(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Godaan mexca


__ADS_3

Setelah meninggalkan Bram Adinda berjalan ke arah parkiran dengan suasana hati yang tak bisa dia artikan, karna semuanya rumit bagi Adinda. Yang ada dalam benaknya dia hanya ingin cepat pulang kerumahnya dan istirahat.


"Sudah, terima kasih. Ini mobil saya" kata Adinda pada Mexca saat dia sudah berdiri disamping mobilnya.


"Baiklah, hati - hati menyetirnya. Tak perlu memikirkan yang laen, istirahat saja sesampainya di rumah, dan langsung pulang jangan keluyuran." pinta Mexca seola dia memerintah adiknya.


Setelah Dinda melajukan mobilnya menjauh dari hadapan Mexca, dia pun masuk ke dalam mobilnya yang disupirin oleh Faris.


"Langsung pulang, atau mau ketempat lain dulu?" Tanya Faris begitu melihat Mexca masuk kedalam mobil.


"Langsung pulang saja." Kata Mexca malas dan terlihat capek, dia langsung menyandarkan kepalanya disandaran mobil sambil menutup matanya.


"Kau tak papa? Atau ada yang ingin kau katakan mungkin." kata Faris mengacau pikiran Mexca, saat dia melajukan mobilnya ke arah rumah Mexca.


"Tidak, kau menyetir saja." kata Mexca sambil tetap menutup mata.


~***Flashback***~


"Lah ngapain kamu malah tidur di sini?" tegur Faris pada bosnya yang menutup matanya di pojok restoran dalam mol itu.


"Ya, karna aku capek dan ngantuk. Makanya aku cari yang di pojokan dan sofa bukan kursi." jawab Mexca malas


"Baiklah, ayo kembali semua sudah selesai. Laporannya akan ku berikan padamu besok saja." ajak Faris pada Mexca, karna dia juga merasa capek.


Mexca berdiri dan berjalan keluar restoran yang diikuti Faris di belakangnya. Namun langkah Mexca terhenti saat dia melihat sosok yang dia kenali dari jauh.


"Kenapa? Ada apa lagi, kok tiba - tiba berhenti?" Tanya Faris bingung


"Itu, Adinda bukan?" tunjuknya dengan menggerakkan dagunya.


Faris mengikuti arah pandang Mexca dan ikut melihat "Kau mengenalnya? Dia emang Adinda, mungkin itu suaminya" kata Faris menebak.


"Iya kau benar, tapi itu mantan bukan suaminya, ayo." Mexca berjalan ke arah meja Adinda, dan Faris mengekor di belakangnya dengan bingung.


Saat hampir dekat Mexca merasa kesal saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Bram pada Adinda. Ada rasa tak rela jika Adinda harus menerima permintaan mantan suaminya untuk rujuk.


Dengan keberaniannya Mexca menengahi mereka berdua dan ingin mengacaukan usaha Bram, saat dia tau kalo Adinda berusaha untuk menolaknya.


"Kamu jangan membohongi dirimu sendiri terlalu lama Din. Mas juga sudah mencintaimu sejak dulu Din. Hanya saja waktu itu mas Khilaf sehingga mas mengucapkan kata talak padamu. Tapi sekarang mas mau memperbaiki semuanya." kata kata yang didengar oleh Mexca dari ucapan yang dikatakan oleh Bram.


"Cinta dari dulu, khilaf. Enak saja.!" gerutu Mexca kesal.


"Apa - apaan dia.! Mau mendesak dan memojokkan Adinda? Tidak bisa begitu, seenaknya saja dia." geram Mexca yang akhirnya mengganggu pembicaraan mereka berdua


Setelah Mexca berhasil hadir ditengah mereka, dia jadi semakin kesal dengan cara Bram yang menilai dan melihat orang lain hanya dengan pandangan luarnya saja. Sehingga tanpa sadar dengan sifat arogannya dia menyatakan cintanya pada Adinda karna rasa kesalnya pada Bram.


