
Hamna masih tergugu. "Maafkan saya, ya, Na" lirih Haidar lalu menarik lengan Hamna pelan, yang langsung ditepis kasar. "Jangan sentuh aku!" teriaknya lalu mendorong Haidar hingga laki-laki itu membentur sofa dengan keras.
Haidar meringis kesakitan, pelayan yang menyaksikan itu buru-buru menghampiri Haidar dan membantu laki-laki itu untuk bangkit.
"PERGI! PERGI DARI HIDUPKU SIALAN!"
"AKU MEMBENCIMU! SANGAT MEMBENCIMU!"
Haidar terbelalak menatap Hamna yang histeris. "Ke mana perginya sosok Hamna yang pendiam, tenang dan dingin. Yang berada di hadapanku ini bukan Hamna yang kukenal. Ya Allah... Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Na? Mengapa kamu jadi seperti ini?" batin Haidar memburu.
Sesak menghimpit dadanya kuat. "Na, maafkan saya, ya" lirihnya hendak menggapai lengan Hamna namun ditepisnya kasar.
"JANGAN SENTUH AKU!" Hamna beranjak, ia mengambil sebilah pisau buah yang tergeletak di meja makan. Luka batin yang mendalam membawanya pada situasi saat ini. Ia mengacungkan pisau itu ke depan. "Mundur! Atau aku akan... "
Semua orang termasuk Haidar semakin panik. "Astaghfirullah mundur semuanya! Jangan ada yang mendekat" semua orang langsung menepi, memberi ruang bagi laki-laki itu untuk menghadapi Hamna seorang diri.
__ADS_1
"Hati-hati, Pak. Mbak Nana sepertinya lost control" Haidar mengangguk paham, selangkah demi selangkah ia mendekat.
Hamna makin pias. "Jangan mendekat!" teriak Hamna lagi. "Jangan mendekat! Atau aku, aku, aku akan melukai diriku"
"Jangan! Oke, oke, saya tidak akan mendekat. Tapi, kamu letakkan pisau itu, ya? Jangan menyakiti dirimu, saya mohon" bujuknya.
Hamna menatap Haidar dengan mata sayu. Dadanya naik turun. Air mata mulai meleleh di pipinya. Haidar tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung maju dan mendekap Hamna erat.
Alih-alih tenang, Hamna makin meronta hebat, membuat Haidar kewalahan saat merebut pisau yang digenggam Hamna kuat. "Lepas, lepaskan aku!" jerit Hamna. Ia mengayunkan pisau itu asal hingga...
Darah segar mengalir dari lengan Haidar. Rasa perih dan sakit menerjangnya hebat, para pelayan hendak membantunya namun ditahan sebab Hamna masih saja enggan melepas pisau itu. Ia bahkan menggigit pergelangan tangan Haidar hingga laki-laki itu menjerit kesakitan.
Setelah berbagai upaya dilakukan, akhirnya Haidar tak memiliki pilihan, ia menepuk pundak Hamna hingga perempuan itu tergeletak pingsan.
"Maaf, Na, saya terpaksa." Dengan tenaga yang tersisa, Haidar membopong gadis itu ke atas lalu membaringkannya pelan. Ia menarik napas lega. "Akhirnya..." ia menyeka peluh yang bersarang di dahinya.
__ADS_1
Ia beralih pada pelayan, "panggilkan dokter dan berjagalah di sini selama 24 jam, jangan tinggalkan Hamna sendiri." Ia beralih lagi menatap Hamna yang pingsan.
"Baik, Pak. Bagaimana dengan luka Anda? Paling tidak itu harusnya diobati dahulu"
"Tidak apa-apa, jika Fatih sudah datang, minta ia untuk memeriksa Hamna, saya ada di kamar samping. Jika ada sesuatu kabari saya segera" setelah mengatakan hal itu, ia langsung pergi.
Ia merebahkan dirinya di kasur. "Yang terluka tanganku, tapi yang terasa sakit adalah hatiku, Na." Ia tersenyum getir seraya meraba letak luka gores di lengan, bagian atas siku.
Ia menarik napas dalam, "Sebenarnya, seberapa besar penderitaanmu di masa lalu, Na?" lirihnya. Matanya lama menatap langit-langit kamar yang dominan berwarna putih.
"Lucu, ya, Na. Kamu yang dilukai, tapi aku yang merasakan sakitnya. Kamu yang dikhianati tapi aku yang merasakan kecewa" Haidar menangkup wajahnya yang lusuh. Kentara sekali bahwa ia sangat lelah.
"Aku tidak tahan, Na. Aku tidak tahan melihatmu terluka... " setitik air lolos dari matanya. Ya, laki-laki itu menangis.
Menangisi keadaan Hamna, menangisi dirinya sendiri. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya bahwa ia akan menjaga Hamna, melindunginya dan tak akan membiarkannya terluka. Namun apa? Yang terjadi malam ini benar-benar di luar kendali dirinya.
__ADS_1
Terlalu lelah, akhirnya laki-laki itu tertidur dengan luka yang masih menganga. Ia bahkan tidak membersihkan diri, mengganti baju ataupun berwudhu seperti yang biasa dilakukannya. Membawa serta luka itu ke dalam mimpi.