141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Dokter Fatih


__ADS_3

"Jadi, sekarang kau adalah dokter?" Haidar bertanya saat mereka melaju agak jauh dari rumah Shafiya. Keduanya sedang menuju apotek.


"Seperti yang kau lihat sekarang" Fatih tampak menghela napas berat.


"Kenapa? Bukannya dulu kau ambil jurusan bisnis? Something wrong?" Tanya Haidar agak penasaran.


Fatih menggelengkan kepalanya lemah, agaknya ia tidak bisa menutupi sesuatu dari pria di sampingnya. "Banyak hal yang terjadi dalam hidupku beberapa tahun terakhir, Dar. My parents are divorced. Alasannya tidak perlu kau ketahui. Yang jelas, ia memilih meninggalkan rumah" jelasnya, wajahnya berubah jadi murung.


"It so bad, aku turut berduka untuk itu. Tapi yang aku herankan, bagaimana kau mengambil profesi dokter? Bukannya dulu kau bersikeras ingin menjadi pebisnis?"


"Well, bisa dibilang aku mengubah haluan hidupku. Di tahun kedua kuliahku, aku mengundurkan diri. Entahlah apa yang kupikirkan waktu itu, aku hanya berpikir jika aku menjadi pebisnis dan terjun ke dunia itu, kemungkinan besarnya adalah aku akan bertemu Ibuku suatu hari. You know that, dunia entertainment dan dunia bisnis tak terpisahkan" Fatih mengedikkan bahu, dadanya kembang kempis ketika lidahnya secara tak sengaja mengucap kata Ibu.


Hening menghias suasana keduanya, baik Fatih dan Haidar tak ada yang ingin membuka suara lagi. Dua laki-laki itu terdiam, tertunduk pada garis takdir mereka. Dunia punya banyak rahasia yang tidak diketahui manusia.


Perihal bagaimana takdir membawa seseorang, tak ada yang bisa menerka kemana dirinya akan berlabuh. Manusia bisa berencana soal apa saja pilihan-pilihan hidup yang akan terjadi, tetapi penentu akhirnya bukanlah manusia. Manusia sebagai pemain hanya bisa menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya.


"Lalu ... Setelah itu? Apa kau ... " Haidar menggantung ucapannya. Ragu bertanya lebih jauh.


Fatih menatapnya, ia tahu Haidar, seseorang yang dikenalnya itu tak akan berhenti sebelum ia menuntaskan rasa penasarannya. "Aku mengurung diriku di rumah, meratapi takdirku, mungkin? Sampai suatu hari secara tak sengaja aku bertemu seorang gadis. Dia mengubah cara pandangku tentang takdir ... " Fatih menarik napas pelan.


" ... Dia berkata padaku; 'Jika takdir seolah mempermainkan hidupmu. Jangan salahkan takdirmu, tapi dirimu. Tuhan memberimu kesempatan hidup bukan untuk menyerah.'" Fatih terhenti. Matanya menatap ke depan, menatap ke arah keramaian jalan.


Haidar termangu, "dan kau berubah karena kalimat itu? Hei, tapi, siapa gadis itu?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu siapa dia, tapi ya, setelah mendengar penuturan gadis itu, aku mulai bangkit dan menata kembali hidupku yang kacau. Aku melanjutkan kembali kuliahku dan kedokteran adalah pilihanku" jeda sesaat, Fatih membuka jendela mobil Haidar, menatap rintik-rintik hujan yang jatuh.


Haidar masih terdiam, ia sedang menatap kemacetan di hadapannya. Hujan tengah mengguyur bumi, aroma hujan mulai tercium oleh inderanya. Rintik-rintik hujan perlahan menampar jendela mobilnya.


"Tapi, apa kau tahu hal terbaiknya, Dar? Keputusan yang kubuat hari itu, ternyata bukan hanya baik untuk diriku sendiri, tapi juga mengembalikan gairah hidup Ayahku yang redup. Kau tahu? Setelah kepergian Ibuku, Ayahku terus saja murung dan kehilangan minat pada pekerjaannya. Tetapi setelah aku memberitahunya aku juga ingin menjadi dokter, ia lantas memulai kembali penelitiannya yang tertunda dan kembali bersosialisasi layaknya anak muda ... " Fatih diam sejenak, ia sibuk menutup kaca jendela mobil yang tadi ia buka karena hujan mulai lebat.


"Lalu?" Tanya Haidar, mulai tertarik dengan cerita kehidupan Fatih. Ia juga tak menyangka teman masa SMA-nya itu akan menjadi dokter sekarang. Padahal seingatnya, Fatih adalah teman paling keras kepala di antara temannya yang lain.


Saat mereka sedang menentukan jurusan kuliah beberapa tahun lalu, Fatih-lah yang paling lantang bersuara kalau ia akan menggapai mimpinya. Walau ada yang berkata takdir seseorang mungkin akan berubah, dan tak ada yang tahu akan itu. Tapi Fatih tetaplah Fatih, yang begitu keras kepala.


"Aku sangat senang keputusanku akhirnya benar. Sejak saat itu, aku merasa, mungkin takdirku yang sesungguhnya bukan menjadi apa yang aku mau. Kupikir, menjadi dokter sepertinya juga tidak terlalu buruk, menyembuhkan dan membantu orang adalah tugas mulia, bukan? Aku baru menyadari sesuatu, tidak seharusnya aku menyalahkan takdir, mungkin inilah takdir yang telah Allah gariskan untukku" Fatih berujar panjang lebar.


