141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Couple Ring


__ADS_3

Hamna turun dari mobil sambil menjinjing clutch-nya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tampak familier dengan tempat yang mereka datangi.


"Kita pernah ke sini, kamu ingat? Kita cek motormu dulu, Hanif bilang sudah selesai. Setelah itu baru kita pergi makan" jelas Haidar seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Hamna.


"Dia mengingat segalanya, aku bahkan lupa kalau aku punya motor yang rusak" ujar Hamna bermonolog. Lalu ia mengikuti Haidar pergi ke dalam bengkel itu.


"Hanif! Dimana Lo? Gue sudah datang nih" teriak Haidar. Seseorang yang dipanggilnya itu menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Hanif berdecak kesal. "Ck, sudah Gue kira, yang berisik di luar itu pasti Haidar" laki-laki itu keluar sambil mengelap tangannya yang kotor oleh oli.


"Mau apa Lo ke sini?" sapanya, Haidar berbalik menatap Hamna dari atas hingga ke bawah, "cari makan" jawabnya santai.

__ADS_1


Hanif mendengus kesal, "isi kepala Lo gak ketinggalan di rumah, kan?" tanyanya, Haidar mengedikkan bahu, lalu keduanya tertawa nyaring. Hamna menatap kedua laki-laki itu bergantian.


Hanif menatap Hamna sesaat, tak menyangka Haidar akan membawa seseorang ke bengkelnya. Seolah mengerti, Haidar menjelaskan, "Gue pernah bawa dia ke sini, dia pemilik motor super mahal itu, Lo lupa?"


"Oh, ya, ya. Gue ingat, hai salam kenal. Gue Hanif. Motornya ada di sana" Hanif menganggukkan kepalanya mengerti tak lupa menyapa Hamna singkat. Hamna hanya menundukkan kepalanya untuk menghormati sapaan Hanif.


Hanif menarik Haidar menjauh dari sana, "by the way, Dar. Lo baru turun dari langit, ya?" tanyanya agak berbisik. "Hah? Maksud Lo, Nif?" Haidar balik bertanya keheranan.


"Aduh, iya, iya. Paling gak Lo lepasin Gue dulu kali, psycho banget jadi manusia" pintanya sambil meronta-ronta. Lalu Haidar melepaskan Hanif dan menatapnya tajam. Laki-laki itu berdeham pelan, "kali ini Gue lepas, Lo sudah beli cincin pasangan yang Gue minta belum?" tanya Haidar berikutnya.


Kening Hanif berkerut. "Cincin? Couple? Oh My God, jangan-jangan Lo mau ...?"

__ADS_1


"Stop! Reaksi Lo berlebihan tahu gak, Nif? Mana cincinnya?" tanya Haidar geram. "Cih, iya sebentar, Gue ambil" lalu Hanif kembali ke ruangannya dan mengambil cincin yang diminta Haidar, setelah itu ia memberikan kota beludru berwarna biru itu kepada Haidar.


"Teşekkür ederim, Hanif!" ucap Haidar senang. Hanif mengangguk, "hmm, evet, rica ederim"


"Oh, ya, motornya?" tanya Hanif membuat Haidar mengalihkan fokusnya dari cincin. Haidar tampak berpikir, "dikirim aja bisa gak, Nif? Gue lagi ada urusan urgent soalnya. Nanti Gue kirim alamatnya, gimana? Pembayarannya nanti Lo ke rumah Gue aja, Gue gak bawa uang"


"Oke, bisa diatur" jawab Hanif. Setelah itu Haidar berpamitan pergi. Ia berjalan menghampiri Hamna yang tengah duduk di kursi tunggu.


"Na ... " panggil Haidar, gadis yang merasa dirinya dipanggil berdiri sejajar dengan Haidar. Haidar menyerahkan kotak beludru berisi cincin pasangan itu kepada Hamna. Kening Hamna berkerut tak mengerti, "apa ini?" tanyanya menatap kotak yang berada di telapak tangannya.


Haidar tersenyum penuh arti, tangannya bergerak membuka kotak cincin itu, "cincin" jawabnya singkat laku memasangkan cincinnya di jari manis Hamna. Gadis itu termangu, ia memandangi jari manisnya. Jantungnya lagi-lagi berdebar, matanya beralih menatap Haidar seolah meminta penjelasan.

__ADS_1


"Couple Ring" bisiknya di telinga Hamna.


__ADS_2