141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Little Hamna


__ADS_3

Suara tangis anak kecil menghentikan langkah Hamna dari balik area baca. Di balik rak baca, seorang anak perempuan sedang tergugu, di sampingnya, seorang anak lelaki tampak sibuk menghibur sang anak perempuan.


"El? El lagi apa di sini? Kakak dan Uncle Haidar dari tadi cari-cari El terus, El tahu gak?" Hamna langsung memeluk El begitu melihat anak laki-laki itu.


"Maaf, Kakak. El lagi hibur dia" tangan kecilnya menunjuk anak perempuan itu. "Dia tadi menangis, Uncle bilang kalau ada perempuan menangis, kita harus menghiburnya. Kita, tidak boleh membiarkan seorang perempuan menangis" jelas El dengan nada yang menggemaskan.


"El memang anak baik. Tapi, El tahu tidak apa kesalahan El?" El mengangguk. "Bagus, setelah bertemu dengan Uncle dan Kak Shafiya, El harus meminta maaf, ya"


"Iya, Kakak. El akan minta maaf" lalu Hamna mengambil ponselnya dan memberitahu Haidar serta Shafiya. Setelahnya ia bersama El bersama menghibur anak kecil itu.


Ia merengkuh anak perempuan itu, mengelus pucuk kepalanya pelan hingga tangisnya sedikit mereda. "Sudah menangisnya?" anak perempuan itu mengangguk. "Boleh Kakak bertanya?"


"Boleh, Kakak" jawabnya menggemaskan. Hamna menjawil pipinya dan pipi El bersamaan, merasa gemas. "Oke, El ayo duduk juga di sini"


"Siapa namamu, sayang?" tanya Hamna lembut, menatap anak perempuan itu lekat. Mata anak kecil itu mengingatkannya pada seseorang. "Nana" Hamna tersenyum.


"Oke, Nana. Di mana orangtuamu? Nana tahu siapa nama Ayah atau Ibunya Nana?" anak perempuan itu menggeleng pelan. Hamna menarik napas pasrah.


Tak lama Shafiya dan Haidar datang, keduanya juga menanyakan hal yang sama. Gadis kecil itu masih menggelengkan kepalanya, tanda tak tahu.

__ADS_1


"Kita kasih tahu petugas keamanan aja, deh, Na. Daritadi ditanya pun anaknya geleng-geleng terus"


"Iya, saya juga setuju. Daripada nanti ada masalah, repot jadinya" Hamna pun menyetujuinya.


"Nana, mau ikut Kakak gak? Kita beli ice cream?" tanya Hamna lembut yang langsung diangguki. El pun menimpali, "El, El juga mau ikut"


Setelahnya mereka pergi ke kedai eskrim setelah membayar buku-buku Hamna.


Sedangkan itu, di lain tempat. Seorang perempuan muda berusia 23 tahun berlari-lari kecil, matanya liar menatap kesana dan kemari, mencari anaknya yang hilang dari pandangan..


Sebuah pesan masuk, dari suaminya. "Di mana, Nana? Dia baik-baik saja, kan? 30 menit lagi aku sampai di sana" membuatnya semakin panik. Entah sudah berapa kali ia menanyai orang yang lewat, namun nihil, tak ada yang melihat anaknya itu.


"Hamna!" panggilnya, membuat semua orang di sana menatapnya bingung.


"Dia memanggilmu, Na? Kamu kenal sama perempuan itu?" tanya Shafiya seraya menatap sosok perempuan yang sedang berlari ke arahnya.


"Tidak, aku tidak mengenalnya" jawabnya. "Kalau begitu dia siapa?" Haidar menimpali.


"Hamna, kamu dari mana aja sih, Nak? Mama khawatir tahu gak? Kamu, kamu baik-baik aja kan sayang?" ujar perempuan itu sambil memeluk anak perempuannya. Nana.

__ADS_1


"Maaf, apakah Anda Ibu anak ini?" tanya Haidar lebih dulu. Perempuan itu mengangguk. "Iya, maaf dan terimakasih sebelumnya sudah menjaga anak saya, Hamna. Perkenalkan, nama saya Marshanda."


"Ya, senang bertemu dengan Anda, dan anak Anda, Bu. Perkenalkan, nama saya juga Hamna, Hamna Nafisa Zubair. Dan ini, Pak Haidar Musyaffa Khairullah." Hamna menimpali. El dan Shafiya sudah lebih dulu kembali ke toko buku.


Perempuan itu nampak bingung. Namun kembali mengembangkan senyumnya ramah. "Wah, kebetulan sekali, ya. Nama panjang Nana, Hamna Lathif Haliim, Kak. Nana, ayo bilang terima kasih."


"Terima kasih Kakak Hamna dan Om Haidar." ujar anak gadis itu lucu.


Haidar dan Hamna terkekeh. "Kok panggilnya Om, sih? Panggil Kakak juga dong" protes Haidar, ketiganya tertawa.


"Maaf, Bu Marshanda. Bukannya lancang, tapi saya mohon jaga anak Anda baik-baik, ya." Haidar mengingatkan dengan sopan.


Marshanda tampak membungkuk. "Ah, ya, saya akan memastikannya dengan baik. Terima kasih lagi, Mbak dan Mas."


Setelah itu keduanya berpamitan, meninggalkan Hamna yang termangu. "Apakah ini hanya kebetulan atau apa?" gumamnya.


"Kamu mengatakan sesuatu, Na?"


"Eh, tidak ada, Pak. Ayo kita kembali, Shafiya dan El pasti sudah menunggu." Jawabnya lalu berjalan cepat, mau tak mau, Haidar mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2