~***Flashback On***~


"Masya Allah... Kenapa aku bisa segila itu ya tadi." keluhnya masih tetap menutup mata dan memegang pelipisnya


"Lah, kenapa? Baru sadar dengan apa yang baru saja kau lakukan?" kata Faris dengan tersenyum geli melihat bosnya yang tak seperti dirinya hari ini.


"Jadi kau menyuruh aku menyelidiki orang itu karna kau tau kalo dia adalah mantan suami Adinda dan ingin rujuk." celetuk Faris yang penasaran.


"Ya, dan kau dari mana mengenalnya? Jangan macam - macam dia milikku." ancam Mexca pada Faris.


"Hahaha... Aku tau, tapi aku gak nyangka kalo kau menyukai Adinda. Dan sejak kapan kau sadar kalo kau menyukainya.?" Tanya Faris pada Mexca yang masih menutup katanya.

__ADS_1


"Entalah, mungkin sejak pertama kali ketemu di LA" jawab Mexca asal.


"Bukankah waktu itu kau masih tak kenal dia." Faris semakin penasaran dan bingung dengan jawaban Mexca yang terdengar asal jawab.


"Iya, lebih tepatnya aku tertarik." tawab Mexca lagi sambil mengulas senyum tipis dibibirbya.


"Luar biasa." jawab Faris menggelengkan kepalanya, sambil tetep fokus menyetir.


"Dan kau sendiri pernah menyukainya" Tanya Mexca pada Faris.


"Deg," Faris terkejud karna pertanyaan Mexca mengenai sasaran.


"Hem... Ya ku akui kalo aku sempat menaruk hati padanya dulu. Karna ak..." sebelum Faris menyelesaikan kalimatnya Mexca sudah berteriak dan siaga dari posisi tidurnya yang bersandar pada sandara kursi mobil.


"Hay.! Kau jangan macam - macam, ingin aku pulangkan kau.!" geram Mexca yang langsung membuka mata dan manatap Faris tajam


"Heh.! Aku yang pegang kendali sekarang, apa kau ingin aku menabrakkan mobil ini dan kita mati bersama?" ancam Faris balik, karna dia terkejud diteriakin Mexca tepat ditelinganya. Karna Mexca sedang duduk di sampingnya.


"Haaah.! Baiklah, lanjudkan ceritamu" kata Mexca ngalah dan menutup matanya serta kembali lagi keposisi bersandarnya.


Faris pun menceritakan asal mula dia mengenal dan bertemu sama Adinda, sampai dia jadi sering bertemu dan saling bertukar ilmu, karna Adinda yang ingin direkrut oleh sebuah perusahaan.


Sampai akhirnya mereka jadi jarang ketemu dan tak pernah ketemu lagi karna kesibukan Faris yang harus bolak balik saat Mexca mendalami ilmu agama, lalu Faris dapat kabar kalo Adinda sebenarnya sudah menikah dari Merisca.


Mendengar cerita dari Faris Mexca tersenyum kecut, karna semuanya bisa terjadi gara - gara perintahnya yang selalu menyuruh Faris ke cafe itu untuk membelikan dia makan dan juga cemilan setiap harinya.


Sesampainya Mexca di rumah dia jadi tak fokus, karna selalu teringat akan wajah Adinda yang kaget dengan pernyataan cintanya yang mendadak dan tak romantis sama sekali.


Mexca merasa gemas dengan ekspresi Dinda dan ingin sekali meraupnya. Karna perasaan yang dipendam sekian tahun akhirnya meluap kepermukaan, walo dengan cara yang salah dan sedikit memaksa.


"Ya Allah... Semuanya sudah terlambat, dan rasa ini sudah meluap. Aku tak sanggup lagi menahannya, apa dia tak papa sekarang, apa dia sudah nyampek rumah dengan selamat.?" Mexca terus menggerutu di dalam kamarnya.


"Dia pasti berfikir kalo aku pria gampangan, karna aku mengungkapkan perasaanku begitu saja secara sepontan." gerutunya lagi sambil merebahkan tubuhnya.


