangan bisnis." jelas Bram mengejek Dido dan Didi


"Dinda tak memikirkan itu semua mas, bagi Dinda mereka adalah keluarga, karna mereka yang selalu ada dan mendukung Dinda disaat Dinda dalam keadaan sulit." bela Dinda pada Didi dan juga Dido.


"Tapi Din, jika nanti kita bersama, kamu bisa merasakan kasih sayang orang tua yang utuh dari orang tua mas. Dan mas juga pasti akan memperhatikan dan selalu ada untuk kamu." kata Bram yang terdengar sedikit memaksa.


"Ada apa ini. Kenapa anda mendesaknya. Bukankah dia sudah menjelaskan kalo dia tak bisa menjawabnya sembarangan, dan apa maksud anda yang meremehkan dan mengejek kemampuan orang lain." potong seseorang yang membuat Bram geram


"Mas Faris?" panggil Dinda dalam hati saat dia menoleh kesamping, dan Faris sudah berdiri di sana dengan senyumnya yang Rama.


"Anda siap?! Anda adalah orang luar, sebaiknya anda jangan ikut campur urusan kami. Karna anda tak tau apa - apa.!" kata Bram dingin


"Hahaha... Ya, tadinya saya tak ingin ikut campur, tapi karna saya melihat dia mulai tak nyaman sama anda, saya jadi harus turun tangan." menarik kursi dan duduk disebelah Dinda


"Anda tau apa soal kami.! Sebaiknya anda pergi sekarang." gertak Bram


"Hahaha... Ya saya memang tak tau siapa anda, tapi saya tau siapa dia." tunjuknya pada Dinda yang duduk diam.


"Saya adalah mantan suaminya, dan kami membahas masalah kami yang mau rujuk kembali. Jadi ini diluar wilayah anda. Apa anda sudah paham sekarng.!?" bentak Bram


"Mantan suami? Kenapa anda begitu senang dengan kata manta, kalo saya tidak suka dengan nama itu." katanya dengan nada mengejek dan duduk dengan sangat arogan di depan Bram.


Jelas melihat itu Bram jadi semakin emosi "Emangnya anda siapa, dan ada hubungan apa anda dengan mantan istri saya hah?!" Tanya Bram dengan sangat emosi


"Mas..." belum selesai Dinda bicara sudah ada sebuah jari telunjuk di depan bibir Dinda.


"Ssstt... Sayang apa kamu belum cerita pada MANTAN SUAMI kamu ini, kalo aku amat sangat mencintaimu sayangku. Dan apa kamu belum bilang juga padanya kalo aku adalah calon imam masa depanmu." katanya dengan nada yang sedikit mencibir, serta menekankan kata mantan suami.


"Jangan bicara omong kosong anda.! Itu bukan kata yang bisa dijadikan mainan." kata Bram kesal

__ADS_1


"Omong kosong? Hahaha... Harusnya anda yang jangan bicara omong kosong seperti itu. Dengar, burung yang sudah dilepas tak akan pernah kembali lagi." cibirnya dengan tatapan mengejek.


"Baiklah, perkenalkan saya adalah calon suami Adinda Larasati dan nama saya adalah..."


"Tunggu dulu, apa - apaan ini. Dari tadi anda mengatakan calon suami, imam masa depan dan memanggil sayangku. Emangnya setatus anda sudah sejelas apa? Dan saya juga tak pernah dengar soal anda selama ini." kata Bram menanyakan setatus mereka


"Dan kamu Dinda jelaskan apa ini semua, dan kenapa kamu bisa mengenal orang seperti dia." tunjuk Bram pada orang yang duduk disebelah Dinda.


"Seperti dia? Maksud anda seperti saya? Kenapa, apa karna saya lebih tampan dari pada anda, atau karna saya hanya memakai tereining dan kaos oblong yang murahan?" berkata sambil merentangkan kedua tangannya.


"Tuan, tolong jangan menilai orang hanya dari sampul luarnya saja. Anda harus mengenal orang dengan tulus tanpa melihat siapa dia dan apa pekerjaannya." jelasnya dengan santai.


Prff...


Ada seseorang yang tertawa dibelakang mereka, yang sedari tadi mengamati obrolan mereka dengan tenang.


"Maaf tapi saya tidak ada urusan dengan anda. Selama Dinda tidak mengatakan apa - apa saya tidak percaya dengan apa yang anda katakan." kata Bram mengejek.


"Terserah anda saja. Mau percaya atau tidak, saya tidak memaksa anda untuk percaya pada saya." jawabnya yang lagi lagi menyulut kemarahan Bram


"Dinda jelaskan, apa semua ini? Dan siapa orang kurang ajar ini." kata Bram memerintah


"Mas, dia adalah..." Dinda belum selesai bicara sudah dipotong dengan suara yang terdengar kesal dan mengintimidasi.


"Kenapa anda harus memaksanya. Saya sudah bilang dengan jelas pada anda bukan, kalo saya calon imam Adinda."


"Ehg...." geram Bram yang menatap kesal pada orang itu. Yang sedang duduk santai dengan satu tangannya berada di belakang Adinda dan kakinya bersila di atas kaki satunya.


"Sayang, jangan memaksakan diri. Aku tidak suka kau mengerutkan kening seperti ini." katanya sambil menunjuk kening Adinda yang berkerut seolah berfikir harus menjelaskan gimana.


"Ah, itu..." kalimat Dinda terputus saat dia menatap mata orang yang duduk di sampingnya.


"Dinda, apa kau akan menikah dengan orang yang berbeda pandangan dengan mu?" Tanya Bram yang merasa kesal.


"Hahaha... Apa maksud anda, itu adalah urusan kami." ledeknya dengan santai tanpa memindahkan posisi duduknya.


"Jangan mempengaruhi Adinda pada hal yang buruk anda.!" geram Bram


"Anda yang seharusnya jangan mempengaruhi dia hal yang buruk. Dan ingat satu hal, saya gak suka anda mengganggu calon istri saya. Dia adalah milik saya, dan saya sangat tidak suka kalo milik saya diusik." katanya dengan nada dingin dan pandangan mata tajam.


"Dan anda harus ingat ini, jangan suka mengganggu milik orang lain jika anda sudah memiliki milik anda sendiri." cibirnya


"Apa maksud anda?!" teriak Bram gak terima.


Dengan senyum dia melihat Bram yang semakin kesal dan dia mengenalkan dirinya. "Ingat nama saya dengan baik, Mexca Prayoga Yosef Abigail calon suami Adinda Larasati." jelas Mexca dengan santai dan nada yang sangat tegas.


"Sayang, ayo. Kamu sudah tidak ada urusan lagi di sini." kata Mexca dengan menatap tajam pada Adinda dan langsung berdiri dari duduknya.


"Maaf mas Dinda harus pergi sekarang. Assalamu'alaikum" ucap Dinda dengan sopan pada Bram, lalu berdiri mengikuti Mexca.


"Dinda..." panggil Bram


Namun Mexca sudah menarik Dinda menjauh dari hadapan Bram tanpa ada perlawanan dari Adinda.

__ADS_1


Mexca berjalan dibelakang Adinda dengan senyum kemenangan. Dia merasa mendapat angin sejuk atas keberaniannya melakukan tindakan yang nekat tadi.


Sementara Faris yang berjalan mengikuti mereka dari belakang tersenyum melihat tingkah Mexca yang begitu berani. Karna yang Faris tau selama ini Mexca tak pernah ikut campur pada urusan orang lain. Dan ini adalah yang pertama kalinya.


__ADS_2