141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Kembali Ke Indonesia


__ADS_3

Hamna mendorong kopernya menuju arrival gate. Kerumunan orang berjalan dengan ributnya, menjinjing rindu akan seseorang yang ditinggal lalu. Pekik haru tangis kebahagiaan dan kesedihan membaur jadi satu dalam peluk kenang tak terbendung kerap ada. Menjadi irama pengiring kerinduan di dada. Pelupuk mata Hamna pun sama, mencari-cari keberadaan sosok yang kemarin berjanji akan menjemput dan menyambut kepulangannya ke Indonesia.


Hamna merasakan suasana yang berbeda saat ia berdiri di bandara 3 tahun lalu dan sekarang. 3 tahun lalu ia pergi menuju negeri lain tanpa pengiring tangis kesedihan atau sesak perpisahan. Ia pergi dengan sakit pedih dan luka hati. Hanya keyakinan diri yang menjadi teman perjalanannya. Namun, kini ia kembali dengan suka cita, senyum mengembang sempurna. Sosok yang menantinya berada di hadapan.


Satu tangan lelaki itu melambai seolah mengatakan kepadanya untuk lekas datang ke pelukan. Satu tangannya lagi menggenggam seikat bunga mawar merah untuk diberikan kepada yang tercinta. Hamna disambut dengan penuh cinta oleh Haidar.


"Selamat datang kembali ke Indonesia, Cintaku," katanya lembut seraya memberikan buket bunga yang sudah disiapkannya.


Haidar mengembangkan senyumnya, rasa bahagia memenuhi rongga dadanya, bagai kuntum yang mekar, Haidar berbunga. Kepulangan Hamna adalah kebahagiaan terbesarnya hari ini.


Hamna memeluk bunga itu dalam dada, ia anggap bunga itu Haidar. Tak tega melepasnya. "Terima kasih banyak, aku suka," ucapnya tulus.


Haidar meraih handle koper Hamna lalu mendorongnya keluar. "Ayo, kuajak kamu pulang. Aku punya satu kejutan untukmu."


Hamna mengikutinya, ia diam saja saat jemari Haidar bertautan dengan jemarinya. Kata pulang menjadi kata yang paling diinginkannya sejak lama. Ia rindu dengan apapun yang ada di Indonesia.


Hanya saja, karena beberapa hal, ia memendam rindu itu dalam hatinya. Hari ini, akan ia tuntaskan kerinduannya hingga tak bersisa. Ia sudah mengosongkan jadwal kerjanya 1 pekan ini khusus untuk merayakan pernikahan Shafiya.


"Aku hanya satu pekan di sini, setelah itu harus kembali ke LA. Aku tak bisa lama-lama meninggalkan perusahaan." Hamna menghentikan langkahnya seketika. Ia ingin mengingatkan Haidar agar laki-laki tak berharap banyak padanya. Ia tak ingin membuat Haidar kecewa lagi.


"Aku tahu, kita sudah membahasnya dua minggu lalu. Aku mengerti, kok, Na. Dasar wanita sibuk!" ejek Haidar di akhir kalimat.


Lalu keduanya menaiki mobil. Sopir membawa keduanya berkeliling Ibukota sebelum mereka pergi ke rumah Hamna. "Kau ingat taman itu, Na?" Haidar bertanya di tengah-tengah kebisuan mereka.

__ADS_1


Sebenarnya kepala Hamna terasa sedikit pening, tapi ia mengangguk. "Aku ingat. Itu tempat saat Pak Haidar mengajakku jalan-jalan waktu itu, kan?"


Haidar tersenyum mengangguk. Sejenak ia memandang Hamna yang fokus menatap jalanan Ibukota. '3 tahun bukankah berlalu begitu cepat? Ada banyak sekali hal yang berubah, Na. Banyak sekali, tapi hal-hal tentangmu tak pernah berubah bagiku'


"Na ... Ayah dan Ibuku ingin bertemu denganmu," lirih Haidar. Semalam saat ia memberitahu keluarganya bahwa Hamna akan pulang, Hannah dan Fawwaz sangat senang. Mereka bahkan ingin mengadakan jamuan khusus untuk Hamna. Akan tetapi, Haidar sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Aku juga ingin menemui mereka," kata Hamna menunjukkan antusiasnya. Haidar tersenyum senang. "Tapi tidak di kediaman Musyaffa," sambungnya lagi.