Sementara Dinda yang juga berada di kamarnya merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mexca padanya waktu di restoran tadi. Dinda menganggap kalo itu hanyalah ungkapan untuk menolong dia menolak permintaan Bram saja.


"Tidak mungkin kan dia benar serius dengan kata - katanya itu? Lagi pula aku tak mungkin mencari imam yang beda keyakinan dengan ku." gerutu Dinda saat dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Kenapa non, kok seperti orang bingung gitu" tegur bi Sumi yang masuk membawah cucian baju bersih Adinda, dan melihat Adinda bengong di tempat tidurnya sambil memandang langit langit kamarnya.


"Gak papa bi, cuma emang lagi bingung aja. Dinda gak tau kenapa kalo ketemu sama orang itu bawaanya selalu nurut dengan semua ucapannya dan tanpa sadar selalu mengikuti dia." jelas Dinda pada bi Sumi yang masuk ke dalam kamarnya dan menata baju baju yang selesai dicuci.


"Jodoh kali non. Bibi mah selalu berdo'a agar non Dinda dapat jodoh yang baik dan mapan, kaya raya dan juga tampan." kata bi sumi dengan serius sambil menengadakan kedua tangannya dan pandangannya ke atas.


"Tapi itu tidak mungkin bi, karna dia beda keyakinan dengan Dinda. Gak mungkin Dinda cari imam yang tak sekeyakinan." jelas Dinda sendu


"Lah, kok bisa begitu non. Tapi non Dinda menyukainya?" Tanya bi sumi ikutan sedih.


Keesokan paginya Adinda dapat telpon kalo dia telah secara resmi bergabung dan bekerja di PT Antariksa Sauntetik Howl, dan mulai hari itu juga dia mulai masuk kerja dan bergabung dengan perusahaan itu.


Setelah mendapatkan panggilan itu, Adinda siap siap untuk berangkat ke perusahaan. Adinda sangat senang dengan kabar itu. Dalam perjalanan menuju perusahaan dia selalu senyum, dan berfikir dia akan mengembangkan sayapnya di dunia bisnis yang akan lebih besar lagi.


Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya di perusahaan itu dia langsung masuk dan menuju resepsionis "Selamat pagi," sapa Adinda pada resepsionis perusahaan itu.


"Iya, pagi. Apa dengan desainer AL?" Tanya resepsionis itu ramah.


"Benar, saya sendiri. Tadi pagi saya dapat telpon" jelas Adinda

__ADS_1


"Baik, mari ikuti saya" resepsionis itu mengantarkan Dinda ke lantai atas tempat kantor Mexca


"Silakan desainer AL untuk menemui sekretaris Merlin" ucap resepsionis itu saat sampai di ruang sekretaris.


"Saya permisi," pamit resepsionis itu


"Iya, terima kasih" balas Dinda dengan sopan.


Dinda melangkah dengan hati - hati dan menanyakan keberadaan Merlin pada rekan - rekan Merlin yang terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing - masing. Namun belum sempat mereka menjelaskan seseorang sudah memanggil Adinda dari luar ruangan sekretaris.


"Desainer AL?" tegur seseorang yang ternyata itu adalah Merlin, yang baru keluar dari ruangan Mexca.


"Sekterais Merlin." jawab sapaan Adinda pada Merlin yang datang mendekat.


"Halo semuanya, dia adalah desainer AL yang akan bergabung dengan kita mulai hari ini." ucap Merlin mengenalkan Adinda pada rekannya


"Halo desainer AL, selamat bergabung dengan kami, dan semoga betah bekerja di sini." ucap mereka serempak


"Iya terima kasih, dan mohon bantuannya." ucap Adinda pada mereka semua


"Baiklah, ayo ikuti aku." ucap Merlin dan Dinda mengikutinya dari belakang


Adinda ditempatkan di departemen desain sesuai dengan keahliannya, karna dia adalah seorang desainer, dan dia ditempatkan menjadi kepala regu dari department tersebut, karna posisi itu kosong.