"Dari ceritamu aku menyimpulkan, kita hanya perlu menerima takdir kita dengan tangan terbuka. Alih-alih meratapi takdir yang tak sesuai harapan, akan lebih baik berusaha lapang dada dan menjalaninya, begitu bukan?"


"Shafiya ... " Jawab Haidar, Fatih menjentikkan jarinya, "nah iya itu, sedang apa? Dan siapa gadis tadi? Apakah dia your future wife?" Fatih mulai bertanya. Ia baru teringat.


"Mereka adalah mahasiswi bimbinganku" jawab Haidar santai. Fatih menepuk bahunya, "kau jadi dosen sekarang? Wah, keren, keren sekali!"


Lalu keduanya tertawa terbahak-bahak, mengingat masa muda mereka. Tapi hanya sepersekian detik keduanya kembali pada pikiran masing-masing. Haidar sedang menggerutu dengan lalu lintas Ibukota yang sering kali macet. Dan meninggalkan barisan panjang di jalan.


Fatih kembali mengingat episode terburuk dalam hidupnya. Ia yang putus asa dan tak tahu kemana langkahnya harus menjejak. Ia yang bimbang akan dirinya sendiri. Ia yang bingung memilih tujuan dan Ayahnya yang turut kehilangan asa.


Fatih bahkan sempat berpikir bahwa hidup sangat tidak adil padanya. Takdir mempermainkan dirinya, hingga saat ia benar-benar berada di titik terendah hidupnya. Tapi seseorang justru menunjukkan arah dan membangkitkan semangat hidupnya. Mungkin, itulah cara Tuhan menunjukkan kemurahan hati-Nya.

__ADS_1


Satu hal yang dipahaminya sekarang adalah takdir tidak pernah mempermainkan hidup atau dirinya, tapi begitulah cara Tuhan menguji para hamba-Nya. Karena tak lain, manusia seringkali lupa tujuan mereka dicipta.


Sebelum manusia merasakan roller coaster kehidupan yang menjungkirbalikkan keadaan, manusia tak akan mengerti bagaimana cara menghargai hidup. Di saat-saat terburuk kehidupan-lah, manusia baru mengingat siapa Tuhannya. Manusia baru bisa tulus memanggil dan memohon kepada-Nya.


Dan Fatih pernah merasakannya. Tidak mempercayai Tuhan dan mengutuk takdir. Alangkah malunya ia sekarang. Betapa kecil akalnya dulu dan betapa sempit hatinya dulu, yang begitu mudah menyerah pada keadaan.


"Kau tahu? Kau mungkin bisa menerbitkan kisahmu menjadi buku. Kisahmu benar-benar luar biasa, Fatih! Im proud of you, Bro!" ucapan Haidar membangunkan Fatih dari lamunan panjangnya.


Tak lama setelah percakapan itu, akhirnya mereka sampai di apotek. Haidar segera keluar dari mobil dan segera membeli obat sesuai daftar yang diberikan. "Kau sudah membeli semua obatnya, Dar?" Tanya Fatih saat Haidar kembali ke mobilnya, Haidar menoleh pada Fatih, ia mengangguk, "sudah, ini" jawabnya sembari menunjukkan bungkusan yang dipegangnya.


"Coba biar kulihat" pinta Fatih pada Haidar untuk memastikan laki-laki itu tidak membeli obat yang salah. Sebagai seorang dokter, ia harus benar-benar memastikan segala hal yang menyangkut pasiennya.


Haidar memberikan bungkusan di tangannya kepada Fatih, dokter itu membaca satu persatu nama obat-obatan tersebut. Setelah merasa semuanya benar, ia mengembalikan bungkusan itu kepada Haidar, "semuanya sudah benar" Haidar menerima bungkusan itu dan meletakkannya di dashboard mobil.


"Fatih benar-benar dokter yang sangat kompeten" ujar Haidar sembari mengacungkan ibu jarinya. Fatih tertawa, "aku tahu hal itu" balasnya.


Tawa mereka terhenti ketika ponsel Fatih berbunyi. Ia mengecek ponselnya lalu beralih kepada Haidar lagi, "Dar, sorry, sepertinya aku harus kembali ke rumah sakit. Ada masalah yang urgent" ucapnya.


Haidar memaklumi, "sure, tidak masalah, kau mau kuantar ke rumah sakit?" Haidar menawarkan tumpangan, tapi ditolak oleh Fatih. "Tidak, tidak perlu, aku pesan taksi saja. Oh ya boleh minta nomor ponselmu? Akan kuhubungi lagi kau nanti"


"Oh ya, boleh. Lain kali akan kuajak Hanif dan yang lainnya, kita reuni nanti" kata Haidar sembari membuka ponselnya. Fatih mengangguk, "atur saja bagaimana, aku pasti ikut dan meluangkan waktu sibukku"


Setelah mereka bertukar nomor ponsel masing-masing, Fatih turun dari mobil Haidar. "Oh ya, tolong sampaikan pesanku pada gadis-gadis itu, ya. Jika ada masalah telepon saja aku" pamitnya, setelah itu ia pergi. Haidar mengemudikan kembali mobilnya ke rumah Shafiya.

__ADS_1


__ADS_2