
Haidar terbangun dari tidurnya karena suara ketukan dari pintu. Ia memijit pelan kepalanya yang terasa berat. Mata kebiruan miliknya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Suara ketukan di pintu terdengar lagi, kali ini ia menyandarkan punggungnya. Seorang perempuan setengah baya masuk dengan membawa nampan berisi makan malam.
"Lho, Haidar sudah bangun? Baru saja Ibu mau bangunkan kamu, Nak" ujarnya, lalu ia meletakkan nampan yang dipegangnya di meja. Sedang tangannya yang lain menyalakan saklar lampu.
Haidar menatap Ibunya agak bingung, "jam berapa ini, Bu?" ia bertanya ketika melihat dengan jelas ibunya yang mengenakan mukena berwarna putih. Mukena yang sering dipakai ibunya untuk ibadah. Sepertinya ibunya habis sembahyang.
"Jam setengah tujuh, sebentar lagi masuk Isya. Ini ayo kamu makan dulu. Habis itu nanti minum obatnya. Jangan sampai tidak diminum, kasihan Hamna yang sudah repot-repot rawat kamu" Hannah mulai mengoceh. Dengan agak gemas ia menarik selimut yang menutupi tubuh Haidar.
Haidar tampak sedang mencerna ucapan Ibunya barusan. "Ibu. Ibu tadi bilang siapa yang merawat Haidar?" tanyanya masih dengan menatap Ibunya.
"Hamna." jawabnya tanpa menatap anak laki-lakinya itu.
Ia langsung menegakkan punggung. Terkejut. "Apa?! Hamna? Hamna yang bawa aku pulang?" tanyanya beruntun, masih belum percaya. Hal yang diingatnya hanyalah ia sedang berbaring di kantornya karena rasa pusing yang mendera.
"Iyaaaa, Haidar. Bukan cuma antar kamu pulang, tapi Hamna juga merawat kamu, mengompres demam kamu, menyuapi kamu sup, membantu kamu minum sup sampai menemani kamu seharian tahu! Masyaa Allah, ternyata Hamba gadis yang sangat baik."
Ia makin tak percaya. Detak jantungnya berpacu. "Dia menjaga Haidar, Bu? Di sini? Di kamarku?"
"Iyaaaa Haidar sayang. Dia begitu telaten saat merawat kamu. Dan ya, kamu tahu tidak? Dia sampai memasak sup khusus untuk kamu, lho! Ibu baru tahu kalau Hamna pandai memasak. Sudah cantik, cerdas, baik hati, sopan. Wifey material sekali ya Hamna itu" Hannah tersenyum penuh bahagia ketika memikirkan betapa perhatiannya Hamna kepada Haidar.
Haidar mematung mendengar penuturan Ibunya. "Eh, Ayahmu kayaknya panggil Ibu. Kamu habiskan makanannya ya. Habis itu jangan lupa mandi terus sholat, ya. Ibu ke Ayahmu dulu"
Haidar mengangguk. Setelah Ibunya pergi ia mulai memakan habis makanannya dan bergegas mandi. Kucuran air membasuh sekujur tubuhnya, rasa segar menyergapnya. Lalu ia mulai menegakkan sholat yang dilewatkannya.
__ADS_1
...**********...
"Kamu sudah selesai mengantar makanan? Bagaimana? Apa dia mau makan?" Laki-laki berbadan tegap itu bertanya kepada Hannah. Hannah mengangguk, "Sudah. Aku sudah menyuruhnya makan tadi"
Laki-laki itu menariknya agar duduk di sampingnya. Lalu membelai kepalanya pelan, membawa perasaan nyaman di hatinya. "Bagaimana keadaannya?" ia bertanya lagi. Kini tangannya berpindah memangku kaki Hannah dan memijitnya.
Hannah tersenyum dengan perlakuan suaminya itu. "Sudah membaik. Semuanya berkat Hamna, aku melihat sendiri bagaimana perlakuannya pada Haidar. Sangat perhatian. Kamu tahu kan sayang, Haidar itu kalau sakit pasti susah sekali minum obat. Keras kepalanya itu seperti kamu" Hannah menggerutu.
Laki-laki itu tertawa mendengar gerutuan istrinya itu. Jarinya menjawil hidung Hannah gemas. "Oh ya Hamna itu siapa? Apa dia gadis yang pernah kamu ceritakan itu? ia bertanya penuh penasaran.