Setelah sebulan Dinda bekerja dan bergabung dengan perusahaan itu, dia tak pernah bertemu dengan Mexca, terlebih setelah kejadian waktu itu (pernyataan cinta yang mendadak), Mexca tak pernah muncul lagi, dan juga tak ada kabar darinya, dia seolah telah ditelan bumi lenyap begitu saja. Bahkan saat ada pertemuan juga dia tak ada ditempat.


Siang itu Dinda istirahat di atap, karna suka istirahat di sana, karna suwasananya sunyi dan tenang. Dinda sering menghabiskan waktunya di situ, kadang juga dia makan siang di situ, karna bi Sumi selalu bawahin dia bekal.


"Kenapa denganku, apa hanya aku saja yang berdebar saat teringat akan pernyataan cintanya yang mendadak itu? Dia pasti mengucapkan itu hanya asal saja." gerutu Dinda yang menyandarkan kepalanya di meja dan berbantalkan lengannya sambil menutup mata.


"Tidak hanya kamu baby, aku pun juga berdebar saat ingat waktu itu. Apa lagi waktu melihat ekspresi kamu yang terkejud, begitu menggemaskan." jawab seseorang yang mendengar gerutuan Adinda


Dan karna terkejud tak hanya dirinya yang ada di atap, Adinda langsung bangun dan mencari sumber suara. Ternyat di balik tempatnya duduk ada seseorang yang berdiri dengan kemeja putih yang lengannya di gulung sampai siku, rambut cepaknya yang sedikit panjang sangat mempesona saat ditiup angin, serta garis wajahnya yang begitu tegas nampak sangat jelas dilihat dari samping.


Seseorang yang dengan gaya cool, dengan tangan bersidekap serta tubuh yang bersandar pada dinding itu tampak begitu mempesona.


Melihat pemandangan itu, seketika wajah Adinda memerah. Dia tertunduk malu karna kata - katanya didengar oleh yang bersangkutan.


"Kenapa kamu hanya diam saja. Tak ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Mexca yang tak mendengar suara Adinda.


Mexca melihat Adinda tertunduk, dia mendekati Adinda "Bagaimana kalo kita menjalin hibungan kantor dan merahasiakan dari semuanya, tempat ini bisa jadi tempat favorite kita untuk bertemu dan menghabiskan waktu berdua saja." kata Mexca sambil mendekatkan wajahnya ketelinga Adinda.


Sedangkan Adinda yang mendengar itu wajahnya semaki memerah, dan dia semakin malu. Sementara Mexca yang mendapati reaksi Adinda atas apa yang baru saja diucapkan, tersenyum karna dia merasa cintanya bersambut.


"Setiap hari kamu menghabiskan bekalmu sendirian dan tak membaginya denganku? Kenapa kau tega sekali padaku" kata Mexca dudu di kursi yang tadi di dudukin Adinda.


"Kemarilah sayang, apa kamu ingin duduk dipangkuanku?" goda Mexca dan itu membuat wajah Dinda semakin bersemu merah, bak kepiting rebus.


"Kamu terlihat sangat cantik saat malu malu begitu, sungguh menggemaskan."


"Tunjukkan ekspresi itu hanya padaku. Karna aku tak rela jika ada orang lain yang melirikmu"


Semua kata kata yang dilontarkan Mexca itu membuat jantung Adinda berdetak sangat cepat, dia berdiri tegak dengan terdunduk di depan Mexca.


Mexca tersenyum dan bangun dari posisi duduknya dan mendekati Adinda yang berdiri seperti murid yang kenak hukuman dari gurunya.


"Ku tunggu kamu besok di sini, dan aku ingin makan masakanmu. Kamu mengerti sayangku." ucap Mexca pada Dinda dengan memegang dagu Adinda dan mengarahkannya ke atas agar mata Adinda menatapnya, dan Mexca mengedipkan sebelah matanya sebelum dia pergi meninggalkan Adinda sendiri di atap itu.

__ADS_1


Dan seperginya Mexca, Adinda jongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannyan karna malu wajahnya yang memerah di lihat oleh Mexca. Godaan dari Mexca berhasil membuat seorang Adinda jadi berdebar tak karuan.


__ADS_2