(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Gadis piano


__ADS_3

Setelah Alea sembuh aku dan mas Didi membawahnya pulang. Aku sangat menyayanginya, dalam perjalanan pulang dia terlihat sangat ceria dan mulai berceloteh seolah lagi mengajak bercanda dan bicara.


Setelah nyampen di rumah ternyata mbak Ayuni dan yang laen sudah menyiapkan acara syukuran pemberian nama untuk Alea. Malam itu acara pemberian nama berjalan dengan sangat menyenangkan, Om Bambang mengundang para tetangga dan juga orang - orang terdekatnya, begitu juga dengan mas Dido juga mengundang teman - temannya yang seperofesi dengannya. Dan mas Didi juga mbak Ayuni tak kalah dari Om Bambang dan mas Dido, mereka juga mendatangkan keluarga mbak Ayuni dan teman - teman kerja mbak Ayuni dan juga mas Didi.


Acara pemberian nama malam itu sangat meriah dan sangat ramai. Saat pak ustad yang memberi nama sudah datang acarapun dimulai.


"Mari kita do'akan semoga anak pak Didi dan juga bu Ayuni yang diberi nama Aleana Putri Almira selalu diberikan kesehatan dan menjadi anak yang soleha dan berbakti pada kedua orang tuanya, Alfatiha." ucapan do'a yang diserukan oleh pak ustad.


Setelah acara pemberian nama dan do'a pada anak angkat mas Didi selesai, kami pun berfoto bersama untuk mengambil kenangan yang bisa dijadikan cerita pada masa mendatang nantinya.


"Aduh mas Didi baru juga menikah kenapa harus mengambil anak sih. Emangnya gak mau punya anak sendiri aja." Tanya bu Dami.


"Bukan begitu bu, kami hanya ingin menolong dan memberikan keluarga lengkap untuk anak yang malang dan tak bersoda ini." jelas mas Didi.


"Adinda." panggil seseorang yang tak kusangka datang di acara pemberian nama anak angkat mas Didi.


"Tante? Katanya tante langsung balik ke LA begitu acara pameran kemaren, kok sekarang ada di sini sih. Dinda senang banget." sambutku pada tante Anggel yang datang sambil membawah hadiah untuk Alea.


"Ha-ha, ya sebenarnya kemaren tante emang sudah balik ke LA, cuma sekarang datang ke sini karna ada urusan di sini, dan juga mau minta bantuan kamu.


"Bantuan Dinda? Untuk apa tan, kalo bisa Dinda pasti akan membantu dengan sangat senang. Tapi siapa yang ngasik tau tante soal acara pemberian mana? Karna tante kesini membawah kado juga." kataku yang menanyakan dan bersedia akan membantunya.


"Oh, kalo soal kabar ini Dido yang kasik tau. Dan kalo bantuan, kamu tau kan pemusik asal LA yang terkenal dan telah jadi guru musik kamu.?" jelas tante Anggel kepadaku.


"Maksud tante Mr. Kille Adito.?" Tanyaku yang memastikannya lagi.


"Iya itu, kamu bisa membantukan sayang? Soalnya rekan tente ingin dia yang memandu orkestranya. Dan....?" kalimat tante Anggel terputus.


"Dan apa tan? Katakan saja tan, kalo Dinda bisa pasti Dinda akan bantu." jawabku menyakinkan


"Hem, haaaah." tante Anggel menghela nafas.


"Tante ingin kamu yang jadi pianisnya, karna pianis yang seharusnya tiba - tiba sakit dan tak bisa tampil. Jadi kamu harus ikut tante ke LA, gimana sayang. Bisa tidak kamu ikut ke LA?" Tanya tante Anggel yang terlihat ragu - ragu.


"Gimana ya? Dinda sih bisa saja, cuma Dinda kan baru teken kontrak kerja sama dengan sebuah perusahaan. Jadi setidaknya Dinda harus konfirmasi sama mereka." jawabku pada tante Anggel.


"Benar juga ya sayang, kalo gitu kamu pastikan dulu. Semoga bisa, karna tante berharap kamu bisa ikut." tante Anggel berharap kalo aku bisa ikut ke LA.


"Sudah ngapain bingung, biar urusan di sini aku dan ayah yang atasi, kamu ikut saja. Soal sama perusahaan nanti aku akan bilang pada mereka. Lagian juga masih ada Yulia." selah mbak Ayuni.


Akhirnya aku pun menyetujui saran dari mbak Ayuni. Pagi itu aku berangkat ke perusahaan bersama dengan mbak Ayuni. Dan sesampainya di perusahaan aku menemui sekretaris Merlin untuk meminta izin ketemu sama bosnya.


"Mbak Adinda silakan masuk, bos menunggu di dalam." kata sekretaris Merlin padaku.


"Terima kasih." ucapku dan aku berjalan mengekor di belakang sekretaris Merkin


"Adinda silakan masuk, aku senang kamu datang. Silakan duduk. Merlin buatkan minum untuknya." perinta tuan Yosef pada sekretarisnya.


"Baik bos." sekretaris Merlin menunduk dan keluar.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Ah, tunggu. Saya punya permintaan untuk kamu. Apa kamu mau datang ke perusahaan kami yang di LA, karna kami maj mengenalkan kamu pada mereka. Ya walo tak semuanya hanya sebagian saja dan tanda tangan berkas di sana. Bagaimana?"


"Permisi bos, ini minumnya." kata sekretaris Merlin masuk menyuguhkan minuman


"Terima kasih." jawabku dengan sopan.


"Ok, bagaimana. apa non Adinda setuju?" Tanya tuan Yosef padaku.