Hannah mengangguk antusias. "Iya. Gadis yatim yang waktu itu membuat Haidar sampai rela bolak-balik rumah sakit. Kasihan sekali gadis itu. Hidup sendirian, tanpa orang tua ataupun kerabat, tapi aku bisa melihat kalau dia gadis yang tegar dan kuat. Dan kepribadiannya juga sangat baik. Tutur katanya sangat santun saat berbicara. Alangkah beruntungnya jika Haidar bisa memenangkan hatinya, kita juga pasti beruntung sekali jika punya menantu seperti..."
Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Telunjuknya membungkam bibir Hannah. Istrinya itu, jika sudah berbicara tentang yang disukainya, maka mulutnya susah untuk berhenti.
Hannah menggenggam jemari suami yang amat dihormatinya itu. "Suamiku, aku ini sedang bahagia tahu. Kamu juga setuju kan kalau Hamna itu adalah tipe istri idaman untuk Haidar"
"Iya, iya. Aku setuju kok"
...**********...
Haidar mengambil laptop dan ponselnya dari nakas. Matanya satu persatu mengabsen draft dan email pekerjaannya yang tertunda. Ia ingat hari ini ia tidak mengerjakan apapun.
"Oh iya, jadwal bimbingan semua mahasiswaku, semuanya terlantar. Gawat, gawat, gawat." Jarinya dengan lihai menggulir kursor. Matanya teliti memilah email yang masuk. Dan perhatiannya terhenti pada satu email masuk. Email dari Hamna. Dengan cepat ia membuka dan membacanya seksama.
__ADS_1
Hatinya menjadi lega ketika membaca jadwal ulang bimbingannya. Tidak salah jika Pak Nasher menyebutnya sebagai mahasiswi teladan dan telaten. Nyatanya Hamna memang bisa diandalkan. Ia bukan hanya membuatkan jadwal ulang, tapi juga melampirkan surat cuti selama 2 hari. Dan dibawah surat cuti itu ada lampiran catatan.
Haidar membacanya pelan, "Jangan memaksakan diri untuk bekerja dulu, Pak. Jika belum sepenuhnya sembuh sebaik-baiknya Anda istirahat. Loyalitas pada pekerjaan memang bagus tapi bukan berarti harus mengesampingkan kesehatan. Selamat beristirahat, tenang saja, saya sudah mengurus semuanya. Semoga lekas sembuh, Pak"
Haidar tersenyum sendiri membaca catatan Hamna. Dibalik sifatnya yang ketus dan dingin itu ternyata Hamna bisa perhatian juga.
'Idaman yang sangat sulit dimiliki ' batinnya.
Kemudian, jarinya mengetik balasan terima kasih. Nanti, ia harus memberinya hadiah sebagai ungkapan terima kasih kepada Hamna karena sudah mau merawatnya.
Malam itu, Haidar mulai berpikir apa yang seharusnya ia berikan kepada Hamna. Jemarinya mulai berselancar di media sosial, mencari-cari barang yang cocok diberikan kepada seorang gadis. Waktu bergulir semakin larut, Haidar merebahkan dirinya, kantuk sudah menyerang. Sampai matanya terpejam tak ada yang dipikirkannya kecuali Hamna, bahkan niat untuk menyelesaikan pekerjaannya pun sirna. Lenyap bersama mimpi.
...**********...
Hamna masih asyik berkutat dengan buku-buku nya. Tangannya sibuk mencatat sampai ia teralihkan oleh suara denting di ponselnya. Pertanda ada email masuk. Ia cepat-cepat membacanya, takut kalau itu adalah email penting dari relasinya.
Ternyata hanya email balasan dari dosennya. Matanya membaca email balasan itu.
"Terima kasih ya, Na. Sudah mau membantu membereskan pekerjaan saya hari ini. And thanks for taking care of me. Sorry for bothering you."
Hamna tersenyum tanpa sadar. Kemudian ia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Rasanya ia ingin segera istirahat, badannya terasa remuk.
Tiga puluh menit kemudian ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum tidur ia mengecek sekali lagi jadwalnya untuk besok. Kosong. Tak ada jadwal bimbingan ataupun pekerjaan yang penting, hanya ada jadwal membeli buku.
__ADS_1
"Demam Pak Haidar sudah turun belum, ya? Bagaimana keadaannya? Atau kujenguk saja ya besok? Lagipula aku kan tidak ada pekerjaan apa-apa besok." ia bertanya pada dirinya sendiri. Kepalanya menimbang, haruskah ia menjenguk dosennya besok?