Gurat senyum Haidar akhirnya pupus juga. Ia tahu, ia sudah menduga Hamna akan mengatakan hal tersebut. Tapi saat hal itu tercetus dari lisan Hamna sendiri Haidar merasa sedikit kecewa. Meski tahun berlalu, sepertinya rasa sakit Hamna tak kunjung lalu.


Haidar mencoba mengerti. Ia hanya mengangguk. "Aku akan meminta mereka ke rumahmu nanti," ujar Haidar sambil menetralkan perasaan kecewanya.


Hamna memandang ke luar, enggan menatap mata Haidar yang tersirat kekecewaan itu. Padahal ia sudah berjanji tak akan mengecewakan lelaki itu, tapi entah mengapa permintaan Haidar sulit untuk diterimanya. Ia merasa jika ia menginjakkan kaki di sana ia akan teringat hinaan itu lagi.


"Ya, aku sudah mengaturnya. Aku sengaja membentuk tim khusus untuk mengawasi proyek itu, mereka akan mengirimkan laporannya secara berkala kepadaku," terang Hamna kembali bersemangat.


"Itu sangat bagus, jadi kamu bisa tenang selama di Indonesia."


"Iya. Kuharap Alice tidak kerepotan selama menggantikanku di sana."


"Tenang saja, Erick ada di sana untuk membantunya. Erick cukup berkompeten dalam bidang properti dan pembangunan. Dia sudah membantuku selama 3 tahun terakhir ini. Dan dia sangat bisa diandalkan," jelas Haidar.


Saat ia kembali ke Indonesia tiga minggu lalu.

__ADS_1


Haidar sengaja memerintah Erick untuk tetap di sana membantu Hamna mengurusi segala pekerjaannya agar gadis itu bisa tenang selama di Indonesia.


"Tapi kamu jadi tidak memiliki asisten, Pak."


"Itu bukan hal yang harus dikhawatirkan. Yang kubutuhkan bukan asisten, tapi ... " Haidar menjeda ucapannya. Laju mereka terhenti sejenak dari perjalanan, Ibukota kembali dipadati kemacetan.


"Aku tak pernah butuh asisten, Erick atau siapapun itu, Na. Selama ini yang kubutuhkan hanyalah kamu. Hanya kamu saja."


"Kenapa? Tak mungkin kamu tak butuh orang lain, Pak," sanggah Hamna. Entah karena apa ia tak setuju dengan pernyataan Haidar itu.


Di sampingnya Haidar terkekeh, masih lugu seperti dulu, pikirnya. "Intinya bukan itu, Na. Aku tahu kita bukan makhluk individu yang tak membutuhkan orang lain. Setiap manusia memerlukan manusia lain untuk keberlangsungan hidupnya. Tapi maksudku, di hidupku, aku hanya butuh kamu di sampingku." Haidar terhenti sejenak. Mobil mereka kembali melaju dengan kecepatan sedang.


Hamna tertegun. Haidar kembali melanjutkan ucapannya. "Aku membutuhkanmu untuk melengkapi hidupku, menjadi alasan kebahagiaanku. Aku butuh cinta, Na. Percuma harta yang banyak tapi tiada cinta yang menyertainya. Apa artinya semua itu?" urai Haidar panjang lebar.


Lelaki itu tersenyum hangat. Kini mobil keduanya memasuki kawasan perumahan elit, membelok ke kiri sebelum meneruskan lajunya hingga ke ujung jalan. Tempat di mana tujuan mereka.


"Bagaimana jika cinta itu tak pernah kamu dapatkan, Pak?" Hamna tak bisa menahan keinginannya untuk bertanya.


"Maka aku akan terus mengembara. Tahukah kamu, Na? Jika diibaratkan seperti puzzle. Aku adalah bongkahan puzzle itu sedangkan kamu adalah kepingannya. Jika salah satu kepingan hilang, maka puzzle itu tak akan pernah lengkap," jawab Haidar serius. Mobil terhenti sesaat, namun mereka masih belum ingin turun.


Untuk kesekian kalinya, Hamna merasa takjub dengan penjelasan Haidar. Ia tak pernah merasa seberarti ini di kehidupan seseorang. Ia sudah tahu sejak dulu bahwa Haidar sangat perhatian padanya. Tapi tak mengira bahwa perasaan itu masih tetap sama hingga sekarang.


Lalu, keduanya turun secara bersamaan. Keduanya langsung disambut oleh seseorang di halaman rumah Hamna. Ia berlari memeluk Hamna. "Akhirnya kamu kembali ... " katanya seraya mengeratkan pelukannya pada Hamna.

__ADS_1


__ADS_2