"Iya, kebetulan saya juga mau bilang kalo saya mau ke LA karna mau ada urusan dan mau menyerahkan semuanya yang di sini sementara sama om saya, om Bambang." kataku menjelaskan


"Baiklah, kalo begitu urusannya selesai. Kamu bisa melakukann urusann kamu dan juga menyelesaikan pekerjaan kamu." katanya dengan senyuman yang sangat berkharisma.


Setelah pertemuanku dengan bos perusahaan itu, aku langsung menemui tante Anggel di hotel dan menjelaskannya kalo aku bisa ikut, tapi juga harus bekerja di sana.


"Baguslah kalo begitu sayang, kita akan berangkat dua hari lagi. Bagaimana?" Tanya tante Anggel.


"Tunggu dulu tan, biar Dinda hubungi Mr. Kille Adito dulu." kataku


"Oh iya lupa, karna tante seneng banget kamu bisa ikut. Hehe"


Tempat Kille Adito Di LA


"Hey apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membunuhku ya? Lepaskan." teriak Gae yang mendapat kuncian dari Samuel.


"Kalian kayak anak kecil." kata Killed yang melihat dua orang lagi main gulad.


Kille : Hello cantik, how are you?


Adinda : Hem


Killed : Ahahaha. OK salam sayangku


Adinda : Salam Mr. Kille Adito


Kille : what's wrong, is there a problem my dear?


Adinda : can i get your help?


"Adinda? dia Adinda kan, Kil?" Tanya Samuel yang mendengar suara orang yang menelpon.


"Yes bro." jawab Kille sambil senyum, karna tau bahwa temannya itu menaruk hati pada Adinda sejak dulu. Dan Kille sengaja meloudspeaker.


Setelah urusan dengan Mr. Kille selesai Adinda dan desainer Anggel berangkat ke LA. Adinda tinggal di apertemen Anggel selama dia ada di sana, dan ternyata Melinda juga ada di sana.


Hari H okestra


Aku emang sudah latihan bersama okestra Mr. Kille selama beberapa hari sebelum acara, namun tetap saja aku merasa gerogi pas ada dipanggung, apa lagi ini bisa dibilang adalah pertunjukanku yang pertama kali untuk ikut tampil dalam sebuah okestra.


__ADS_1


Adinda + piano


Anggap saja begitu ya? Silakan kalian mengahayal sendiri seperti apa gambar Adinda menurut kalian semua.


Barisan penonton dan percakapan Anggel dan Melinda.


"Gila bener. Adinda benar - benar luar biasa, dia tampil dengan sangat indah. Dia emang serba bisa, bukan hanya bermain musik, menyanyi, berbisnis, dan juga desainer." puji melinda.


"Ya dia emang sangat luar biasa, waktu pertama kali lihat aku sudah tau kalo dia akan jadi orang yang sukses. Dia memang multitalen." kata Anggel menimpali pujian Melinda.


"Tante benar, andai aku adalah cowok, aku pasti sudah mendekatinya dan berusaha memiliki dia." sambil menatap penuh kagum pada Adinda.


"Kalo begitu deketin aja dia sekarang, karna dia adalah permata yang terbuang." kata Anggel yang membuat Melinda bingung.


Maksud tante apa? Kok aku jadi bingung ya." tanya Melinda untuk memperjelas.


"Ya, karna satatus Adinda sekarang adalah janda. Dia baru di ceraikan suaminya, mungkin sekitar 5 atau 6 bulan yang lalu." jelas Anggel pada Melinda.


"what?! Siapa lelaki be**k yang melalukan itu.!?" teriak terkejud Melinda.


"Ya, mungkin dia belum tau siap Adinda sebenarnya. Karna dia emang bukan golongan bunga yang indah. Melainkan dia adalah bunga yang bisa dibilang sederhana namun terlihat sangat menawan jika kita merawatnya dengan baik. Dia bagiakan bungan rain lily atau Fairi lily" jelas Anggel.


"Bo**h sekali mantan suaminya itu, aku yakin dia akan merugi setelah tau siapa wanita yang dia lepaskan dan dia buang itu. Sungguh lelaki yang amat sangat be**k dia." gerutu Melinda.


"Haaaah. Begitulah" jawab Anggel sambil bernafas panjang.



Rain Lili



Fairy Lili


"Wah. Luar biasa, ini sungguh pertunjukan yang sangat luar bisa kan?" seru seorang penonton.


"Benar, apa lagi gadis pemain piano itu, dia sungguh sangat luar biasa. Aku merekamnya dan memasukkan ke akun sosmedku dengan nama Gadis Piano" sambung penonton lainnya.


"Tunggu dulu, dia bukannya seorang desainer yang benerapa minggu lalu acaranya disiarkan secara life diseluruh kota gak sih.?" ucap penonton yang tadi.


"Wah, iya kau benar. Gila bener dia benar - benar gadis yang multitalenta, dan juga cantik." sambung penonton yang lainnya lagi.


"Apa - apaan ini tan, acara yang sesungguhnya tertutup dengan aura yang memukau dari Adinda sang gadis piano, hahaha" seru Melinda dengan tawa bahagianya.


"Kau benar, ini adalah acara amal untuk para investor yang digelar dengan menampilkan okestra biar berbeda dari yang lain, malah jadi pemberi nama baru untuk Adinda. Gadis piano, bagus juga" sambung Anggel sambil manggut - manggut.


Ada yang bilang rindu dengan Mexca. Apa sudah siap dengan perubahan Mexca? 😊


Kunjungi juga Maduku saudara tiriku, dan beri masukan. Karna saran kalian semua adalah dukungan yang sangat luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2