
Haidar baru saja terbangun saat dering ponselnya mengagetkan tidurnya yang baru sekejap itu. Ia baru bisa tertidur pada pukul 2 pagi. Sekarang, kepalanya jadi terasa berat.
"Ya, ada apa?" jawabnya dengan suara khas bangun tidur. Jemarinya memijit pelipisnya pelan. Sesekali menguap, menahan kantuk.
"Pimpinan! Anda masih di mana? Hari ini ada jadwal penerbangan pukul 9 pagi," Sang asisten mengingatkan.
Haidar tampak menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. "Penerbangan?" tanyanya heran, seingatnya hari ini tak ada dinas ataupun tugas ke luar kota.
"Ah, mungkin Pimpinan lupa atau tidak mengecek email? Kemarin sekretaris sudah mengirimkan jadwalnya, hari ini Pimpinan harus ke LA untuk membahas kerja sama proyek baru di Amerika itu," terangnya. Haidar menepuk keningnya sendiri.
Semalam, usai dari rumah lama Hamna ia terus terbawa suasana, melamun dan memikirkannya sepanjang malam. "Ya, aku lupa. Siapkan mobilnya dan jemput aku di rumah," perintahnya lalu langsung menutup telepon dan bergegas bersiap.
30 menit kemudian, akhirnya mereka berhasil boarding. Haidar duduk menyandar pada kursi penumpang, menunggu pemberitahuan untuk landing.
"Pimpinan, sarapan?" tanya sang asisten, mengingat tadi atasannya terburu-buru pasti tidak sempat sarapan.
"Kau sangat pengertian, Rick" pujinya lalu mengambil sarapan yang diberikan Erick padanya. "Pimpinan mau kopi atau teh?" tawarnya lagi, Haidar menggeleng keras.
__ADS_1
"Tidak, setelah ini aku mau kembali tertidur." Setelah menghabiskan sandwich ala kadarnya dan sebotol susu, Haidar kembali lelap dalam mimpi.
Perjalanan dari Jakarta ke Amerika itu menghabiskan waktu sekitar 20 jam. Kini setelah menghabiskan begitu banyak tenaga, Haidar juga asistennya—Erick dan beberapa dewan beristirahat sejenak di sebuah hotel sebelum esok membahas rancangan proyek itu dengan Zuhayri Group.
Kabar yang Haidar ketahui, Zuhayri Group sebenarnya memiliki reputasi bagus di beberapa sektor bisnis selama 10 tahun terakhir. Namun entah mengapa tiga tahun belakangan, perusahaan mereka stagnan. Kini setelah berganti kepemimpinan, nampaknya Zuhayri Group sedang berusaha keras menaikkan pamornya kembali.
Yang menjadi perhatian Haidar bukanlah reputasi atau proyek yang ditawarkan, tapi sosok dibalik itu. "Rick, kau bilang Presdir Zuhayri Group itu perempuan, kan? Siapa namanya?" telisik Haidar.
Erick yang sedang merapikan berkas itu menoleh. "Iya, Pimpinan. Tapi maaf saya kurang tahu namanya. Dalam draft itu beliau tidak menyantumkan nama," jelas Erick, Haidar manggut-manggut semakin penasaran.
"Sepertinya aku pernah mendengar nama Zuhayri ini, tapi di mana, ya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ya, Pimpinan."
"Menurutmu, seperti apa Presdir dari Zuhayri Group itu? Aku ingin informasinya secara detail Entah mengapa aku merasa familiar."
Erick tampak terkejut namun sedetik kemudian ia menjawab. "Baik, Pimpinan. Saya akan segera kembali." Setelah itu, Erick keluar dari ruangan Haidar.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Erick kembali dengan membawa sebuah berkas.
"Menurut informasi yang saya dapat. Presdir dari Zuhayri Group yang sekarang baru menyelesaikan studi magisternya di Los Angeles University tahun lalu, perempuan berhijab tingginya sekitar 175cm, terkenal cantik dan cerdas. Ayahnya merupakan pebisnis ternama di Asia, namanya Tuan Hunain Ghaniyyan Zubair. Hanya itu saja yang dapat saya ketahui," jelasnya panjang lebar.
"Nama belakangnya ... Zubair?" ulang Haidar. Kepalanya terasa de javu mendengar marga Zubair itu. Seakan mengingatkannya pada seseorang yang tak pernah dilupakannya itu.
"Kau sungguh tidak tahu siapa nama Presdir itu?" desak Haidar, namun nihil, Erick tetap menggeleng.
Haidar kian penasaran. Mungkinkah? Hanya ada satu hal untuk memastikannya. Yaitu datang secara langsung besok. Jika benar yang Haidar duga, Haidar tak akan pernah melepaskannya lagi!
Matanya kini menatap ke luar jendela, memandangi kemegahan kota Los Angeles dari atas. Dari tempatnya berada, pemandangan kota yang ramai terlihat dengan jelas. Baginya pemandangan di mana pun, tak jauh berbeda.
Hampa. Itulah perasaan yang sering hinggap di hatinya. Benarlah jika ada pujangga berkata, tanpa cinta hidup terasa hampa.
Selain bekerja, Haidar tak memiliki keinginan lain untuk dilakukan. Hidupnya benar-benar didedikasikan untuk bekerja dan berbisnis siang hingga malam. Karena hanya dengan bekerja, kenangan itu tak akan mengusiknya lebih dalam. Jika tidak, ia pasti sudah porak poranda oleh rindu yang menghujam.
Sepanjang perjalanannya mengembara untuk mengembangkan bisnisnya, sejauh apapun ia bepergian ke luar negara. Tujuannya hanya satu. Menemukan kembali cinta yang hilang. Namun, bagaimana caranya ia menemukan kembali cinta itu?
__ADS_1
3 tahun pencariannya tak menghasilkan apa-apa. Bukannya ia tak berusaha melupakan Hamna dan meraih cinta baru, usaha seringkali dilakukannya. Namun, perasaan Haidar untuknya terlalu kuat. Pada akhirnya, ia berujung pada sesal dan kecewa. Hamna menjadi sosok yang gagal untuk dilupakan. Hamna menjadi seseorang yang tak pernah terlupakan di hati dan pikirannya.