
Pagi-pagi sekali Haidar sudah berada di dapur. Seusai shalat Subuh dan berpakaian rapi, ia langsung turun tangan membuat sarapan. Ia ingin membuatkan menu sarapan sehat untuk Hamna sebagai ucapan terima kasih.
"Tuan Muda, biar Bibi saja yang masak, ya? Tuan Muda mau sarapan apa? Tolong jangan berada di dapur, nanti Nyonya bisa marah" seorang asisten rumah tangga tengah menghalangi Haidar menyentuh dapur.
Pasalnya ia pernah diingatkan agar tidak membiarkan Haidar menyentuh dapur, bukan karena Haidar tidak boleh memasak, tapi karena Haidar sering menghanguskan makanan. Dan akan berakhir dengan Hannah yang memarahi semua asisten rumah tangga.
"Tuan Muda ... " panggil asisten rumah tangga itu lagi sedikit takut. "Bi, kamu ART baru, ya? Jangan panggil Tuan Muda, saya tidak suka. Panggil Haidar saja. Sekarang tolong bantu saya, siapkan bahan-bahan untuk membuat roti bakar" pintanya pada ART tersebut.
"Ba-Baik, Tuan" jawab asisten itu, ia langsung memberi Haidar apron dan langsung menyiapkan bahan-bahan yang diminta Haidar. Ia mengambil roti, mentega dan selai. "Oke, terima kasih. Bibi siapkan sarapan untuk yang lainnya saja sana" perintahnya, lalu asisten tersebut undur diri dari hadapan Haidar.
Haidar mengolesi roti dengan mentega lalu memanggangnya. Seingat Haidar, Hamna sangat suka dengan roti bakar. "Apa begini sudah benar? Apinya sudah menyala, oh, ya, harus terus dibalik supaya tidak gosong" ucapnya pada diri sendiri.
Hannah dan Fawwaz yang baru turun tertegun melihat anak mereka sedang berada di dapur. "Ya ampun siapa yang membiarkan Haidar ke dapur? Kita harus cegah, sayang, sebelum dia menghancurkan dapurku" ujar Hannah panik. Ia hendak berlari ke dapur tapi tangannya dijegal oleh Fawwaz. "Tunggu dulu, sayang, coba kamu tanya dulu, pasti ada alasan kuat yang membuat anakmu ada di dapur sepagi ini"
"Alasan?" Kening Hannah berkerut, ia tampak berpikir. "Jangan terlalu dipikirkan, tanya saja padanya" usul Fawwaz, Hannah lalu menghampiri Haidar yang sedang sibuk memanggang roti.
"Wah, pagi-pagi sekali Haidar sudah ada di dapur. Sedang masak apa, Nak?" Tanya Hannah, hidungnya mengendus-endus aroma, berjaga kalau anaknya itu akan memasak sesuatu yang meracuni orang lain. Fawwaz turut memerhatikan Haidar di belakang Hannah.
"Selamat Pagi, Ayah, Ibu. Haidar sedang membuat roti bakar dong" jawab Haidar bangga tanpa mengalihkan pandangannya dari pemanggang roti.
"Kamu mencium aroma yang aneh, Mas?" Tanya Hannah berbisik, Fawwaz menggeleng, "sepertinya tidak ada, aman terkendali"
"Kalian sedang apa?" Tanya Haidar melihat sikap Fawwaz dan Hannah yang saling berbisik.
"Tidak ada, boleh Ibu cicipi?" Hannah bersiap mencomot satu porsi roti bakar yang dibuat Haidar. Belum sempat ia mengambilnya Haidar sudah berteriak, "JANGAN!" membuat Hannah dan Fawwaz terkejut.
"Eh, maaf, Bu. I making this breakfast for someone, please don't eat" ucap Haidar memohon. Ia sudah bersusah payah memanggang roti-roti itu dengan penuh cinta.
Fawwaz dan Hannah saling berpandangan, "someone?" lirih keduanya, seolah mengerti keduanya hanya mengangguk paham. "Oh, ya, baik, baik. Maaf Ibu tidak tahu, Haidar silahkan lanjut lagi. Sayang ayo sarapan dulu sebelum ke kantor" ajak Hannah menarik tangan Fawwaz.
"Sudah kubilang, pasti ada alasan kuat kenapa anakmu bisa berada di dapur" bisik Fawwaz, "iya, iya, calon menantu, untung saja aku tidak makan roti itu, ya, sayang" Hannah bernapas lega, bersyukur ia belum menyentuh roti bakar yang dibuat Haidar.
Di waktu yang bersamaan, Hamna berulang kali memantaskan penampilan dirinya di depan cermin. Setelah merasa penampilannya sempurna, ia lekas turun ke dapur. Di sana, Bi Ina sedang membuat sarapan.
Hamna mengambil duduk. "Sarapannya apa hari ini, Bu?" tanyanya seraya membuka ponselnya. Ina menghampirinya dengan masih mengenakan apronnya, ia menjawab, "ada pancake dan bubur kacang hijau, Mbak Na mau sarapan apa?"
__ADS_1
" Pancake dan kopi seperti biasa" jawabnya. Ina mengangguk lalu membawakan nampan. Hamna menerimanya lalu memakan sarapannya pagi itu dengan tenang.
Setelah menyelesaikan sarapannya, seperti biasa ia akan mencuci piring dan gelasnya sendiri. Bi Ina masih sibuk mengelap meja.
"Bi, aku mau berangkat, ya" Hamna mengambil tasnya, belum sempat ia menjangkau pintu, Ina memanggilnya. "Tunggu sebentar Mbak Na, Bibi mau bicara"
"Kenapa, Bi?" Ina tampak gugup, "I-itu Mbak Na, Boleh gak kalau Bibi minta cuti satu bulan?" tanyanya, Hamna tampak mengernyitkan dahi.
"Kenapa Bibi mau libur, ada sesuatu?" tanya Hamna, tak biasanya Ina meminta cuti, bahkan bisa dibilang ia selalu menghabiskan waktunya mengurus rumah Hamna. Ia hanya libur saat hari raya atau ada acara besar di kampungnya.
Ina tampak memilin kerudungnya, sebenarnya ia berat meninggalkan Hamna sendirian di rumah, tapi ia juga tak memiliki pilihan. "Ibunya Bibi lagi sakit, Mbak Na. Bibi mau pulang untuk merawatnya"
Hamna terdiam, jika Ina pergi, itu artinya ia akan sendirian di rumah yang sebesar ini. Menghadapi kesendirian yang kejam. Tapi di satu sisi, ia juga tidak tega. "Begitu, ya, kapan Bibi mau pulang?" tanya Hamna.
"Besok, Mbak Na. Itu juga kalau Mbak Na mengijinkan" jawab Ina, Hamna mengangguk, "tentu aku ijinkan, Bi. Kalau Bibi mau pulang, bisa kan buatkan aku ayam panggang kecap nanti sore?"
"Bisa, bisa, Mbak Na. Ada lagi?" Hamna tampak berpikir. Jika ia tinggal sendiri, ia harus memasak sendiri, "buatkan catatan deh, catatan untuk masakan selama satu bulan dan daftar belanja bulanannya" jawab Hamna.
Ina mengangguk senang, "baik, Mbak Na. Terima kasih" Ina menundukkan kepalanya hormat. "Iya, Bi. Aku berangkat"
Hamna pergi dengan perasaan sedih. Sudah terbayang di matanya bagaimana ia akan melewati hari-hari yang sepi selama satu bulan ke depan. Ia menarik napas pelan, berusaha menguatkan hatinya lagi.
Hal yang selalu mengusiknya adalah rasa kesepian, bertahun-tahun ia menghadapinya namun tak pernah berhasil berdamai dengan itu.
...*****...
Haidar menyalakan mobilnya sambil tersenyum bahagia. Diangkatnya tinggi-tinggi wadah bekalnya dengan rasa bangga. Ia berhasil membuat sarapan khusus untuk Hamna. "Semoga saja dia suka" ucapnya pada diri sendiri.
Baru beberapa saat ia mengendarai mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia cepat-cepat menghentikan mobilnya, lalu merogoh saku jas mahalnya, dengan agak kesal ia mengangkat panggilan tersebut.
"Dar, kapan sih Lo mau bawa motor mahal ini, ha? Kalau Lo gak mau, Gue lelang juga nih motornya!" sentak seseorang di ujung telepon, Haidar menutup kupingnya. Tak mau mendengar gerutuan Hanif di pagi yang secerah ini.
Haidar menghela napas, "Assalamualaikum, Hanif, apa kabar?" jawabnya, di seberang telepon Hanif terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "ehehe ... sorry, suka lupa. Wa'alaikumussalam, Haidar, kabar Gue baik nih, kalau Lo, apa kabar?"
"Dasar. Nanti Gue tanya orangnya dulu, deh. Kalau Gue sempat, sore ini Gue ke bengkel Lo, tapi kalau Gue lagi sibuk, nanti Gue kabari Lo, oke? Jaga motornya baik-baik! Gue gak mau motornya lecet-lecet" kata Haidar panjang lebar, di bengkelnya Hanif sedang menirukan gaya bicara Haidar.
