
Setelah acara hampir selesai, Haidar kembali mencari-cari Hamna. Namun gadis itu tak ada di manapun. Bahkan para satpam pun tak ada yang melihat Hamna pergi.
"Dia mungkin sudah pulang," duga Hayan. Haidar memicing, menyelidik kepada Pamannya itu.
"Paman pasti mengucapkan sesuatu yang menyakiti Hamna, sampai-sampai dia langsung pergi!" sentak Haidar merasa marah. Jika tak ada sesuatu yang mengusiknya, Hamna pantang untuk pergi, tanpa pamit pula.
"Kamu berani menuduh Pamanmu sendiri demi gadis itu?!" serang Hayan merasa tak terima.
"Ya, jika Paman tidak mengatakan sesuatu, mana mungkin Hamna pergi!" Keduanya terlibat adu lidah yang membawa situasi rumah menjadi tegang.
Fawwaz yang tak pernah melihat anak lelakinya semarah itu langsung melerai keduanya. "Apa-apaan kalian? Hentikan!"
"Hayan, kau sudah tua tapi tak malu bertengkar dengan anak muda," Hayan memalingkan wajah.
Fawwaz beralih pada Haidar yang sudah berada dalam buaian Ibunya. "Haidar, kau juga. Tenangkan dirimu, Hamna mungkin pulang karena ada hal mendesak. Lebih baik kau hubungi dia dulu, Nak."
Haidar menggeleng. "Sudah, tapi ponselnya tidak bisa dihubungi," ucap Haidar lemah. Di sampingnya, Hannah terus mengusap lengan anak laki-lakinya.
"Sebaiknya kamu pergi ke rumahnya untuk memastikan," usul Hannah yang langsung diangguki Fawwaz. "Ibumu benar, coba temui dia dan sampaikan maaf Ibu dan Ayah yang tak menyambutnya dengan baik."
Malam itu, Haidar langsung mengendarai mobilnya menuju kediaman Hamna. Namun setelah berkali-kali mengetuk pintu, yang keluar hanyalah sang asisten. "Tuan, Anda pulang sendiri?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Haidar balik bertanya. Hatinya berubah cemas seketika. "Hamna belum kembali?" asisten itu menggeleng.
"Sial!" sentaknya seraya menjambak rambutnya sendiri.
"Kabari aku kalau dia kembali. Kau mengerti, kan?" asisten itu mengangguk patuh. Perintah Haidar adalah kewajiban baginya.
"Baik, Tuan."
Lalu, Haidar kembali mengemudikan mobilnya tak tentu arah. Mengelilingi kota, dan tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Hamna. Namun nihil, gadis itu tak ada di manapun. Ponselnya pun tak bisa dihubungi. Shafiya saja tak tahu keberadaan Hamna.
Hal itu membuat Haidar frustasi. Hampir Subuh dan ia terjebak di jalanan yang sepi, menundukkan kepalanya lemah. Aku harus mencarimu ke mana lagi, Na? batin Haidar merasa lelah. Semalaman tak tidur, siapa yang bisa tahan?
Dalam lamunannya, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobilnya keras, membuat lelaki itu terkejut. Mau tak mau ia pun turun dengan malas. 3 orang laki-laki bertubuh kekar berpakaian serba hitam dengan membawa senjata tajam menghadang Haidar begitu ia keluar dari mobil.
Hamna terbangun pukul 5 pagi. Ia duduk dengan lemah, meraih ponsel yang sengaja dimatikannya semalam. Ia butuh ketenangan dari segala masalah yang menderanya. Kepalanya berdenyut begitu mengingat penghinaan itu.
Rentetan notifikasi memenuhi ponsel Hamna begitu ia menyalakan ponselnya. Banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab. Dari Shafiya, Pengurus rumahnya, Haidar bahkan Hannah dan Fawwaz juga. Apakah semua orang begitu mengkhawatirkanku? pikir Hamna.
Seketika saja ia merasa bersalah. Ia harus segera pulang. Ia lantas pergi ke kamar mandi hotel dan bersiap. Setelah dia merapikan dirinya, barulah ia mengabari pengurus rumahnya. Dan juga Shafiya. Baru semenit Hamna mengirimkan pesan, gadis di seberang langsung meneleponnya.
"Assalamualaikum, Hamna! Kamu di mana? Apakah kamu tahu semua orang begitu mengkhawatirkanmu? Pak Haidar mencarimu semalaman! Di mana kamu sekarang? Aku akan menjemputmu," ujar dan tanya Shafiya di seberang telepon tanpa jeda.
__ADS_1
"Ah, maaf. Semalam karena ada urusan aku jadi menginap di hotel. Kamu tidak usah menjemputku, aku akan segera pulang sekarang."
"Kamu yakin? Kalau begitu, baiklah. Oh, ya, kamu jangan lupa hubungi Pak Haidar secara pribadi. Jangan membuatnya salah paham, ada masalah apa sebaiknya diselesaikan baik-baik, Na. Bagaimana pun dia sudah banyak membantumu, kan?" tutur Shafiya panjang lebar.
Sejak kapan Shafiya jadi terdengar lebih dewasa? Aih, tapi benar yang dikatakannya. Setelah ini aku harus bicara baik-baik pada Pak Haidar.
Hamna mengulum senyumnya lalu menutup panggilan tersebut setelah berjanji pada Shafiya akan menghubunginya lagi begitu ia sampai di rumah.
Ia lalu membuka dan membaca pesan dari Haidar. Ada 141 pesan tak terbaca dan 40 panggilan tak terjawab. Hamna bahkan tak habis pikir akan ada seseorang yang begitu cemas padanya.
Tanpa pikir panjang, Hamna langsung menekan tombol panggilan. Tak perlu lama, panggilan tersebut langsung tersambung.
"Halo? Apakah Anda mengenal pengguna gawai ini?" ujar seseorang di seberang panggilan yang membuat Hamna mengernyit bingung. Bukan suara Pak Haidar.
Hamna mulai berspekulasi hal-hal aneh. Jangan-jangan...
"Ya, saya temannya. Maaf, Anda siapa, ya? Kalau boleh tahu di mana Pak Haidar?" tanya Hamna berikutnya.
"Saya dari Rumah Sakit Umum Kota. Orang yang Anda tanyakan mengalami kecelakaan, apakah Anda bisa datang dan mengisi prosedur rumah sakit untuknya?"
Apa? Kecelakaan? Pak Haidar kecelakaan? Tidak mungkin!
__ADS_1
Tanpa memedulikan apapun lagi Hamna bergegas ke rumah sakit. Tidak! Tidak boleh terjadi sesuatu yang buruk pada Pak Haidar!
"Astaga, apa yang kulakukan? Ya Allah, aku mohon, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya."