141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Nasi Goreng Cinta 2


__ADS_3

Shafiya sedang memijit kaki dan tangan Ayuna, tangan halusnya dengan cekatan mengolesi minyak pijit dan memijit-mijit pelan kaki Ibunda tercintanya itu. Sesekali ia mencuri pandang wajah Ayuna yang tampak sayu kehilangan cahaya kebahagiaan. Tanpa kata, hatinya bagai diremas kenyataan.


Tak sadar, air mata Shafiya jatuh, matanya terus memandangi Ayuna. "Kemana perginya Bundaku yang suka tersenyum? Kemana hilangnya tawa indah itu? Ya Tuhan, mengapa harus Bundaku yang menerima pengkhianatan?" batin Shafiya terus merintih.


Shafiya menahan isaknya, sama seperti Ayuna, ia pun turut dirundung kedukaan. Jiwanya ikut karam bersamaan dengan padamnya senyum Ayuna.


Suara ketukan pintu mengalihkan kepedihannya, ia mengusap air matanya cepat lalu beranjak membuka pintu. "Bibi Ayuna sudah bangun belum?" Hamna bertanya agak pelan.


Shafiya mengangguk, "sudah, sekarang sedang bersandar. Masuklah, Na" jawabnya, ia mempersilahkan Hamna untuk masuk ke dalam kamar Ayuna.


Hamna meletakkan nampan berisi makan di meja samping dipan, ia menyapa Ayuna ramah. "Halo Bibi. Bagaimana perasaanmu? Kita makan dulu, ya. Hamna tadi sudah masak bubur lho khusus buat Bibi." Tangan Hamna sudah siap menyuapi makan, tapi Ayuna menolaknya halus.


Ayuna memaksakan senyumnya, "Hamna terima kasih, ya. Kamu sudah menemani Fiya juga menjaga Bibi" lirih Ayuna, tangan lembutnya memegang tangan Hamna.


Hamna meletakkan kembali mangkuk bubur yang dipegangnya, "Bibi Ayuna bilang apa sih? Bibi anggap Hamna orang asing, ya? Jangan bilang begitu, Hamna senang bisa membantu Bibi dan Fiya" Hamna mengelus pergelangan tangan Ayuna lembut. Di senyumnya terpatri ketulusan untuk memerhatikan Ayuna. Ia telah menganggap Ayuna seperti Ibunya sendiri.


Shafiya turut tersenyum. "Iya, Bun. Hamna sudah seperti kakak perempuan bagiku. Aku menyayangimu, Naaa" katanya, lalu memeluk Hamna dan Ayuna bersamaan, "we are family right now!" ucapnya lagi bahagia.


"Sudah, sudah. Sekarang lebih baik Bibi makan dulu buburnya, oke? Habis itu minum obatnya. Shafiya, kamu juga makan dulu nasi gorengnya!"


Shafiya melepas pelukannya. "Siap, Bestie ... Eh, biar aku aja suapi Bunda!" Fiya mengambil bubur yang berada di pangkuan Ayuna, ia menggantikan Hamna menyuapi Ibunya makan.


"Baiklah, aku turun ke bawah, ya. Kalau butuh apa-apa aku ada di ruang makan" Hamna beranjak dari duduknya, Shafiya mengacungkan jempolnya.


Setelah memastikan Ibu dan anak itu makan. Hamba turun ke bawah, kembali ke ruang makan. Di sana, Haidar tengah tertunduk sambil mengetuk-ngetuk meja makan pelan. Hamna berhenti di tepi tangga, memerhatikan Haidar sebentar.

__ADS_1


"Lho? Pak Haidar, kok belum dimakan nasi gorengnya?" Ia bertanya saat melihat piring Haidar yang masih kosong.


"Oh, kamu sudah kembali. Saya menunggu kamu selesai dulu baru makan bersama ... Oh ya, bagaimana keadaan Bibi Ayuna? Apa beliau sudah bangun? Apa Shafiya sudah makan?" Haidar bertanya balik.


Hamna termangu di samping kursinya. "Jadi, Pak Haidar menungguku untuk makan? Kukira dia akan makan lebih dulu. Laki-laki ini, aku sudah tidak mengerti lagi bagaimana menghadapinya" batin Hamna.


"Iya, Bibi Ayuna sudah lebih baik, mereka juga sudah makan. Sekarang ayo Pak Haidar juga makan" jawabnya lalu menyendokkan nasi goreng untuk Haidar. Laki-laki itu memandangi Hamna, "dia mau menyendokkan nasi untukku? Seorang Hamna menyajikan makanan? Untukku? Wow, sulit dipercaya, kan?" pikiran Haidar mulai mengacau.


"Cukup tidak?"


"Cukup, terima kasih. Selamat makan" Haidar menyendokkan satu suap nasi ke mulutnya. Baru sesuap tapi lidahnya sudah dibuat ketagihan. "Wah, ini enak banget, Na. Kamu tambahkan apa tadi?" katanya memuji.


Hamna yang dipuji masakannya itu jadi tersipu, "Saya pakai bumbu biasa kalau masak nasi goreng"


"Eum ... Mungkin karena saya buatnya pakai hati" jawab Hamna asal.


"Kalau begitu, saya namai nasi goreng ini, Nasi Goreng Cinta" ucap Haidar dengan mulut penuh nasi. "Saya ... uhuk ... uhuk ... " Ia terbatuk.


"Ya ampun ... minum ini, Pak" Hamna memberinya segelas air sambil satu tangannya menepuk-nepuk pundak Haidar. "Pelan-pelan saja makannya, Pak" ujar Hamna khawatir.


"Terima kasih, Na. Maaf saya terlalu semangat memakan nasi gorengnya" ucap Haidar menyeka mulutnya dengan tisu. "Oh ya, nasi gorengnya masih ada nggak, Na?"


"Ada, Pak Haidar mau tambah lagi?"


"Tidak, saya sudah kenyang. Tapi bisa tolong kamu ... ?" ia menghentikan ucapannya, ragu meminta.

__ADS_1


Hamna mengangguk "Tentu, tunggu di sini sebentar saya akan ambil kotak nasi dulu. Pak Haidar selesaikan dulu makannya" Haidar meneruskan makannya yang tertunda.


"Emm ... Pak Haidar? Apa nasi gorengnya benar-benar enak?" Tanya Hamna setelah ia selesai membuatkan Haidar satu kotak makan nasi goreng buatannya.


Haidar memasukkan suapan terakhir nasi gorengnya ke dalam mulut. "Tentu saja enak, kalau tidak mana mungkin saya sampai tersedak? Nasi gorengnya dibuat dengan sepenuh hati, mana mungkin tidak enak?" jawab Haidar santai, ia sama sekali tidak berbohong soal rasa nasi goreng buatan Hamna.


"Itu terdengar berlebihan" ucap Hamna pelan, tapi Haidar masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Eh, saya sungguh-sungguh, lho, Na. Nasi gorengmu benar-benar enak, perpaduan bumbunya itu sangat pas, tidak terlalu asin ataupun manis. Kamu tahu, Na? Saya sering memesan nasi goreng di resto atau kafe, tapi rasanya nggak pernah sesuai sama lidah dan perut saya" celoteh Haidar panjang lebar. Sedang Hamna hanya mendengarkan.


"Oh ya, ini kotak makannya, kalau nanti dingin tinggal hangatkan saja" Haidar menerima kotak makan itu dengan senang hati. "terima kasih, ya, Na. Kapan-kapan tolong masakkan saya menu lain, oke?"


Hamna mengangguk, "selama Pak Haidar tidak salah memegang pisau saat membantu, akan saya buatkan menu lain" Haidar seketika tertawa mengingat dirinya yang salah memegang pisau.


"Oke, oke, sini piringnya, biar saya cuci" Haidar menumpuk piring-piring bekas makannya, lalu pergi mencucinya. Baru saja ia akan mencuci piring itu, tiba-tiba saja piringnya jatuh dari genggaman tangannya. Hamna menepuk keningnya, "sudah kuduga akan terjadi" batin Hamna.


"Ups, sorry, piringnya loncat dari tangan saya"


"Sudah, biar saya saja yang cuci"


"Tapi, saya mau membantu, Na"


"Kalau begitu, Pak Haidar yang membilasnya saja!"


Akhirnya, mereka berdua mencuci dan merapikan piring-piring itu bersama.

__ADS_1


__ADS_2