__ADS_1
"Lo dengar, kan, Hanif?" tanyanya saat tak mendengar jawaban dari Hanif. "Iya, iya, siap laksanakan perintah!" Haidar mengangguk lalu menutup teleponnya. Setelahnya, ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di sana, ia melihat Hamna yang sedang berjalan menuju kampus. Dengan cepat ia memarkir mobilnya dan mengejar Hamna. "Hamna!" panggilnya, saat jarak keduanya tak terlalu jauh.
Gadis yang dipanggil itu menoleh, "Pak Haidar? Sedang apa, Pak?" tanyanya keheranan melihat Haidar yang menarik napas usai berlari. "Saya mengejarmu" jawabnya.
Hamna tampak termenung, kadang ia tak mengerti dengan sikap dosennya itu. "Oh ya, kamu sudah sarapan belum, Na? Saya bikin sarapan, lho" ujar Haidar sembari menunjukkan kotak berisi makanan yang dibuatnya pagi tadi.
"Oh ya? Sarapan apa? Ehm ... sebaiknya kita ke ruangan dulu? Yang lain sedang menatapmu, Pak" ucap Hamna seraya berjalan. Haidar mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "kamu benar, saya sepertinya jadi terkenal, kamu cemburu tidak, Na?"
"Tidak, cemburu untuk apa?" bisiknya, Haidar berdecak "Ck, setidaknya katakan ya sekali saja. Oh saya lupa, kamu harus coba roti bakar yang saya buat, sama sepertimu saya membuatnya dengan sepenuh hati" ujar Haidar, tangannya menunjuk ke arah hati. Gadis itu tersenyum singkat.
"Baiklah ... " jawabnya, melupakan sekejap rasa sedihnya. Keduanya berjalan menyusuri lorong kampus sambil bertukar kata.
"Selamat pagi ... Pak Haidar? ... Dan Hamna, hai, mi ta berjumpa lagi" seseorang menyapa keduanya. "Hai, selamat pagi" jawab Hamna, ia menatap gadis yang tadi menyapanya itu. Lalu pandangannya beralih ke arah Haidar, laki-laki itu terdiam. "Manda? Kamu Manda Shen?" tanyanya memastikan.
Gadis yang dipanggil Manda itu mengangguk, ia tersenyum ramah. "Pak Haidar, senang bisa bertemu kembali" ujar Manda. Hamna tampak kebingungan. "Kalian berdua saling mengenal?" tanya Hamna tapi tak didengar.
Haidar bereuforia bisa bertemu dengan Manda, "ya ampun saya tidak menyangka, kamu kok bisa ada di sini? Kenapa tidak mengabari saya kalau mau ke Indonesia?" tanya kepada Manda. Saat keduanya asik berbincang, Hamna memilih pergi.
Tetapi, baru selangkah ia pergi, Haidar menggenggam jemarinya hangat. "Kamu mau ke mana?" Ia berbalik menatap Hamna. "Saya mau ke kantor" jawabnya tanpa menatap wajah Haidar.
"Senang bertemu denganmu, Manda. Hubungi saya saat luang, oke? Saya masih ada urusan" jelas Haidar kepada Manda mohon pamit. Gadis itu membungkukkan kepalanya, tanda hormat. "Baik, Pak" ucapnya lalu berjalan pergi menjauhi Hamna dan Haidar.
"Ayo, Na" ajaknya tanpa memedulikan jawaban Hamna. Ia menarik Hamna pergi ke ruangannya. Mau tak mau, Hamna mengikuti langkah kaki Haidar. Ia terus menatap tangannya yang digenggam Haidar. Degup jantungnya berpacu seirama dengan langkah kaki mereka.
"Oh ya, jadwal bimbingan hari ini siapa saja, Na?" Haidar bertanya, tetapi Hamna masih bergeming. Pikirannya tak fokus. "Na? ... Hamna?" panggilnya sembari menjawil hidung Hamna, gadis itu tersentak. Tangannya refleks menampar lengan Haidar, membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
"Aduh, kamu petinju atau mahasiswi sih, Na?"
"Ya ampun, maaf, Pak. Saya tidak sengaja, apakah sakit? Bagian mana yang saya pukul?" tangannya terulur menangkap lengan Haidar yang tak sengaja ditinjunya, ada bekas kemerahan di sana.
"Ya ampun, sampai memerah, apa sakit, Pak?"
"Tentu saja sakit" ujar Haidar, sebenarnya dibanding sakit, ia lebih merasa kaget, "ternyata tamparan seorang Hamna seperti ini. Aih sakitnya ... " batinnya merintih.
__ADS_1
"Maaf, Pak, lain kali tolong jangan lakukan itu" ucap Hamna sembari meniup-niup lengan Haidar. Laki-laki itu mematung, membulatkan mata tak percaya. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.