
Seusai membersihkan diri, Hamna turun ke bawah untuk memeriksa keadaan. Dan ia sungguh tak menduga jika di sana sudah ada seseorang yang tengah berdiri antusias. Hannah sedang mengajari ART yang baru di bawanya. Para ART itu berbaris rapi dengan mengenakan pakaian yang seragam.
Dengan rasa penasarannya yang tinggi, gadis itu menyapa Hannah. "Bu Hannah juga ada di sini? Sejak kapan? Dan mereka ini ... " Hannah tersenyum. "Iya, Na, sejak semalam, mereka adalah ART baru yang akan membantumu di sini" jelasnya ramah.
Kening Hamna berkerut, bingung. "Bu, Hamna tidak membutuhkan ART sebanyak ini" protes Hamna merasa tak enak hati. "Hei tidak apa-apa, rumah ini besar, jika kamu sendiri yang mengurusnya kamu akan kerepotan nanti, dan lagi Bi Ina kan sedang tidak ada, anggap saja mereka akan menggantikan posisi Bi Ina. Oh ya, bagaimana keadaan kamu, Nak? Haidar menjagamu dengan baik, kan?" ujarnya perhatian. Dengan sayang ia mengelus lengan Hamna.
Hamna mengajak Hannah untuk duduk di sofa. Tak ada lagi kekacauan seperti semalam, semuanya telah dirapikan kembali. Hannah meminta para ART-nya untuk kembali bekerja. "Hamna baik-baik saja sekarang, Bu. Terima kasih banyak, maaf ya jika Hamna sudah merepotkan Ibu" Hannah menggeleng. "Merepotkan apa? Ibu sudah menganggap Hamna seperti anak perempuanku sendiri"
"Anna, aku sudah menyelesaikan prosedur pembelian rumahnya seperti yang kamu minta. Segalanya juga sudah diurus, kamu tidak perlu khawatir lagi" Ucap Fawwaz yang baru saja masuk. Ia mengambil duduk tepat di depan kedua perempuan itu.
__ADS_1
"Benarkah? Itu bagus sekali! Haidar bisa secepatnya pindah ke mari" ujar Hannah senang. Laki-laki itu tersenyum, membuat Hannah bahagia adalah tugas besarnya sebagai suami.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Nak? Sudah lebih baik?" Hamna mengangguk. "Iya, Paman Fawwaz, Hamna sudah lebih baik"
"Itu bagus, kamu harus lebih banyak istirahat mulai sekarang" Fawwaz merasa lega dalam hati. "Terima kasih, Paman, atas perhatiannya."
"Tunggu, tunggu, tadi kamu panggil saya apa?" tanyanya heran. "err, Paman?" Fawwaz bersedekap. "Paman? Kamu memanggil istri saya dengan Ibu, tapi kamu memanggil saya Paman, keterlaluan!" Hannah tertawa sampai berderai air mata.
"Hamna, kamu lucu sekali, Nak. Panggil dia Ayah mulai sekarang, ya, agar laki-laki setengah tua ini tidak cemburu pada Ibumu" jelasnya, Hamna mengangguk-angguk. "Baik, Ibu. Ayah maafkan aku" katanya sambil mengusap matanya pelan.
__ADS_1
Tiba-tiba, ia memeluk Hannah. "Terima kasih, terima kasih banyak untuk semuanya. Kalian sangat baik pada Hamna. Bagaimana Hamna bisa membalas semua kebaikan kalian?" isaknya. Hamna terharu mengingat semua hal yang telah dilakukan keluarga Musyaffa padanya. Hannah menatap suaminya serius.
Fawwaz berdeham lalu pindah tempat duduk ke samping Hannah. "Bagaimana jika kamu membalasnya dengan cara menjadi menantu yang baik bagi kami?" bisik Fawwaz, gadis itu termangu. Antara percaya atau tidak dengan ucapan Fawwaz.
"Jangan terlalu dipikirkan perkataan Ayahmu itu, ya. Belajarlah dengan giat, berbahagialah dan jalani hidupmu dengan baik. Itu sudah cukup bagi kami." Hamna mengangguk, ia mengusap air matanya yang tak sengaja turun.
"Dan, jika kamu membutuhkan apapun, katakan pada Ayahmu ini, ya. Ayahmu akan memenuhi semua kebutuhanmu. Jangan sungkan" tambah Fawwaz.
"Baik, Hamna akan gunakan hak istimewa ini dengan baik" Hannah memeluknya lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu, kami pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, ya. Oh ya, Haidar akan pindah ke sini, kamu tolong nanti bantu dia, ya" sekali lagi, Hamna mengangguk. Setelah itu Fawwaz membawa Hannah pergi dari sana.
"Hati-hati" ujarnya seraya melambai. Hamna terduduk kembali, matanya menatap langit-langit. "Ya Rabb, perasaan apa ini? Aku bahagia, tapi juga takut. Aku bahagia, akhirnya setelah sekian lama, aku kembali merasakan hangatnya keluarga. Tapi aku juga takut jika kebahagiaan hari ini akan membawa duka yang lebih dalam. Jika semuanya akan hilang, semoga harapan tidak memelukku dengan begitu kuat. Aku takut terluka, lagi." gumamnya bermonolog.